
Kedatangan Jian Chen ternyata sudah di tunggu Miou Lin, gadis itu terlihat cemas karena Jian Chen sangat lama mengejar pria misterius tersebut.
"Tuan muda Jian, anda tidak apa-apa, bagaimana dengan pria itu apa anda bisa menanganinya? Apa dia memang berasal dari Kekaisaran Qilin?"
Jian Chen menggaruk hidungnya sambil tersenyum canggung, ia belum siap dengan pertanyaan beruntun Miou Lin.
Dengan perlahan Jian Chen menjelaskan apa yang diketahuinya mengenai pria tersebut, terutama rencana dari Kekaisaran Qilin yang hendak menyerang Kekaisaran Naga.
Biarpun Miou Lin mengetahui hal tersebut namun setelah mendengarnya secara langsung ia tetap terkejut.
Jian Chen mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang diambilnya dari pria itu, gulungan yang sama berisi informasi yang hendak dikirimkan pria itu pada kekaisaranya.
Miou Lin membaca gulungan kertas tersebut sebelum akhirnya menahan nafasnya dingin, dalam surat itu ada juga informasi mengenai asosiasi klan Miou yang hendak di laporkan.
"Seperti apa yang Nona lihat, asosiasi klan Miou sudah diketahui oleh kekaisaran Qilin. Bisa jadi apa yang dinyatakan Yang Mulia Kaisar benar, asosiasi akan diincar terlebih dulu oleh mereka."
"Tuan muda Jian, apa ini artinya klan Miou akan diserang?"
"Bukan mungkin tetapi pasti, aku yakin sasaran utama mereka adalah menginginkan asosiasi kita."
Miou Lin memijat kepalanya yang terasa sakit, tidak menyangka dalam perang politik Kekaisaran, klannya justru akan terkena dampaknya terlebih dulu.
Miou Lin kemudian meminta bantuan Jian Chen untuk mengawalnya sementara waktu ke provinsi Naga Petir, ia berencana pulang kembali ke klan Miou.
Tentu saja Miou Lin akan membayar Jian Chen dengan bayaran mahal jika mau, mengingat pemuda itu lebih kuat dari perkiraannya mungkin menyewa pendekar setinggi Jian Chen akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Selain itu Miou Lin takut jika kedatangannya ke ibukota sudah diketahui musuh. Bisa saja di perjalanan pulangnya menaiki kapal laut, ia di serang.
"Tidak perlu sungkan Nona Lin, sebenarnya dari awal aku juga ingin ke sana..."
Karena sekarang Jian Chen telah berhasil membawa Ziyun dan Meily ke akademi maka tidak alasan lagi ia untuk disini. Jian Chen kemudian meminta Miou Lin untuk memberikan kabar yang sama pada Kaisar Naga.
"Kaisar Naga sebaiknya mengetahui berita ini, dia harus segera mengumpulkan pasukannya secepat yang ia bisa atau semuanya akan terlambat..."
__ADS_1
Miou Lin mengangguk, apa yang dikatakan Jian Chen memang benar, Kaisar Naga harus mempersiapkan pasukannya sebelum Kekaisaran Qilin datang dan menyerang.
Miou Lin kemudian mengatakan bahwa ia juga harus disini selama tiga hari ke depan, selain bertemu dengan Kaisar Naga, Miou Lin juga mempunyai kepentingan lain mengurusi asosiasi di cabang Ibukota.
Jian Chen mengangguk mengerti, ia juga tidak terlalu terburu-buru menuju Provinsi Naga Petir.
***
Selama tiga hari yang dijanjikan, Jian Chen menghabiskan waktunya untuk berlatih Sisik Naga Langitnya agar mencapai ke titik sempurna
Menurut catatan Kitab Dewa Langit Surgawi, ketika Sisik Naga Langit telah sepenuhnya dikuasai, maka teknik itu bisa secara alami mengeraskan kulit Jian Chen tanpa harus mengaktifkannya secara sadar. Alasan yang sama membuat Jian Chen bersemangat untuk menguasainya secepatnya.
Selain berlatih di tempat yang disediakan Asosiasi, sesekali Jian Chen menghabiskan waktunya bersama Ziyun dan Meily, kedua gadis itu bersemangat ketika membawanya jalan-jalan memutari kota.
Hingga tiba waktunya Jian Chen harus pergi, ia berpamitan terlebih dulu pada kedua gadisnya.
"Aku harus pergi, terimakasih telah menemaniku selama disini..." Jian Chen tersenyum lembut sambil mengelus pucuk kepala Meily dan Ziyun secara bergantian.
