
Di kehidupan pertama, paska klan Jian di bantai, Jian Chen hidup dalam pelarian tak menentu arah, pergi ke berbagai tempat dan daerah termasuk ke provinsi lain hanya untuk tetap hidup.
Jian Chen hanya memiliki beladiri seadanya, di usia 18 tahun ia bahkan masih berada di Alam Jiwa.
Dengan kemampuan yang seperti itu setidaknya Jian Chen masih memiliki kemampuan untuk digunakan, hal itulah yang membuat ia masuk ke serikat petualang untuk mendapatkan uang.
Karena syarat untuk mendaftar jadi serikat petualang harus memiliki tim, Jian Chen sempat kesulitan untuk gabung ke sana sampai suatu saat ada seorang gadis yang ingin satu tim dengan Jian Chen.
Gadis itu adalah kekasih Jian Chen sendiri yang bernama Yue Lian.
Waktu itu Yue Lian tidak berbeda jauh dengan Jian Chen yaitu seorang pengelana dari tempat lain, ia masuk ke serikat petualangan karena sama-sama ingin mendapatkan uang.
Jian Chen dan Yue Lian kemudian menjadi satu kelompok di serikat petualang itu yang terdiri antara dirinya dan Yue Lian.
Yue Lian sendiri lebih tua dua tahun di usia Jian Chen, dia gadis yang manis dan periang, banyak bicara serta suka becanda.
Awalnya hubungan keduanya hanya sebatas rekan kerja, namun setelah beberapa waktu mereka bekerja dalam berbagai misi hubungan keduanya menjadi lebih dekat apalagi sikap Yue Lian yang selalu ramah pada Jian Chen.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga Jian Chen jatuh hati pada gadis itu, demikian juga sebaliknya ternyata Yue Lian memiliki perasaan yang sama.
Namun tidak lama hubungan keduanya berubah menjadi sepasang kekasih, Yue Lian harus meninggal di tangan para perompak ketika harus menyelamatkan Jian Chen di salah satu misi.
Kematian Yue Lian adalah pukulan keras bagi Jian Chen di kehidupan pertama setelah ia kehilangan keluarganya, jika bukan karena perkataan Yue Lian agar ia terus hidup mungkin Jian Chen sudah bunuh diri waktu itu.
Jian Chen memejamkan matanya ketika kenangan buruk terlintas kembali di pikirannya, pikiran itu semakin terekam jelas apalagi melihat sosok gadis yang ia selamatkan beberapa waktu tadi.
Benar, gadis yang Jian Chen lindungi itu adalah kekasihnya sendiri di kehidupan lalu, Yue Lian.
Yue Lian masih tak sadarkan diri sampai hari sudah malam, Jian Chen mendudukkannya di bawah pohon sambil menyembuhkan luka yang dialaminya.
"Kenapa kau selalu memaksakan diri pada situasi yang tidak menguntungkanmu..." Jian Chen menghela nafas, berpikir kalau ia tidak di sana mungkin gadis itu benar-benar dalam bahaya.
__ADS_1
Wajah Yue Lian tidak berbeda jauh di kehidupan pertamanya hanya gaya rambut gadis itu sedikit berbeda. Di kehidupan pertama rambut Yue Lian diikat sementara sekarang rambut gadis itu diuraikan sampai sepinggang.
Jian Chen menatap wajah gadis itu yang masih terpejam dengan damai, sejujurnya kalau boleh memilih Jian Chen tidak ingin bertemu kekasihnya lagi karena suatu alasan namun ketika takdir telah berkehendak ia tak bisa berbuat apa-apa.
Wajah Yue Lian memang tak secantik Meily atau bahkan Lily, tapi Jian Chen yang pernah jatuh hati padanya tetap menganggap paras gadis itu sangat manis.
"Dimana aku?" Yue Lian akhirnya mendapatkan kembali kesadarannya, hal pertama yang ia temui adalah sebuah api unggun tak jauh dari dirinya pingsan.
"Kau tak sadarkan diri selama beberapa jam, apa kau tidak apa-apa?"
Yue Lian masih memegang kepalanya yang terasa sakit lalu menatap orang yang ada diseberang api unggun itu. Seketika ekspresi Yue Lian menjadi waspada melihat orang yang berbicara padanya memakai sebuah topeng.
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan padaku?" Yue Lian buru-buru menoleh ke arah pakaiannya namun tidak menemukan apapun yang dipikirkan gadis itu. "Kau... Dimana ini?"
