
Feirvy!! Dalam diamnya yang sekejab mata, Nama itu langsung menggema dalam hati Alan. Setelah Setengah gelas air tumpah terurai, dan percikannya itu sampai ke gaun emas Feirvy.
Tarikan tangan Alan membuatnya Feirvy harus berpaling paksa dan menghadap ke lelaki yang tak pernah dia kenalnya sama sekali itu. Terkejut kala itu Feirvy, sehingga membuat dirinya terbelalak yang mengakibatkan mulutnya setengah mengaga.
Pria berambut putih pirang dan mata bersorot coklat muda yang seakan menajam tapi tak terbaca. Pikir Feirvy mengingat ingat, Siapakah pria ini, aku tidak ingat sama sekali. Hanya sekelibat tampak familiar saat melihat rahang pipi, postur tubuh juga warna kulit pria di depannya saat ini. Feirvy bergegas menarik tangannya dari cengkraman Alan.
“Tuan ini siapa?” Hardik Feirvy. Tatapan Alan begitu masih sangat tak terbaca. Kedua bibirnya hanya bisa berkatup Kelu. tak bisa berbuat apapun untuk wanita yang ada di depannya saat ini. Ditambah lagi rasa sakit yang tak bisa dia tahan lagi, Alan harus pergi dan segera meninggalkan Feirvy.
Kasar ia lepas tangan Feirvy. Tiba tiba Refleks kakinya selangkah mundur kebelakang. Disitulah terlihat Feirvy kebingungan juga bertanya tanya lagi -siapa orang ini. Dan Alan berlalu perlahan pergi begitu saja dari Feirvy tanpa memberi alasan yang jelas dan pasti dengan tindakannya tadi.
.
.
.
.
******
“Kau mau kemana. Rapi bener.” Tanya Verru.
“Jemput Feirvy.” Tampak Key membenahi jam tangannya.
Verru yang tiduran di ranjangnya Key. “Aku clubbing malam ini ya.”
“Hmm.”
Tak lama dari percakapan itu, Key keluar rumah bersama sopir pribadinya. Setelah perjalanan yang lumayan jauh, saat itu Key yang sibuk dengan ponselnya, tampak dari arah berlawanan mobil putih melewatinya dipesersekian detik kedipan mata Key terhenti, saat mobil itu melewatinya dengan cepat. Tapi sayangnya saat Key menoleh ke belakang mobil itu sudah tenggelam di perbelokan jalan.
Mobil yang tak lain adalah mobil Alan yang terlebih dulu pulang sebelum acara selesai. Dan setelahnya Key berhenti dari laju mobilnya, Key menelfon istrinya untuk secepatnya keluar dan pulang dari acara tersebut.
“Lama.”
“Baru 1 jam.”
“1 jam seharusnya sudah cukup. Lagian kau tidak mengenalnya.”
“Iya aku pulang. Ini udah mau di pintu keluar.”
Percakapan Feirvy dan Key lewat ponsel mereka. Lalu terlihat dari kejauhan Feirvy tengah celingukan. Mencari Key. Dan Key melambaikan tangannya saat ia sedang bersandar di mobil. Feirvy datang ... Key memberikan sapaan yang menggoda juga bisa di bilang menjengkelkan di saat itu juga.
“Aku tidak menyangka si pencopetku dulu bisa secantik ini saat memakai gaun.”
Bibir manyun Feirvy begitu jelas kalau dia kesel membuat Key dengan senyum menggodanya membukakan pintu mobil lalu duduk berdampingan dengan segala macam candaan dan kemesraan mereka hingga sampai di rumah.
*****
Sepertinya penderitaan Alan malam ini seakan tumpang tindih satu sama lainnya. Saat itu Alan baru saja menerima telfon dari asisten nya kalau Key semakin menguat, tidak mudah untuk di lawan karena kerjasamanya Key dengan seorang pedagang besar membuat Alan harus kalah satu langkah dari Key. Ditambah lagi rasa sakit dalam tubuh juga rasa pahit mengetahui orang yang dia sukai adalah istri lawannya sendiri. Membuat Alan terdiam termenung menunduk di dalam mobil yang terparkir di pinggiran jembatan besar kota tersebut.
