Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 203 — Peningkatan Kekuatan


__ADS_3

Enam bulan berlalu Jian Chen mempelajari Teknik Pedang Matahari kini kemampuannya dalam teknik itu sudah berkembang.


Jian Chen dapat menggunakan api tanpa menggunakan elemen api dengan pedangnya, hal ini membuat ia selalu terkagum-kagum sendiri atas teknik tersebut karena bisa dibilang elemen api adalah elemen yang Jian Chen inginkan jika saja takdir boleh memilih.


Satu hal yang Jian Chen keluhkan ketika ia selalu berlatih adalah tenaga dalamnya, meski mencapai seribu lingkaran ia tidak bisa berlatih satu hari lebih.


Guru Jian Chen tidak akan berhenti melakukan pelatihannya sampai tenaga dalam Jian Chen benar-benar habis, dengan seribu lingkaran tenaga dalam membuatnya ia bisa berlatih selama satu hari tanpa istirahat.


Kalau ia mempunyai tujuh ribu lingkaran tenaga dalam seperti di kehidupan sebelumnya mungkin Jian Chen bisa berlatih selama seminggu pul tanpa jeda sedikitpun.


Jian Chen saat ini duduk bersila di atas batu besar untuk memulihkan tenaga dalamnya yang sudah habis akibat berlatih sebelumnya.


Ia bisa saja menyerap permata siluman agar lebih cepat pulih hanya saja persediaan permata Jian Chen sudah habis akibat menggunakannya secara terus menerus selama enam bulan terakhir ini.


Disisi yang sama kapasitas tenaga dalam Jian Chen juga meningkat pesat, meski belum mencapai dua ribu lingkaran tenaga dalam ia bisa dibilang sudah berada di dekat itu.


Di sekitar Jian Chen berlatih, terdapat banyak rumput atau pohon yang terbakar oleh latihannya, meski belum sempurna Jian Chen bisa mengeluarkan api jarak jauh dengan pedangnya.


Meski begitu api yang di keluarkan Jian Chen terbilang masih lemah, berbeda dengan gurunya yang dapat mengeluarkan api yang panas dari setiap ayunan pedang.


"Chen'er, apa tenaga dalammu sudah pulih?" Guru Jian Chen tiba-tiba sudah berada didekatnya ketika pemuda itu membuka mata.


"Guru!" Jian Chen terkejut mengelus dadanya, takut jantungnya berhenti betulan.


Guru Jian Chen tertawa kecil sebelum menanyakan hal serupa kembali.


"Aku baru mengisi tiga ratus tenaga dalam, Guru, apakah ada sesuatu yang bisa murid bantu?"


"Bukan itu, aku hanya ingin membawamu ke suatu tempat lumayan jauh dari sini. Sebaiknya kau isi dulu tenaga dalammu sampai lima ratus tenaga dalam."


Jian Chen tidak memahami maksud gurunya tetapi ia menurut saja, beberapa saat kemudian tenaga dalamnya sudah mencapai yang dimaksud.

__ADS_1


"Baiklah mari ikut aku ke suatu tempat, bukankah kau bisa terbang Chen'er?"


Jian Chen mengangguk, kekuatannya memang belum menyamai ranah Alam langit namun ia bisa terbang menggunakan teknik perubahan jenisnya.


Guru Jian Chen membawa muridnya ke belakang sebuah bukit, karena gubuk gurunya berada di tengah hutan yang sangat jauh dari pemukiman, keduanya tidak perlu khawatir bila ada orang lain yang melihat.


Jian Chen mendarat di belakang gunung usai gurunya mendarat terlebih dahulu, keduanya berhenti di depan sebuah gua yang menganga besar seperti melubangi gunung itu.


"Chen'er, coba kau melangkah terlebih dulu."


"Hm, memang ada apa gu-..." Jian Chen berkata sambil melangkah maju saat tiba-tiba ia seperti tertabrak sesuatu yang tak kasat mata di mulut gua itu.


"Ini sebuah formasi?" Jian Chen memukul formasi penghalang itu untuk memastikannya.


