Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 250 — Jian Chen Vs Dua Shio III


__ADS_3

Saat Jian Chen masih sibuk dengan dua lawan tangguhnya, situasi luar perbatasan kota sebenarnya sedang dalam keadaan ujungnya.


Lun Zhi yang sebelumnya khawatir berat dengan pasukannya kini sudah mendapatkan kepercayaan dirinya gara-gara tiga hal.


Pertama, antara ia dan Wu Yi yang bertarung sampai saat ini, ia dalam kondisi mengunggulinya. Wu Yi sudah mengalami beberapa luka di tubuhnya dan nafasnya sudah tidak teratur lagi.


Meski ia yakin tidak bisa membunuh atau mengalahkan pria pensiunan itu namun situasi setidaknya berada di pihaknya.


Kedua yang membuat Lun Zhi bernafas lega yaitu dengan kepergian Shio Kelinci yang tiba-tiba menghilang begitu saja.


Lun Zhi berpikir Shio Kelinci akan masuk dalam pertarungan di luar perbatasan seperti yang pasukan kekaisaran pikirkan namun keadaan jelas tidak sesuai dugaannya.


Entah alasan apa Shio Kelinci tiba-tiba menghilang di udara ketika mereka melihat ke atas. Walau tidak tahu kemana perginya namun itu adalah kesempatan agar pasukan kekaisaran untuk terus menyerang maju.


Shio Kelinci memang sangat kuat, keberadaannya di perang ini bisa membalikan situasi peperangan.


Dan terakhir yang membuat Lun Zhi merasa lega karena peperangan ini, pihaknya lah yang mendesak pasukan organisasi.


Jumlah pasukan Kekaisaran umumnya lebih banyak dibandingkan jumlah pasukan organisasi jadi tidak mengherankan posisinya jadi seperti ini jika tidak ada Shio Kelinci yang ikut serta.


"Apa hanya ini kemampuanmu setelah sekian lama menghilang?" Lun Zhi tersenyum mengejek pada Wu Yi yang mulai kesusahan menghadapinya.


"Kau pikir akan menang melawanku, biarpun aku kalah duel disini tetapi tidak untuk peperangan ini."


"Hm, apa maksudmu?"


Wu Yi tersenyum penuh makna. "Kau akan menyadarinya beberapa saat lagi."


Wu Yi memberikan satu isyarat pada salah satu pendekar yang tak jauh darinya berdiri.


Pendekar itu mengangguk pelan, ia mengeluarkan sebuah tabung dari cincin ruangnya sebelum menarik sumbu di bawah tabung itu.


Tabung itu melepaskan tembakan ke udara dan menimbulkan suara ledakan yang keras


Ekspresi Lun Zhi memburuk melihatnya, ia yakin tanda kembang api itu bukanlah hal yang menguntungkan bagi pasukannya.


Benar saja, tidak lama kembang api itu dinyalakan, ada pasukan organisasi lain yang datang dari dua belah sisi pasukan Kekaisaran dan menjempitnya.

__ADS_1


Dua pasukan yang datang itu adalah bala bantuan dari pasukan musuh, jumlahnya jauh lebih banyak dari pasukan kekaisaran.


Dengan penyerangan dari dua sisi tersebut posisi pasukan Kekaisaran tidak diuntungkan setelah di serang di depan, kiri dan kanannya.


"Kau-! Seberapa banyak jumlah kalian?" Lun Zhi berkata geram dan sedikit kesal.


"Apa kau pikir kami kekurangan jumlah, seperti itu, ingat tujuan kami selain mendapatkan kitab adalah menghancurkan kota. Butuh ribuan pendekar untuk melakukan penghancuran sebesar Kota Anshan."


Tangan Lun Zhi mengepal keras, memang sejak awal terlalu sedikit jumlah pasukan organisasi yang melawan mereka. Mendapatkan kitab adalah cerita lain sementara ingin menghancurkan kota adalah perkara berbeda.


Dari awal Wu Yi tetap tenang karena mengetahui situasinya dengan jelas, saat bertarung dengan Lun Zhi ia melihat Shio Kelinci terbang cepat memasuki perbatasan kota.


Meski tidak tahu apa yang terjadi namun ia yakin masuknya Shio gadis itu berkaitan dengan pemuda yang di lawannya beberapa jam lalu.


Dengan Dua Shio yang memiliki kekuatan tinggi, Wu Yi percaya bahwa pemuda yang di lawannya akan mudah di kalahkan apalagi pemuda itu telah melewati pertarungan berat malam ini, kekuatannya tidak akan prima semula.


***


"Sepertinya di luar sana cukup meriah, apa peperangan sudah pada intinya?" Jian Chen bertanya pada Shio Kelinci yang masih terkejut melihat api hitam barusan.


Ledakan kembang api barusan membuat Jian Chen tersadar bahwa peperangan masih berlanjut hanya saja ia sedikit tertahan dengan dua Shio di dekatnya.


