
Di salah satu tempat, sepasang laki-laki dan perempuan sedang melakukan perjalanan jauhnya. Matahari sebentar lagi akan terbenam di pelupuk barat membuat keduanya harus mencari tempat untuk beranaung.
Belum lagi awan di atas sana juga mulai mendung, dan benar saja tidak membutuhkan waktu lama hingga hujan gerimis mulai berjatuhan.
"Senior Luo, kurasa itu adalah penginapan, apakah kita akan berdiam di sana?" Tanya sang gadis ketika melihat dari kejauhan ada seberkas cahaya.
"Penginapan yang dibangun terpencil seperti ini biasanya akan mahal tapi kita tak punya pilihan selain ke sana, sebentar lagi hujan akan turun dengan lebat."
Laki-laki dan gadis itu akhirnya mengunjungi penginapan tersebut, mereka berdua adalah Luo Bai dan Lian Yi yang sedang menempuh perjalanan jauhnya.
Ketika keduanya sampai, seorang pelayan wanita muda datang dan menyambut keduanya dengan senyuman ramah.
"Nona Cantik, Tuan muda, silahkan masuk ke dalam, malam ini hujan akan terasa dingin jika terus di luar..." Ucap pelayan itu memberikan handuk kecil pada keduanya.
Luo Bai mengangguk dan berterimakasih, saat keduanya di dalam tidak ada siapapun pelanggan yang ada di penginapan tersebut. Di meja tempat ruang makan berada tidak ada yang seseorang pun kecuali mereka berdua.
Luo Bai duduk di salah meja bersama Lian Yi sebelum keduanya memesan makanan berkuah yang hangat yang cocok untuk suasana hujan seperti ini.
"Maaf, perjalannya jadi lama dari yang kita janjikan..." Luo Bai menggaruk kepalanya dengan canggung.
"Senior Liu, tidak perlu meminta maaf, ini bukan kesalahanmu, sudah faktor cuaca kita harus seperti ini..." Lian Yi membantahnya pelan.
Luo Bai tersenyum hangat, sesaat keduanya saling bertatap sebelum Lian Yi memalingkan wajahnya dengan malu. Memang terlepas dari hubungan keduanya yang merupakan senioritas, Lian Yi dan Luo Bai sama-sama mempunyai perasaan yang sama hanya saja mereka memendam perasaan itu dalam-dalam.
Tak lama kemudian, pelayan yang sebelumnya datang dan membawakan makanan yang mereka pesan.
Keduanya makan bersama-sama, dengan nuansa hujan seperti ini mereka tampak menikmati makanan tersebut, setidaknya itu yang mereka rasakan beberapa saat sebelum suara menggelegar dari luar tiba-tiba terdengar dan mengejutkan keduanya.
__ADS_1
Suara itu begitu keras dan memekakkan telinga, para pelayan juga sama terkejutnya ketika mendengar suara tersebut.
Awalnya mereka pikir itu adalah suara petir, dugaan mereka tidak salah tetapi sedikit kurang lengkap. Suara yang memekakkan telinga tersebut diikuti suara raungan hewan buas juga yang melolong di atas langit.
Luo Bai, Lian Yi dan pengurus penginapan lainnya mencoba keluar untuk melihat apa yang terjadi, mata mereka segera terbuka lebar saat mendapati langit di sebelah utara berubah menjadi warna kuning disaat awan gelap memenuhi sekitarnya.
Yang membuat mereka terkejut bukan karena warna langitnya melainkan sebab warna kuning tersebut bisa terjadi. Luo Bai melihat dari jarak yang jauh ada petir emas yang terkumpul di udara.
Percikan petir emas itu begitu kuat dan tampak menakutkan, namun tak lama kemudian petir emas tersebut membentuk sebuah naga raksasa yang panjang dan besar, lengkap dengan sisik dan mata emasnya.
Suara raungan kembali menggema dari naga tersebut, saat itulah Liu Bai dan lainnya menyadari naga itulah yang membuat suara tadi.
Para pengurus penginapan tampak ketakutan bercampur wajah pucat, Lian Yi menarik jubah Luo Bai, terlihat ia juga merasakan hal yang sama ketika naga raksasa itu mulai bergerak dan berputar-putar di langit.