Jian Chen menggaruk kepala yang tidak gatal, ia tahu memakai topeng membuat gadis itu menjadi waspada namun dirinya tidak mempunyai alternatif lain untuk bersitatap dengan gadis itu.
Ada alasan Jian Chen harus menyembunyikan identitasnya dari kekasihnya itu.
"Kau masih berada di hutan, tadi ada seorang pendekar yang datang menemuiku dan membawamu yang pingsan."
"Ya, katanya kau hampir mati oleh para penjahat, aku tidak tahu persis kejadiannya namun yang pasti kata pendekar itu aku harus merawatmu..."
Yue Lian kemudian teringat bahwa sebelumnya ia telah bertarung bersama para perampok dan bahkan hampir mati, ia juga masih ingat samar-samar ada yang menolongnya sebelum tak sadarkan diri.
Yue Lian ingin bangkit namun tiba-tiba pandangannya memutar sebelum akhirnya jatuh terduduk kembali.
"Kau tidak apa-apa, kondisimu belum stabil jadi jangan banyak bergerak dulu." Jian Chen menggaruk kepalanya. "Tenang saja, aku tidak berniat jahat padamu..."
Yue Lian menyipitkan matanya sebelum akhirnya menghela nafas, ia berpikir kalau Jian Chen memang benar-benar jahat, sudah dari tadi pemuda itu melakukannya ketika ia tak sadarkan diri.
"Terimakasih, maaf sebelumnya aku tidak sopan."
__ADS_1
Jian Chen mengangguk, "Tidak masalah, sudah sewajarnya kau waspada padaku apalagi di tengah hutan seperti ini."
"Benar juga, apa yang anda lakukan di tengah hutan seperti ini?"
"Aku... Aku hanya seorang pemburu."
"Pemburu?" Yue Lian menatap Jian Chen dari bawah sampai atas. "Aku baru mengetahui ada pemburu menggunakan sebuah topeng, selain itu, bukankah pakaianmu terlalu mewah untuk menjadi seorang pemburu?"
"Aku suka memakai topeng dan berpakaian bagus ketika memburu." Jian Chen menjawabnya sambil tersenyum canggung.
Yue Lian tidak menjawabnya melainkan menyipitkan mata pada Jian Chen dengan tatapan curiga.
Jian Chen memang terkesan mengada-ada tetapi intinya ia tidak mau identitasnya diketahui gadis itu meski ia yakin perempuan itu tidak akan mengetahuinya walau menyebutkan identitasnya.
Melihat sepertinya Jian Chen tidak berbahaya Yue Lian tidak berbicara lebih jauh. Ia memilih tidur namun karena perutnya yang kosong ia jadi tak dapat melakukannya.
Yue Lian ingin memburu untuk mencari makanan tetapi karena kondisinya ia tak dapat melakukan itu.
Disisi lain Jian Chen kini tengah memanggang sesuatu di atas api unggun, sebuah daging yang beraroma menggiurkan membuat lapar Yue Lian semakin menjadi.
"Kau lapar?" Jian Chen mengangkat salah satu daging di perapian yang sudah matang lalu melemparkan pada gadis itu yang segera di tangkap olehnya. "Daging ini telah aku bumbui cabai namun tenang saja, daging yang di pegangmu itu tidak memiliki rasa pedas."
Yue Lian mengerutkan dahinya. "Bagaimana kau tahu aku tidak menyukai makanan pedas?"
Jian Chen hampir menepuk jidatnya, ia lupa hal tersebut. Karena di kehidupan pertamanya ia yang selalu bersama Yue Lian membuat ia tahu banyak hal tentang gadis itu.
"Hm, bukankah setiap gadis tidak menyukai pedas, aku hanya menebaknya tidak tahu bahwa ternyata itu benar." Jian Chen mengangkat bahunya, seolah tidak memikirkan itu lebih jauh.
Nyatanya perkataan Jian Chen masih Yue Lian pikirkan, gadis itu menjadi ragu untuk memakan daging Jian Chen, membuat pemuda itu menggaruk kepala frustasi.
"Dengar aku tahu kau mewaspadaiku tetapi satu hal, jika aku berniat jahat kepadamu sudah dari tadi aku melakukannya ketika kau tak sadarkan diri."
__ADS_1
Yue Lian terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berani memakannya, mata gadis itu sedikit membulat karena merasakan masakan orang didepannya sangat enak.
Ketika Yue Lian sedang menikmati makanannya, Jian Chen secara diam-diam menatapnya di balik topeng, jika seseorang bisa melihatnya mereka akan menemukan tatapan kesedihan dari sorot matanya, tatapan yang mengandung ribuan kerinduan.