
Lun Zhi menahan nafasnya saat pasukan musuh bergerak ke arah perbatasan kota, meski jumlah pasukannya lebih banyak tetapi tetap saja kehilangan nyawa tidak dapat dihindari.
Kedatangan pasukan kekaisaran membuatnya sedikit tenang terutama salah satu dari mereka ada yang merupakan dua puluh jagoan terkuat di Kekaisaran Naga.
Lun Zhi mengenalnya sebagai Qian Ba, seorang pria berjanggut yang memiliki perut buncit. Qian Ba dikirim kesini atas permintaan Yang Mulia Kaisar.
Qian Ba mempunyai senjata pusaka berjenis kipas, jika Lun Zhi terkenal dengan permainan tongkat emasnya yang melegenda maka Qian Ba terkenal dengan teknik permainan kipasnya yang dibalut elemen angin.
Kekuatan Qian Ba sedikit di bawah Lun Zhi, ia berada di Alam Langit Tahap 5, Qian Ba sendiri merupakan jagoan nomor 18 dari 20 jagoan terkuat di Kekaisaran Naga.
Qian Ba berjalan mendekati Lun Zhi dan berdiri di sampingnya, tatapannya tidak lepas dari pasukan musuh yang perlahan menghampiri pasukan Kekaisaran.
"Pendekar Lun, kudengar lawan kita adalah organisasi paling berbahaya itu, apakah ini memang benar adanya?"
Lun Zhi tersenyum tipis sebelum menjawabnya dengan anggukan pelan. "Benar, salah satu informasi dari Walikota memberitahuku demikian."
Qian Ba meneguk ludah, "Seberapa besar peluang agar kita memenangkan peperangan ini?"
"Aku tidak yakin tapi kemungkinan di bawah empat puluh persen?"
"Empat puluh persen?! Termasuk jika dua Shio itu menyerang?"
Lun Zhi menggeleng pelan. "Tidak, kalau keduanya menyerang langsung, kemungkinan kita menang semakin menipis. Mungkin di bawah tiga puluh persen."
Qian Ba mengigit bibirnya, meski ia sudah menduganya sejak awal tetap saja mendengarnya secara langsung terasa berbeda.
Qian Ba, Lun Zhi atau pendekar lainnya mungkin sudah bersiap mati atas penyerangan malam ini namun tetap saja didalam hati kecilnya, mereka ingin tetap bertahan hidup.
Lun Zhi kemudian memberi instruksi pada lainnya, karena dia adalah pemimpinnya sudah saatnya ia harus menggerakkan pasukannya.
Lun Zhi sebenarnya sedang menunggu kedatangan seseorang untuk membantunya disini tetapi sepertinya ia tidak datang atau memang belum ke perbatasan.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu Lun Zhi mengangkat tangannya, ketika pasukan musuh sudah beberapa meter di dekat benteng, ia kemudian memberi isyarat maju.
"Serang mereka bersama-sama!"
Teriak lantang Lun Zhi menggema, seketika pasukan Kekaisaran ikut berteriak sambil bergerak maju serempak.
Tidak lama kedua kubu saling berbenturan, pasukan Kekaisaran terlihat unggul dari pasukan organisasi karena jumlahnya namun mereka menyadari kejadian ini tidak akan berangsur lama.
Lun Zhi segera melepaskan teknik tongkatnya pada pasukan musuh, setiap serangannya sangat kuat dan mematikan, andai mengenainya, tubuh lawannya kemungkinan akan mengalami patah tulang.
Disisi lain Qian Ba juga tidak kalah sama, dengan kipasnya, ia menerbangkan pasukan organisasi ke berbagai arah.
Keduanya terus melumpuhkan lawan-lawannya, ketika mereka pikir semua berjalan baik-baik saja, sekelompok kecil dari pasukan organisasi itu mulai memisahkan diri dan menerobos ke dalam benteng.
"Apa yang mereka lakukan?!"
Lun Zhi melihat itu terkejut dan menjadi geram, ia tidak menduga saat berpikir semuanya akan berakhir diluar perbatasan, pasukan musuhnya ternyata masih mengincar kota.
Lun Zhi mengigit bibirnya, alasan pasukan kekaisaran di letakkan di perbatasan kota agar memberikan waktu para warga mengungsikan diri, kalau seperti ini jadinya maka semuanya akan sia-sia.
