Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 224 — Organisasi Pedang Darah VII


__ADS_3

Pada akhirnya tidak ada ide yang keluar dari Jian Chen selain terus menyerang Xin Tian, lagi pula Xin Tian tidak membiarkan ia berpikir karena lawannya itu langsung memperpendek jarak dan mengayunkan dua pedangnya.


Terlepas dari dua pusakanya yang memiliki kegunaan masing-masing, kemampuan pedang Xin Tian juga sangat tinggi.


Jian Chen dan Xin Tian bertukar beberapa jurus, Jian Chen tidak mau di posisi bertahan sehingga ia menyerang Xin Tian lebih cepat lagi.


Pada dasarnya kemampuan Jian Chen dalam berpedang di atas Xin Tian sehingga tidak membutuhkan waktu lama posisinya berimbang dengan lawannya dan ketika Jian Chen memadukan dengan teknik tendangan yang menyertai teknik pedangnya, Xin Tian berubah posisi bertahan.


"Harus kuakui, keahlian pedangmu cukup merepotkan?" Xin Tian tersenyum tipis saat merasakan kecepatan pedang Jian Chen yang membuat ia kerepotan.


"Tidak perlu memuji, aku tidak akan senang mendengarnya..." Jian Chen memainkan pedangnya lebih cepat lagi.


Keduanya kembali bertukar beberapa jurus, kondisi tangan Xin Tian semakin sakit ketika menahan pedang dan tendangan Jian Chen secara terus menerus.


"Apa hanya segini kemampuan dari anggota Shio Pemburu, kupikir akan seru?" Jian Chen tersenyum mengejek.


"Hmph! Kau tidak akan tahu hasilnya seperti apa..."


"Oh, maksudmu aku tidak mengetahui bahwa pedangmmu sedang menyerap tenaga dalam setiap senjataku berbenturan, begitu?"


Xin Tian terkejut ketika Jian Chen mengetahui rahasia senjatanya. "Kau... Bagaimana kau?!"


"Tidak perlu terkejut, aku bisa melihat semua trikmu?"


Xin Tian tidak terlalu mengerti perkataan Jian Chen tetapi ketika melihat mata pemuda itu, sebelah mata Jian Chen sudah bersinar keperakan.


"Kalau kau mengetahui caraku mengalahkanmu, kenapa kau terus menyerangku dengan pertarungan jarak dekat!?"


Awalnya Xin Tian berencana untuk menghisap tenaga dalam Jian Chen sampai pemuda itu kelelahan dan kehabisan tenaga dalamnya, cara seperti ini sering Xin Tian gunakan ketika bertarung dengan lawan-lawannya.


Xin Tian tidak mengerti, kalau Jian Chen mengetahui hal tersebut kenapa ia terus beradu serangan dekat.


"Kau mungkin akan kecewa jika menggunakan cara seperti itu, menghisap tenaga dalamku sampai tidak tersisa?" Jian Chen tersenyum mengejek. "Aku bisa melakukan ini seharian."


Tenaga dalam Jian Chen sudah mencapai sepuluh ribu lingkaran lebih, jika Xin Tian berencana menghisap tenaga dalamnya maka akan membutuhkan waktu yang lama, bahkan bisa seharian.

__ADS_1


Setelah beradu beberapa jurus barulah Xin Tian mengerti maksud perkataan Jian Chen, lawannya itu masih tidak merasakan kelelahan bahkan nafas Jian Chen masih teratur halus.


"Kau, seberapa banyak tenaga dalam di tubuhmu!?" Xin Tian hampir kehilangan ketenangannya.


Jian Chen tersenyum lebar. "Cukup untuk membuat mati!"


Xin Tian tersentak kaget, ia sudah melihat Jian Chen bertarung dengan Yun Luo yang menghabiskan banyak tenaga dalamnya. Belum lagi sebelum ia sampai, ada banyak jasad dari Organisasi Pedang Darah serta empat petinggi dari Alam Hampa.


Seharusnya Jian Chen tidak lagi memiliki banyak tanaga dalamnya, Xin Tian yang berencana ingin mengalahkan Jian Chen dengan menyerap tenaga dalamnya kini harus mengulang ide tersebut.


"Dia terlalu berbahaya, aku harus membunuhnya sebelum tenaga dalamku habis!" pedang Xin Tian umumnya hanya menyerap tenaga dalam saja, tidak bisa di gunakan olehnya sendiri.


Xin Tian mengayunkan pedangnya dengan kuat yang membuat Jian Chen terpukul mundur. Xin Tian kemudian menggunakan teknik pedangnya yang di padukan dengan sebuah tarian.


"Teknik Pedang Ganda! Tarian Kupu-kupu!"


Gerakan pedang Xin Tian meningkat begitu cepat dan memiliki pola gerakan yang rumit, Jian Chen yang awalnya menghindar dan menangkis kini jadi di posisi bertahan.


Melihat serangannya belum cukup melukai lawannya, Xin Tian menggunakan teknik lainnya lagi tetapi kali ini pedangnya di sertai elemen petir.