__ADS_1
Dinginnya malam itu terasa sedikit menelusup ke permukaan kulit meski memakai jas mantel panjang. Dia pandangi terus sungai tersebut hingga terakhir ia meringis seperti ingin menangis tapi tak mengeluarkan air mata. Menghela nafasnya dalam, Alan buka pintu mobilnya. Langkah kakinya perlahan mendekati juga menyusuri pinggiran jembatan besi tersebut, termenung disana hingga beberapa menit terlewatkan lalu terdengarlah suara rentetan pedal sepeda mini onthel yang berhenti tak jauh darinya.
Sang pengendara sepeda itu turun dari sepedanya, terdengar orang tersebut berjalan ke arah jembatan ia pegangi besi penghalang jembatan tersebut. Perlahan dia merintih membuat Sebulir air mata terus menetes membasahi pipinya. Ia tidak seka air mata tersebut karena ia tahu di sekapun akan keluar lagi air mata itu. Mengingat neneknya yang sakit berat tengah di rawat di rumah sakit dan saat dia tanya ke bagian resepsionis tentang biaya operasi yang harus di jalani. Membuat gadis itu terkejut juga jalan apa yang harus dia jalani sedangkan gaji perawat satu tahun pun tidak akan mampu membiayai operasi neneknya yang tengah sakit saat ini. Dia adalah Viola. Gadis yang berdiri tak jauh dari Alan. Alan memalingkan mukanya tenang lalu Samar samar terlihat dari kegelapan seperti mengamati wanita yang sepertinya dia kenal.
Setengah terhenyak Alan baru sadar kalau gadis yang tak jauh darinya adalah gadis bodoh yang biasa dia sebut. Gadis bodoh ngapain ada disini. Pelan Alan dengan lagak tidak peduli tapi dia perlahan mendekat.
Lamat lamat pendengaran Viola terdengar langkah kaki seseorang tengah mendekatinya. Segera Viola menyeka air matanya lalu menoleh ke seorang yang seakan mau mendekati dirinya. Terhenyak kala itu buru buru langkah kaki Viola geragap mundur kebelakang.
“Ka. Kamu, Ada disini.”
Alan terhenti dan terdiam disana lalu ia kembali melihat aliran air sungai di depannya. “Kenapa ada disini.”
Viola yang seusai tangisnya tadi, Tiba-tiba rasa kesenangan muncul begitu saja saat Alan mulai bicara dengannya. Karena baru tiga kali ini Alan mau bicara dengannya. Meski sudah 2 kali melakukan hubungan intim baru 3 kali ini Alan mau bicara dengannya dan yang kedua kali. Saat Alan tak sadar membuka wig nya saat bercinta baru itu Viola tahu wajah Asli Alan dan kalimat kedua itu adalah kalimat ancaman yang membahayakan nyawanya sendiri. Yang membuat Viola beringsut takut tak berkutik dan tak berani bicara apapun selain mengganggukkan kepalanya.
“Ak. Aku. Udara disini sangat bagus jadi aku biasa kesini melepas penat setelah bekerja.”
Menanggapi ucapan Viola Alan hanya merapatkan kedua bibirnya. Dan samar mengangguk kepalanya.
Di saat Viola ingin berucap yang kedua kalinya. Viola hanya bisa seakan menelan kalimat sendiri yang mana dia mau ucapkan kepada Alan. Karena Alan terlebih dahulu berucap dari kejauhan -aku pergi- setelah terlihat Alan tiba tiba berlalu begitu saja dan masuk dalam mobilnya, membuat Viola terpaku kecewa.
Mungkinkah sebegitu bodohkan gadis itu di mata Alan.membuat Alan sama sekali tak peduli dengan gadis tersebut. Padahal gadis itu mau menyerahkan tubuhnya padanya dan hanya untuk dia(Alan).
.
.
.
*****
Hingga pagi tiba, tubuh yang masih lelah itu masih tergeletak lunglai di atas ranjang bersprei coklat muda. Tapi Feirvy memilih untuk tidur 1 jam lagi sebelum dia siap siap kerumah sakit. Jemari Key menggaris lurus ke bawah punggung Feirvy yang putih polos tak memakai sehelai baju apapun yang ada hanya selimut tebal menutupi bagian depan tubuhnya.
"Sayang ... Kau tidak bangun. 2 jam lagi jam kerjamu. Atau kau tetap mau disini saja."
Surau parau Feirvy yang masih terbawa kantuknya. "Aku-- masih mau tidur satu jam lagi..."
