
“Mencariku?” Tanya Jian Chen.
“Tepatnya kami ingin meminta bantuan padamu…” Ziyun menyikut Meily agar dia membuka suara.
“Ehm! Saudara Jian, kami hendak pergi ke Lembah Merah untuk mencari tanaman Anggrek emas disana. Aku meminta bantuanmu untuk menemani kami…” Meily menjelaskan bahwa dia tak bisa meminta bantuan pada yang lain karena ini bersifat rahasia.
“Anggrek emas adalah tanaman herbal yang langka, bagaimana kalian bisa mengetahuinya ada disana?”
“Kami tidak terlalu yakin sebenarnya hanya saja saat ini aku membutuhkan tanaman itu.”
Jian Chen terdiam karena masih sulit mencerna situasinya.
“Saudara Jian, seperti ini…” Ziyun menambahi kenapa Meily membutuhkan tenaman herbal itu segera. “Ibu Meily sudah 5 tahun terakhir ini mengalami sakit yang parah, beliau terbaring dan kali ini kondisinya semakin kritis, tanaman Anggrek emas adalah cara agar bisa menyembuhkannya.”
Dahi Jian Chen berkerut, meskipun Ziyun berkata demikian namun dari sorot matanya dia tidak memiliki kepercayaan diri atas ucapan itu. Meily disisi lain menunduk, menyinggung keadaan ibunya membuat ia merasa sedih.
“Baiklah aku ikut membantu kalian. Aku juga tidak punya urusan apapun sekarang…” Jian Chen tersenyum lembut.
Meily mengucapkan terimakasihnya, ia berjanji akan memberikan kompensasi pada Jian Chen terlepas misinya berhasil atau gagal. Jian Chen kemudian bertanya kapan mereka akan pergi.
“Kami akan pergi sekarang, kabar adanya tanaman anggrek emas kami dengar dari bisik-bisik Tetua akademi secara tak sengaja.”
Ziyun dan Meily harus bertindak segera karena takut bambu emas itu akan diambil oleh orang lain. Ketiganya kemudian pergi dengan cara berjalan melewati gerbang pembatas kota karena lembah merah berada diluar kota.
“Sebentar, mohon tunjukkan tanda pengenal kalian?”
Rombongan Jian Chen dihentikan ketika hendak keluar gerbang oleh penjaga perbatasan kota. Jian Chen lupa bahwa murid akademi seperti dirinya tak bisa keluar kota sembarangan namun Meily sudah merencanakan ini semua.
Meily mengeluarkan tanda pengenal yang berwarna keemasan, meski Jian Chen tidak tahu itu apa namun penjaga perbatasan itu langsung berubah sikap dan menjadi lebih hormat pada Meily.
“Kami bertiga akan pergi keluar kota, kuharap kau memperbolehkan kami?”
“Tentu saja, Nona, silahkan…” Penjaga itu mengembalikan tanda pengenal ke Meily lagi.
Meily mengangguk dibalik topengnya sebelum memberikan arahan pada Ziyun dan Jian Chen agar segera bergerak maju.
“Aku bertanya karena penasaran, kenapa kalian dari tadi memakai topeng?” tanya Jian Chen.
“Salah satunya adalah agar kami bisa melewati penjaga tadi dan satu alasan lainnya agar identitas kami tidak ketahuan oleh siapapun.”
“Bukankah lebih baik untuk memperkanalkan identitas kalian saat keluar gerbang tadi?” tanya Jian Chen heran, dengan identitas Meily yang sebagai puteri dari klan Niu seharusnya tidak ada yang bisa menghalangi jalannya.
__ADS_1
“Saudara Jian justru karena itu kami harus memakai topeng, beberapa hari ini ada kasus pembunuhan di Kota Qianshan yang mengincar orang kaya bahkan orang terpandang sekalipun. Saudara Jian pasti mengerti situasinya kalau kami secara terang-terangan keluar akademi?”
Jian Chen mengangguk, status yang terpandang tidak serta merta menjadi nyaman, terkadang akan banyak yang membahayakannya dibanding orang dengan status biasa.
Ketiganya terus bergerak maju dan mulai memasuki daerah hutan. Sebenarnya Lembah Merah tidak terlalu jauh dari kota hanya saja karena mereka berangkat diwaktu siang maka setelah beberapa jam bergerak matahari sudah terbenam diujung cakrawala.
Jian Chen menyuruh agar Meily dan Ziyun berhenti untuk berisitirahat serta bermalam karena bergerak ketika malam seperti ini ditambah di tengah hutan sangat berbahaya.
Ziyun dan Meily menyalakan api unggun sedangkan Jian Chen memilih berburu untuk mencari makan malam, tiga ayam hutan didapatnya yang segera mereka masak.
“Saudara Jian, apa yang sedang kamu lakukan?” Ziyun bertanya ketika melihat Jian Chen sedang memotong bagian tumbuhan.
“Aku sedang memotong rempah-rempah untuk daging ayam itu, setidaknya masakan daging kita memiliki sebuah rasa untuk dimakan.”
“Oh, sepertinya Saudara Jian bisa memasak, ya?”
“Tidak terlalu juga, aku hanya sekedar bisa.”
Selepas bercakap dengan Jian Chen, Ziyun beralih mendekati Meily yang semenjak tadi memperhatikan Jian Chen diam-diam didekat api unggun.
“Kau dengar, Mei’er? Dia bisa memasak, bukankah dia terlihat keren?” bisik Ziyun ditelinga sahabatnya.