Luo Bai melihat ke atas langit tersebut dengan perasaan campur aduk, naga emas itu benar-benar ada dan seperti binatang yang diceritakan legenda.
Entah berapa lama naga itu bergerak memutari langit, awan-awan tebal yang disekitarnya tampak berubah arus menjadi pusaran awan yang menakutkan.
Tidak tahu ke mana naga itu pergi namun setelah ia turun raungan naga emas itu berhenti, petir emas yang ada disekelilingnya juga ikut menghilang.
Walau hanya sesaat muncul, namun naga itu sudah cukup membuat yang melihatnya merasa terteror dan ketakutan.
Luo Bai menghembus nafas lega, walaupun ia terlihat tenang kenyataannya dirinya juga sangat takut. Seolah-olah naga itu bisa membunuh semua yang ada di daratan ini.
***
Jian Chen membuka matanya sesudah ia bersila dan menyudahi kultivasinya.
__ADS_1
Semenjak lima hari berlalu setelah kejadian bertemu gadis itu, secara sadar dia mendapatkan pemahaman beladirinya untuk menerobos ke alam Kultivasi Dewa Cahaya selanjutnya.
Jian Chen setidaknya berkultivasi selama kurang dari lima hari sebelum ia berhasil menerobos ke ranah alam Kultivasi Dewa Cahaya Rasi Bintang.
Dengan tahap tersebut kekuatannya sudah berada di level baru.
"Jadi ini kekuatan pendekar Alam Dewa..." Jian Chen mengepalkan tangannya keras, ia merasakan kekuatan besar mengalir di dalam tubuhnya.
Ketika Jian Chen menerobos, seperti biasa akan ada fenomena besar bagi alam sekitarnya termasuk naga emas yang menakutkan tadi berasal dari terobosan dirinya.
Gua yang ia tempati untuk bertapa beberapa waktu hancur menjadi dataran yang rata akibat keluarnya naga emas tersebut, Jian Chen sendiri tidak mengetahui kenapa naga itu bisa muncul ditubuhnya tetapi yang pasti meski naga emas itu sangat kuat, ia tidak berbahaya untuknya.
Disisi yang lain, Jian Chen menghabiskan seluruh tenaga dalamnya saat menerobos ke ranah Kultivasi Dewa Cahaya Rasi Bintang, sekarang meski pemuda itu sudah menjadi sangat kuat namun di tubuhnya tidak ada tenaga dalam sedikitpun.
"Ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama..."
Jian Chen menggaruk kepalanya, tenaga dalam dua belas ribu lingkaran bukanlah jumlah yang sedikit, walau menggunakan permata siluman ataupun kolam suci, mengisi tenaga dalamnya setidaknya membutuhkan waktu beberapa hari hingga terisi penuh.
Jian Chen bangkit dari duduk silanya usai ia menyerap tenaga dalam di tubuhnya sebesar tiga puluh lingkaran saja.
Jian Chen berencana untuk mencari tempat berteduh karena gua yang menaunginya sudah hancur, ia juga memakai jubah di cincin ruangnya karena pakaian sebelumnya dipakai sudah compang-camping akibat petir naga itu masuk ke dalam tubuhnya.
Biarpun belum memulihkan tenaga dalamnya, Jian Chen tetap sangat kuat. Jian Chen bisa merasakan perbedaan signifikan antara kekuatan Alam Raja dan Alam Dewa.
"Hm, apa aku balik ke kolam suci itu?" Jian Chen berpikir beberapa saat sebelum menggeleng pelan, ia pikir akan membutuhkan waktu lama jika berjalan kembali.
Jian Chen sudah meninggalkan kolam suci ratusan kilometer jauhnya, untuk menerobos ke alam Kultivasi Dewa Cahaya selanjutnya, ia memang membutuhkan tempat yang sunyi dengan waktu yang lama, kebetulan gua tersebut adalah tempat yang cocok.
__ADS_1
Jian Chen terus melanjutkan langkahnya dengan melompati dahan-dahan pohon, ia memang tidak terbang karena akan banyak menguras tenaga dalam.
Tidak lama pemuda itu bergerak, Jian Chen menemukan cahaya yang berasal dari penginapan, tanpa menunggu lagi Jian Chen segera menuju ke sana.