
Di restoran tersebut sedang banyak pengunjung karena beberapa menit lalu ada kapal yang berlabuh, mereka semua berisitirahat disini sebelum masuk ke kota yang ada di tengah-tengah gurun tersebut.
Awalnya kedatangan Jian Chen ke sana tidak dilirik oleh orang lain namun tidak berangsur lama semua perhatian tertuju padanya, tepatnya pada gadis bergaun merah di sampingnya.
Jian Chen menghela nafas sesaat, ia melirik pada Lily yang acuh tak acuh menanggapi tatapan tersebut.
Jian Chen duduk di meja yang kebetulan hanya satu-satunya yang kosong, tak lama kemudian seorang pelayan datang, Jian Chen memesan beberapa makanan begitu juga dengan Lily.
"Kau bisa makan?" Tanya Jian Chen terkejut saat pelayan itu sudah menjauh.
"Tentu saja, apa yang membuatmu berpikir aku tidak bisa makan?" Lily mengerutkan dahinya sekaligus menatap Jian Chen seperti melihat orang bodoh.
Jian Chen batuk pelan, "Bukankah kau di penjara di Alam dantianku selama bertahun-tahun tanpa ada makanan dan minuman, kupikir ras peri tidak membutuhkan makanan untuk hidup?"
Lily mengerti kebingungan Jian Chen, "Sulit menjelaskannya dan akan membutuhkan waktu lama, intinya meski kultivasiku di segel tetapi tubuhku sudah berada di ranah yang sangat tinggi, makanan bukan lagi sebuah kebutuhan..."
Lily menjelaskan, jika kelak Jian Chen semakin kuat dan kultivasinya meningkat ia tidak akan merasa lapar walau tidak makan selama bertahun-tahun, di puncaknya nanti, seorang pendekar tidak akan membutuhkan makanan kecuali ingin memanjakan lidah semata.
Jian Chen mulai mengerti maksud Lily, memang setelah ia berada di kultivasi yang lebih kuat, tubuhnya tidak merasakan lapar meski seminggu tidak makan.
Obrolan mereka sempat terhenti karena makanan yang di pesan sebelumnya datang, Jian Chen dan Lily memilih menyantap hidangan tersebut.
Ketika Jian Chen dan Lily makan di mejanya, dua orang pria yang memakai pedang di pinggangnya menghampiri meja mereka.
Kedua pria itu terlihat kasar dari segi penampilan, tidak berlebihan jika mereka yang melihatnya akan beranggapan bahwa keduanya orang jahat.
Kedua orang itu tanpa basa-basi langsung duduk di meja Jian Chen dan Lily.
"Apakah ada sesuatu?" Jian Chen tersenyum tipis, ia bisa melihat keduanya tidak memiliki niat yang baik apalagi mereka tampak memandang Lily sesekali waktu.
Pertanyaan Jian Chen langsung membuat kedua pria itu tersenyum lebar, "Anak muda, aku tidak tahu apa gadis ini kekasihmu atau bukan tapi yang pasti aku akan membelinya..."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Jian Chen salah satu dari kedua orang itu langsung mengeluarkan kantong kulit lalu meletakkannya di meja.
"Didalamnya ada seratus keping emas, kami biasanya tidak menggunakan uang untuk menginginkan seorang gadis namun kau adalah pengecualian, terima uang itu selama aku menggunakan cara baik-baik." Kedua pria itu tersenyum sinis pada Jian Chen.
"Bukankah tindakanmu berlebihan, apa yang membuatmu berpikir aku akan menjual manusia..." Jian Chen membalasnya dengan senyuman tipis.
"Oh kau mungkin anak yang baru kesini, akan kujelaskan agar kau memahami provinsi ini. Di wilayah ini tidak ada aturan melainkan hukum rimba. Selama kau kuat kau bisa berkuasa." Salah satu pria itu menjelaskan dengan tawa mengejek. "Salahkan dirimu yang datang ke sini dengan membawa seorang gadis..."
Jian Chen melirik Lily yang tidak peduli dengan kedua pria tersebut. "Apa kau mau ikut dengan mereka?"
Mendengar pembicaraan Jian Chen yang seperti setuju, dua pria itu hendak menyentuh tangan Lily tetapi ketika tangannya sudah mendekat tiba-tiba ada gelombang kuat yang membuat dua pria itu terlempar keras hingga mengenai tembok sebelum memuntahkan darah segar.
Orang-orang segera terkejut melihat hal tersebut, mereka tidak mengetahui apa yang terjadi saat tiba-tiba dua pria itu sudah terpental ke belakang.
"Dasar serangga kecil menjijikkan..." Lily mendengus kesal, ia kemudian menatap Jian Chen dengan tatapan dingin. "Apa-apaan, kau ingin menjualku?!"
