Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 181 — Perpisahan


__ADS_3

"Ini elemen angin?"


Jian Chen mengambil satu daun yang jatuh ke tanah lalu menggenggamnya, daun itu terpotong ketika Jian Chen membuka telapak tangannya kembali.


Hal ini adalah cara sederhana seseorang untuk melihat elemen di dalam tubuhnya, dengan mengalirkan sedikit tenaga dalam pada daun itu maka daun yang di pegang akan bereaksi.


Contohnya jika seseorang mempunyai elemen api di tubuhnya maka daun itu terbakar. Elemen air akan berubah basah, elemen tanah menjadi rapuh, sementara elemen angin akan terpotong.


Jian Chen sudah melakukan tes itu dan daunnya menjadi terpotong, menunjukkan bahwa ia mempunyai elemen angin sekarang sesudah menyerap mutiara elemen.


"Hm, di masa depan aku harus sering mencari benda mutiara seperti ini..."


Andai Jian Chen tahu khasiat dari mutiara elemen ini di kehidupan pertamanya, maka sudah dari awal ia menyerap mutiara merah itu kedalam tubuhnya.


Jian Chen sekarang mengerti alasan 12 Shio Pemburu mencari mutiara seperti ini, ada kemungkinan mereka sudah mengetahui fungsinya sejak awal dan berniat untuk mengumpulkannya.


Jian Chen memejamkan matanya lalu mengalirkan tenaga dalam pada kakinya.


Perlahan-lahan kakinya terangkat sebelum akhirnya benar-benar melayang, ia kini sudah tidak menapak lagi di tanah alias terbang.


Jian Chen menoleh ke arah kakinya dan tersenyum lebar serta berdecak kagum, teknik ini ia tidak sengaja mempelajarinya dari Liu Yanyi ketika di turnamen dengan menggunakan mata langitnya.


Ia perlahan menggerakkan tubuhnya dan merasakan bagaimana tubuhnya terbang, karena di kehidupan pertama Jian Chen sudah pernah di Alam Langit tidak sulit baginya menyeimbangkan saat berada di udara.


Yang berbeda adalah sekarang Jian Chen menggunakan perubahan jenis angin untuk terbang. Bukan menggunakan tenaga dalam seperti pendekar Alam Langit pada umumnya.


'Andai aku mempunyai elemen angin di kehidupan lalu mungkin aku tidak akan mati di Tanah Merah...'


Jian Chen bisa membayangkan kecepatan terbangnya kelak di Alam Langit akan bertambah jika dipadukan dengan elemen angin ini.


Tidak habis di sana, Jian Chen mencoba teknik-teknik angin yang lain yang sempat ia hafal saat bertarung dengan Liu Yanyi maupun di turnamen.


Hasilnya ia dapat melakukannya, meski belum sempurna tetapi itu sudah cukup membuat Jian Chen dapat menggunakannya, setidaknya ia dapat menciptakan pisau-pisau angin dengan elemen angin tersebut.


Jian Chen menelusuri daerah puncak gunung itu sekali lagi tetapi tidak ada harta yang lain kecuali sebuah kolam suci yang lain. Sepertinya mutiara elemen adalah harta terpendam yang di sembunyikan di puncak gunung ini.


Jian Chen akhirnya kembali ke tempat kolam dimana para gadis itu berada.


"Saudara Jian, anda sudah kembali!"

__ADS_1


Jian Chen tertawa kecil saat melihat Lan Qiaoqiao maupun saudari-saudarinya masih memanen apel di pohon emas itu.


Jumlah apel yang di petik ternyata lebih banyak dari hitungan awal, di bagian atas pohon sekitar 8 buah apel yang tersembunyi. Karena tubuh gadis-gadis itu tidak dapat meraihnya mereka akhirnya memanjat.


"Hati-hati..." Jian Chen mengingatkan kelimanya yang masih bersemangat menaiki dahan-dahan pohon apel.


Baru Jian Chen berkata demikian, Lan Qiaoqiao kehilangan keseimbangannya secara tiba-tiba setelah menginjak dahan yang dikiranya kokoh, hasilnya tubuh gadis itu terperosok ke bawah.


Jian Chen bergerak cepat dan menangkap tubuh ramping gadis itu, sebenarnya Lan Qiaoqiao tidak akan terluka andai jatuh ke tanah hanya saja Jian Chen tidak bisa diam begitu.


Wajah Lan Qiaoqiao memerah saat Jian Chen menggendongnya dari depan layaknya tuan putri dan pangeran.


Jian Chen tersenyum canggung, ia menurunkan tubuh Lan Qiaoqiao perlahan melihat wajah gadis itu memerah.


"Terimakasih..." Lan Qiaoqiao menundukkan wajahnya sambil memainkan jari-jarinya dengan gugup dan malu.


"Tidak masalah, berhati-hatilah jika memanjat lagi." Jian Chen mengangguk pelan sambil mengelus pucuk kepalanya.


Empat saudarinya yang masih berada di atas pohon hanya menyaksikan kejadian itu antara iri dan senang.


Iri karena asmara cinta kakaknya yang romantis sementara senang karena mereka baru pertama kali melihat Lan Qiaoqiao yang tersipu malu seperti itu.


