Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 317 — Sebuah Informasi


__ADS_3

Pemimpin Regu Serigala Putih mundur beberapa langkah, ketakutan tampak di wajahnya. Ia menoleh pada bawahannya yang masih berdiam diri karena terlalu terkejut melihat Jian Chen bisa membunuh atasan mereka dalam sekali serangan


Pemimpin Regu Serigala ingin melakukan sesuatu tetapi Jian Chen tidak membiarkan itu terjadi.


Melihat dia adalah pemimpin mereka, Jian Chen tidak membiarkan ia lolos, Jian Chen menggunakan teknik pedang gerhana yang membuatnya bergerak cepat.


Dalam satu kedipan mata ia sudah ada di depan Pemimpin Serigala Putih itu sambil mengayunkan pedangnya pada lehernya.


"Apa bagaimana bisa-..."


Pemimpin Regu Serigala Putih belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat kepalanya sudah menggelinding di pasir. Ia tidak menyangka akan terbunuh demikian cepatnya padahal di tempatnya, pemimpin regu serigala putih itu cukup disegani.


Para pasukan yang dibawanya terkejut bukan main, tubuh mereka mulai gemetar dan ketakutan, tatapan mereka kini berubah saat melihat Jian Chen kembali.


"Kalian tidak berpikir lari setelah melepaskan hujan panah, bukan?" Jian Chen tersenyum lebar.


Pasukan regu serigala putih menelan ludah saat Jian Chen membaca apa yang mereka pikirkan. Tanpa menunggu lagi salah satu dari mereka mulai berteriak.


"Lari-!"


"Selamatkan nyawamu!"


"Aku ingin hidup!"


Usai teriakan-teriakan itu, tiga ribu pasukan itu berbalik dan mulai berlari, mereka bahkan tidak kabur dengan kuda yang ia tumpangi.


Tiga ribu pasukan itu sadar bahwa mereka bukan lawan Jian Chen, kekuatan yang ditunjukkan pemuda itu jarang di temui bahkan di Kekaisaran Qilin sekalipun.


Kenyataan pahit memang harus diakui bahwa di dunia persilatan, seseorang bisa mengalahkan ribuan orang sekaligus selama mereka mempunyai kekuatan yang cukup.


Biarpun jumlah sangat berpengaruh dalam pertarungan namun kemampuan seseorang pada akhirnya adalah yang paling menentukan.


Di kasus lebih parah, seseorang bisa menghancurkan sebuah kekaisaran hanya sekali ayunan tangan. Lily adalah salah satu contohnya jika kekuatannya tidak di segel.

__ADS_1


Jian Chen tentu tidak tinggal diam saja, membiarkan pembunuh-pembunuh itu lolos justru akan mengakibatkan kerugian pada pihak lain.


Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada pedang asura sebelum mulai bergerak mengejar mereka.


***


Pasukan walikota sudah berkumpul atas perintah Walikota untuk bersiap perang darurat di kotanya. Mereka mulai bergerak ke perbatasan kota dan bersiap bertarung sampai akhir.


Pasukan walikota sudah diberitahu jumlah pasukan musuh yang mencapai tiga ribu orang, walaupun kota Yanghai merupakan kota besar tetapi kekuatan militer mereka terbilang cukup rendah.


Setidaknya terdapat tiga ratus pasukan yang dimiliki Kota Yanghai, biarpun kekalahan pasti akan menyertai, mereka mencoba untuk bertarung untuk mempertahankan kota ini.


Pertarungan sampai akhir sudah terbayang di pasukan walikota namun pandangan mereka berubah saat melihat pasukan musuhnya yang kini sedang berlari menjauh dari perbatasan kota.


Peperangan yang mereka pikirkan nyatanya tidak pernah terjadi, justru mereka melihat hal sebaliknya dan itu jauh mengerikan.


Pasukan walikota melihat dari atas benteng ada seseorang yang mengejar pasukan-pasukan musuh, orang tersebut hanya satu orang namun cukup membuat tiga ribu lawannya kocar-kacir.


Usaha pasukan musuh berlari terasa sia-sia karena orang itu terbang dengan kecepatan yang tinggi, dengan pedang di tangannya ia mulai membantai pasukan musuh satu persatu.


Pasukan walikota sepakat bahwa permainan pedang orang itu sangat cepat dan lincah, penguasaannya dalam berpedang begitu mahir namun disisi lain setiap teknik yang ia keluarkan terasa begitu kejam.