"Benar, di dalam sana ada sebuah kolam dari air permata siluman, andai kau berendam di sana jumlah kapasitas tenaga dalammu mungkin akan bertambah seperti kau menyerap permata siluman hanya saja tidak ada siapapun hingga sampai saat ini kecuali Guru yang bisa masuk ke dalamnya."


"Guru, kenapa anda tidak memecahkan formasi ini?" Tanya Jian Chen keheranan.


"Memecahkannya bukanlah perkara sulit, masalahnya terletak pada isinya. Intinya kau akan tahu jika kau sudah masuk ke dalam..."


Jian Chen menggaruk kepalanya, ia memilih memperhatikan formasi itu tetapi setelah beberapa saat formasi di depannya tidak sesederhana yang dilihat Jian Chen.


"Formasi yang terbuat dari mengorbankan nyawa penggunanya..." Jian Chen menghela nafas, kalau formasi sekuat ini ia juga tidak dapat melakukannya.


"Guru bagaimana cara anda bisa masuk ke dalam?" Jian Chen jelas penasaran kerena gurunya bisa masuk sementara formasinya tidak di pecah.


"Tentu saja, dengan melewatinya..." Guru Jian Chen kemudian melangkah pelan masuk ke dalamnya. Formasi tempat itu bergetar beberapa saat ketika Guru Jian Chen mamaksanya masuk.


Jian Chen meneguk ludah, ia bisa melihat gurunya merobek paksa penghalang formasi tersebut.


"Sebaiknya kita tidak memecahkan formasi ini, Chen'er, ada sesuatu dari dalam jika orang luar mengetahuinya masalah besar akan terjadi."

__ADS_1


Jian Chen menggaruk kepala, "Guru, lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Kau tinggal gunakan kekuatan gadis di tubuhmu, dia mempunyai elemen ruang yang dapat berteleportasi."


Jian Chen terkejut, sepertinya gurunya memang telah mengetahui banyak hal termasuk Lily. Itu berarti Gurunya ingin Jian Chen dirasuki Lily.


"Aku tidak mau!" Lily sudah terlebih dulu mendengus sebelum Jian Chen bertanya.


Jian Chen tersenyum canggung, ia sudah menebak hal ini pasti terjadi tetapi tatap mencobanya.


Jian Chen bisa saja menggunakan cara memaksa dengan mengancam Lily namun gadis itu sudah menolongnya beberapa kali jadi tidak mungkin Jian Chen jahat padanya.


"Ehm, begini saja, jika kau mau membuatku masuk ke dalam gua itu, aku akan memberikanmu satu permintaan, apapun akan kulakukan selama kau masih meminta dalam jangkauanku."


Lily berhenti menolak, ia menyipitkan matanya pada Jian Chen beberapa saat. "Kenapa kau ingin pergi kesana?"


"Tentu saja untuk berlatih, apalagi..."


Lily mendengus. "Baik-baik, aku tidak tega melihatmu memelas seperti itu. Sekarang serahkan tanganmu."


Sebelum Jian Chen mengerti maksud Lily, salah satu tangannya tiba-tiba bergerak sendiri tidak mengikuti perintahnya. Ia mengayunkannya dengan gerakan sederhana seketika ada sebuah ruangan yang robek.


"Masuk kesana!" Perintah Lily setelah mengendalikan tangan Jian Chen.


Jian Chen terkejut, ia baru mengetahui Lily bisa menggerakkan tubuhnya tanpa harus persetujuannya. Hal ini membuat ia jadi waspada. Jian Chen kemudian masuk Ke robekan ruangan itu, seketika ia sudah berada di dalam gua.


"Tidak buruk juga, Chen'er, jangan khawatir sepertinya mahluk itu sudah peduli padamu..."


"Hah? Siapa yang kau sebut peduli? Aku tidak peduli sama pemuda sialan ini?!" Lily yang mendengarnya justru berteriak marah dari dalam yang tentu tidak terdengar oleh Guru Jian Chen.


Reaksi Lily justru menandakan keterbalikan antara ucapan dan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2