Dua gadis tersebut memang sudah diberitahukan Jian Chen sebelumnya bahwa ia akan pergi tak lama lagi, jadi tidak terlalu sedih ketika Jian Chen akan meninggalkan mereka sekarang.
Jian Chen terkekeh, sejak tiga hari terakhir Meily memang sudah menunjukkan sifat aslinya seperti ia kepada Ziyun.
Ziyun yang melihat sahabat kecilnya bertindak demikian hanya menggelengkan kepala pelan sambil tertawa kecil, menurutnya Meily selalu ingin dimanja oleh orang-orang terdekatnya.
Jian Chen lalu mengeluarkan dua buah kantong kulit yang berisi batu roh di dalamnya. Ia memberikannya pada keduanya.
"Saudara Jian, ini..."
Ziyun dan Meily sampai kesulitan berkata-kata melihat sebuah batu yang bersinar kehijauan di dalam kantong tersebut.
Walau keduanya baru pertama kali melihat batu itu namun Ziyun dan Meily yakin bahwa benda di depannya adalah batu roh yang melegenda itu.
Bukan hanya satu tetapi Jian Chen memberikan puluhan di dalamnya.
__ADS_1
"Kuharap dengan batu roh tersebut kalian bisa menjadi lebih kuat..." Jian Chen mengelus pipi Meily yang matanya masih menatap batu itu tanpa berkedip.
Meily tersadar sebelum wajahnya jadi memerah, ia tersipu malu dengan tindakan Jian Chen barusan.
"Saudara Jian, ini... aku tak bisa menerimanya..." Ziyun menyerahkan kembali kantong kulit itu pada Jian Chen, ia tak bisa membayangkan betapa berharga batu roh itu di dunia persilatan.
Jian Chen menggeleng pelan. "Sejak awal aku memang ingin memberikan batu roh itu pada kalian, lagian aku juga tidak membutuhkan batu itu."
Ziyun yang ingin mengatakan penolakan lainnya langsung mengurung niatnya, ia bisa melihat Jian Chen memang sungguh memberikan batu itu pada dirinya.
"Aku harap suatu saat nanti aku akan terus bersamamu Saudara Jian, sebagai pendamping dari hidupmu..." Ziyun mengecup pipi Jian Chen yang diikuti Meily setelahnya.
Jian Chen mengelus pucuk kepala kedua gadisnya untuk terakhir kali sebelum kemudian ia terbang menuju tempat pelabuhan dimana Miou Lin sudah menunggu di sana.
"Tuan muda Jian, apa anda sudah menyelesaikan urusanmu?" Miou Lin tertawa kecil ketika melihat Jian Chen kembali.
"Sudah tapi apakah ada sesuatu di wajahku?" Jian Chen merasa Miou Lin menatap wajahnya secara tidak normal.
"Ah tidak, aku hanya sedikit terkejut ada tanda bibir di dua pipimu?"
Miou Lin berkata demikian sambil mengeluarkan cermin di tasnya. Saat Jian Chen berkaca, ia kemudian menyadari ada sesuatu, Jian Chen buru-buru mengusap tanda merah yang ada di pipinya.
"Tuan muda Jian, sepertinya Mei'er dan Yun'er sudah sangat jatuh hati padamu, bisa memiliki salah satunya adalah kehebatan, memiliki keduanya adalah sebuah keajaiban..."
"Nona Lin, bukankah sudah waktunya kapal kita berlayar?" Jian Chen mencoba mengubah topik pembicaraannya.
"Tentu saja tapi apakah tanda dua bibir itu adalah ciuman dari Mei'er dan Yun'er?"
Jian Chen mengumpat dalam hati, ia tidak memberi jawaban pada Miou Lin melainkan langsung menaiki kapal asosiasi sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah, disisi lain Miou Lin hanya terkekeh melihat hal itu.
Sampai sekarang, Miou Lin tidak pernah menganggap Jian Chen sebagai seorang yang di bawah umurnya mengingat sikap pemuda itu yang selalu dewasa tetapi tingkah Jian Chen barusan menyadarkannya kembali bahwa Jian Chen tidak Lebih dari seorang remaja belasan tahun.
"Dengan ketampanan Tuan muda Jian serta kekuatan dan kekayaannya, tidak mengherankan dia mempunyai dua istri, ah tidak... Bahkan bisa jadi lebih banyak dari itu."
__ADS_1
Jian Chen mempunyai semua aspek yang di idamkan para perempuan. Umumnya wanita memandang laki-laki dari empat hal, pertama fisik, kedua finansial, ketiga sosial dan terakhir intelektual. Setahu Miou Lin, Jian Chen mempunyai keempatnya, tidak mengherankan kalau kelak pria itu memiliki lebih dari satu istri.