Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 113 — Sebuah Ejekan


__ADS_3

Kultivasi Dewa Cahaya merupakan kultivasi yang membutuhkan cahaya untuk sumber kultivasinya, semakin terang cahaya di tempat kultivasi seseorang semakin banyak cahaya yang di dapat.


Itu artinya kecepatan pengumpulan cahaya berbeda ketika siang dan malam, siang akan lebih cepat Jian Chen untuk mengumpulkan cahaya di sekelilingnya, dua sampai tiga kali lipat dari normalnya.


Hampir 2 minggu libur dari Akademi, Jian Chen berkultivasi di rumahnya saat malam tiba, meski tidak meningkat satu meridianpun namun itu cukup membuatnya bertambah lebih kuat walau hanya sedikit.


Jian Chen akhirnya harus kembali ke Akademi, kedua orang tuanya mengantarnya sampai depan gerbang klan untuk mengucapkan kata perpisahan.


Dengan siluman elang emas yang di kendarai Jian Ya, Jian Chen melesat cepat ke akademi.


“Ketua Ya, terimakasih untuk tidak membocorkan rahasiaku saat peperangan klan Jian.”


Disela mereka diperjalanan, Jian Chen mencoba untuk membuka obrolan dengan agak canggung karena gadis itu selalu menghindari dari tatapan Jian Chen.


“Chen’er, seharusnya aku yang berterimakasih karena gara-gara jasamu penduduk klan Jian masih bisa selamat.” Jian Ya melirik sedikit ke arah Jian Chen, tersenyum lembut. “Untuk panggilan ketua, kau tidak harus mengatakan itu lagi karena aku bukan Ketua klan lagi.”


Jian Chen menggaruk hidungnya canggung, “Baik, Saudari Ya.”


Jian Chen bisa saja menyebut ‘Kakak’ padanya tetapi dari awal Jian Chen tidak lebih memandang Jian Ya sebagai gadis dibawahnya mengingat mentalnya usia 30-an tahun.


Jian Ya entah kenapa sedikit senang Jian Chen memandangnya seperti gadis sepantaran, meski gadis itu tidak mau mengakui perasaannya tersebut.


Setelah itu tidak ada obrolan dari keduanya sehingga suasana menjadi canggung, memang semenjak insiden ketika peperangan di klan Jian itu hubungan keduanya sudah tak sama lagi.


Terutama Jian Ya yang selalu menghindari kontak mata dengan Jian Chen.


“Jangan berprasangka buruk, gadis menjauhi seorang pria tidak selalu karena membencinya. Terkadang dia hanya bingung untuk mendekati orang yang di sukainya seperti apa, apalagi kalian telah berciuman tanpa mempunyai ikatan yang jelas...” Lily tertawa mengejek melihat kecanggungan tersebut.


“Apa yang kau maksud ikatan yang jelas?”


“Jangan pura-pura tidak tahu, kau jelas sudah tahu jawabannya bukan?”


Jian Chen berdecak kesal membuat Lily tertawa keras sampai tersedak nafasnya sendiri.


Di Akademi, suasana turnamen semakin terasa ketika banyak pengunjung yang masuk ke Akademi. Memang saat turnamen berlangsung akademi akan dibuka secara umum agar masyarkat bisa menonton siapa murid yang berbakat setiap generasinya.


Beberapa bahkan ada pengunjung dari klan tertentu untuk menonton, seperti Niu Zen yang ingin melihat bakat anaknya Meily atau dari klan Ye yang mau menonton Ye Ziyun.


Jian Chen sendiri tidak akan mengikuti turnamen tersebut, dia tidak mau menjadi pusat perhatian ketika memenangkan turnamen ini dengan mudah.

__ADS_1


“Saudara Jian, anda kesini!” seruan dua gadis terdengar ketika Jian Chen baru memasuki wilayah akademi.


Jian Chen tersenyum canggung, kedua gadis itu yang tak lain adalah Meily dan Ziyun, dari reaksi mereka sepertinya keduanya sudah menunggu Jian Chen sejak tadi.


“Lama tidak bertemu, kalian berdua semakin cantik saja.”


Meily sangat senang dengan pujian itu, meski banyak yang memujinya sebelumnya tapi pujian Jian Chen terasa berbeda. Pipi gadis itu bahkan langsung memerah.


Ziyun hanya terkekeh melihat reaksi sahabatnya tetapi ia juga senang dengan pujian Jian Chen.


Keduanya kini bertambah cantik di usianya yang semakin dewasa, Meily memakai gaun berwarna putih yang dipadukan dengan warna pink, di rambutnya ada sebuah pita kupu-kupu yang indah membuat gadis itu terlihat sangat manis.


Berbeda dengan Meily, Ziyun memakai gaun ungu, keanggunan terpancar dari gadis itu apalagi dari auranya yang memancarkan ketenangan.


Setahun lebih tidak bertemu keduanya telah bertambah kuat terutama Meily, kultivasinya sekarang sudah di puncak Alam Jiwa dan mungkin tinggal beberapa waktu lagi ia bisa menerobos ke Alam Kehidupan.


Sedangkan Ziyun berada satu langkah di bawahnya yaitu Alam Jiwa Tahap 8, Ziyun lebih tua 2 tahun dari Meily, sebenarnya gadis itu bisa dikatakan berbakat jika saja tidak disandingkan dengan Meily apalagi Jian Chen.


