Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 333 — Kota Hene


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, formasi ini adalah jalan satu-satunya bagi lima gadis kembar itu untuk bertemu kembali dengan orang tua mereka di dunia nordik..." Lily bergumam pelan tetapi Jian Chen tetap mendengarnya.


Jian Chen mengerut dahi, jelas ia terkejut mendengar hal tersebut. Tatapannya beralih ke arah wajah gadis itu. "Bagaimana denganmu, apa formasi ini bisa ke duniamu."


"Hm, aku tidak yakin tapi sepertinya tidak bisa, duniaku terlalu jauh dari duniamu, mungkin kau harus menemukan formasi lain di dunia lain." Lily mengetahui betul jarak dunianya dengan dunia Jian Chen sangat jauh, meski menggunakan formasi sihir tetap saja tidak akan bisa menggapainya.


Setiap dunia hanya akan ada satu formasi sihir, istana gurun yang Jian Chen kunjungi sekarang adalah satu-satunya formasi sihir di dunia ini.


"Istana ini bukanlah tempat biasa, jika istana ini tiba-tiba muncul maka ia juga akan tiba-tiba menghilang." Kata Lily selanjutnya.


"Apa maksudmu dengan tiba-tiba menghilang?"


"lebih jelasnya Istana ini berpindah-pindah tempat, ketika batas waktunya sudah habis dia akan menghilang sebelum muncul kembali di tempat lain. Di kasus sekarang, dia sedang muncul di tengah gurun."


Jian Chen mengangguk, penjelasan Lily terdengar masuk akal. "Itu berarti, akan sulit menemukannya kembali setelah kita pergi dari sini."


Jian Chen tidak punya rencana untuk mengaktifkan formasi tersebut sekarang apalagi sampai berpindah dunia, tapi dia tidak mengatakan hal yang sama saat di masa depan nanti.


"Sebenarnya tidak seperti itu, giok yang kau dapatkan dari ratu siluman laba-laba tadi mempunyai ikatan dengan Istana ini, artinya kau bisa melacaknya istana emasnya dengan giok itu..."


Lily menghela nafas, sebenarnya menciptakan portal mungkin adalah sarana terbaik namun membuatnya bukanlah hal mudah, Jian Chen setidaknya harus mempunyai pusaka khusus agar bisa menciptakan portalnya sendiri.


Lily sebenarnya bisa membuka portal untuk berpindah dunia namun pusaka untuk membuka portal itu telah hilang entah kemana ketika dirinya di segel di tubuh Jian Chen.


Saat gadis itu ingin menyampaikan sesuatu lagi tiba-tiba istana yang yang di pijaknya mulai bergetar.


"Istananya akan berpindah lagi..." Lily menyadari sesuatu kemudian menoleh ke arah Jian Chen. "Kita harus pergi sekarang, jika disini terus kita akan ikut ke teleportasi ke tempat istana ini pindah, jarak berpindah tempatnya akan sangat jauh dari lokasi sekarang."


Sebelum Jian Chen memutuskan, Lily sudah menjentikkan jarinya, seketika kabut hitam menyelimuti keduanya.


Pandangan Jian Chen gelap sesaat ketika asap hitam menyelimuti tubuhnya, saat pandangannya kembali jelas ia tiba-tiba sudah berada di luar istana.


"Kau bisa melakukan hal ini?" Tanya Jian Chen sedikit terkejut karena ternyata gadis itu masih punya banyak trik yang dimilikinya.


Lily mendengus kali ini dengan senyuman bangga. "Tentu saja, elemen ruangku cukup istimewa, ini belum seberapa dengan teknik-teknik lainnya."

__ADS_1


Pandangan Jian Chen seketika jatuh ke arah istana tak jauh darinya berteleportasi. Istana emas itu kini jadi bercahaya dan semakin terang setiap detiknya.


Dalam waktu setengah menit, istana itu perlahan melebur menjadi ribuan butiran cahaya emas, tidak membutuhkan waktu lama hingga ia menghilang menjadi secercah cahaya yang indah.


Istana itu sudah berteleportasi ke tempat yang berbeda, menurut Lily ia akan berada di ratusan ribu kilometer dari tempat jaraknya sekarang.


"Jadi ke mana tujuanmu selanjutnya?" Tanya Lily setelahnya.


"Kota Hene, kita kembali ke tujuan awal mencari organisasi Shio berada." Jian Chen langsung melesat terbang menuju kota tujuan selanjutnya. Lily mengikuti.


"Apa kau sudah mendapatkan petunjuk mengenai organisasi incaranmu itu?"


