
Malam itu begitu indah, langit yang cerah ditemani rembulan purnama yang menggantung di atas sana. Bintang-bintang berkelap kelip menatap bumi, malu-malu menampakan keindahannya.
“Bukankah malam ini cukup bagus, alangkah baiknya jika ditemani arak dan gadis cantik yang menggoda…”
Seorang pria paruh baya, berbadan buncit serta mempunyai rambut yang agak botak di tengahnya bergumam pelan sambil meminum arak di tangannya. Pria buncit itu memandang rembulan yang bersinar di tengah gelapnya langit.
“Bos, aku lupa memberitahukan ini tetapi tadi sore kami mendapatkan wanita sangat cantik yang ingin menyusup ke markas kita.” Pemuda yang sebelumnya mengkhianati Jian Chen serta Jian Ya ada di belakangnya.
“Penyusup cantik, lalu bagaimana keadaannya sekarang?”
“Tenang saja Bos, kami bisa menangkapnya dan dia kini berada di sel para tahanan.”
“Hm… kau sepertinya menyukainya, kira-kira seberapa cantik gadis itu?”
Pemuda itu tersenyum lebar sebelum menjelaskan betapa cantiknya wanita di tangkapnya. “Jika sebuah nilai memiliki batas dari satu sampai sepuluh maka gadis itu memiliki nilai sepuluh lebih.”
Pria buncit itu tertawa. “Baik, baik, aku penasaran dengan ceritamu, sepertinya dia memang cantik kalau begitu bawakan dia untukku.”
“Bos, kalau itu aku sudah melakukannya dari tadi, aku menyuruh dua penjaga untuk membawanya kesini.”
Pria buncit mengangguk-ngangguk, memuji pemuda itu yang begitu pengertian padanya. Pria buncit adalah bos dari perampok di gua ini, dialah dalang yang memenjarakan banyak penduduk tak bersalah serta membakar desa-desa.
Disaat keduanya sedang tertawa-tawa suara gaduh dari dalam gua terdengar, suaranya seperti sebuah jeritan serta teriakan.
“Berisik sekali didalam, apa yang membuat mereka ricuh seperti itu?” Bos perampok merasa tidak senang ketika malam terindahnya di ganggu dengan suara yang mengusik ketenangannya.
“Sebentar Bos, biar aku saja yang menegur mereka.”
Bos perampok mengangguk, pemuda itu kemudian pergi kedalam markas untuk melihat apa yang terjadi. Dia awalnya berniat marah pada bawahan lainnya namun kemarahan itu tersangkut di tenggorokan melihat situasi yang jauh dari dugaannya sekalipun.
Saat sang pemuda masuk ke ruangan dimana para perampok lainnya biasanya berkumpul dan makan-makan, dia menemukan situasi kengerian yang ada di pandangan matanya.
Seorang anak remaja tengah bertempur melawan puluhan orang perampok, bahkan dibanding pertempuran rasanya tidak tepat karena anak remaja itu seperti melakukan pembantaian.
Anak remaja itu memegang sebuah pedang yang memancar warna keemasan, setiap kali ia mengayunkan pedangnya cukup membuat satu nyawa lawannya melayang.
__ADS_1
Gerakan pedang anak muda itu juga sangat lincah, disesekali dia menggunakan teknik yang membuat tepi bibirnya mengeluarkan uap yang dia akui itu sebagai teknik pernapasan.
“Itu… bukankah itu teknik Pedang Rembulan dari klan Niu?”
Sang Pemuda bernapas dingin setelah menyadari ciri khas pedang yang dikenalinya.
Pedang anak remaja itu bercahaya keemasan yang diakui Sang Pemuda sebagai pusaka kelas tinggi karena ketajamannya tak bisa diragukan lagi, yang mengganggunya adalah dari setiap ayunan pedangnya tersebut selalu memisahkan tubuh lawannya seperti kepala terpenggal atau tubuh yang terbelah.
Tak lama kemudian, pedang si anak remaja tiba-tiba mencair seperti meleleh, ketika pedangnya hanya tinggal gagangnya saja, si anak remaja merubah serangannya jadi ilmu tangan kosong yang mempunyai gerakan rumit.
“Itu ternyata bukan pusaka?! Lalu bagaimana pedangnya bisa bercahaya?” Sang Pemuda bisa melihat setiap kali anak remaja itu mendapatkan pedang dari musuhnya dia bisa membuat pedang itu bercahaya seperti pada pedang sebelumnya.
Si anak remaja kemudian mengubah pola gerakan saat kepungan dari musuhnya membuat ruang geraknya menjadi kecil. Dia menggunakan sebuah tendangan kuat yang memukul mundur kepungan tersebut.
Bukan hanya tendangan namun juga seni pedang, si anak remaja menggunakan kombinasi kedua teknik itu untuk keluar dari kepungan.
