Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 57 — Tangan Besi


__ADS_3

“Bos, kau mengenal dia?”


Salah satu pendekar yang mengawal pria sepuh itu bertanya melihat atasannya begitu ketakutan bercampur keterkejutan.


“D-Dia adalah pelangganku tadi pagi, dia yang kuceritakan sebelumnya…” tunjuk Pria sepuh itu gemetaran.


Pengawal itu tentu mengetahuinya karena sebelumnya bosnya telah menceritakan ada seorang anak muda kaya yang bisa membeli baju pelindung Naga Berlian tanpa menawar harga sedikitpun.


Melihat anak muda yang begitu mudah mengeluarkan seratus ribu koin emas tanpa berpikir panjang menunjukkan betapa kayaknya dia.


Bosnya tentu tertarik sehingga ia berencana untuk merampok anak muda itu sekaligus ingin mencuri balik baju pelindung yang sudah dibelinya, agar Jian Chen tidak lari darinya, pria sepuh memberikan kartu diskon palsu yang sebenarnya adalah alat sihir pelacak.


Satu pendekar terkuat dari toko Angsa Putih telah ditugaskan untuk membunuh Jian Chen, tidak pernah mereka duga anak muda incaran mereka ternyata bukan anak muda biasa.


Melihat Jian Chen yang datang kesini menandakan orang-orang yang ditugaskan misi sebelumnya telah gagal, dan mendengar Jian Chen membunuh seisi rumah ini menunjukkan bahwa pembunuh tekuat dari toko Angsa Putih telah tewas di tangannya.


Keempat pendekar itu sulit mempercayai kenyataan ini apalagi orang itu hanyalah anak muda yang masih remaja. Biarpun memang memiliki kekuatan yang besar seharusnya dia tidak membantai hingga seperti ini.


Membunuh orang lain dibutuhkan tekad dan keberanian yang kuat, seorang pendekar yang sudah dewasa pun terkadang memiliki ketakutan atau keraguan untuk mencabut nyawa orang lain.


Andai empat pendekar itu tidak mengetahui fakta bahwa Jian Chen telah membunuh orang yang ada dikediaman ini, mungkin sekarang mereka akan memandang Jian Chen tidak lebih dari anak ingusan biasa.


Empat pengawal itu tengah berpikir bagaimana mengalahkan Jian Chen saat tiba-tiba Jian Chen berinisiatip menyerang duluan. Empat pendekar tidak tinggal diam dan ikut bergerak maju, mereka menyerang Jian Chen dari empat sisi secara bersamaan.


Kombinasi serangan dari keempatnya sangat baik membuat Jian Chen tak dapat menyerang balik sehingga ia berada posisi bertahan. Meskipun begitu setelah beberapa jurus tidak ada serangan yang melukai Jian Chen membuat mereka berkeringat dingin saat melihatnya.


Jian Chen seolah telah membaca serangan mereka, menghindari atau menahan jurus disaat yang tepat. Pedang ditangannya juga begitu lincah untuk menyambut serangan seolah pedang itu menjadi perisai bagi seluruh tubuh Jian Chen.


Serangan demi serangan terus berlanjut sampai disatu titik ketika lawannya mulai kelelahan Jian Chen balik menyerang. Jian Chen menggunakan tendangan memutar yang dilapisi tenaga dalam membuat keempatnya tidak siap dan akhirnya mengenainya dengan telak.


Tendangan itu membuat mereka terdorong mundur beberapa meter, jelas keempatnya tidak menduga Jian Chen akan menggunakan tendangan mengingat ada pedang di tangannya.


Jarak yang tercipta langsung dimanfaatkan Jian Chen, ketika lawannya akan maju kembali Jian Chen sudah menyerap cahaya diruangan itu menjadi gelap gulita. Jian Chen bergerak cepat kesalah satu dari mereka dan mengayunkan pedangnya ke arah leher.


Satu kepala jatuh ke lantai namun Jian Chen tak berhenti disana, sebelum cahaya diruangan itu kembali Jian Chen bergerak lagi dan mengayunkan pedangnya.

__ADS_1


Tepat didetik semuanya terlihat Jian Chen telah memenggal leher dua pendekar itu. Kini tersisa hanya dua pendekar yang begitu mematung melihat dua rekannya sudah terbunuh.


“K-Kau siapa kau?” pendekar itu mundur dua langkah, wajahnya begitu ketakutan tetapi disisi lain dia juga terkejut. “Kau, bagaimana kau membuat ruangan ini menjadi gelap?”


“Oh, kau menyadarinya, kupikir kalian berdua akan menganggap itu hanya fenomena alam belaka…” Jian Chen tertawa kecil sebelum menghilang dalam sekejap dan tiba-tiba berada didekat musuhnya.


Jian Chen sekali lagi menebas leher lawannnya, menyisakan 1 orang lagi.


Pendekar tersisa itu jatuh terduduk. “Siapa sebenarnya dirimu? Tak ada orang didunia persilatan yang memiliki teknik sepertimu?!”


“Tidak, kau hanya tidak mengetahuinya. Hanya karena belum melihatnya bukan berarti itu tidak ada.” Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya sebelum akhirnya mencabut nyawa pendekar itu.


Jian Chen bernafas lega setelah empat pendekar terkuat di rumah ini tewas, dari tadi dirinya memikirkan tenaga dalam yang kian menipis.


Membunuh puluhan orang dalam satu waktu tentu memerlukan tenaga dalam yang banyak, andai dia tidak punya 400 lingkaran lebih mungkin ia tidak sanggup menerobos markas ini.


