
"Tidak juga..." Lily menggeleng, jelas tidak setuju dengan pendapat pemuda itu. "Kau berbicara demikian karena kau mengetahui umur orang-orang terdekatmu tidak akan berusia lama atau bahkan sampai menginjak ratusan tahun, tapi di duniaku, umur ribuan tahun adalah adalah hal yang umum."
Selain kode genetik rasnya yang memang memiliki usia panjang, ras peri juga dibekali kekuatan yang tinggi.
Kekuatan di sana sangat jauh lebih kuat dari dunia Jian Chen, seperti yang pernah dikatakan Lily, gadis itu bisa menghancurkan Kekaisaran Naga dengan mudah kalau kekuatannya tidak disegel.
Lily menambahkan semakin tinggi kultivasi seseorang maka semakin lama ia hidup.
"Jika aku tidak salah, dengan kekuatanmu yang sekarang, kau bisa mencapai usia hampir empat ratus tahun. Ketika kau menerobos ke ranah alam selanjutnya, panjang usiamu akan bertambah." Jelas Lily setelahnya.
Jian Chen mengangguk pelan, ia sudah mengetahui hal tersebut dari gurunya saat berlatih dua tahun.
Titik puncak dari seorang pendekar, usianya bisa lebih lama dari seribu tahun dan jika kekuatan terus meningkat lebih kuat lagi, mereka akan menemukan titik yang namanya keabadian.
Jian Chen tidak mengerti maksud keabadian secara spesifik yang jelas dari gurunya, entah abadi karena umurnya yang tidak memiliki ujung atau abadi karena tidak bisa mati meski dibunuh.
Jian Chen menghela nafas panjang, entah kenapa ia malah memikirkan umur di saat seperti ini. Jian Chen tidak melanjutkan membahas topik pembicaraan itu lebih dalam sementara Lily juga tidak membahasnya lebih jauh.
Satu hal yang tidak biasa, Jian Chen sedikit heran karena tidak biasanya Lily meminta keluar dan ingin berkomunikasi dengannya.
"Jangan salah paham, aku hanya ingin melihat dunia luar secara langsung, di Alam Dantian cukup membuatku bosan..." Jelas Lily seolah bisa membaca pikiran Jian Chen.
"Jika kau ingin merasakan sensasi dunia luar kenapa kau tidak meminta aku mengeluarkanmu saat di ibukota?"
Pertanyaan Jian Chen justru di jawab dengusan oleh Lily, merasa pria di depannya kurang pintar. "Menurutmu jika aku keluar di tengah keramaian, kira-kira apa yang terjadi setelahnya?"
Jian Chen nyengir lebar, ia langsung memahami maksud Lily.
"Kecantikanku adalah keindahan yang terlukiskan, orang-orang akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihatku secara langsung. Dulu di dunia para peri, akan sulit bertemu dengan Tuan Puteri ini secara langsung apalagi sampai bersitatap, kau seharusnya bersyukur bisa melihat wajah manisku setiap hari."
__ADS_1
Mendengar hal tersebut Jian Chen menggaruk telinganya yang tidak gatal, ia mendengus kesal dalam hati melihat Lily yang mulai menyombongkan dirinya, walau harus Jian Chen akui gadis bergaun merah tersebut memang wanita yang sangat cantik.
Jian Chen kembali melanjutkan terbangnya menuju Provinsi Naga Pasir, sekitar dua hari berlalu ia terbang tanpa henti diudara, Jian Chen memilih untuk mendarat dan mengisi tenaga dalamnya yang terkuras.
Tenaga Dalam Jian Chen kini tinggal seribu lingkaran tenaga dalam lagi, setelah terbang tanpa henti ditambah ia belum mengisi tenaga dalam usai memberantas para penyamun dan organisasi di ibukota membuat tenaga dalamnya benar-benar terkuras banyak.
Jian Chen mendarat di tepi sungai yang berada di tengah hutan, ia memastikan terlebih dulu tidak ada orang di sana atau siluman yang membahayakan sebelum mulai mengisi tenaga dalamnya.
Waktu tidak terasa berlalu saat mata Jian Chen fokus bersila di atas batu sungai.
Ketika menginjak malam hari, ia menghentikan pengumpulan tenaga dalamnya sebentar, berniat membuat perapian.
Kebetulan ada banyak ranting yang tergelatak di bagian sungai, Jian Chen mengumpulkan ranting-ranting tersebut sebelum membuatkannya menjadi api unggun.