Jian Chen mengangguk, saat di ibukota ia sempat mendapatkan informasi mengenai para Shio itu dari markas kriminal yang ia hancurkan meski informasi tersebut bersifat samar. Jian Chen ke kota Hene ingin memastikan informasi itu benar atau tidak.


***


Kota Hene, kota yang berada di sebelah timur Provinsi Naga Pasir. Kota kecil yang hanya memiliki belasan ribu penduduk itu di bangun di samping oase. Sebuah kota yang hijau dan segar di tengah panasnya padang pasir.


Kota Hene sebenarnya kota yang bagus untuk di kunjungi oleh para turis karena keindahan alamnya namun karena jaraknya yang jauh dari kota manapun serta berada di ujung provinsi membuat sebagian orang urung untuk ke sana.


Lily sedikit menggerutu karena harus terbang di tengahnya padang pasir yang berdebu, padahal Jian Chen yang melihatnya tidak melihat ada debu di pakaian atau tubuh gadis itu, debu seolah tidak bisa menyentuh tubuh Lily.


Jian Chen mendarat di danau tepat di samping dekat kota, sebuah danau yang luas dengan pepohonan rindang di sekelilingnya.


Danau yang berada di Kota Hene itu cukup terawat dan segar, Lily bahkan langsung mencelupkan kaki putihnya pada danau tersebut.


"Ah, ini baru benar-benar air..." Lily duduk di tepi danau, matanya terpejam, mendesah pelan, kedua kaki gadis itu di ulurkan memasuki air.


"Bisakah kau tidak bersantai dulu, kita harus bergegas memasuki kota sekarang."


"Ayolah, kita sudah dua hari terbang tanpa henti, tidak bisakah kau istirahat sebentar walau hanya satu jam." Lily menggerutu.


"Istirahat, tapi aku tidak melihat kau sedang kelelahan?"


"Aku memang tidak lelah, aku hanya kepanasan." Lily mendengus.

__ADS_1


Jian Chen menggaruk kepalanya, akhirnya ia memberikan waktu gadis itu untuk bersantai selama satu jam. Lily kemudian menyuruh Jian Chen pergi, katanya ia akan berendam di danau ini.


"Kau tidak takut ada orang lain yang melihatmu?" Jian Chen mengerutkan dahinya.


"Tidak akan ada, aku mempunyai cara khusus agar mereka tidak dapat melihatku, sebaliknya justru kau lah yang membuatku khawatir, aku takut kau akan mengintipku..."


"Apa aku terlihat laki-laki yang seperti itu?" Jian Chen mengangkat salah satu alisnya.


Lily tersenyum mengejek. "Tentu saja tidak, tapi kau sudah pernah mengintip gadis lain mandi..."


Jian Chen mendengus, ia langsung melesat terbang menuju kota terlebih dulu, meninggalkan gadis itu.


***


Kota Hene tidak memiliki benteng atau pembatas seperti kota pada umumnya, kota itu dibiarkan terbuka secara umum sehingga ketika Jian Chen di sana, tidak ada penjaga yang bertugas.


Jian Chen menyimpan pedang asura ke cincin ruangnya sebelum melangkah masuk, biarpun kota itu memiliki penduduk yang lebih sedikit namun kota Hene jelas adalah kota yang sibuk.


Sama dengan kota pada umumnya, terdapat banyak sekali pedagang di bahu jalan. Sejenak jalanan kota terasa ramai oleh aktivitas pedagang tersebut.


Tidak ada perdagangan budak disini, sepertinya pengaruh istana gurun tidak berdampak sampai pada kota Hene yang ribuan kilometer dari sana.


Jian Chen masih berjalan mencari lokasi yang ditujunya saat tiba-tiba seorang gadis menabrak bahunya yang membuat gadis itu terjatuh.


"Apa kau baik-baik saja?" Jian Chen mengulurkan tangannya.


Gadis itu mengangguk, ia berdiri tanpa menyambut uluran tangan Jian Chen. Matanya sekilas menatap pemuda itu sebelum tatapannya beralih ke yang lain, wajah gadis itu seketika memucat ketakutan.


Jian Chen mengerutkan dahi, ia menoleh ke arah tatapan gadis itu dan melihat ada dua pemuda berbadan besar sedang berjalan ke arahnya.


Dua pemuda itu sepertinya mempunyai urusan dengan gadis yang menabrak Jian Chen, niat mereka tampak tidak bersahabat.


"Apa mereka berniat jahat padamu?" Tanya Jian Chen pada gadis itu.


Gadis tersebut mengangguk pelan, melihat Jian Chen menyadari situasi dirinya gadis itu mulai meminta tolong padanya.

__ADS_1


__ADS_2