
Sudah dua hari berlalu Jian Chen bersama kelima gadis kembar itu, kini ia masih dalam perjalanan menuju kota tujuannya.
Kota Meishan mungkin lebih dekat dari pada Ibukota namun perjalanannya tetap memerlukan waktu berhari-hari.
Waktu menunjukkan petang ketika rombongan Jian Chen tengah memasuki hutan kembali. Melihat hari yang perlahan gelap Jian Chen memerintahkan mereka untuk bermalam di hutan tersebut.
"Kurasa ini tempat yang bagus untuk bermalam..." Jian Chen menemukan tanah yang lapang dan datar lalu memutuskan berhenti di sana.
Kelima gadis kembar itu mengangguk lalu mengikatkan tali kuda mereka pada salah satu pohon.
Jian Chen memang memimpin rombongan tersebut atas suruhan Lan Qiaoqiao, kelima gadis itu juga tidak menolak ketika di perintahkan demikian.
Selama dua hari tersebut Jian Chen mulai mengenal lebih dekat dengan mereka, contohnya seperti sekarang ketika mereka hendak bermalam Lan Qiaoqiao akan membagikan jadwal tugas pada keempat saudarinya.
Sekarang adalah giliran Lan Xiaxia yang harus mengumpulkan ranting pohon untuk dijadikan api unggun. Jian Chen kemudian mengikutinya, meski tidak di suruh ia tak bisa membiarkan gadis sepertinya berjalan di tengah hutan yang hampir gelap.
"Kenapa kau mengikutiku?" Lan Xiaxia tampak tidak suka melihat Jian Chen ikut bersamanya.
Jian Chen tersenyum tipis, sikap Lan Xiaxia padanya masih sama yaitu jutek. Meski tidak sekasar dulu tetapi gadis itu selalu memandang Jian Chen dengan kekesalan.
"Aku hanya ingin membantumu."
"Aku bisa melakukannya sendiri, kau bisa tinggal bersama saudariku di sana dan menungguku kembali. Toh aku melakukan ini karena kau adalah Tuan kami."
Jian Chen menggaruk kepala, "Aku tak bisa meninggalkanmu sendiri, hutan ini terlalu berbahaya untuk kau telusuri..."
Mendengar alasan Jian Chen membuat Lan Xiaxia terkejut sekaligus tertunduk malu, ia tidak menyangka pemuda itu berniat baik untuk menemaninya.
Lan Xiaxia beralih dan memulai memungut ranting-ranting pohon yang ada di tanah, Jian Chen juga melakukan hal serupa.
Setelah dirasa cukup keduanya kembali ke tempat semula, Jian Chen hendak menyalakan api unggun namun Lan Lingling menahannya.
__ADS_1
"Saudara Jian, biar aku saja yang membuatnya."
Gadis itu kemudian menghembuskan nafas pada ranting-ranting pohon yang tersusun itu menggunakan elemen apinya yang seketika langsung tercipta api unggun.
Jian Chen tersenyum canggung, harus ia akui seorang pendekar yang memiliki elemen api di tubuhnya membuatnya jadi iri.
Lan Qiaoqiao, Yueyue serta Lan Lulu di tugaskan bagian memasak, ketiganya menghidangkan daging kelinci yang sebelumnya di buru lalu di beri rempah-rempah di dalamnya.
Masakan mereka lumayan enak terutama masakan Lan Yueyue, gadis itu lebih terampil soal memasak.
Di kala malam semakin larut, kelimanya di bagi sif untuk berjaga. Lan Xiaxia adalah orang pertama yang bertugas ketika keempat saudarinya sudah tertidur.
Gadis itu duduk di dekat api unggun sambil memasukan ranting-ranting kecil itu ke dalam apinya agar tidak padam.
Lan Xiaxia menoleh ke arah Jian Chen yang kini tengah duduk menyandar pohon, walau matanya terpejam ia mengetahui pemuda itu tidak sedang tidur apalagi Lan Xiaxia menemukan permata siluman di tangannya.
"Bukankah kau terlalu sering menyerap permata siluman?" Tanya Xiaxia pada Jian Chen.
"Aku hanya sedang berlatih meningkatkan kapasitas tenaga dalamku..." Jawab Jian Chen tersenyum tipis.
"Aku tahu tapi bukankah ini terlalu berlebihan, setidaknya kau harus menunggu satu minggu persatu permata untuk menyerapnya atau kalau tidak, kau bisa mengalami efek samping dalam menyerap permata siluman itu."
Jian Chen menggeleng pelan. "Tenang saja, aku tidak akan mengalami efek itu..."