Setiap kali orang itu menggerakkan pedangnya maka ada nyawa lain yang melayang, perlahan-lahan jubah yang dipakainya mulai basah oleh darah.


Orang itu tampak menikmati setiap kali membunuh, senyuman lebar menghiasi wajahnya saat mencabut nyawa lawan-lawannya.


Pedang merah di tangan orang itu juga cukup menarik perhatian, pasalnya dia akan selalu bersinar ketika penggunanya berhasil mencabut nyawa.


Tatapan orang itu seperti tanpa belas kasihan dan terus mengejar pasukan musuh, tak peduli tingkatan mereka di ranah apa, laki-laki atau perempuan, semuanya dibunuhnya selama berada di jangkauan pedangnya.


Melihat kesia-siaan mereka untuk menyelamatkan diri, akhirnya beberapa dari mereka mulai berhenti berlari dan memilih menyerang orang itu.


Hanya saja dihadapan kekuatannya, orang itu bisa mengalahkan mereka yang balik menyerang. Setiap perlawanan musuhnya terasa percuma kerena orang itu dapat menghabisinya dalam sekali serangan.

__ADS_1


Dalam waktu lima belas menit, jumlah tiga ribu pasukan lawannya sudah hampir tidak tersisa, orang itu seperti sengaja menyisakan beberapa dari mereka.


Pasukan walikota tidak mengetahui apa yang dibicarakan orang itu dengan pasukan musuh karena jaraknya yang jauh namun yang jelas mereka seperti sedang berbicara, para pasukan walikota yakin bahwa orang tersebut sedang melakukan interogasi.


Tak lama kemudian sesudah mereka berbincang, orang itu tiba-tiba membunuh semua pasukan musuh yang diinterogasinya dengan wajah sedikit kesal.


Melihat tatapan mata orang itu yang dingin tanpa keraguan setelah mengambil nyawa sukses membuat pasukan walikota menelan ludah.


Tak berangsur lama kemudian orang itu mulai melayang terbang ke atas, semua perhatian tertuju pada orang tersebut dan mereka baru menyadari ada seorang gadis yang menonton di atas mereka sejak awal pertarungan.


Orang itu dan gadis itu kemudian melesat cepat ke arah Kota Yanghai, para pasukan walikota yang melihat orang tersebut bergerak ke arahnya membuat mereka jadi khawatir sekaligus ketakutan.


Awalnya pasukan walikota memang sudah siap mati dalam peperangan ini namun ketika mereka melihat pembantaian orang tersebut, sulit untuk menyembunyikan ketakutan dalam dirinya.


Orang itu nyatanya hanya terbang melewati mereka, membuat sebagian pasukan walikota bernafas lega.


Tidak ada yang mengetahui orang itu berasal dari mana namun yang pasti kedatangannya sangat membantu Kota Yanghai.


Biarpun faktanya demikian kenyataannya pasukan walikota sulit menghentikan rasa takut yang menyelimuti hati mereka. Bagaimana pun apa yang dilakukan orang itu bukan sesuatu yang seharusnya dilakukan orang normal bahkan pendekar kriminal sekalipun tidak akan demikian.


Pasukan Walikota tidak tinggal diam saja, merasa kota kembali aman membuat mereka harus mengumumkan pada penduduk bahwa penyerangan tidak terjadi, mereka juga harus menguburkan jasad yang telah orang itu bunuh.


***


Jian Chen masih berekspresi buruk setelah kembali ke tempat penginapannya, alasannya sederhana karena ia sudah mengetahui informasi mengenai pasukan tersebut.


Setelah menghabisi semua orang yang ada di Regu Serigala Putih, Jian Chen sempat mengintrogasi mereka dan jawaban yang di dengar cukup membuatnya terkejut.


Jian Chen bisa dibilang sudah mengetahui informasi pasukan Kekaisaran Qilin yang sudah bergerak ke wilayah Kekaisaran Naga.


Hal ini membuatnya sakit kepala dan pusing bukan main, apalagi Jian Chen mendengar jumlah yang di bawa mereka mencapai puluh ribu pasukan.


Andai Kekaisaran Naga sudah siap pun Jian Chen yakin Kekaisaran Naga akan kalah berperang dengan Kekaisaran Qilin.

__ADS_1


__ADS_2