
Walau masih canggung, Jian Chen mencoba lebih akrab dengan Jian Ya lebih jauh.
Jian Ya adalah satu-satunya gadis yang menurut Jian Chen sepantaran dengannya jika dihitung dengan umurnya di kehidupan pertama, belum lagi Jian Ya memiliki pemikiran yang sudah matang, dewasa, serta berwawasan luas, jadi tidak mengherankan jika keduanya bisa akrab dengan cepat.
Miou Lin sibuk menyuruh para pekerja Asosiasinya untuk membawakan barang-barangnya ke gerobak kereta sebelum nanti di taruh di toko cabang asosiasi dekat pelabuhan ini.
Sementara Miou Lin disibukan dengan angkutan barang asosiasinya, Jian Chen dan Jian Ya berbincang bersamaan sambil berjalan menuju toko asosiasi.
Jian Chen banyak bertanya soal klan dan keluarganya, mendengar bahwa klan Jian akan menjadi klan besar membuat pemuda itu senang.
Jian Mo, kakek dari Jian Ya telah berhasil mencapai Alam Langit beberapa bulan belakangan ini, hal tersebut membuat klan Jian semakin bertambah kuat.
Belum lagi menurut Jian Ya, rata-rata pendekar di klan Jian juga sudah meningkat kuat berkat adanya sumber daya dari asosiasi. Jika sesuai dengan prediksinya maka tidak membutuhkan waktu lama hingga klan Jian bisa termasuk 10 klan terkuat di Provinsi Naga Petir.
"Chen'er, ayahmu telah mencapai Alam Bumi begitu juga dengan Ibumu yang sudah berada di Alam Kehidupan. Untuk Rou'mei dia sudah berusia 3 tahun sekarang..." Jian Ya menjelaskan tentang keluarga Jian Chen.
Mendengar kabar baik tersebut Jian Chen sangat senang, ia bersyukur jika usahanya selama ini menuntun pada hasil yang baik.
Usai menjawab pertanyaan Jian Chen kini tinggal Jian Ya yang bertanya pada pemuda itu, Jian Ya ingin mengetahui situasi Jian Chen selama beberapa tahun terakhir ini.
Jian Chen menceritakan apa yang harus diceritakannya, beberapa sengaja di tutupi sementara sebagian lainnya ia sengaja berterus terang dengan Jian Ya.
Jian Ya menahan nafasnya ketika Jian Chen secara jujur datang ke klan Jian saat penyerangan klan Liu dulu, pemuda itu bahkan menjelaskan bahwa pendekar misterius yang menyelamatkan klannya adalah dirinya.
Jian Ya mengerti bahwa tidak ada alasan Jian Chen berbohong dengan mengatakan demikian.
__ADS_1
"Kalau begitu terimakasih, Chen'er, jika bukan karenamu maka klan Jian sudah tidak terselamatkan hari itu..." Jian Ya sampai harus membungkukkan badannya, memberikan hormat pada Jian Chen. Bisa dibilang, Jian Chen adalah pahlawan klan Jian saat ini.
Jian Chen menggaruk kepalanya dengan tersenyum canggung, meski kejadian tersebut adalah ulah dirinya tetapi ia bukan yang melakukan hal tersebut melainkan alam bawah sadarnya.
"Sudah sepatutnya aku menolong keluarga dan klanku, aku tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan klan Jian lagi..." Jian Chen tersenyum hangat, membuat Jian Ya sedikit salah tingkah dibuatnya.
Mengetahui Jian Chen adalah pendekar misterius itu Jian Ya sadar kekuatan Jian Chen sekarang sudah berada di ranah yang tinggi.
"Chen'er, apa setelah mengantarkan Nona Lin ke klan Miou kau akan pulang?"
Langkah Jian Chen terhenti, ia mengerti dirinya sudah dekat dengan tempatnya pulang tetapi ada urusan yang harus ia atasi dulu. Jian Chen akan pulang saat semua yang mengancam keselamatan klan Jian sudah dimusnahkan.