Kelima Lan bersaudara akhirnya memetik seluruh apel emas di pohon, di hitung dari semuanya ada sekitar dua puluh buah yang di dapat.


Jian Chen ingin membagi secara rata tetapi kelima gadis itu justru menyerahkan semuanya pada Jian Chen.


"Saudara Jian, kami tidak membutuhkan apel ini, silahkan anda mengambil semuanya." Lan Qiaoqiao menolak Jian Chen yang ingin membaginya.


"Kalian sudah berusaha kesini, tidak bisa kembali dengan tangan kosong..." Jian Chen menggaruk kepalanya, dari pada mereka menolak terus Jian Chen akhirnya memberikan satu apel emas pada masing-masing mereka.


Jian Chen lalu mengatakan bahwa kolam suci itu ada dua dan salah satunya di bagian tempat lain. Ia memang tidak membutuhkan khasiatnya namun bukan berarti tidak menggunakannya sama sekali. Jian Chen akan berendam di kolam sebelah sementara kelimanya di bagian kolam ini.


"Ini benar-benar kolam suci..."


Jian Chen sudah melepaskan sebagian jubah atasnya lalu berendam di kolam tersebut. Ia bisa merasakan kolam air panas itu membuat tubuhnya berelaksasi.


Jian Chen memejamkan matanya dan bersandar di tepi kolam itu dengan damai, ia merasakan ketengan yang damai. Sudah lama sekali ia tidak bersantai seperti ini.


Ia hampir berendam satu jam sebelum Jian Chen membuka mata dan bangkit dari kolam tersebut.

__ADS_1


Kolam suci selain berguna untuk meningkatkan kultivasi seseorang juga dapat memulihkan tenaga dalam yang hilang dengan cepat.


Usai berendam Jian Chen kemudian pergi ke tempat kolam para gadis, ia memastikan tidak sedang mengintip mereka.


Saat di sana, lima Lan bersaudara sedang berendam di air suci itu sembari berkultivasi. Jian Chen sedikit bernafas lega ketika perempuan itu masih memakai gaunnya.


Meski lambat Jian Chen bisa melihat dengan mata langitnya kultivasi kelima gadis itu naik secara perlahan.


Sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama mereka berendam disini sampai khasiat kolam suci itu terserap seluruhnya.


"Saudara Jian..."


Jian Chen tidak menutupi keberadaannya saat melangkah ke arah mereka, ia ingin menyampaikan sesuatu perihal perjalanannya yang sempat tertunda.


"Kultivasi kalian akan naik sangat tinggi ketika menyerap dua kolam suci ini, hanya saja itu membutuhkan waktu yang lama. Aku tidak bisa memaksa kalian pergi denganku tetapi setelah ini aku akan melanjutkan perjalanan kembali."


Jian Chen mengatakan kemungkinan dirinya akan berpisah dengan mereka disini.


Lan Qiaoqiao menundukkan kepalanya saat mendengar itu, tak perlu cerdas untuk memahaminya. Keempat saudarinya juga merasakan hal yang sama.


Lan Qiaoqiao jadi teringat, ketika bertemu Jian Chen pertama kalinya ia tidak lebih memandang laki-laki itu sebagai orang kaya yang bisa di manfaatkan.


Semua pandangan padanya berubah ketika ia menunjukkan kekuatan aslinya lalu mengalahkan ia dan saudari-saudarinya. Jian Chen terlihat menakutkan waktu itu tetapi ia menyadari bahwa Jian Chen melakukannya atas kesalahan Lan Qiaoqiao sendiri.


Seiring berjalannya waktu, Lan Qiaoqiao menemukan sifat pemuda itu memang baik dan suka menolong terlepas dengan caranya yang tegas. Perlahan-lahan perasaan asing tumbuh di hati gadis itu.


Kini ketika mereka akan berpisah rasanya terasa berat sekali khususnya Lan Qiaoqiao. Garis itu langsung memeluk tubuh Jian Chen dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kuharap ini bukan perpisahan terakhir..."


Jian Chen tersenyum lembut, mengelus rambut perak gadis itu. "Tentu tidak, di masa depan kita bisa bertemu kembali."


Lan Qiaoqiao melepaskan pelukannya lalu mencopot kalung giok yang ada di lehernya dan memberikan itu pada Jian Chen. "Ini adalah kalung dari ibuku, selama anda menyimpannya kami bisa melacakmu. Aku akan datang setelah selesai dari tempat ini."


Jian Chen mengangguk lalu menyimpan kalung giok itu. Ia kemudian berpamitan pada keempat saudarinya yang lain sebelum mengelus pucuk kepala Lan Qiaoqiao sekali lagi dan pergi melayang ke udara.


Keempat saudara Lan itu tampak terkejut Jian Chen ternyata bisa terbang namun untuk saat ini bukan itu prioritas perhatiannya melainkan Lan Qiaoqiao.


Lan Qiaoqiao masih terus menatap kepergian Jian Chen walau pemuda itu sudah tidak ada.

__ADS_1


Keempat saudarinya hanya bisa menghela nafas dengan perasaan sedikit iba, baru saja ia melihat kakaknya bisa bahagia namun secepat ini suasana jadi berubah.


Cinta memang terkadang selalu lupa akan datangnya perpisahan yang bakal terjadi.


__ADS_2