
Jian Chen menjatuhkan jasad Gong Yao yang sudah tidak lagi bernyawa, ia menghela nafas panjang, tidak menduga situasi kekaisarannya yang diduga sudah tenang ternyata masih menyimpan angin badai yang akan menerjang lebih besar lagi.
Jian Chen sadar tidak ada alasan bagi Gong Yao berbohong mengatakan demikian, jika apa yang dikatakannya benar maka Kekaisaran Naga benar-benar dalam bahaya di masa depan.
Kekaisaran Feniks memiliki luas wilayah hampir setengah dari benua daratan timur, kekuatan beladiri mereka jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tiga kekaisaran lainnya, Jian Chen yakin andai tiga kekaisaran bersatu sekalipun belum tentu mereka akan menjadi pemenang jika melawan Kekaisaran Feniks.
Kepala Jian Chen terasa sakit, ia melirik ke salah satu arah dimana ada anggota pedang terakhir yang masih hidup. Anggota itu adalah pendekar yang menggunakan pedang transparan sebelumnya.
Pendekar itu hendak melarikan diri dari Jian Chen dengan diam-diam terbang menjauh.
Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya lalu melepaskan pisau angin yang bergerak cepat. Meski mempunyai jarak yang cukup lebar dari pendekar pedang transparan tersebut namun dalam hitungan beberapa tarikan nafas, pisau angin itu sudah ada di dekatnya.
Pendekar pedang transparan terlambat menyadari serangan Jian Chen, berniat menahannya dengan pusaka cadangan tetapi pisau angin itu bisa mudah membelah pusakanya yang berakibat langsung mengenai dirinya.
Pendekar pedang transparan seketika terbunuh, tubuhnya melayang ke bawah sebelum jatuh ke tanah dan tak bernyawa lagi.
Shio Naga yang melihatnya sampai menelan ludah, Jian Chen tampak tidak peduli dengan kematian lawannya, pandangannya dingin, seolah membunuh manusia adalah hal biasa baginya.
Detak jantung Shio Naga hampir berhenti ketika Jian Chen melihat ke arahnya apalagi saat pemuda itu mulai bergerak mendekatinya dengan pedang yang masih meneteskan darah.
Shio Naga ingin lari namun instingnya mengatakan itu adalah langkah buruk, lagipula ia yakin dirinya tidak akan bisa kabur dari pemuda itu.
"Kau tidak memohon atau mencoba bernegosiasi agar aku tidak bisa membunuhmu?" Jian Chen menatap Shio Naga dengan dingin.
"Apakah itu bisa dilakukan? Kuyakin orang yang memiliki aura pembunuh sepekat dirimu tidak akan membiarkan satupun lolos..." Shio Naga menarik nafasnya yang dalam sebelum mencabut pedangnya. "Kalaupun aku terbunuh disini, aku tidak akan membiarkanmu lolos tanpa terluka, tangan atau kakimu harus terpotong disini."
Selepas berkata demikian, Shio Naga berteriak lantang sambil melepaskan serangan terkuatnya.
Tubuh Shio Naga tiba-tiba diselimuti api putih yang membara, ia berteriak menggunakan kekuatan terakhirnya sebelum bergerak menyerang Jian Chen sekuat tenaga.
__ADS_1
Harapan Shio Naga tidak pernah terjadi, baru satu langkah ia hendak menyerang tiba-tiba tubuhnya limbung dan ambruk ke tanah. Saat itulah Shio Naga menyadari ada luka sayatan besar yang sudah terukir di badannya serta darah yang berhambur keluar.
Shio Naga benar-benar tidak dapat melihat gerakan pedang Jian Chen, ia hanya bisa merasakan rasa sakit yang hebat telah menjalar keseluruh tubuhnya dan membuat ia tak bisa bergerak lagi.
Shio Naga menatap Jian Chen dengan tajam dan penuh kebencian, tatapan itu perlahan memudar diikuti rasa takut ketika sepasang mata emas menatapnya dengan dingin.
Jian Chen mengangkat pusakanya bersiap untuk menghujamkan ke jantung Shio Naga, sebelum ia melakukannya Jian Chen berkata pada Shio Naga dengan dingin.
"Kau adalah penjahat dari semua yang jahat, kematianmu adalah keselamatan bagi yang lain, kedamaian serta ketenangan untuk Kekaisaran Naga. Berapa ribu jumlah nyawa yang telah kau ambil dengan organisasi yang telah kau buat, kini kejahatan kalian sudah berakhir, aku akan mengakhirinya disini..."
Jian Chen mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedang asura dan membalutnya dengan elemen cahaya, saat pedang itu dihujamkan kuat ke jantung Shio Naga, pedang asura meledak dan membunuh Shio Naga menjadi beberapa bagian.
Lily dari dalam sampai menggelengkan kepala melihat aksi Jian Chen. "Benar-benar kejam dan tanpa belas kasihan, kau sepertinya sangat-sangat membenci mereka?"