Ia kemudian memasukan kedua pedang pusakanya ke dalam cincin ruang, sesaat setelah Jian Chen tidak memegang apapun, kedua tangan pemuda itu kemudian melakukan perubahan jenis yang membuat tangannya jadi bercahaya.


Jian Chen menggunakan elemen cahayanya namun saat ini bukan warna emas yang bersinar seperti biasanya melainkan cahaya berwarna hitam pekat.


Kedua tangan Jian Chen melakukan gerakan tarian singkat yang melukis sebuah naga di udara, ini adalah teknik yang sama yang Jian Chen gunakan saat bertarung di klan Jian dulu.


Tak lama kemudian, naga lukisan itu menjadi hidup sungguhan dan meraung keras, bedanya jika dulu adalah Naga emas sekarang naga cahaya yang dikeluarkan Jian Chen adalah naga dengan cahaya hitam.


Kekuatan naga cahaya hitam jauh lebih kuat dan lebih sempurna dari cahaya emas.


Jian Chen tidak menunggu keterkejutan dua lawannya, ia menggerakkan sedikit tangannya seketika naga itu mulai menoleh ke arah Shio Macan sebelum bergerak cepat menuju ke tempatnya.


"Ilusi? Tidak ini terlalu nyata..." Shio Macan berusaha tetap tenang dan melihat naga hitam itu.


Naga cahaya hitam bergerak cepat dan dengan waktu singkat sudah ada didekatnya.

__ADS_1


Shio Macan tidak bisa berpikir lebih lama apakah ini ilusi atau naga betulan, yang pasti ia harus bergerak menjauhi naga itu.


Shio Macan mengeluarkan semacam bulatan energi berwarna ungu, bulatan itu adalah tarikan gravitasi yang sangat kuat, benda atau mahluk hidup apapun di dekatnya akan menempel ke bolanya seperti magnet.


Gerakan naga itu jadi melambat akibat tarikan gravitasi Shio Macan tetapi tidak cukup membuatnya berhenti.


Shio Macan bergerak menjauh sambil sesekali melepaskan bola gravitasinya, masalahnya naga itu juga tidak mau lepas darinya dan terus mengejarnya.


Ketika melihat Naga itu yang benar-benar sebuah naga asli dan bukan ilusi, Shio Kelinci sudah berlari cepat dengan tenaga dalamnya.


Gadis itu menyadari kekuatan Jian Chen sejak awal bukan tandingannya dan keduanya tidak bisa mengalahkannya walau mengeluarkan semua kekuatan sekalipun.


Jian Chen melihat Shio Kelinci yang berlari sambil tersenyum sinis, ia kemudian menggunakan elemen cahaya yang bergerak sangat cepat ke arahnya. Dalam beberapa kedipan mata saja ia sudah mengejar dan menghadang di depannya.


"Kenapa kau lari? Bukankah kau ingin bertarung denganku?"


Shio Kelinci mengigit bibirnya, melihat kecepatan gerakan Jian Chen saja yang berada di atasnya ia yakin tidak bisa lari dari pemuda itu.


Shio Kelinci merubah keadaannya menjadi senyuman manis dan terkesan canggung. "Bisakah kita lupakan yang terjadi sebelumnya, aku yakin kau tidak akan membunuh gadis manis sepertiku?"


Jian Chen tertawa kecil, "Menurutmu, lihatlah bahkan diantara pendekar yang kulawan sebelumnya ada wanita. Bagaimana kondisi mereka?"


Ada perempuan yang Jian Chen lawan sebelumnya dan ia membunuhnya dalam sekali serangan tanpa belas kasihan.


Shio Kelinci mengumpat keras. Ia menyadari bersikap manis tidak merubah situasinya.


"Apa kau ingin menggunakan cara kasar, aku belum menggunakan semua jurusku dan kuyakin biarpun aku tidak bisa membunuhmu, satu tangan atau kakimu akan terlepas." Shio Kelinci berkata dingin.


Jian Chen tersenyum tipis dan tidak menjawabnya saat tiba-tiba menghilang dari pandangan gadis itu dan muncul didekatnya.


Kecepatan gerak Jian Chen jauh lebih tinggi dari pada Shio Kelinci, ketika laki-laki itu berada didekatnya Shio Kelinci terlambat bereaksi.


Tangan Jian Chen dengan cepat memukul perut gadis itu dengan keras, biarpun satu pukulan sudah cukup membuat gadis itu muntah darah dan hampir jatuh.


Sebelum Shio Kelinci tumbang ke tanah, Jian Chen meraih lehernya dan mencekiknya ke atas.


Gadis itu meronta sesaat dan berusaha melepaskan tangan Jian Chen dari lehernya tetapi kemudian ia dihadapkan dengan tenaga Jian Chen yang luar biasa kuat.

__ADS_1


"Le... Paskan... Ku..."


Jian Chen mendengus dingin dan langsung membanting kepala Shio Kelinci ke tanah dengan keras, membuat gadis itu berhenti bernafas dan tutup mata untuk selamanya.


__ADS_2