
Hari ini hari ke-5 setelah tertundanya lamaran Alan ke Viola karena suatu hal. Gadis itu tidak meminta apapun hanya bicara tentang pekerjaannya tapi Alan tahu itu artinya wanitanya telah memberi warning kalau dia kurang setuju dengan pekerjaannya Alan yang sesungguhnya.
Di pagi itu, pagi setelah Viola bangun matanya langsung menatap jam dinding yang jarumnya sudah menampakkan jam 7. Saat itu Viola masih malas untuk bangun pagi karena saat itu Viola merasa kurang enak badan, yang kemungkinan Viola kelelahan karena banyaknya pasien hari hari ini.
Tak lama getaran ponsel Viola bergetar dan diambilnya oleh Viola dari atas nakas kamar tidurnya. Tertulis 'Alanku' di ponsel tersebut dan segera Viola mengangkat telfon dari pacarnya.
“Baru bangun? Tumben!” seru Alan.
“Lagi kurang enak badan.”
Ada jeda sebelum Alan kembali menyahut ucapan Viola saat itu.
“Apa hari ini mau kerja?”
“Tentu... ini hanya kecapean saja. Pegel pegel sedikit. Semoga habis mandi pegelnya hilang semua.”
Dari balik ponsel Viola. Alan tak segera menjawab perkataan pacarnya tersebut tapi malah nampak Alan terlihat merapatkan kedua bibirnya lalu setelahnya baru berbicara lagi ke ponselnya.
“Yasudah hati-hati di jalan, sayang.”
Dan setelah Viola menjawab ucapan ‘Emmm' telepon itu langsung tertutup. Tak ada suara lagi. Viola meletakkan ponselnya tak jauh dari dirinya yang tidur miring sembari menatap ponselnya tadi. Ada banyak hal yang menggayuti pikiran Viola setelah telepon Alan yang barusan.
Apa dia marah? Apa dia benci aku, karena tak menjawab lamarannya? Apa dia punya yang lebih cantik? Apa dia sudah bosen denganku? Aahhh apa dong....??? yang pasti karena aku kurang bersyukur dapatkan dia. Pasti itu pikiran Alan sekarang. Viola mengacak-acak rambutnya yang belum tersisir setelah bangun tidur menambah seperti layaknya singa baru bangun dari tidurnya.
Aku tahu itu. Seharusnya aku tahu siapa aku. Siapa Alan. Gadis seperti diriku seharusnya tak layak untuk menolak semua itu. Tapi aku sungguhan tidak menolak. Aku hanya bicara seperti itu saja. Aku cuma berharap dia bisa merubah cara pikirnya. Aaaahhhhh tau ach. Pusing aku.
Setelah melihat jam dinding kembali. Viola cepat cepat mandi dengan menggunakan air hangat karena merasa pagi itu terasa dingin. Entah karena cuacanya yang dingin atau suhu badan Viola memang kurang bagus. Ini memang tak seperti biasanya. Kalau yang biasanya Alan mendengar Viola capek, biasanya Alan langsung datang. Tanpa permisi menyuruh sopirnya antar Viola ke rumah sakit atau hal hal yang berlebihan akan dilakukan Alan buat senengin wanitanya. Tapi tidak untuk hari ini dan malah sebaliknya Alan terlihat sedikit tak peduli dengan Viola.
Ternyata pikiran yang menggayuti dirinya tadi malah sampai terbawa ke rumah sakit. Viola tak fokus untuk bekerja, Pikirannya terus memikirkan sikap Alan yang tiba tiba berubah dengannya. Di tengah tengah lamunannya tadi, Viola sungguh tak sengaja tiba tiba menjatuhkan obat pasien yang berharga mahal milik pasien di ruang VIP di ruang dia bekerja.
Geragap terkesiap juga Gugup Viola kala itu. Dia sungguh tak sengaja tapi dia memang harus menyalahkan dirinya sendiri karena kelalaiannya sendiri. Atasan Viola yang juga ikut bersamanya langsung memarahi Viola dibentaknya Viola. Karena itu obat yang mahal juga langka apalagi cuma ada beberapa stok di rumah sakit tersebut dan beli nya pun bukan di negara tersebut tapi harus di import dari negara lain.
.
.
.
__ADS_1
Kejadian itu akhirnya sampai juga ke telinga Manager rumah sakit. Dan di ruang manager on duty rumah sakit tersebut, Viola menunduk. Tangan samar samar gemetaran, jantungnya berdeburan sebelum manager tersebut memarahi Viola. Dan di saat manager itu memarahinya, Viola tak bisa berbuat apapun disana. Mau di ganti apa? Uang juga pas-pasan. Walaupun ada uang, obat itu harus melalui pre-order dahulu sebelum membelinya dan barang akan datang setelah. Kini kata pasrah yang ada untuk semua ucapan kemarahan manager tersebut kepada Viola.
Belum selesai menginterogasi Viola, tiba-tiba dering telepon di ruang manager tersebut berbunyi. Manager itu mengangkatnya telfon tersebut dan setelah beberapa kata, mata manager itu seakan setengah melirik wajah Viola hingga setelah beberapa kata dalam telfon, manager tersebut menutupnya kembali dan kembali bicara dengan Viola.
“Kamu ke bagian gudang. Tata peralatan dokter yang baru saja datang. ingat kerjakan sampai rapi. Setelahnya nanti saya kabari lagi.”
