Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 36 — Mengajari Pedang


__ADS_3

Butuh beberapa menit untuk Meily bisa berpandangan lagi dengan Jian Chen, gadis itu terlihat gugup, jauh sekali dari sikap aslinya yang selalu dingin terhadap setiap pria.


Meily tidak pernah melupakan mata indah Jian Chen, sepasang mata yang membuatnya terbayang-bayang dengan wajah sang pemuda itu. Meski sulit diakui tetapi ini benar-benar nyata.


Suasana mendadak menjadi canggung karena dari keduanya tak ada yang berbicara. Jian Chen batuk pelan, ia jadi lupa alasan dirinya menghampiri gadis tersebut.


“Jadi, tadi itu teknik pedangmu yang baru?”


Meily mengangguk pelan.


“Teknik pedang dari Klan Niu?”


“Mm… Iya.”


Jian Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, entah kenapa ia jadi ikutan canggung ketika Meily menjawab pertanyaannya dengan singkat.


“Aku tadi sempat melihat teknikmu dan kupikir itu masih belum sempurna. Aku kesini berniat untuk memberitahu kesalahannya…” Jian Chen kemudian menjelaskan beberapa gerakan Meily yang salah serta terlalu kaku.


“Apakah Nona sering berlatih pedang pada malam hari?” Tanya Jian Chen kemudian.


Meily mengangguk, mengatakan bahwa dirinya memang berlatih setiap malam dan tidur dikala matahari akan tiba. Meily hanya tidur 3-4 jam dalam sehari.


“Nona, tidak baik membuat kebiasaan demikian, bergadang sampai malam untuk berlatih justru akan menghambat latihanmu dibanding meningkat. Itulah sebabnya gerakan pedangmu selalu kaku, berlatih ketika malam akan membuat otot-ototmu tidak bekerja dengan baik.”


Karena alasan itu Jian Chen hanya berkultivasi ketika malam hari, kalaupun dirinya akan berlatih malam-malam Jian Chen akan menyempatkan beberapa jam untuk beristirahat.


Jian Chen terkadang memang tidak tidur 1-2 harian tetapi itu hanya sesekali saja, tidak sesering seperti Niu Meily lakukan.


Masukan-masukan dari Jian Chen diangguki oleh Meily, karena merasa tidak ada yang perlu dikatakan lagi Jian Chen memutuskan untuk pergi.


“Tunggu, apakah anda akan pergi?”


“Aku awalnya kesini hanya memeriksa, lagian aku takut menganggu latihanmu jika terus berdiri disini.”

__ADS_1


Meily baru saja bertemu dengan sosok yang ingin ditemui, jadi dia mencegahnya. “Sebenarnya anda tidak mengganggu…Bahkan kalau bisa aku ingin kau mengajariku lagi…”


Jian Chen menggaruk kepala, ia tidak yakin soal itu. Jian Chen sebenarnya ingin kembali berkultivasi untuk menyerap permata siluman.


“Tenang saja, nanti aku akan membayarmu setelah latihannya selesai. Berapapun yang anda minta aku akan berusaha membayarnya…”


Peningkatan pesat akibat diajari Jian Chen beberapa waktu lalu membuat ilmu pedang Meily meningkat signifikan dalam waktu singkat.


Bahkan gurunya di klan Niu pun tidak bisa disandingkan dengan pembelajaran Jian Chen. Andai Jian Chen menaruh harga sebagai gurunya, Meily akan tetap membayarnya walaupun itu sangat mahal.


“Nona Meily terlalu serius, kalau Nona meminta, aku juga tidak keberatan memenuhinya, anda tidak harus pakai bayaran apapun untuk ini.” Jawab Jian Chen, “tapi apakah anda yakin ingin diajari olehku, setelah ini boleh jadi aku memahami ilmu pedang klan Niu secara tidak sengaja?”


Meily mengangguk, hal itu tidak masalah baginya.


Menyadari Meily telah bersepakat, Jian Chen kemudian menyuruh agar Meily menggunakan seluruh teknik Pedang Rembulan yang pernah ia pelajari untuk melihat batasan berpedang. Dimulai dari Pedang Bulan Purnama, Pedang Bulan Separuh, dan Pedang Bulan Sabit.


Jian Chen mengamati setiap jurus itu dari jauh, setelah semua gerakan Meily selesai, Jian Chen bisa melihat kekurangan serta kesalahan dari gerakan Meily.


