
Kring ... Kring ... Suara handphone Key, dari luar. Ia berjalan dengan dada setengah telanjang sehabis melakukan permainan manis dengan istrinya. Key ke arah sofa ruang tengah untuk mengambil handphonenya dan kembali lagi ke kamar nya tadi.
“Iya. Tumben telefon.”
“Ini penting.” Arka.
“Ada masalah?”
“Ada.”
“Kau buatku penasaran. Masalah apa?”
“Aku ingin sekali bulan madu dengan Aira ... tapi jagoan kecilku senang sekali menggangguku kalau aku dekat dengan mamanya.”
“Lalu.”
Arka tersenyum. "Hehe. Kau boleh anggap dia anakmu selama 2 hari. Maksudku aku titip Vero jagoan kecilku. Kau tahu kan-- Temenmu ini juga butuh sekali kali bulan madu tanpa di ganggu, cuma 2 hari saja."
“Hufff ... Aku kira apa. Bawa Vero kecil kesini. Aku nanti bisa libur kerja."
“Kau memang teman yang baik.”
“Ya ... Kau memang pintar merayu dari dulu. Salam buat Aira juga.”
“Oke."
.
.
.
Feirvy masih hanya pakai celana dalam. Feirvy menarik selimut meringkuk di bawah selimut hendak tidur dari lelahnya setelah melayani si singa penguasa tubuhnya. Melihat gerak Feirvy saat ini, Key setengah tersenyum dan kini Key menyelinap ke dalam satu selimut bersama Feirvy. Mendekati tubuh Feirvy kembali dan memeluknya dalam dekapannya yang hangat dengan dada terbuka yang terasa bidang di permukaan kulit putih Feirvy.
“Malam ini aku tidur disini.”
Feirvy hanya diam, memejamkan mata, seakan mengisyaratkan. 'terserahlah kamu saja'
“Kau lelah ya.”
Feirvy mengangguk pelan.
“Biar aku peluk. Kamu tidurlah.”
Masih dengan mata terpejam dan terasa tenang. Key memeluk halus tubuhnya. Feirvy hanya bisa mengikutinya, di peluk. Di dekap hangat tubuh Key. Antara wajah berdua yang amat sangat dekat. Mereka tidur tertidur lelap satu pelukan setelah kelelahan yang terpadukan antara hasrat mereka masing masing.
.
.
__ADS_1
.
Pagi datang, burung burung mulai berterbangan dan mencuar cuarkan indah cuitannya. Feirvy terbangun masih dalam pelukan sang penguasa dunia hitam. Matanya sayu sayu mengamati pemilik wajah dengan rahang tegas nan berwibawa itu dengan tatapan penuh pengamatan.
Tampan. Kau sangat tampan saat tidur. Feirvy memejamkan mata di depan wajah Key. Apa yang di lakukannya saat ini? apakah Feirvy begitu menikmati wajah tampan itu. Tapi tiba tiba tangan Key mengerat ke tubuh Feirvy. Ternyata dia telah terbangun sebelum Feirvy terbangun dan sebelum Feirvy menikmati tampannya seorang Key. Key ternyata lebih dulu mengamati cantiknya Feirvy yang tengah tertidur di dekapannya. Feirvy terkejut seakan dia tengah terpergoki kalau dia tengah mengamati wajah pria bringas itu.
“Apa aku segitu tampannya, sampai kau mengamati aku seperti itu."
“Emm ... Aku rasa seperti itu.”
“Menurutmu aku termasuk cantik tidak.”
“Seperti yang kau katakan. Kau sangat cantik.”
Di permukaan wajahnya. Feirvy terpulas senyum manis nan halus. Hatinya tengah terhibur berbunga bunga. Dengan tubuh yang sedikit kaku Feirvy ngulet meregangkan otot ototnya yang kaku.
“Aku mandi dulu.”
“Hari ini kau tidak jadi pelayan.”
Terperanjat senang. “Benarkah?!”
“Benar. Tapi hari ini kau jadi baby sister.”
“Baby sister. Siapa anak siapa? Kau sudah punya anak.”
“Tapi ... dia akan suka aku enggak ya. Aku nggak pernah mengasuh anak kecil.”
“Pakai saja topeng monyet. Pasti dia akan suka terus dia akan ketawa.”
“Huh. Dasar."
Key tersenyum sembari memeluk Feirvy kembali dan kalau ada yang bilang mereka belum jatuh cinta juga. Berarti memang mereka sungguh terlalu.
.
.
.
.
Perjalanan Arka, Aira dan Vero junior ke rumah Key.
“Beneran tidak apa, kita titip sama Key.” Aira.
“Tidak apa. Dulu kan Key sering momong Vero waktu bayi." Arka
“Benar juga si-- tapi waktu itu kan Vero masih bayi, sekarang dah gede dan sejahil ini. Tapi tunggu, Arka. Apa kau tidak bisa menahannya? Sampai harus titipkan Vero segala."
__ADS_1
“Tidak. Aku tidak mau nunggu lagi. Kau bayangkan selama 3,5 tahun rasanya Vero udah gantiin posisiku. Ayolah sayang ... Aku kangen sekali denganmu. Gara gara Vero rasanya aku kayak minta jatah sama istri orang."
Tangan kecil di kursi belakang mencubit kedua pipi Arka. “Aw aw ...”
“Qiqi papa iri ya ..., Vero gendong Ma ...” Vero junior.
“Sini sayang.”
“Cium dong Ma ...”
“Eemuachh.”
Arka melirik kesal tak terima.
“Ayah pingin cium mama?”
“Hehe anak baik. Papa juga Ma.”
“Ma. Ma Vero cium lagi ma.”
Gagal mau cium Arka. Dan saat balik mau cium Arka.
“Ma. Ma pipi satunya belum." Vero tertawa tawa kecil.
“Aira, kita tinggalin saja Vero di tengah jalan yuk"
“Enggak, Enggak ..."
"Yaudah Papa gelitikin saja ya."
“Hahahahahahahaha, geli Pa."
"Dasar pengganggu kecil. Papa sayang Vero."
"Vero sayang Papa."
.
.
.
.
Chapter 1/3 yang Up.
Vote sebanyak banyak ya ... Bantu Author promosi lewat ranting. Makasie ...
Sempatkan Like and Komen.
__ADS_1