"Teknik Pedang Gerhana — Dua Cahaya Bintang!"


Dalam lima belas tebasan pertama, kecepatan pedang Jian Chen bertambah belasan kali lipat membuat ayunan pedangnya sampai tidak terlihat oleh mata.


Seketika itu juga Xin Tian langsung berganti posisi bertahan bahkan mengalami luka tebasan di sekujur tubuhnya. Jian Chen terus menyerang Xin Tian tanpa jeda hingga akhirnya luka-lukanya berubah menjadi luka serius.


Xin Tian ingin mengambil jarak dan menyembuhkan lukanya namun Jian Chen tak membiarkan itu terjadi, ia terus menempel di dekatnya sambil mengayunkan pedangnya.


"Siapa kau sebenarnya!? Bagaimana bisa kau memperoleh kekuatan sebesar ini!?" Xin Tian berteriak putus asa.


"Kau tidak pantas mengetahui namaku dan untuk kekuatan ini..." Jian Chen mengayunkan pedangnya lebih kuat lagi membuat Xin Tian mengalami pendarahan yang hebat. "Kau bisa menilai kekuatanku yang ada di atas Alam Langit."


Xin Tian hampir kehilangan kesadarannya ketika tebasan itu mengenai dadanya, wajahnya menjadi jauh lebih pucat dengan alasan berbeda, ia pernah mendengar bahwa ada ranah alam lain setelah Alam Langit dan kini ia mengerti kekuatan setelah ranah Alam Langit tersebut sangat mengerikan.


Nafas Xin Tian menjadi lemah, penglihatannya mulai buram karena kehabisan banyak darah, ia mengerti nyawanya sudah tak tertolong lagi.

__ADS_1


Saat itulah Xin Tian menyadari sejak awal ia bukan tandingan Jian Chen. Xin Tian menyesal karena sempat meremehkan Jian Chen namun semua ini sudah terlambat sekarang.


Meski lawannya sudah tidak melawan lagi Jian Chen tidak berhenti menyerang, dia mengayunkan pedangnya untuk terkahir kali yang membuat Jian Chen berhasil mencabut nyawa Xin Tian.


Jasad Xin Tian segera jatuh ke tanah, sebelum itu terjadi Jian Chen menangkap dua pusakanya.


Jian Chen melihat pedang itu secara lebih detail, setelah bertukar serangan dengan pedang Asura, Pedang Aturan maupun Pedang Hukum tidak mengalami goresan sedikitpun.


"Hm, pusaka yang bagus... Aku akan menyimpannya nanti." Jian Chen menghisap kedua pedang Xin Tian ke dalam cincin ruangnya.


Jian Chen juga memeriksa cincin ruang yang tersemat di cincin Xin Tian, di dalamnya ada ribuan koin emas, tumpukan sumber daya serta beberapa pusaka.


Jian Chen tidak menemukan ada mutiara elemen di cincin ruangnya, membuat ia sedikit kecewa. Dia kemudian beralih memeriksa cincin Yun Luo, hasilnya tidak berbeda jauh dengan cincin ruang milik Xin Tian, pusaka di matanya juga sudah menghilang alias sudah hancur ketika ia mati.


Setelahnya Jian Chen berencana untuk memasuki markas Organisasi Pedang Darah untuk menyelamatkan orang yang diculik namun suara Lily menghentikan langkahnya.


"Ehm! Sepertinya kau melupakan sesuatu dengan dua jasad Alam Langit itu?"


Jian Chen menaikan alisnya lalu menoleh ke jasad Xin Tian dan Yun Luo lagi namun ia tidak menemukan apa yang di lupakan. "Sepertinya tidak, aku tidak melupakan sesuatu..."


"Ayolah, apa yang biasanya kau lakukan setelah membunuh lawanmu?" Lily mengedipkan mata cantiknya berulang kali.


Jian Chen berpikir beberapa saat sebelum terbesit sesuatu di dalam pikirannya. "Ah, maksudmu mengubur mereka, itu tidak perlu, biar nanti orang-orang yang kubebaskan melakukannya."


Lily berdecak kesal melihat Jian Chen yang masih tidak mengerti maksudnya. "Apa semua laki-laki itu satu produk, sama-sama tidak ada yang peka!"


"Apa maksudmu? Kau bercerita pernah berhubungan dengan semua laki-laki?"


Lily melotot dan semakin geram. "Maksudku, serap kultivasi mereka untukku!"


Jian Chen membuka tutup mulutnya, ia baru mengerti maksud Lily. "Kenapa kau tidak bilang dari awal?"


"Hmph! Kenapa kau juga tidak mengerti dari awal!" Lily mendengus kesal, melipat tangannya di dada sebelum membuang wajah.


Jian Chen menggaruk pipinya dengan canggung, ia sedikit terkejut Lily bersikap seperti gadis pada umumnya, selalu ingin di mengerti oleh laki-laki.

__ADS_1


__ADS_2