‘Diusianya yang 15 tahun, gadis ini sudah menguasai teknik pedang sebanyak itu…” Jian Chen menahan nafas dingin, harus ia akui bakat Meily memang benar-benar luar biasa.


Malam itu Jian Chen menghabiskan waktunya untuk menggurui Meily, ada banyak hal yang harus diungkapkan dan juga dipraktekkan Jian Chen secara langsung.


“Aku sudah melihat gambaran dari 3 bagian Teknik Pedang Rembulan, sepertinya semua itu berbeda tujuan?” Jian Chen bertanya, berpura-pura seolah ia baru melihat teknik itu pertama kalinya.


Meily mengangguk lalu menjelaskan semua tentang teknik Klan Niu pada Jian Chen.


Menurut guru Meily, setiap bagian Teknik Pedang Rembulan ada rumus yang membedakan gerakan ketiganya.


Yang pertama adalah Teknik Pedang Bulan Purnama, teknik ini memfokuskan pada seni permainan pedang. Lalu kedua Teknik Pedang Bulan Separuh, teknik yang menggabungkan permainan pedang dan gerakan tubuh, sedangkan yang terakhir adalah Teknik Pedang Bulan Sabit, teknik yang mencampurkan ilmu pedang dengan pengendalian tenaga dalam.


Kesimpulan dari Meily sedikit berbeda dengan yang dijelaskan guru Jian Chen meski rumusnya hampir sama.


Jian Chen kemudian memberi masukan atas gerakan Meily yang menurutnya salah sedangkan Meily mendengarkan arahan Jian Chen.

__ADS_1


Tidak lupa Jian Chen mengajari Meily dengan gerakkannya, membuat gadis itu tak henti-hentinya untuk takjub dan berdecak kagum.


Dari sudut pandang Meily, Jian Chen adalah orang yang mempunyai bakat mengerikan. Tak peduli tingkat kesulitan dari teknik Pedang Rembulan, Jian Chen dapat menyalin itu semua dalam sekali lihat.


Meily mungkin dikatakan jenius karena bisa menguasai beberapa Teknik Pedang Rembulan tetapi dibandingkan bakat Jian Chen, dirinya seperti anak kecil yang baru belajar pedang.


Latihan itu selesai ketika cahaya matahari perlahan muncul dari timur, banyak hal yang Meily pelajari dan ini membuat kemampuan pedangnya meningkat cukup pesat.


“Kita sudahi latihannya sampai sini…” Jian Chen menyarungkan kembali pedangnya.


“Kalau begitu terimakasih… Lalu berapa uang yang anda butuhkan?”


“Nona, sudah kubilang aku melakukan ini karena ingin membantu.”


“Tapi anda telah mengajari banyak hal padaku, bagaimana mungkin kalau semua pembelajaran ini tanpa bayaran. Lima ribu keping emas, sepuluh ribu keping emas, jangan sungkan, bahkan jika lebih dari itu…”


Jian Chen tersenyum tipis ketika mendengar nominal uang yang disebutkan Meily. Jujur saja, saat ini Jian Chen memang membutuhkan uang tapi tidak dengan cara seperti ini untuk menghasilkannya. Jian Chen tetap menolak tawaran Meily.


“Kalau begitu jika suatu hari anda membutuhkan apapun, temuilah aku.” Meily tentu masih ingin membalas kebaikan Jian Chen.


Jian Chen mengangguk, ia tidak ingin membahas hal ini lebih lanjut. Saat Jian Chen hendak berbalik ke perkemahan, Meily menahannya.


“Tunggu… Aku lupa tidak mengetahui namamu?”


Jian Chen terdiam sebentar sebelum tertawa kecil. “Nona, apakah sejak tadi anda ingin menanyakan ini?”


“Eh, I-itu…” Wajah Meily memerah ketika Jian Chen menebak isi pikirannya.


Meily tentu saja malu karena biasanya laki-lakilah yang memberitahukan nama padanya, ia tak pernah peduli pada setiap pria tetapi Jian Chen adalah kasus yang berbeda.


Sambil tersenyum hangat, Jian Chen memperkenalkan namanya. “Namaku Jian Chen, salam kenal, Nona…”


Senyuman itu cukup membuat Meily tersipu dan menunduk, lagi-lagi detak jantungnya akan meningkat cepat dengan pemuda ini. Meily sebelumnya tidak pernah mengalami seperti ini didepan seorang laki-laki.

__ADS_1


__ADS_2