Tertegun Viola terlihat guratan lembut di kening Viola. Biasanya managernya tidak pernah memberikan hukuman yang seringan ini. Yang biasanya gaji akan di potong kalau tidak akan disuruh membersihkan semua toilet pasien di ruang pasien umum. Sekali lagi untungnya tubuh Viola sudah tak terlalu pegal-pegal seperti sehabis bangun tidur tadi. Membuat hukuman ini tidak akan terlalu berat untuk di lakukannya.
.
.
.
.
.
Di ruang gudang barang tersebut Viola tengah berdiri dari jongkoknya seraya jemarinya mengusap halus keringat di pelipis dahinya. Dan jam menunjukkan jam istirahat. Viola keluar gudang lalu makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaannya yang belum terselesaikan tadi. Satu jam berlalu dan jam istirahat akhirnya selesai, saat itu juga petugas kebersihan memanggil Viola langsung Viola untuk datang ke ruang MOP untuk menemui manajernya tadi.
Dan lagi manager itu melemparkan amplop kecil coklat yang kemungkinan itu adalah uang karena terlihat dari bentuknya. Mata Viola membeliak bulat besar. Setelah map itu terlihat jelas dengan bacaan surat Referensi. Manager menyuruh Viola membacanya dan ternyata kecurigaan Viola benar. Map itu benar benar surat miliknya tapi di dalamnya tidak di sertakan surat pemecatan dan yang terbaca di kertas referensi itu malah Viola berkeprilakuan baik di rumah sakit tersebut. tapi kenyataannya dia malah di keluarkan dari rumah sakit tersebut.
“Pak ini maksudnya surat pemecatan?”
“Iya. Mana ada surat itu keluar kalau bukan berarti orang nya di pecat.”
“Bahkan disini bapak memberi keterangan perilaku saya baik disini. Kenapa bapak memecat saya.”
“Itu buat kamu biar bisa bekerja di rumah sakit lainnya.”
“Ini tidak adil pak. Saya akan mengganti kerugian obat itu, tapi bapak jangan memecat saya seperti ini."
“Tidak ada alasan apapun lagi. Keadilan itu buat orang yang mau memberikan keadilan. Tapi saya mau kamu berhenti bekerja di rumah sakit ini.”
Tidak hanya sedih. Tapi rasanya malah ingin marah dengan Manager tersebut. Orang yang biasa dia hormati dia segani malah seakan tidak punya hati sama sekali. Manager itu jelas tidak menjalankan norma norma yang telah ditentukan oleh pihak rumah sakit. Dan seakan-akan seenaknya sendiri dalam memutuskan sesuatu. Dengan rasa emosi dan benci yang seolah ingin meletup. Viola mengambil map dan amplop di depannya dan langsung membawanya keluar tanpa berpamitan ke manager yang tak punya perasaan itu.
Perasaan yang berapi-rapi tadi sepertinya tak berlanjut lama saat Viola mengambil sepedanya. Rasa emosi itu kini berubah menjadi gusar resah 'bagaimana kalau di tanya nenek jam segini kok tumben sudah pulang...' tentang pekerjaan memang Viola tak terlalu mencemaskannya karena dia masih bisa melamar kerja dirumah sakit lainnya.
__ADS_1
Dan yang untuk terakhir kalinya... rumah sakit yang sudah banyak memberikan kenangan ini-- membuat Viola sebenarnya sedikit enggan meninggalkannya. Banyak kenangan dari rumah sakit ini. Bertahun tahun kerja disini, bisa mengenal Alan dari sini-- mengenal dokter Feirvy dan menjalankan operasi dirinya juga neneknya disini. Sesampai di halaman luas depan rumah sakit muka Viola berpaling kebelakang, seperti menatap ironi untuk rumah sakit yang selama ini dengannya. Dan hanya kata selamat tinggal yang dapat Viola ucapkan saat ini.
Tak terlihat Viola. Sebenarnya ada sepasang perawat tengah mengamati Viola dari balik tembok rumah sakit. Mengamati Viola yang mau keluar halaman rumah sakit.
“Huh akhirnya perawat sok cantik itu keluar juga.” ucap karin seraya matanya melirik nyalang ke arah Viola.
“Ada masalah apa dia keluar?” tanya ina.
“Hah- palingan juga ketahuan godain dokter dokter ganteng disini.”
“Tapi ya tentu saja dokter pria disini mau lah sama dia...”
“lah. Kok bisa.”
“Mata kamu buta ya. Lihat dia apa dia seperti seorang perawat. Body nya kecil tapi tak kurus. Berisi di bagian bagian yang paling diinginkan pria ataupun wanita. Bulu matanya lentik dan kulitnya putih mulus. Apa yang kurang dari dia. Kalau aku lelaki aku juga akan menyukainya. Aku dapat berita juga kok, banyak Dokter yang suka dengannya.”
Melihat Viola saja Karin udah kesal apalagi mendengarkan temannya sendiri yang memujinya. Terdengar erangan dari bibir bibir karin yang ingin muntab saja.
“KAUU.... kenapa kau nggak ceritakan saja semua secara detail betapa mulusnya tubuh Viola di telingaku."
Meringis tak enak. “Hehe-- eh nggak kok. Itu aku cuma bercanda.”
“Bercanda pala loe.”
Mereka lanjut berjalan dan si karin terus membalas dengan beberapa kali karin menjitak kepala temannya tersebut.
.
.
.
.
Up 1/2 Chapter. Chapter terakhir Alan Viola
jangan lupa jempol nya ya
__ADS_1