
Wajah Longxia memburuk melihat Jian Chen langsung mengeluarkan sebuah pedang. "Saudara Pendekar tolong jangan salah paham, kami hanya ingin mengenal dirimu, itu saja."
Jian Chen tidak membalas ucapan pangeran itu melainkan berbalik lalu berbicara pada kelima gadis dibelakangnya.
"Kalian berlima pergi dari sini, biar aku yang menghadapi mereka."
"Saudara Jian, aku tak bisa meninggalkanmu begitu saja, ini terlalu berbahaya dan anda bisa kehilangan nyawa jika melawan mereka." Lan Qiaoqiao menolak ide Jian Chen.
"Percayalah aku bisa lolos dari mereka..." Jian Chen tersenyum tipis, "Kalaupun aku tidak melawan, mereka akan tetap menyerangku."
Menurut sepengalaman Jian Chen, Longxia akan tetap membunuhnya disini meski ia menyerahkan seluruh harta di makam kuno.
Alasannya cukup sederhana, agar pangeran itu tidak mempunyai rumor negatif apalagi ada yang mengetahui dirinya telah mencuri, reputasinya akan hancur seketika. Biasanya dengan status yang dimiliki Longxia reputasi bisa lebih penting dari nyawa sekalipun.
"Kak Qiaoqiao, benar yang dikatakan Saudara Jian, kita akan dalam bahaya jika terus ada disini..." Lan Xiaxia mulai membujuk saudari tertuanya.
"Qiaoqiao, pergi lah bawa saudari-saudarimu, aku akan menahan mereka disini..."
Mendengar percakapan mereka, Longxia menjadi tersinggung apalagi Jian Chen menghiraukan pertanyannya.
Biasanya orang yang mendengar namanya saja sudah cukup membuat orang lain bertekuk lutut tetapi Jian Chen justru melakukan hal yang sebaliknya.
Ekspresi wajah Longxia menjadi dingin, tidak ada lagi wajah hangat dan senyumannya, semua itu diganti dengan kearoganan.
"Kalian pikir bisa lolos dari sini?" Longxia berseru dingin pada rombongan Jian Chen tetapi pemuda itu justru masih tidak menggubrisnya membuat ketersinggungannya berubah menjadi kemarahan.
Longxia kemudian memberi isyarat pada Pedang Setan untuk memberikan serangan pembuka pada mereka.
Pedang Setan mengangguk tanpa sepatah katapun sebelum mengeluarkan pedang di punggungnya lalu mengayunkannya pada Jian Chen.
Ayunan pedang dari Pedang Setan mengeluarkan sebuah gelombang energi berwarna ungu, ketika gelombang energi itu mengenai targetnya, sebuah ledakan keras tercipta hingga menimbulkan daya kejut yang hebat.
Semua orang terkejut dengan serangan kuat Pedang Setan, dua pendekar Alam Hampa yang ada didekatnya juga bereaksi demikian, mereka kini mulai menyadari perbedaan kekuatannya meski berada di alam yang sama.
__ADS_1
Ledakan yang dikeluarkan Pedang Setan menimbulkan debu kemana-mana, membuat jarak pandang sekitarnya tertutup namun ketika debu itu menghilang, semua orang yang melihatnya terkejut bahkan menahan nafas.
Sebuah naga emas muncul di kepulan asap tersebut, tubuh naga itu melindungi Jian Chen dan kelima gadis dari ledakan.
Lima gadis kembar sama terkejutnya ketika melihat Naga yang gagah ada di dekatnya. Pandangan mereka tertuju pada Jian Chen karena pemuda itu terlihat menatap tajam rombongan Longxia dan lainnya.
Jian Chen kemudian menoleh pada kelima gadis itu, memintanya untuk pergi segera. Ia menggerakkan tangannya kemudian Naga emas tersebut mulai bergerak seperti mahluk hidup sungguhan.
Semua orang yang melihat sekejap terpana, meski itu sebuah teknik namun yang dilakukan Jian Chen seperti Naga sungguhan.
Jian Chen memberi instruksi pada kelima gadis tersebut untuk mengikuti naganya pergi. Tanpa disuruh dua kali mereka meninggalkan Jian Chen di depan makam kuno.
"Saudara Jian, aku akan menunggumu setelah kejadian ini..." Lan Qiaoqiao mengucapkan terima kasihnya sebelum mengajak keempat saudarinya pergi.
