
"Kau masih terus memikirkannya, biarpun kau memusingkannya sedemikian rupa, tidak akan merubah apapun kondisinya, sebaiknya kau harus bertindak sesuatu mengenai kabar ini." Lily yang duduk tak jauh dari Jian Chen berkata.
Jian Chen menghela nafas, apa yang dikatakan gadis itu benar, bukan saatnya ia berdiam diri seperti ini.
"Kita akan pergi ke perkemahan mereka sekarang, aku ingin melihat langsung pasukan kekaisaran itu."
Lily ingin berkata sebaiknya esoknya saja tetapi Jian Chen sudah melesat terbang melewati jendela, gadis itu menghela nafas sebelum ikut terbang mengikutinya.
Dari informasi dari pasukan yang ia bunuh, Jian Chen juga mengetahui lokasi keberadaan pasukan kekaisaran Qilin.
Jian Chen yakin saat ini mereka sedang berisitirahat mengingat malam sudah larut, sebab itu ia langsung berangkat di detik itu juga.
Jika menggunakan kuda setidaknya mereka akan membutuhkan waktu seharian mencapai perkemahan kekaisaran Qilin namun dengan terbang, Jian Chen bisa sampai dalam waktu beberapa jam.
Ketika keduanya sampai, waktu sudah pagi dan matahari mulai sedikit naik terlihat.
"Ini benar-benar gila..."
Jian Chen mundur beberapa langkah dengan wajah penuh keterkejutan saat melihat perkemahan kekaisaran Qilin yang begitu besar.
Meski Jian Chen telah mengetahui jumlah mereka namun menyaksikannya secara langsung terasa berbeda, pemuda itu bahkan sampai menggosokkan matanya melihat besarnya perkemahan tersebut.
Lily di sampingnya tidak banyak bereaksi tetapi ia juga sedikit terpana melihat pasukan sebesar itu, gadis itu seperti teringat sesuatu di masa lalunya.
"Hm, untuk jumlah mereka sepertinya aku tidak perlu memberitahumu lagi, kau pasti sudah mengetahuinya, bukan?" Lily melirik Jian Chen yang langsung dibalas anggukan olehnya. "Jadi apa rencanamu sekarang, jelas dengan pasukan mereka, kekaisaranmu bisa kalah."
Jian Chen tersenyum tipis, "Menurutmu berapa persen aku bisa melawan mereka sendirian?"
Lily mengerutkan dahi, "Melawan semuanya? Kau sudah gila..."
"Aku tidak bisa berpikir ada cara lain menangani mereka kecuali menyerangnya seorang diri, kalaupun aku meminta bantuan belum tentu mereka mau, jika pasukan Kekaisaran Naga saja tidak bisa mengalahkannya apalagi kelompok yang lain."
Pasukan Kekaisaran Naga adalah pasukan terkuat di wilayah Kekaisaran Naga, bukan hanya dari segi rata-rata kekuatannya yang tinggi namun jumlah mereka terbilang sangat besar.
__ADS_1
Tapi dihadapkan pasukan Kekaisaran Qilin, entah dari segi apapun Kekaisaran Naga kurang unggul terutama jumlahnya, setidaknya jumlah pasukannya setengah dari jumlah pasukan musuh.
Lily menghela nafas, gadis itu sebenarnya tidak peduli dengan konflik kekaisaran ini namun ada satu hal yang ia khawatirkan yaitu mengenai keselamatan Jian Chen.
"Dari segi kekuatan, rata-rata tingkatan kultivasi mereka berada di Alam Hampa, puluhan di antaranya adalah Alam Langit sementara beberapa darinya telah mencapai Alam Raja..." Lily menjelaskan spesifik kekuatan yang ada di perkemahan tersebut.
Gadis itu jelas mempunyai kemampuan khusus dalam membaca kekuatan lawannya, meski Lily tidak melihat mereka langsung namun gadis itu bisa merasakan kekuatan lawannya walau dari jarak jauh sekalipun.
Lily kemudian menunjuk ke atas langit, Jian Chen tidak mengerti karena tidak melihat apapun di atas sana.
"Ada seseorang lagi yang bersembunyi di sana, kekuatannya sedikit lebih lemah darimu namun dia jelas bukan lawan yang mudah untuk kau hadapi..."
Lily menjelaskan bahwa di perkemahan juga ada dua pendekar yang telah mencapai Alam Dewa, ia sengaja tidak menghitungnya karena meski di alam kultivasi yang sama, mereka bukan tandingan Jian Chen.
"Kau sadar bukan melawan empat puluh ribu pasukan sekaligus sendirian bisa membahayakan nyawamu?" Lily masih berusaha untuk menolak ide Jian Chen.