Disisi lain Lun Zhi juga tak bisa pergi dan menghentikan mereka begitu saja, ia tidak dapat meninggalkan pasukan yang dipimpinnya.
"Kau sepertinya amat menikmati pertarungan, apa kau masih ingat denganku?" Seseorang muncul di antara pasukan organisasi dan menyerang Lun Zhi dengan pedangnya.
Lun Zhi menahan pedang tersebut dengan tongkatnya, ia kemudian bisa melihat orang yang berbicara tersebut.
"Kau lagi! Jadi kau juga ikut bagian dalam penyerangan ini?" Lun Zhi berteriak geram setelah melihat wajah Wu Yi kembali.
"Hm, apakah semua itu belum jelas. Mari kita lanjutkan pertarungan di restoran sebelumnya yang sempat tertunda..."
"Kau pikir aku tidak bisa mengalahkanmu?"
__ADS_1
"Oh, aku justru ingin melihat bagaimana kau mengalahkanku."
Lun Zhi dan Wu Yi kemudian bertukar serangan, keduanya beradu jurus dengan kuat menunjukkan kultivasi mereka berada di ranah yang tinggi.
Beberapa pendekar langsung menjauh setelah melihat kekuatan besar dari mereka, tidak ingin terkena dampak serangan sasaran dari keduanya.
Qian Ba yang ingin membantu Lun Zhi tiba-tiba didatangi dua pendekar lain dari Alam Langit. Meski kekuatan keduanya berada di bawahnya namun mereka tetap lawan yang merepotkan.
Lun Zhi melepaskan tenaga dalam yang besar pada tongkatnya yang membuat tangan Wu Yi merasakan sakit ketika menahan serangan itu.
Wu Yi dibuat jadi di posisi bertahan karena tongkat Lun Zhi yang menyerangnya secara bertubi-tubi, serangan Lun Zhi seperti tanpa jeda, tidak membiarkan dirinya menggunakan teknik pedangnya.
Seiring keduanya bertarung Lun Zhi perlahan mendominasi pertarungan, ia jelas lebih unggul dari segi pengalaman bertarung serta teknik tongkatnya yang tinggi.
Wu Yi disisi lain mengumpat dalam hati, bukan hanya serangan Lun Zhi membuat tangannya kesakitan tetapi juga membuat pedang pusakanya mengalami kerusakan.
Pedang Wu Yi mulai mengalami retak sejak bertarung dengan Jian Chen, di tambah dengan tongkat kuat Lun Zhi maka hanya soal waktu pedang kesayangannya itu patah menjadi dua.
"Bukankah sudah saatnya kau bergerak, mereka semua sudah menerobos kedalam kota..." Shio Kelinci melipat tangannya di dada, melirik pria di sampingnya.
"Bukankah seharusnya aku yang berkata demikian padamu, lihatlah pasukanmu, mereka sudah bertukar serangan sejak tadi dan kau malah berdiri disini..." Shio Macan berdecak geram.
Shio Macan dan Shio Kelinci memang belum bergerak meski pasukannya sudah maju, keduanya berada di atas langit yang tinggi sambil melihat perkembangan situasinya lebih jauh.
Sebenarnya tanpa bantuan keduanya sekalipun penyerangan ini akan berjalan baik di pihaknya namun mereka tetap harus turun tangan untuk meminimalisir korban di pihaknya.
Masalahnya kedua Shio itu dari awal tidak terlalu peduli dengan jumlah korban sekutunya, yang keduanya pikirkan selain mengambil kitab langit adalah kesenangan peperangan tersebut.
Melihat situasi yang terus berlanjut Shio Macan akhirnya mulai bergerak terbang melewati perbatasan kota, tepatnya ia tidak mau berlama-lama berdekatan dengan Shio Kelinci yang selalu membuatnya kesal.
Shio Kelinci melihat itu mengangkat bahunya tidak peduli, ia menoleh ke arah peperangan yang terjadi di bawahnya sambil menyaksikan lebih lanjut, selama situasi dalam kendalinya atau tidak ada lawan yang membuatnya tertarik, ia tidak akan ikut bagian selama beberapa waktu.
__ADS_1