
Melihat Jian Ya yang mulai kehabisan tenaga dalam lagi Jian Chen memutuskan untuk mendarat dan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki mengingat kota Donghu sudah tak jauh lagi dari lokasi mereka berhenti.
Setengah jam kemudian barulah Jian Chen dan Jian Ya bisa melihat perbatasan dinding kota Donghu, sebuah kota besar yang disebut juga dengan julukan kota pandai besi.
Jian Ya kesana karena mempunyai urusan mengenai peralatan dan senjata yang stoknya mulai menipis. Jian Ya diperintahkan ayahnya agar memesan kembali persenjataan tersebut untuk klan Jian.
Meski ada asosiasi yang memperjualkan persenjataan para pendekar di klan Jian namun titik keistimewaan asosiasi bukan condong ke sana, lagi pula klan membutuhkan stok yang sangat banyak sebab itu harus turun tangan kesini.
"Kenapa ada antrian seperti ini?" Jian Chen mengerutkan dahinya ketika melihat barisan manusia yang sedang mengantri memasuki kota Donghu.
Orang-orang yang ada di antrian tersebut terlihat dalam kondisi yang kurang baik, selain penampilan mereka yang cenderung kotor, orang-orang tersebut tampak sedang dalam kelaparan.
Beberapa bahkan terdengar seorang anak kecil yang menangis meminta makanan dari orang tuanya karena kelaparan.
"Mereka sepertinya pengungsi dari desa ke kota, mungkin meminta perlindungan serta atap untuk berteduh." Jawab Jian Ya kemudian.
"Mengungsi? Dari apa, apakah ada bencana alam atau sebagainya?"
Jian Ya menggeleng pelan, "Mungkin ini hanya dugaanku tetapi sepertinya mereka kesini karena para penyamun telah menyerang desa mereka."
Jian Ya mengatakan bahwa beberapa bulan terakhir ini ada banyak kasus serupa di Provinsi Naga Petir mengenai para pengungsi ini.
Beberapa desa telah mengalami kasus serupa dimana desa mereka telah dibakar oleh para penyamun atau perampok. Para warga yang melawan bakal dibunuh sementara gadis-gadis akan diculik oleh mereka.
Klan Chu sebagai pemimpin yang menjabat provinsi Naga Petir sudah mencoba menangani mereka berulang kali namun hasil tersebut tidak memiliki perubahan yang signifikan bahkan para kriminal itu semakin menjadi dalam kejahatannya.
"Bukan hanya penyamun saja, bahkan para organisasi kriminal juga mulai menyerang beberapa penduduk kota yang tak bersalah. Mereka kian berani terang-terangan dalam kejahatannya tak peduli saat siang ataupun malam."
Jian Chen menghela nafas pelan, ia sudah menebak kejadian ini bakal terjadi tetapi tidak menduga bakal lebih cepat dari waktunya.
__ADS_1
Di kehidupan pertama Jian Chen, tepat ia keluar dari pelatihan bersama gurunya, Provinsi Naga Petir mengalami kekacauan oleh banyaknya kejahatan yang dilakukan para organisasi kriminal.
Alasan itu yang membuat Jian Chen waktu di kehidupan pertama menghancurkan banyak markas organisasi-organisasi tersebut, seharusnya jika dihitung dari sekarang, kejadian kekacauan ini akan terjadi enam tahun lagi tetapi sepertinya takdir telah berubah jadi lebih cepat dari seharusnya.
Alasan Jian Chen ke kota Donghu berkaitan dengan hal tersebut, Jian Chen tidak akan lupa ia harus menghancurkan organisasi Merpati Merah dan lainnya karena telah menyerang klan Jian dulu.
Jian Chen melirik ke arah Jian Ya yang tampak iba melihat para pengungsi tersebut, ia mungkin mempunyai uang dan makanan namun tidak bisa memberikan pada mereka semua.
Para pengungsi itu harus mengantri untuk mendaftarkan nama mereka di pos penjaga perbatasan, untungnya pemerintahan Kota Donghu bersiap menampung banyak pengungsi tersebut dan memberikan fasilitas yang dibutuhkan.
"Aku mempunyai banyak uang untuk menghidupi para pengungsi itu selama beberapa tahun ke depan tetapi bagaimana aku membagikan uangnya..."
Jian Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, yang pasti membagikan uang-uang pada mereka sekarang bukanlah keputusan yang bijak.
"Tidak perlu khawatir, mereka semua akan baik-baik saja..." Jian Chen mengelus pucuk kepala Jian Ya, menyadarkannya sekaligus membuat pipi gadis itu sedikit memerah.
"Aku hanya ingin membantu mereka tetapi tak bisa melakukan apapun, rasanya aku benar-benar jahat..." Ucap Jian Ya.