"Apa menurutmu aku mempunyai pilihan di situasi seperti ini..." Jian Chen tersenyum tipis.
Lily berekspresi cemberut dan sedikit kesal, ia memahami tidak bisa mengubah keputusan Jian Chen.
Gadis itu menjelaskan biarpun Jian Chen harus melawan empat puluh ribu orang sekaligus kenyataannya ia tidak harus melawan semuanya.
Lebih sederhananya, jika jumlah mereka berhasil Jian Chen bunuh setengahnya, pasukan Kekaisaran Qilin akan sadar dengan kekuatan besar Jian Chen, alih-alih daripada terus menyerang mereka cenderung akan ketakutan.
Bisa dibilang sebaiknya Jian Chen memfokuskan membuat mereka sadar kekuatan Jian Chen yang sesungguhnya sekaligus menunjukkan kemampuannya.
"Bagaimana dengan seseorang yang kau maksud yang berada di langit itu, kau bilang kekuatannya sedikit lemah dariku."
"Biar aku yang membunuhnya, kalau kau melawan ia dan semua pasukannya sekaligus, peluang kemenanganmu akan semakin menipis."
Jian Chen terkejut dan sedikit tidak percaya, "Kau ingin membantuku?"
"Hmph! Jangan salah paham, aku hanya ingin menyerap kekuatan orang yang di atas itu, meski dengan kekuatanku yang sekarang bukan hal mudah untuk menghadapinya tetapi aku cukup yakin bisa membunuhnya."
__ADS_1
"Dan juga..." Lily melanjutkan ucapannya. "Aku tidak bisa membiarkanmu terbunuh disini, kalau kau mati akupun langsung mati, sebab itu aku membantumu."
Lily berkata demikian sambil memasang wajah ekspresi galak, gadis itu mendengus pelan dan membuang wajahnya.
"Terimakasih, setelah ini aku amat berhutang budi padamu..." Jian Chen mengucapkan rasa terima kasihnya dengan tulus.
"Hmph! Terlalu cepat untuk berterimakasih, kita lanjutkan setelah berhasil melawan mereka, bukankah kau sudah bulat untuk menghadapi pasukan itu seorang diri?"
Jian Chen mengangguk pelan, "Kalau aku punya alternatif lain yang lebih efektif, aku tidak akan melakukan ini sejak awal..."
Lily mengangkat bahunya, ia kemudian menciptakan sebuah bola energi yang berwarna gelap lalu gadis itu menembakkannya pada Jian Chen.
Bola energi Lily tidak meledak atau sebagainya melainkan menyerap masuk ke dalam tubuh Jian Chen.
"Apa yang kau laku-..." Jian Chen terkejut dengan tindakan gadis itu namun seketika kata-katanya terhenti saat tiba-tiba merasakan sensasi yang ia kenal.
Jian Chen bisa merasakan di dalam tubuhnya ada tenaga dalam Yin yang tersimpan, Lily secara tidak langsung memberikan tenaga dalamnya pada Jian Chen.
"Lily, ini..."
"Sudah aku bilang aku tidak mau kau terbunuh." Gadis itu serentak menatap ke atas langit, "Sepertinya ia sudah sadar keberadaan kita, aku akan mengurusnya sekarang, aku serahkan sisanya padamu..."
Lily langsung terbang ke atas langit usai berkata demikian, kini tinggal Jian Chen yang masih berdiri dan menatap perkemahan besar itu.
Jian Chen tidak langsung menyerang mereka melainkan menunggu hingga matahari sedikit naik dan tenda-tenda itu dirapihkan.
Saat empat puluh ribu pasukan itu sudah bersiap dan berniat melanjutkan perjalanannya kembali, Jian Chen melepaskan gelombang kekuatan yang berada di Alam Dewa agar lawan-lawannya menyadari keberadaannya.
Meski dari jarak yang jauh, kekuatan tersebut cepat tersadari oleh Kaisar Qilin dan lainnya, ekspresi mereka sangat terkejut menyadari ada kekuatan yang berada di Alam Dewa.
Seketika itu juga Kaisar Qilin menoleh ke arah sumber gelombang kekuatan tersebut, dahinya mengerut saat melihat Jian Chen seorang diri sedang menghadang pasukannya dari jauh.
'Hm, sepertinya menunjukkan kekuatanku saja tidak cukup, aku harus menunjukkan kemampuanku agar mereka menyadari aku adalah musuh mereka..."
__ADS_1
Jian Chen menarik nafas yang dalam lalu melakukan perubahan jenis, Jian Chen memasukkan tenaga dalam berjumlah besar pada mulutnya.
"Elemental Api — Hembusan Badai Api!"