“Ehm! Walaupun aku, Tuan Puteri ini, menyetujui sistem poligami dalam berhubungan, harus kuakui kau memang berbakat memikat gadis-gadis cantik di sekitarmu...” Lily berdecak berulang kali sembari menggelengkan kepalanya.


“Apa maksudmu?” tanya Jian Chen dengan nada datar.


“Hei, tak usah membohongi dirimu sendiri, aku bisa melihatnya, kau juga tertarik sama mereka bukan?”


“Sudah kuduga kau tidak bisa menyangkal itu, Xixixi…” Lily menahan tawanya dengan kedua tangan.


Jian Chen tidak menanggapi Tuan Puteri itu lebih lanjut, ia lebih memilih berkomunikasi dengan Ziyun dan Meily.


Mendengar turnamen itu masih sangat lama di mulai Jian Chen memutuskan untuk pergi ke pusat desa terlebih dahulu.


Ziyun dan Meily tidak bisa ikut karena mereka harus mendaftar di turnamen itu sehingga Jian Chen pergi seorang diri.


“Aku akan pergi ke Asosiasi klan Miou untuk membeli senjata, pedangku yang sebelumnya telah patah saat digunakan bertarung.” jawab Jian Chen ketika Meily bertanya.


Meily dan Ziyun saling pandang sesaat, keduanya menyadari sejak lama pedang taring putih yang dibawa Jian Chen bukanlah sebuah pusaka melainkan pedang biasa.


Hal ini membuat keduanya beranggapan bahwa Jian Chen tidak memiliki cukup uang untuk membeli sebuah pusaka.


Jian Chen kemudian pergi ke salah satu toko Asosiasi yang menjual persenjataan untuk pendekar.

__ADS_1


Semenjak Toko Angsa Putih dituduh sebagai mata-mata dari Organisasi Merpati Merah, asosiasi klan Miou menjadi yang terlaris.


“Tuan muda, silahkan masuk, anda telah memilih toko yang tepat untuk membeli senjata di toko kami. Di sini ada berbagai pusaka yang bagus untuk Tuan Muda pilih.” Seorang gadis pelayan langsung menyambut Jian Chen dengan ramah ketika memasuki toko.


Di toko itu sendiri sudah ada banyak pelanggan, terlihat jelas tokonya sangat laris.


Jian Chen membalasnya dengan anggukkan kecil sembari tersenyum. Dia berjalan pelan di toko itu untuk melihat-lihat sementara gadis pelayan tadi mengekornya.


Tak lama pandangannya tertuju pada satu pedang yang di pajang di dinding toko, pedang mempunyai sarung berwarna hitam, sekali lihat saja Jian Chen mengetahui pedang itu merupakan pusaka kelas satu.


“Hm, pedang ini cukup bagus, aku beli yang ini…” Tak banyak toko yang menjual pusaka kelas satu jadi Jian Chen langsung memilih untuk membelinya.


“Tuan Muda, sebenarnya…”


Pelayan itu menjelaskan bahwa pedang pusaka kelas satu itu tak bisa di jual untuk orang seusia Jian Chen yang terlihat masih remaja.


Di asosiasi klan Miou memang ada aturan pembatasan umur ini di pembelian barang tertentu agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


“Kami bisa menjual pedang tersebut kalau Kepala Toko ini menandatanganinya, harganya juga mungkin sangat tinggi jadi Tuan Muda lebih baik beli barang yang lain lagi, masih banyak yang bagus dari ini”


“Kalau begitu panggil kepala toko kesini, minta dia menghadapku!”


“Tuan Muda maap tapi…” pelayan itu jelas sekali tidak bisa melakukannya karena bisa menyinggung perasaan bosnya.


“Bawakan ini untuknya, dia pasti akan mengerti.” Jian Chen mengeluarkan sebuah liontin giok.


Pelayan itu tampak kebingungan tetapi pada akhirnya menurut karena ada lambang klan Miou di atasnya.


Tidak berangsur lama pelayan itu pergi, seorang wanita berusia 30-an datang bersama pelayan tadi dengan tergesa-gesa dan wajah pucat, dia langsung buru-buru menghampiri Jian Chen.


“Tuan Muda, maapkan atas kelancanganku, jika aku tahu Tuan Muda akan kesini maka sudah dari tadi aku berdiri untuk menyambutmu…”


Wanita itu adalah Kepala Toko asosiasi di cabang ini, setelah mengetahui ada orang besar asosiasi yang masuk ke tokonya ia langsung meninggalkan pekerjaan dan buru-buru menyambut Jian Chen.


Kepala Toko kemudian memanggil 4 pelayan wanitanya untuk melayani Jian Chen, ia berbisik pada mereka. “Kalian layani Tuan Muda tersebut dengan baik, dia adalah orang penting Asosiasi, jangan mempertanyakan perintahnya dan langsung turuti setiap kemauannya, kalian paham!”


Empat pelayan itu langsung mengangguk cepat, mereka belum pernah melihat atasannya seserius ini dalam memerintah yang menunjukkan bahwa anak muda di depannya memang bukan orang biasa.


“Tuan muda, mari, biar kami yang bantu keperluan Tuan muda disini…” empat pelayan itu segera mengerumuni Jian Chen dengan senyum terbaiknya.

__ADS_1


“Harta, tahta, wanita… kau benar-benar pria yang memiliki segalanya...” Lily tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya yang terasa sakit.


Jian Chen berdecak kesal, “Diamlah!”


__ADS_2