Tidak ada yang berani menghadang gadis-gadis itu, prajurit yang mengepung area makam segera memberikan jalan pada mereka apalagi setelah melihat naga itu bergerak ke arahnya.
Para prajurit itu takut naga emas tersebut akan menyerangnya jika berani menghadang.
Naga emas Jian Chen terus mengawal kelima gadis itu sampai jauh, tidak ada yang berani mengikuti atau menghadangnya.
Jian Chen kemudian menoleh pada Longxia dan lainnya setelah dirasa kelima gadis itu menghilang. Semua pandangan juga langsung tertuju pada Jian Chen yang masih berada dalam kepungan.
"Tidak harus mengejar mereka, apa yang kau inginkan semuanya ada pada diriku, bukankah kau menginginkan harta benda di makam kuno ini?" Tanya Jian Chen.
Longxia ingin menyerang Jian Chen langsung tetapi setelah melihat teknik naga tadi ia harus memperhitungkan langkahnya kembali, pemuda di depannya jelas bukan pendekar biasa.
"Pendekar, anda sepertinya sudah mengerti situasinya sekarang, kalau begitu aku tidak perlu berbasa-basi lagi."
Longxia mengulurkan tangannya. "Izinkan aku memberi sebuah tawaran. Sebutkan jumlah uang yang anda minta maka aku akan membayarnya walaupun puluhan juta koin emas sekalipun."
"Oh menarik, bagaimana kalau aku meminta satu milyar emas, apa kau akan memberikannya, Heh?" Jian Chen tersenyum mengejek.
"Saudara Pendekar, jangan becanda! Itu sama dengan penghasilan sebulan provinsi ini."
__ADS_1
"Kalau begitu lupakan penawaranmu itu, aku juga tidak butuh dengan uangmu."
Wajah Longxia bereaksi tajam, seumur-umur ia belum pernah bertemu dengan seseorang yang begitu tidak menghormatinya.
"Kalau begitu jangan salahkan aku yang menggunakan cara kasar seperti ini..."
Bersamaan dengan Longxia berkata demikian, para pengawal yang ikut bersamanya maju dan menyerang Jian Chen.
Para pengawal pribadi Longxia sangat kuat, hampir semua dari mereka adalah memiliki kekuatan di ranah Alam Kehidupan Puncak.
"Jadi kau ingin menggunakan cara ini, kalau begitu aku juga berhak untuk melawan kalian."
Jian Chen kemudian menarik pedang Dewa Asura dari sarungnya yang seketika mengeluarkan aura kematian pekat yang merembes ke sekelilingnya.
Wajah para prajurit memucat, pengawal yang hendak menyerang Jian Chen sebelumnya juga langsung terhenti, mereka merasakan ketakutan saat melihat pedang merah yang di pegang Jian Chen.
Pedang itu terselimuti aura merah kehitaman, menunjukkan betapa berbahayanya benda tersebut.
"Kau... Pedang apa yang kau pegang itu?!" Tunjuk Longxia gemetar.
Jian Chen tidak menjawab melainkan langsung bergerak cepat menghabisi pengawal Longxia yang sebelumnya sudah bergerak di dekatnya.
"Teknik Pedang Bulan Separuh — Kesunyian Malam Terlarang."
Jian Chen berlari bagai kilat sambil menebas lawan-lawan yang dilaluinya, ketika ia muncul kembali 7 orang pengawal Longxia sudah terluka sayatan besar di tubuhnya.
Semua begitu cepat, orang-orang yang melihat langsung terkejut ketika melihat para pengawal itu langsung tumbang ke tanah.
Longxia terdiam, begitu juga dengan Pedang Setan dan yang lainnya. Ia bisa melihat Jian Chen masih muda, tidak menyangka kemampuannya setinggi ini.
Disisi yang lain Jian Chen justru bereaksi berbeda ketika ia menggunakan Pedang Dewa Asura, ada sensasi panas yang menyebar ke seluruh tubuhnya ketika memegang pedang tersebut.
Hawa panas itu membuat Jian Chen terasa nyaman bahkan jadi bergairah untuk mencabut nyawa seseorang. Jian Chen merasa dia ingin membunuh lebih banyak dari orang-orang di sekelilingnya.
__ADS_1