
Saat Key akan melakukan perjalanan pulang ke rumah. Dering telfon sedari tadi Key belum sempat mengangkatnya. Baru berada di mobil Key bisa menjawabnya. Bahwa itu telfon dari adiknya yang imut tapi sedikit amit amit pula.
“Kakak ... Kenapa tidak angkat juga telfonku.”
“Kakak sangat sibuk. Kau kenapa menelfon?”
“Tentu saja kangen. Aku sudah naik kelas. Seharusnya aku sudah sekolah di kelas yang baru. Kenapa kakak tidak menjemputku.”
“Kakak sedikit ada masalah. Nay ... Bagaimana kalau kamu sekolah di sana saja. Di sini sedikit berbahaya buat mu.”
.
.
.
Sejenak Nayna memang mendengar tapi tak membalas berkata dan hanya diam saja. Bahwa Nayna kecewa dengan apa yang Key ucapkan. Padahal sekolah di kota adalah salah satu impian Nayna selain itu di kota Nayna setidaknya bisa mewujudkan impiannya jadi seorang Aktris.
“Kamu diam?”
“Karena aku kecewa jadi aku diam. Tutup saja telfonnya! Jangan hubungi Nayna lagi! Kakak jahat.”
Nayna menutup telfonnya. Nayna kesal juga marah rasa kecewa membuat dia harus menangis mengeluarkan air mata. Nayna memilih tidur tengkurap dan menangis tersedu sedu di sana. Kakak jahat. Kakak jahat padahal dia sudah berjanji.
Waktu yang bersamaan ibu Nayna lewat kamar Nayna, seakan mendengar putrinya menangis. Sambil menerka nerka dan memastikan kalau benar itu suara putrinya yang sedang menangis. Segera Ibu Key berjalan cepat masuk kamar Nayna dan duduk disamping putri kecilnya yang sekarang sudah mau naik kelas 3 SMA.
“Kau ini kenapa menangis? Putus lagi dengan pacarmu?”
Nayna menggelengkan kepalanya. “Bukan Bu ... Tapi--”
Nayna menjelaskan semua apa yang membuat hatinya kecewa juga sedih dengan kakak yang dia amat sayangi. Mendengar pun ibu nya juga ikut kecewa. Tak lama di luar kamar Nayna, Ibu Key langsung menelfon anak sulungnya Key. Entah berapa kata dan berapa Omelan juga pengertian. Saat ibunya telfon, Key benar benar menerima beberapa kata cecaran yang malah akhirnya Key tak bisa berbuat apa apa lagi selain harus memenuhi permintaan adiknya yang ingin sekolah di kota. Tentu dengan segala resiko kini Key harus lebih waswas lagi karena akan ada 2 wanita di rumahnya yang sama sama akan Key lindungi setiap detiknya.
.
.
.
.
__ADS_1
Hari itu sudah siang. Key sudah berjanji dengan Feirvy untuk dia segera pulang siang ini. Key tak mungkin mengingkarinya kalau dia sudah berjanji apalagi Feirvy sendiri yang memintanya dan kini sedang menunggu di rumah. Dan Key pikir Verru pasti juga sudah bangun dari tidurnya bukan tidur di rumah melainkan di markas mereka.
Key yang melakukan panggilan telfon pada Verru. “Aku pikir kau masih tidur.”
Verru menguap. “uahh ... Ponselku bunyi aku langsung bangun. Ada apa?”
“Kau besok jemput Nayna di kampung.”
Mata Verru terbuka lebar. “Besok?! Mendadak sekali.”
“Bawa 2 Bodyguard saja. Jangan terlalu mencolok. Nanti aku kabari Nayna kalau kau yang menjemputnya.”
Key menutup telfonnya.
“Eh tapi. Tunggu Key.” Aggrrhhh kenapa harus aku sich ... Kampungnya jauh sekali, jalannya kurang bagus lagi. Adiknya sekarang seperti apa juga aku kurang tahu. Aku dulu lihatnya dia masih SD. Kira kira dia cantik enggak ya, Hahahaha. Kalau cantik aku pacarin aja kan lumayan hahahaha.
.
.
.
.