Karena ia belum makan selama dua hari ini, Jian Chen akhirnya memanggang daging segar yang ia bawa dalam cincin ruang sebelum menyantapnya dengan lahap.
Suara itu seperti sebuah pertarungan, dari suaranya, pertarungan tersebut semakin jelas terdengar yang menandakan mereka sedang mengarah ke tempat Jian Chen.
"Siapa yang melakukan pertarungan di tengah malam seperti ini?" Jian Chen mengerutkan dahi.
Tanpa berpikir lagi, Jian Chen langsung bergerak ke sumber suara. Tidak membutuhkan waktu lama hingga ia menemukan kegaduhan tersebut.
Jian Chen melihat ada dua orang pendekar sedang bertarung dengan tujuh lawannya yang memakai seragam merah. Dua pendekar itu tampak diposisi yang kurang diuntungkan dikarenakan jumlah lawannya yang tidak seimbang.
"Junior Yi, cepat pergi dari sini, aku akan menghadang mereka untukmu."
"Senior Luo, aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Biarkan aku yang berkoban untukmu, anda bisa lari dan laporkan kelakuan mereka pada Ketua sekte."
Dua pendekar yang dilawan tujuh seragam merah itu adalah seorang laki-laki dan perempuan, tampak si pria lebih tua dari wanita yang bersamanya, dari kisaran umur setidaknya mereka berusia dua puluh satu tahun sementara perempuan masih delapan belas tahunan.
__ADS_1
Jian Chen mendengar omongan mereka dari jauh, keberadaan dirinya yang menonton pertarungan tidak membuat mereka menyadari keberadaannya.
Konflik antara pertarungan tersebut sebenarnya masalah tentang sekte keduanya yang bermusuhan. Dua pendekar itu sedang menjalankan misi saat tiba-tiba mereka dihadang tujuh orang tersebut dan berniat membunuhnya.
"Kalian tidak bisa lari atau kabur dari kejaran kakiku meski mengorbankan salah satu dari kalian, apa kau mengenalku, heh?" Pemimpin berseragam merah tersenyum mengejek dan membuka tudung di yang menutupi wajahnya.
Ekspresi Luo berubah pucat saat mengenal wajah orang yang dihadapinya. "Senior Zhou, beraninya kau mengkhianati sekte?!"
"Jangan salahkan aku, salahkan sekte kalian yang lebih dulu mengkhianatiku, hanya sedikit kesalahan yang diperbuat, tetua kalian langsung menjatuhkan hukuman berat padaku." Ucap Zhou kesal.
"Itu semua salahmu, jangan salahkan keputusan Tetua sekte yang benar, Senior Zhou aku tidak memaafkanmu yang berani berkhianat pada sekte!" Luo menjerit penuh dengan kamarahan.
Pendekar yang disebut Zhou itu hanya tersenyum sinis, ia sudah tak peduli dengan hal tersebut.
"Kakak Zhou, kita habisi keduanya disini." Ucap bawahan Zhou itu.
"Aku tahu, tapi kita tidak harus membunuh keduanya, yang perempuan kita harus bermain-main dengannya terlebih dulu."
Mendengar hal tersebut membuat wanita yang bersama Luo itu menjadi pucat dan ketakutan.
Luo berpikir harus kabur, ia memutar otaknya dengan cepat sebelum sebuah ide terlintas di kepalanya. Luo kemudian menghantamkan pedangnya ke tanah dengan kuat, membuat tanahnya hancur sekaligus menimbulkan banyak debu yang berterbangan.
Tanpa berpikir lama lagi, Luo menggenggam tangan si gadis yang bersamanya lalu menariknya untuk segera berlari bersama.
Zhou dan enam pendekar dibawanya mengumpat kesal, tidak menyangka serangan kuat tersebut ditujukan untuk melarikan diri.
Zhou dan bawahannya kemudian mengejar dua orang sepasang itu, keduanya tidak bisa lari lebih jauh karena sudah kelelahan sementara ia dan enam bawahannya masih dalam kondisi prima.
Ketika Rombongan Zhou sedang mengejar tiba-tiba mereka di hadang oleh seseorang yang seperti muncul di ruang hampa. Jian Chen, orang tersebut, memutuskan untuk menolong Luo setelah mengetahui siapa yang salah diantara konflik mereka.
__ADS_1