Memang normalnya seorang pendekar hanya bisa menyerap permata siluman per satu minggunya namun bagi Jian Chen aturan itu tidak berlaku.
Jian Chen bahkan bisa menyerap belasan permata siluman perharinya tanpa efek samping apapun dari permata tersebut selama ia menggunakan teknik khusus dari gurunya, selain menghilang efek buruk dari permata itu ia juga lebih cepat dalam menyerap permatanya sebesar 10 kali lipat.
Jian Chen hendak kembali memfokuskan menyerap permata tetapi sebelum melakukannya Lan Xiaxia berbicara lagi.
"Aku minta maaf untuk urusan yang tadi..." Lan Xiaxia membuka suaranya lalu memandang Jian Chen sambil tersenyum manis. "Kau ternyata memang baik, maaf jika aku selalu kasar padamu..."
__ADS_1
Jian Chen tersenyum lalu mengangguk pelan, dari awal ia tidak pernah mengambil hati dengan ucapan kasar Lan Xiaxia.
"Seharusnya dari awal kami memang tidak berurusan denganmu apalagi sampai menyerang seperti di makam, aku juga berterima kasih karena kau membiarkan Kak Qiaoqiao hidup, meski bayarannya mahal aku tidak menyesal menjadikan diriku sebagai pelayan hidupmu asal Kakakku tetap hidup."
Jian Chen menemukan tatapan Lan Xiaxia kini terasa berbeda, ia tidak yakin namun sorot mata gadis itu seperti mengandung banyak kesedihan.
Sejak awal Jian Chen mengetahui sikap kasar Lan Xiaxia adalah untuk melindungi saudari-saudarinya. Bisa dibilang Lan Xiaxia adalah gadis yang paling menyayangi keempat saudarinya di banding siapapun.
Lan Xiaxia kemudian bangkit dari posisinya lalu duduk di samping Jian Chen, gadis yang berbicara kasar itu kini memandang Jian Chen dengan lembut.
Tanpa harus di tanya Lan Xiaxia menceritakan sepenggal kisah mereka pada Jian Chen terutama Kakak tetuanya Lan Qiaoqiao.
Jian Chen bisa melihat gadis itu begitu antusias saat bercerita seolah ingin memperlihatkan pada dunia bahwa cerita mereka itu ada.
Lan Xiaxia merupakan gadis yang ceria ketika mereka berlima masih kecil, selalu tidak mau mengalah pada saudarinya dan harus memenangkan setiap permainan walau menggunakan cara licik sekalipun.
Meski begitu Lan Xiaxia adalah orang yang pertama kali bereaksi ketika saudarinya di ganggu oleh anak lain. Dia akan jadi gadis yang kasar untuk melindungi saudarinya agar tidak di ganggu oleh orang lain.
Ketika orang tua mereka di culik entah kemana, hidup kelimanya berubah menjadi serba sulit.
Mereka hanya di warisi sebuah kitab beladiri yang tinggi sepeninggal orang tuanya, dimana kitab itulah yang membuat mereka bisa ahli dalam beladiri.
"Ketika kami kelaparan, Kak Qiaoqiao selalu pergi dan membawakan makanan untuk kami, dia tidak punya uang dan kadang kami tidak tau ia dapat dimana, mungkin mencuri atau sebagainya namun yang pasti dia tak akan makan sebelum adik keempatnya kekenyangan."
"Bagaimana dengan tetangga kalian, tidakkah mereka mengasihani kalian?"
Lan Xiaxia tersenyum tipis, "Pertarungan orang tua kami dengan sosok misterius itu bukan hanya berdampak pada keluarga kami saja, desa tempat tinggal kami dimusnahkan beserta penduduknya di hari itu juga. Hanya kami yang hidup tersisa."
Mata Jian Chen terbuka lebar melihat mata Lan Xiaxia yang perlahan berkaca-kaca.
"Kau tau Saudara Jian, hidup kami benar-benar sulit saat itu, selain kelaparan kami juga kehilangan banyak saudara-saudara desa. Kami hanya memakan makanan basi, roti sisa, atau apa yang bisa di masukan ke dalam perut, Kak Qiaoqiao selalu memastikan kami kekenyangan setiap harinya padahal aku tau perut dia belum terisi sama sekali."
__ADS_1
Lan Xiaxia kemudian menatap Jian Chen sambil tersenyum hangat. "Kuharap anda memperlakukan saudari-saudariku dengan baik, aku tidak masalah dengan segel kutukan di punggungku selama kau bertindak demikian..."