Sampai rumah. Entah kenapa kini kalau berada di rumah hati Key lebih terasa senang juga ada kenyamanan tersendiri dalam hatinya. Layaknya tanah kering yang mendapatkan siraman air yang sangat menghidupkan di kala di rumahnya sendiri. Kini kembali kerumah adalah tujuan utamanya, dibandingkan dulu hari hari ya di habiskan main billiard, minum minum konsumsi obat obat terlarang dan bersenang senang dengan teman teman sekelasnya.
Tangan Key saat mau membuka pintu, tapi keduluan Feirvy membuka pintu dengan mata berbinarnya. Dengan kedua tangan bersembunyi di belakang.
Key tersenyum tapi lebih lebih sedikit heran. Tumben dia agresif. “Kelihatannya senang sekali.”
“Kau tepati janji. Jadi aku senang.”
“Jadi kau sekarang mengakui kalau sedang menyukaiku.”
Haruskan aku bicara duluan? Tapi kalau dia tidak menyukaiku. Bukannya aku malah malu. Tawanan malah suka dengan orang yang menawannya sendiri. Sedikit aneh dan lucu kan. Bagaimana kalau memang Key pria hidung belang, bisa bisa dia Cuma mainin aku.
“Malah bengong.”
Feirvy tersadar. “Ah-aku ada sesuatu buatmu.”
__ADS_1
“Apa?”
“Kue buatmu. Aku rasa hari hari ini kau sepertinya bekerja lebih keras dari hari biasanya.”
Tersentuh sudah hati yang selalu terudung rasa keresahan juga kebimbangan seakan terjawab sudah. Bahwa wanita yang dia cintai juga membalas rasa cintanya. Hati yang resah itu begitu lega selega leganya. Dengan siapa dia harus menaruh hatinya kini sudah ada jawabannya. Tapi kenapa harus terhalang rasa takut yang begitu mendalam hingga Key belum berani mengungkapnya sampai saat ini. Mungkin perasaannya bisa dia tahan tapi tubuh tak bisa menahannya lagi. Key tak bisa menutupi refleks tubuhnya yang sekejab mata mengharu biru. Kue yang di ajukan Feirvy ke dirinya. Key mengalihkan pandangan nya dari kue tersebut. Tubuhnya pelan pasti mendekati tubuh istrinya tak pernah di sangka. Key memeluk tubuh istrinya. Sementara Feirvy yang setengah terkejut segera mengalihkan kue nya ke samping beberapa sedikit terhenyak. Kenapa dia tiba tiba sekali memelukku. Sebenarnya ada apa?
“Kau kenapa? Apa ada masalah lagi.”
Kepala Key bersandar lemah di bahu Feirvy.
"Maaf. Aku ingin minta maaf padamu.”
“Maaf apa?”
Maaf tentang semua Feirvy, tentang perilaku jahatku, tentang aku yang pecundang. Tentang apa yang aku katakan tadi ke Ayahmu. Aku ingin minta maaf semua. Maafkan aku, belum bisa mengatakan apapun sekarang.
“Aku tadi sepertinya telat 10 menit dari perjalananku kesini. Kau marah tidak.”
“Kau ini ada ada saja. 10 menit itu sebentar sekali. Tentu saja tidak apa. Makan kue nya dulu yuk. Tadi Vero sudah di jemput mama dan papanya. Aira membawakan aku beberapa baju. Bagus bagus semua. Dia sangat pintar sekali memilihkan baju untukku. Semua sangat cocok.”
“Iya tadi Arka sudah kabari aku. Dia bilang istriku cantik.”
“Haha memang aku seperti itu.”
Key setengah melepas pelukannya. “Ke dapur yuk. Aku lapar. Suapin aku ya.”
“Kue nya?”
“Iya aku makan sehabis ini.”
Kebahagian yang layaknya sepasang kekasih yang segar segarnya melakukan kasih sayang, tapi tentang identitas pekerjaan juga segala hal yang saling membahayakan membuat mereka harus sangat berhati hati dengan apa yang yang mereka katakan juga lakukan. Karena mereka bukannya hidup yang biasa. Hidup diatas kerumitan yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri. Dan kali ini semua pekerjaan kotor itu tengah menghantui mereka sendiri.
Next tentang Verru.
Like
komen
di bawah ya
__ADS_1