Pandangan Jian Chen kini jatuh pada pria sepuh yang dari tadi menonton pertarungan dirinya. Jian Chen berjalan mendekat sebelum menarik kerah pria sepuh itu ke atas.


Jian Chen tersenyum dingin, “Kau tidak memohon padaku agar tidak membunuhmu, heh?”


“Hm? Kau sepertinya begitu percaya diri, aku tahu kalian berasal dari Organisasi Merpati Merah tetapi Aku tidak takut…”


“Oh, ya? Kalau begitu apakah kau tidak takut dengan keberadaanku?”


Selepas ada yang berkata demikian, seseorang muncul dari belakang bayangan pria sepuh itu dan memberikan tinju pada Jian Chen.


Jian Chen terlambat menyadari serangan itu sehingga dengan keras mengenai tubuhnya membuat ia terpental sampai mengenai dinding. Pedang ditangan Jian Chen terlepas seketika itu juga.


Jian Chen meringis merasakan rasa sakit, jika tidak ada baju pelindung dibalik jubahnya mungkin ia sudah mengalami luka berat sekarang.


Pandangan Jian Chen beralih untuk melihat siapa yang melukainya dan ia menemukan pemuda tegap bertangan besi sudah berdiri didepan pria sepuh itu. Jian Chen menjadi waspada ketika melihat lawannya berada di Alam Kehidupan.


“Tidak kusangka ada manusia berdarah dingin di tengah kota ini, memiliki teknik yang rumit serta kemampuan bertarung yang tinggi. Jika tidak melihatnya langsung aku tidak akan percaya ada anak remaja bisa melakukan ini.” Tangan Besi menatap Jian Chen tajam.


“Te-Terimakasih, Tuan, terimakasih…” Pria sepuh buru-buru bersujud setelah merasa dirinya bakal dilindungi.

__ADS_1


“Berterimakasih lah lain kali, karena setelah menghabisi anak ini aku akan membuat hukuman untukmu!” Tangan Besi menatap pria sepuh itu dingin.


Pria sepuh meneguk ludah sebelum menunduk pasrah, ia mulai menyesali dirinya menyinggung sosok seperti Jian Chen yang membuat sebagian anggotanya terbunuh dan rahasia organisasinya hampir terbongkar.


“Aku tak akan membiarkanmu lolos setelah kau mengetahui banyak hal tentang kami, berlututlah agar aku bisa membunuhmu tanpa rasa sakit...” Tangan Besi kembali menoleh ke arah Jian Chen.


“Penawaran yang bagus sayangnya aku tak mau mati sekarang.” Jian Chen tersenyum tipis sebelum mengalirkan tenaga dalam pada tangannya. “Kita lihat saja siapa yang mati... Elemental Cahaya ~ Silauan Kilatan Cahaya!”


Jian Chen menyatukan kedua telapak tangannya dan ketika dua tangannya bersentuhan tiba-tiba tercipta cahaya putih yang menyilaukan.


Ruangan itu seketika terang benderang, membuat Tangan Besi dan pria sepuh menutup matanya karena mata mereka terasa sakit. Disisi yang sama Jian Chen sudah menghilang dan tiba didekat pedangnya, dia mengambil pedang itu lalu bergerak cepat menyerang Tangan Besi.


Ketika pedangnya terayun Tangan Besi ternyata menyadarinya, ia menghindar serangan Jian Chen lalu memberikan pukulan balik. Jian Chen buru-buru menahan pukulan itu menggunakan pedangnya hingga membuatnya terdorong mundur.


“Kau… Siapa kau sebenarnya…” Melihat Jian Chen bisa menggunakan teknik aneh lainnya lagi membuat Tangan Besi menjadi waspada. “Kau bukan anak biasa, aku tak bisa membiarkanmu hidup, kau harus mati disini!”


Saat Tangan Besi ingin bergerak menyerang tiba-tiba Jian Chen melakukan hal yang tak diduga, pedang yang ada ditangan Jian Chen berubah menjadi keemasan namun bukan itu yang membuatnya terkejut.


Jian Chen mengayunkan pedangnya pada salah satu dinding rumah, dari ayunan itu tercipta energi emas yang menyilaukan. Ketika energi emas menyentuh dinding sebuah ledakan hebat tercipta.


Ledakan itu begitu keras dan kuat hingga membuat dinding rumah itu berlubang.


“Kau boleh membunuhku sekarang jika kau bisa?” Jian Chen tersenyum mengejek pada Tangan Besi.


“Kau...”


Ledakan besar tadi pasti mengundang banyak orang sekitar belum lagi ini tengah malam, hanya soal waktu petugas kota akan kesini.


Tangan Besi berpikir tak bisa disini lebih lama jadi dia bergegas untuk membawa Pria sepuh secepatnya namun sayangnya Tangan Besi baru menyadari pria sepuh itu sudah tergeletak dilantai dengan mata yang terbuka, sebuah pisau lempar tertancap dilehernya.


Tangan Besi hampir muntah darah lalu ia memandang Jian Chen penuh kebencian. “Kalau kita bertemu selanjutnya, bukan hanya kau, keluargamu juga akan kubunuh semua!”


Jian Chen tersenyum sinis. “Kalau kita bertemu selanjutnya, bukan hanya kau, organiasi dibelakangmu akan kubunuh semua…”


Tangan Besi merapatkan giginya kesal setelah dibuat tak berkutik oleh seorang anak muda, ia ingin sekali mencabik-cabik tubuh Jian Chen sekarang tetapi memahami sudah tak banyak waktu lagi, Tangan Besi bergerak pergi sebelum petugas kota tiba dikediaman ini, menyisakan Jian Chen yang tak lama kemudian ikut menghilang.

__ADS_1


__ADS_2