Key yang mau beranjak mandi. Tapi entah siapa yang lancang pagi pagi begini sudah ada yang mengetuk pintu kamarnya. Kecuali Verru dan Nayna tapi tidak mungkin pagi gini mereka sudah bangun. Meski terdengar ketuk perketukan dan berangsur berulang kali, pikir Key: anak buahnya tidak akan mungkin lancang kalau memang tak ada berita penting yang akan mereka sampaikan untuknya.
Di bukanya pintu itu oleh Key. Tampak Anak buah Key mundur satu langkah menunduk dan terasa kalau mereka tengah gugup. Tapi kalau tidak penting tidak mungkin mereka akan berani langsung mengetuk pintu apalagi itu pintu kamar pribadi nya Key bersama sang istri.
"Ada apa." Nada sangarnya.
"Itu Tuan. Ini mengenai Nona Feirvy."
Pupil mata hitam itupun melebar. Melirik Nyalang ke arah Feirvy yang masih tertidur. Key segera menutup pintu kamarnya pelan. Memberi instruksi agar anak buahnya mengikuti jalannya.
Di salah satu ruang Kerja milik Key yang didominasi plat kayu dengan beberapa koleksi pisau terkecil hingga samurai tertata rapi di belakang kursi Tuannya. Seakan koleksi pisau itu perwakilan setiap intimidasi untuk seseorang yang berani bohong padanya di ruang tersebut.
Key terduduk di kursi kuasanya. "Katakan." Lugasnya.
__ADS_1
Dengan gugup penuh aura ketakutan yang di sembunyikan. Anak buah Key memberikan notebook yang terbuka ke hadapannya Key. Dengan kehati hatianya, anak buah itu memperlihatkan rekaman CCTV selama Feirvy bekerja di rumah sakit tersebut. Tentu mereka dapat setelah bekerja sama dengan bagian IT rumah sakit tersebut.
Sebagai profesional Dokter, Key akan memahami kalau Feirvy pasti akan berinteraksi dengan banyak pasien. Tapi yang Key lihat seperti seorang lelaki yang memakai baju petugas rumah sakit yang terus beberapa kali menemani Feirvy dan yang lebih geramnya lagi. Terlihat Feirvy duduk di ruang terbuka mengobrol dengan lelaki asing tersebut.
Mata Key menyorot memicing tajam me-Zoom hasil CCTV-nya. Berulang Key harus mengernyitkan kan matanya. Seakan-akan mengenali postur tubuh tersebut tapi lebih bedanya warna rambut nya yang ini hitam. Akhirnya rasa penasaran itu membuat Key malah tersulut emosi. Memerintahkan penjaganya di sana untuk terus mengintai lelaki tersebut. Bahkan sampai menugaskan mereka membututi lelaki itu sampai kerumah lelaki itu.
Key mengambil pisau kecil. Kecil tapi sanggup mengkoyak kulit manusia. Ia lemparkan pisau ke tubuh anak buahnya. Memberikan perintah yang sedikit mengerikan untuk penjaganya saat ini.
Pisau tersebut terlempar. "Kau boleh gunakan pisau itu, untuk bawahanmu yang tak berhasil melakukan tugas ini. Bisa juga buat dirimu sendiri."
Anak buah Key harus menelan ludahnya dalam dalam. Kengerian itu membuat samar samar kakinya menggigil ketakutan. Itu artinya kalau dia tidak berhasil menguak siapa lelaki itu. Berarti dia harus siap mati waktu itu juga.
Tapi ketagangan itu langsung sedikit terurai, saat Feirvy memanggil Key. Meminta untuk di antarkan ke rumah sakit di mana dia bekerja.
.
.
.
.
update selanjutnya di janjiin akan lebih cepet dari hari biasanya.
Tentang Virus Corona yang sudah dinyatakan 18 orang meninggal.
Jaga kesehatan kalian ya. Terutama jaga kebersihan. Karena di Indonesia kalau Corona menyebar luas maka kemungkinan.
Prediksi Kematian paling tertinggi dari pada China. Dengan kurs global 8.7% kematian sedangkan cina cuma 3.4% kematian.
Kerena apa? karena sedikitnya Rumah sakit. jumlah laboratorium hanya 11 unit sedangkan dibandingkan China ada 90 unit.
3.Tenaga medis dan alat medis yang terbatasi juga kejanggihannya di bawah dari negara tetangga.
Mau minta bantuan medis luar negeri. Sedangkan mereka sibuk dengan warganya sendiri.
Jadi Saran Author tetap jaga kebersihan dan tingkatkan imun dalam tubuh. Jangan lupa juga berdoa sama yang DiAtas.
__ADS_1