"Aku hanya bertanya, kupikir kau mau ikut dengan mereka." Jian Chen tertawa kecil, membuat gadis itu menatapnya dengan sebal.
Dua pria itu menarik pedang namun ketika mereka hendak melakukan sesuatu, tubuh mereka terasa lemas saat menemukan pandangan Jian Chen berubah menjadi dingin diikuti nafsu membunuh.
Walau hanya dengan tatapan, kedua pria itu sudah bergetar ketakutan dan merasa tatapan Jian Chen bisa membunuhnya kapan saja.
Aksi tersebut membuat orang-orang di restoran terkejut, mereka terlambat menyadari Jian Chen dan Lily bukan orang sembarangan.
Jian Chen duduk kembali dan melanjutkan makannya, sepertinya rencana ia mencari informasi gagal tetapi ada beberapa hal baru yang ia ketahui.
Dari masalah sebelumnya Jian Chen sadar bahwa begitu kacaunya Provinsi Naga Pasir sampai-sampai perbudakan menjadi hal yang biasa.
Jian Chen sepertinya harus bertindak sesuatu pada provinsi ini, setidaknya merubah sedikit perubahan sebelum menyebar ke provinsi yang lain.
***
__ADS_1
Keduanya meninggalkan restoran tak lama kemudian, Jian Chen masih ingin fokus mencari informasi namun kali ini ia tidak mencarinya dari restoran.
Jian Chen pergi ke tempat berbeda, tampak ada rombongan para pedagang yang sedang bersiap-siap masuk ke dalam padang gurun, mereka berencana untuk pergi ke kota untuk menjualkan dagangan mereka.
Rombongan para pedagang itu tidak seperti rombongan pada umumnya, lebih terlihat kurang memadai dalam segi persediaan dan dagangannya, mereka tampak seperti bukan pedagang tetapi dipaksa harus berdagang.
Setelah bertanya-tanya pada mereka, Jian Chen mengetahui bahwa mereka penduduk asli di pelabuhan ini. Mereka berdagang ke kota untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka sehari-hari karena belakangan ini menjadi nelayan membuat mereka dirugikan karena harga jual ikan yang rendah.
Rata-rata umur rombongan pedagang itu adalah orang yang sudah tua, Jian Chen sedikit prihatin melihat tubuh renta mereka yang masih bekerja dengan keras.
Tidak ada pendekar bayaran di rombongan pedagang tersebut, mereka tidak punya cukup uang untuk menyewa penjagaan.
"Bolehkah kami berdua mengikuti rombongan kalian, kebetulan kami sedang menuju ke kota yang sama dengan kota yang kalian tuju..." Jian Chen mengutarakan niat maksudnya pada seorang pria yang sudah sepuh.
Pria sepuh itu adalah pemimpin dari rombongan pedagang tersebut, ia melihat Jian Chen dari atas sampai bawah sebelum menyadari pemuda di depannya adalah seorang pendekar, terlihat dari pedang yang tersemat di pinggang Jian Chen.
"Kami sebenarnya sangat cemas di perjalanan nanti ada para bandit atau perampok yang menghadang, beberapa minggu terakhir ini ada banyak sekali kejadian para pedagang yang di rampok di tengah gurun, ikutnya kalian justru membuat kami merasa aman..." Pemimpin rombongan pedagang itu memberikan hormatnya pada Jian Chen.
Mereka sempat menoleh ke arah Lily, terlihat kagum dengan paras gadis itu tetapi Lily lagi-lagi tidak peduli, tatapannya selalu dingin pada siapapun bahkan gadis itu masih kesal karena Jian Chen mengerjainya sebelumnya.
"Bisakah kau sedikit ramah pada mereka?" Bisik Jian Chen di dekat gadis itu.
"Hmph! Apa peduliku, kau yang membutuhkan mereka, bukan aku." Gadis itu mengulurkan lidahnya, membalas perlakuan Jian Chen sebelumnya.
Jian Chen tersenyum canggung, ia membalikkan badan pada pedagang sebelumnya. "Kalau aku boleh tau kapan kita akan berangkat?"
"Hm, sebentar lagi, kami harus menyiapkan barang-barang mereka terlebih dahulu." Pemimpin rombongan itu menunjuk beberapa orangnya yang sedang mengangkut barang-barang jualannya.
Jian Chen ikut membantu, melihat mereka yang sudah tua mengangkat barang-barang berat membuat hatinya tergerak.
Bantuan Jian Chen mempercepat perjalanan, mereka sempat berterimakasih pada pemuda itu karena menolongnya, tak lama kemudian Jian Chen dan Lily ikut rombongan pedagang itu, keduanya mulai memasuki daerah padang gurun yang gersang dan luas.
__ADS_1