Para perampok perlahan mulai resah dan panik karena secara perlahan jumlah mereka semakin berkurang seiring pertarungan.
Jika tidak melihatnya secara langsung para perampok itu tidak akan percaya mereka harus mengeroyok seorang anak remaja, namun setelah beberapa waktu, bukan hanya percaya mereka juga harus mengakui kekuatan anak remaja itu sangat kuat dan mereka semua bukan tandingannya.
Lantai yang sebelumnya bersih kini berubah menjadi genangan darah dan tubuh anak remaja itu sudah bermandikan darah.
Merasa putus asa akhirnya para perampok berbalik dan hendak melarikan diri sayangnya si anak remaja tidak membiarkannya. Kecepatan anak muda itu diluar akal mereka karena bergerak dan tiba-tiba muncul didekat lawannya.
Di menit selanjutnya semua perampok akhirnya tewas, ruangan makan yang awalnya adalah tempat hiburan, restoran kecil, serta gadis penghibur dari para tawanan menjadi tempat yang begitu horror.
Lutut sang pemuda yang dari awal menonton menjadi lemas seketika bercampur ketakutan serta putus asa. Seumur hidupnya ia tak membayangkan suasana mengerikan ini akan terlihat oleh matanya bahkan mimpi paling buruk pun tidak semenakutkan ini.
Meski ia hampir tak bisa bergerak, si pemuda berusaha bangkit dan pergi dari tempat ini. Ia akan melaporkan situasi ini pada bosnya.
***
Jian Chen menghembuskan nafas lega setelah musuh-musuhnya tiada, ia sempat melihat ke satu sudut ada yang memperhatikannya namun ia tidak dulu mengejarnya.
Jian Chen mengganti bajunya yang bersimpah darah sebelum melangkah ke dapur yang ada disisi ruangan tersebut, disana sudah ada banyak gadis yang sedang bersembunyi.
__ADS_1
Sebelum Jian Chen menyerang ke tempat ini, dia terlebih dahulu menyelamatkan gadis-gadis itu yang sebelumnya tengah dipaksa menari dan menghibur para perampok.
Dia menyerap cahaya dan menggelapkan ruangan ini lalu bergerak cepat menarik satu persatu para gadis tersebut membuat para perampok kebingungan sekaligus waspada.
Jian Chen memberitahu pada mereka bahwa dia akan menyelamatkannya, barulah setelah para gadis itu mengerti bahwa dirinya sedang di tolong, Jian Chen akhirnya bisa memulai pembantaian tadi.
“Hm, kalian tidak apa-apa?” tanya Jian Chen pada mereka.
Para gadis itu mengangguk ”Tuan, apakah diluar sudah aman?”
“Sudah aman, tetapi setelah kalian keluar dari dapur ini aku ingin kalian bergabung dengan para tahanan yang sedang keluar dari penjara, apakah kalian tahu dimana letak sel penjara?”
Para gadis tersebut mengangguk, sebelum jadi penghibur mereka awalnya adalah tahanan.
“Baiklah kalau begitu tinggal satu lagi, ketika keluar dari dapur ini kalian harus tutup mata dan jangan sekali-sekali mengintip apa yang ada diluar” Jian Chen berkata tegas, dia tidak ingin para gadis ini melihat hal mengerikan atas pembantaian yang Jian Chen lakukan.
Setelah para gadis itu akan menurut Jian Chen kemudian mulai menuntun mereka keluar dari ruangan makan ini.
Sesekali para gadis itu penasaran dengan lantai basah yang diinjaknya serta bau amis yang menyengat tetapi Jian Chen mengingatkan untuk tidak membuka mata mereka.
Jian Chen menuntun mereka ke salah satu pintu keluar sebelum membolehkan mereka membuka matanya.
“Disini kalian tinggal lurus mengikuti lorong gua, tidak usah khawatir semua penjaga sudah kulumpuhkan.” Jian Chen memberi pesan sebelum berbalik ke arah pintu. “Kalau begitu aku pamit, ada urusan yang harus kukerjakan.”
“Tunggu tuan, aku belum…”
Salah satu gadis hendak berbicara pada Jian Chen tetapi terlambat karena Jian Chen sudah keburu hilang dibalik pintu, dia ingin membuka pintu itu namun gadis yang bersamanya menepuk pundaknya.
“Saudari aku sarankan jangan membuka pintu itu kalau kau ingin mau makan enak lagi. Lihatlah kakimu…”
Gadis itu tidak mengerti namun ketika pandangannya jatuh ke bawah kakinya, ia menemukan darah segar masih menempel di kaki dan di lantai yang ia injak sebelumnya.
“Jangan-jangan yang basah di ruangan itu bukan air melainkan~”
Gadis itu tidak menyelesaikan ucapannya melainkan ingin memuntahkan isi perutnya. Walaupun tidak melihat ia bisa membayangkan pemandangan yang terjadi di ruangan makan tadi.
__ADS_1