Kalau saja tidak memakai topeng mungkin wajah Meily akan terlihat memerah. Meily menyikut Ziyun dengan sedikit kesal. “Kak Ziyun, berhentilah menggodaku!”
Setelah menghaluskan rempahan-rempahan yang ia potong, Jian Chen mengoleskan pada daging ayam yang berada atas api unggun. Aroma harum tercium dari masakannya yang membuat perut berdengkur keras.
Ketiganya kemudian memakan daging itu dengan lahap, terutama untuk Ziyun dan Meily mereka sangat ketagihan dengan masakan sederhana Jian Chen.
“Kalian berdua tidur terlebih dahulu, biar aku yang menjaga sif pertama.”
Ziyun dan Meily mengangguk, setelah memastikan keduanya tertidur Jian Chen bangkit dari posisi duduknya. Pandangannya tertuju pada satu arah dan dia langsung bergerak ke arah tersebut.
“Sampai kapan kalian bersembunyi?” tatapan Jian Chen berubah menjadi dingin,
Sekilas Jian Chen terlihat berbicara sendiri namun tiba-tiba ada seseorang muncul dari semak-semak pohon. Orang itu memakai jubah berwarna hitam dengan nafsu membunuh yang terpencar.
“Aku terkejut kau bisa mengetahui kami, sejak kapan kau menyadarinya?” tanya orang berjubah hitam itu.
“Sejak aku keluar dari perbatasan kota, awalnya kupikir kalian hanya pergi kearah yang sama denganku namun setelah 5 jam berlalu aku memastikan kalian memang mengikutiku.”
“Haha, kau ternyata cerdas anak muda. Sayang sekali kalau aku harus membunuhmu sekarang…”
__ADS_1
Dahi Jian Chen berkerut, dia pikir orang yang mengikutinya mengincar Niu Meily atau Ye Ziyun karena statusnya namun tak diduga ternyata mereka mengincar dirinya.
Setahu Jian Chen dia tak punya musuh atau menyinggung siapapun di kota Qianshan kecuali yang satu hal yang dipikirannya.
“Sepertinya kalianlah pembunuh yang selama beberapa hari ini terkenal, bukan?”
“Mengetahui identitasku tidak membuatku berbelas kasihan meskipun kau masih muda, nak.”
Jian Chen menatap tajam, dia bisa melihat kultivasi orang itu berada di alam Jiwa Tahap 7.
Jian Chen memilih yang pertama menyerang dengan tangan kosong karena biasanya penyerang pertama memiliki keunggulan untuk menang. Jian Chen memberikan pukulan serta serangan tapak yang mematikan.
“Oh, kau pengguna tangan kosong ternyata? Aku ingin melihat sejauh mana kekuatanmu.”
Orang berjubah hitam sama-sama pendekar tangan kosong jadi dia sangat senang saat incarannya menyerang tanpa senjata. Dia berniat menghindar dan melihat bagaimana kemampuan Jian Chen terlebih dahulu.
Sayangnya ia tidak tahu lawannya mempunyai teknik tinggi dalam bidang tersebut, benar saja baru 3 kali gerakan Jian Chen menyerang sudah ada pukulan yang mengenai tubuhnya.
Orang berjubah hitam mengambil jarak mundur, dari sudut bibirnya tercipta darah yang keluar.
“Sial-! Anak ini ternyata lebih hebat dari yang kuduga…”
Orang berjubah hitam kini berinisiatif untuk menyerang juga namun meski begitu teknik tangan kosongnya berada dibawah Jian Chen. Orang berjubah hitam menyadari kekuatan mereka berimbang hanya saja pengalaman bertarung Jian Chen jauh lebih tinggi darinya.
Pukulan dan serangan keduanya saling beradu, dalam 10 jurus semua pukulan Jian Chen mengenainya sedangkan orang berjubah hitam tak bisa menyentuh balik lawannya.
Salah satu pukulannya akhirnya mengenai dada Jian Chen namun disisi lain Jian Chen memberikan serangan tapak pada wajahnya membuat ia meringis kesakitan bercampur rasa pusing.
Tangan yang memukul dada Jian Chen terasa sakit, orang berjubah hitam lupa bahwa lawannya memakai baju pelindung yang keras.
“Kau… Siapa kau sebenarnya?!” Orang berjubah hitam menjerit keras, lawannya jelas-jelas masih remaja namun kemampuannya jelas diatasnya.
Jian Chen mendengus, dia tidak menjawab melainkan mengeluarkan pedang taring putih dari Cincin Ruangnya.
“Kau, kau seorang pendekar pedang?”
Jian Chen tersenyum tipis, “Kau bukan lawanku, jika kau tidak mengeluarkan anak buahmu maka jangan salahkan aku yang membunuhmu digerakan selanjutnya.”
Orang berjubah hitam merapatkan giginya kesal, ia masih tak percaya akan kalah oleh anak muda sepertinya. Orang berjubah hitam kemudian memetikan jarinya seketika 7 orang bawahannya keluar dari persembunyiannya.
“Bos, kau tidak apa-apa?” bawahannya terkejut setelah menonton dari tadi, mereka sama tidak menyangakanya.
__ADS_1
“Kita habisi dia! jangankan biarkan dia hidup!”
Pemimpin berjubah hitam masih meringis kesakitan, ia terus memegang dadanya karena pukulan Jian Chen hanya mengarah ke satu titik sehingga luka didadanya tidaklah kecil.