***
Jian Chen dan Jian Ya tiba di toko asosiasi dekat pelabuhan tersebut, ia langsung dibawa menuju ruangan pribadi karena Miou Lin berencana untuk menjamu keduanya di sana.
Kedatangan Miou Lin cukup membuat keduanya menaruh perhatian pada gadis itu, pasalnya ekspresi Miou Lin tampak kusut dan cemas.
"Nona Lin, apakah ada sesuatu?" Tanya Jian Chen.
"Tuan muda Jian ini benar-benar gawat..."
Miou Lin sampai tidak bisa berkata-kata sehingga langsung menyerahkan sebuah surat padanya, berharap dengan surat itu Jian Chen bisa lebih mengerti apa yang terjadi padanya.
Raut wajah Jian Chen berubah ketika ia terus membaca surat tersebut sebelum akhirnya berganti dengan helaan nafas yang cukup berat.
__ADS_1
"Surat itu berasal dari merpati rahasia yang bisa dikirim oleh Ketua Fan seorang, biasanya beliau akan menggunakannya jika situasi sangat penting..." Miou Lin mencoba menjelaskan tentang surat itu yang dikirim oleh merpati khusus.
Miou Lin baru mendapatkan surat itu saat manajer toko memberikannya beberapa menit lalu, tidak menyangka surat yang sama di tulis Miou Fan dengan isi mengenai situasi klan Miou.
Dalam surat itu, klan Miou telah berhasil di kudeta oleh Miou Xian yang berkhianat dengan adanya bantuan dari para pendekar Kekaisaran Qilin.
Kini Miou Xian telah menjabat menjadi pemimpin klan, dan semua Tetua yang tidak menerima pada kudetanya akan langsung di penjarakan.
Kudeta itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi sehingga penduduk klan Miou tidak ada yang mengetahui pemerintahan klan telah berubah kepemimpinan.
Bukan hanya itu, setelah beberapa hari kudeta telah terjadi, klan Miou mulai didatangi oleh para pendekar Kekaisaran Qilin yang memasuki wilayah.
Jika dihitung dengan jumlahnya, mereka seperti sebuah pasukan. Miou Lin takut bahwa klan Miou akan menjadi tempat persembunyian sementara pasukan Kekaisaran Qilin sebelum berperang dengan Kekaisaran Naga.
Tentu saja Miou Lin juga menyadari incaran mereka juga berkaitan dengan Asosiasinya, satu yang dipikirannya bahwa mereka menginginkan resep pil yang dibuat Jian Chen.
Dalam surat itu Miou Fan menyuruh agar Miou Lin, Tetua yang tersisa, memberi tahukan berita ini pada Kaisar Naga agar mereka segera bertindak.
Miou Fan berharap Miou Lin mengirimkan seorang pendekar kuat untuk melawan para pendekar Kekaisaran Qilin di klan Miou, bahkan kalau bisa pendekar itu berada di sepuluh jagoan terkuat di Provinsi Naga Petir.
Miou Lin yakin bantuan yang tepat sesuai kriteria dari surat tersebut adalah Jian Chen. Karena menurutnya, Jian Chen bahkan lebih kuat dari jagoan nomor satu kekaisaran Naga.
'Meski menduganya tetapi menyaksikannya langsung terasa berbeda...' Jian Chen bergumam pelan sambil menggelengkan kepalanya.
Harus Jian Chen akui, pergerakan Kekaisaran Qilin lebih sigap dari perkiraannya. Sepertinya ia harus bertindak sesuatu agar mereka tidak seenaknya menyusup Kekaisaran Naga.
__ADS_1
"Aku tak bisa membiarkan mereka berdatangan ke sini, keluarga dan klanku bisa dalam bahaya..." Jian Chen mengepalkan tangannya keras.