Jian Chen mengatur nafasnya, ia tidak menanggapi ucapan Lily. Pemuda itu lebih mengetahui bagaimana resiko organisasi para Shio jika dibiarkan terus hidup.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya, bukankah tujuanmu selama ini telah tercapai?" Lily melihat jasad Shio Naga yang sebenarnya tinggal bercak darah.
Jian Chen menghela nafas, sesaat hatinya terasa kosong dan hampa. "Rasanya, tidak peduli aku mencari kedamaian untuk orang-orang terdekatku, semua masalah yang baru akan bermunculan lagi dan lagi, rasanya aku seperti mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pasti dan nyata..."
Tangan Jian Chen yang memegang pedang asura bergetar, pikirannya mulai terbayang jika Kekaisaran Feniks menyerang dan menghancurkan tempat tinggalnya.
Berbeda dengan Kekaisaran Qilin, Kekaisaran Feniks tidak bisa Jian Chen atasi dengan kekuatannya sekalipun, wajar saja pemuda itu merasa putus asa dan tidak berdaya.
Lily yang ingin berkata sesuatu akhirnya mengurungkan niatnya, ia keluar dari Alam Dantian Jian Chen dengan paksa sebelum muncul di hadapan pemuda itu.
Kini Lily bisa melihat sisi rapuh Jian Chen, gadis itu mengetahui betul bagaimana perasaan Jian Chen sekarang karena dilihat secara garis waktu, dialah yang selama ini selalu bersamanya.
"Kau benar-benar pria merepotkan..." Lily mendengus tetapi tangannya mengelus rambut Jian Chen. Tangan Lily bercahaya keemasan, ia mengirimkan sugesti ketenangan pada pemuda itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Jian Chen jadi bingung dengan perasaannya sendiri.
"Tidak perlu bertanya tentang apa yang aku lakukan." Lily melipat tangannya di dada. "Mengingat tentang masalahmu, kau mungkin lupa bahwa sebenarnya kau tidak sendiri disini, tidak ada yang mengatakan bahwa semua masalah di benua ini adalah tanggung jawabmu..."
Lily memang tidak pernah protes dengan perilaku Jian Chen yang selalu menanggung semua masalah seorang diri tetapi terkadang pemuda itu lupa bahwa kesendirian juga memiliki batas dalam tindakannya.
"Meski kekaisaranmu cukup lemah dibandingkan tiga kekaisaran lainnya namun mereka juga punya ini untuk digunakan." Lily mengetuk kepala dengan jarinya. "Bagiku kemampuan terhebat itu bukan kekuatan melainkan kecerdasan dan pengetahuan."
Lily menghela nafas, terkadang di dunia persilatan kekuatan beladiri menjadi tolak ukur, hal itu memang tidak salah namun akan lebih hebat jika kecerdasan dan kekuatan juga diperhitungkan.
"Selama kekaisaranmu mempunyai strategi yang bagus, selama mereka mengambil langkah-langkah yang baik dalam bertahan, tidak menutup kemungkinan kemenangan bisa diraih melawan musuh..."
Tentu saja menang juga bukanlah sesuatu yang mudah dan jelas pasti mengorbankan banyak pihak, tetapi selama mereka mau berpikir untuk menang maka harapan kemenangan itu sebenarnya akan selalu tetap ada, itulah yang disebut dengan kekuatan harapan.
"Terimakasih Lily, kau membuatku menjadi sedikit lebih baik." Jian Chen tersenyum lembut, Lily jelas datang karena ingin menghiburnya.
"Hmph, baguslah kalau begitu jadi kau tidak perlu bersedih lagi..." Lily mendengus, ia mulai melayang ke tempat jasad-jasad yang Jian Chen bunuh sebelumnya dan mulai menghisap kultivasi mereka.
Jian Chen menatap gadis itu dari jauh, meski Lily terkesan cuek dan tampak mementingkan dirinya sendiri sebenarnya gadis itu memiliki hati yang lembut dan sangat memperdulikannya.
Jian Chen sudah menyadari sikap Lily yang berubah, mungkin karena mereka selalu bersama membuat ikatan keduanya juga ikut jadi berubah.
Sembari Lily menghisap kultivasi korban-korbannya Jian Chen juga tidak lupa mengambil cincin ruang mereka.
"Jadi, kemana tujuanmu selanjutnya?" Lily menguap lebar, seperti biasa ia akan tertidur jika akan menerobos.
"Setelah mendengar perkataanmu aku jadi berpikir banyak hal tetapi yang kuinginkan sekarang adalah pulang. Aku akan kembali ke klan Jian..."
Lily mengangguk, ia tidak pernah melarang keputusan pemuda itu. Gadis itu kemudian kembali ke Alam Dantian, sebentar lagi ia akan menerobos ke alam selanjutnya.
__ADS_1
Jian Chen menatap ke langit yang cerah lalu menghembuskan nafasnya, perlahan tubuhnya mulai melayang. Jian Chen kemudian melesat terbang dari provinsi gurun tersebut.
Sebelum Jian Chen ke klan Jian, terbesit dalam pikirannya untuk bertemu dua orang yang ingin ia temui di akademi kekaisaran, kebetulan jalurnya pulang mengambil jalan berbeda.