Jian Chen lalu membisikan niat dan rencananya pada para pengungsi tersebut.
"Tapi itu akan membutuhkan uang yang sangat besar..." Jian Ya tampak terkejut dengan niat Jian Chen, dalam sekilas saja ia bisa melihat pengungsi itu berjumlah ratusan bahkan hampir mencapai seribu orang sementara Jian Chen akan memberikan hartanya untuk mereka selama beberapa tahun ke depan.
"Tidak masalah, aku mempunyai banyak koin emas di dalam cincin ruangku, selain itu mereka sedang membutuhkan uang tersebut sementara aku tidak. Daripada menyimpan uang yang tidak aku gunakan saat bertarung kenapa tidak memberikannya pada yang membutuhkan..."
Jian Chen yakin uang yang dimilikinya tidak akan habis untuk sepanjang hidupnya walau ia harus membelanjakannya setiap hari, sebaliknya jumlah uangnya justru akan bertambah berkat bisnisnya dengan asosiasi.
Memberikan pada orang lain pun tidak akan membuat hartanya habis, sebab itu Jian Chen tidak punya alasan untuk tidak memberikan uang pada mereka.
"Aku mengenal Walikota Donghu saat masih menjabat Ketua klan Jian, bisa dibilang klan kita mempunyai ikatan persahabatan dengan kota tersebut, mungkin aku bisa membantumu dengan memberikan uangnya pada walikota sebagai perantara..." Jian Ya mempunyai ide dalam rencana Jian Chen.
__ADS_1
"Apa Walikota dapat dipercaya?" Tanya Jian Chen, ia akan memberikan uang berjumlah belasan juta koin emas, seseorang bisa gelap mata dengan uang sebanyak itu atau bahkan melakukan korupsi.
"Walikota Donghu dikenal dengan kejujuran dan kebaikannya, dia akan senang dengan bantuan yang anda berikan..."
Jian Chen mengangguk, ia mengeluarkan cincin ruang berjenis ametis lalu memberikannya pada Jian Ya. Gadis itu seketika mematung tidak mengerti.
"Didalamnya ada puluhan juta koin emas, berikan belasan jutanya pada walikota sisanya untukmu."
"Ini..." Jian Ya sampai kesulitan berkata-kata, ia tidak mengetahui batas kekayaan Jian Chen dan mengapa pemuda itu dapat memiliki cincin ruang yang sangat langka.
Jian Ya menolak bagian pemberian uang sebanyak itu pada dirinya tetapi Jian Chen sedikit memaksa agar gadis itu mau menerima.
"Aku memang berencana memberikan ini padamu, jika kau tidak menerima uangnya maka berikan pada orang yang membutuhkan atau setidaknya untuk keperluan klan Jian..." Jian Chen tersenyum sambil mengelus pipinya.
"Tapi ini terlalu..." Jian Ya mengigit bibirnya sambil menunjuk cincin ruang yang diberikan Jian Chen yang berjenis ametis itu.
"Tidak perlu dipikirkan, kuharap kau bisa menerima yang aku berikan ini?"
Melihat Jian Chen yang memberikan semua ini dengan tulus Jian Ya tak bisa lagi menolaknya, gadis itu berhambur dan memeluk Jian Chen.
"Terimakasih Chen'er, kau sangat baik memberikan semua ini padaku."
Jian Chen tersenyum dan mengangguk pelan, ia mengelus pucuk kepala gadis itu dengan lembut sementara Jian Ya semakin memeluk tubuhnya tak peduli ada orang yang melihat kearahnya.
Keduanya kemudian memasuki kota dan melanjutkan mencari tempat penginapan terlebih dulu mengingat hari sudah gelap ketika mereka sampai. Jian Chen dan Jian Ya menginap di penginapan yang cukup mewah, terdapat kamar pemandian air panas disana.
Keesokan harinya, Jian Ya pergi ke kediaman walikota, dengan statusnya tidak sulit untuk ia menemui penguasa kota Donghu tersebut. Jian Ya kesana untuk merealisasikan niat baiknya pada para pengungsi itu.
Disisi lain, Jian Chen pergi ke salah satu toko pakaian, tidak ada yang menyangka di toko tersebut ada sebuah benda yang paling berharga di dalamnya.
__ADS_1
"Kudengar tokomu mempunyai peta terlangka dan satu-satunya, bisa kau sebutkan berapa harganya, aku akan membelinya walau seharga kota ini..." Jian Chen tersenyum lebar pada pemilik toko pakaian tersebut, di sanalah tersimpan sebuah peta yang menggambarkan isi benua daratan timur dengan sangat spesifik.