
Hari ini hari sabtu biasanya pagi pagi di hari sabtuku itu aku sudah ada di rumah Alan di jadiin keharusan seharian aku harus menemani dia di rumah. Menemani Alan bekerja sampai larut malam. Tapi entah apa yang dia lakukan di lab dan di layar digitalnya tersebut. Terkadang aku bertanya-tanya kenapa waktu itu Alan menyamar menjadi Dion. Dan kenapa Alan menjadi petugas lab. bohongan.
Aku Sekarang ada di toko roti. Toko yang menyediakan pembelinya bisa membuat sendiri anime karakter yang diinginkan customernya. Dan sekarang aku sudah berhasil membuatnya. Maunya sih aku buat agar mirip Alan tapi entah kenapa malah jadi seperti goku tokoh animasi dragon ball Hahahaha. Kini tinggal ku gayung pedah sepeda mini ontel ku dan menuju ke rumah Alan.
“Kan sudah aku bilang aku belikan saja motor atau aku jemput saja. Kau juga tidak usah bekerja jadi perawat. Kau bisa bekerja di perusahaan ayahku.” Suara Alan lewat saluran telfonnya.
“Tidak mau. Nanti dikira aku makan uang mu Cuma-cuma.”
“Apa kau bilang. Siapa yang berani bilang cuma-cuma. Kau kan kerja disana.”
“Qiqiqiqi... Ya sudahlah aku mau kesana.”
“Aku Tunggu. Jangan lama-lama, sayang.”
Dia Alan yang tengah sibuk di lab nya beberapa kali dia ambil benda kotak kecil merah dari sakunya dan sesekali Alan pandang seraya senyum bahagia disana. Ya itu kotak cincin yang sudah Alan persiapkan 3 hari lalu. Alan ingin melamar Viola hari ini. Meski tampak sederhana karena Alan tahu Viola lebih suka hal sederhana dari pada yang terlalu mewah.
Pria bermata coklat muda itu kini tampak sibuk di ruang lab. nya dan Markus datang dengan beberapa dokumen dan laporan tentang penjualan obat obat farmasi yang secara legal ke beberapa rumah sakit besar yang biasa memesan pasokan obat kesehatan dari perusahaan milik Alan. Perusahaan yang di wariskan oleh kedua orang tuanya. Dan mereka tak pernah salah telah mendidik Alan sebagai ahli farmasi karna kejeniusannya mulai kecil dan sudah termasuk hobinya kalau Alan suka menciptakan obat legal bahkan ilegal sekalipun.
“Ada beberapa rumah sakit yang sebenarnya menginginkan obat terlarang mu itu.” Ucap Markus ke Alan.
“Hahahahahaha. Apa mereka ingin sekali membunuh pasiennya kalau mereka sudah tak sanggup menanganinya.”
“Entahlah. Tapi kalau mereka bisa menyelesaikan pasiennya sampai akhir. Mereka akan dapat tunjangan penuh dari pihak rumah sakit yang bermain di belakangnya.”
Alan tersenyum menyeringai. “Heh. Dasar pembunuh berkedok jas putih. Jual ke mereka kalau mereka mau dengan harga yang mahal.”
Di balik pintu masuk lab milik Alan. Sepasang tangan itu gemetaran. Tak sengaja mendengar semua percakapan Alan bersama asistennya dan benar-benar membuat Viola Tak percaya apa yang dia dengar barusan. Pikirnya menciut sedikit tak terima ternyata pekerjaan Alan bukan hanya dalam hal mengobati seseorang tapi juga dapat membuat orang terbunuh mengenaskan apalagi mereka terbunuh mengenaskan di tangan dokter yang mereka percayai. Dan sumber obat itu mereka dapat dari pacarnya sendiri.
Tak lama dari pikirannya yang berkabung tadi. 3 orang wanita cantik cantik dengan dandanan molek dan sexy berjalan berlenggak-lenggok tanpa peduli mereka lewati Viola, yang mungkin dikiranya Viola adalah pembantunya Alan. Mereka langsung masuk ke ruang lab. tanpa seijin dari Alan terlebih dahulu. Mereka masuk dan Seolah langsung merayu Alan dengan manja ke dekat tubuh Alan.
__ADS_1
“Tuan kenapa lama sekali tidak hubungi kami... Biasanya 2 hari sekali Tuan hubungi kami.” Tampak Alan tengah risih dengan mereka bertiga.
Belum selesai dari pikirnya yang terkejut dengan obat-obatan tadi. Kini di depannya, dihadapannya dengan mata telanjangnya sendiri. Pria yang bilang mencintainya itu. Telah didatangi 3 perempuan dan sekarang dengan lihai bermanja disamping samping Alan. Alan saat ini lupa kalau Viola mau datang ke tempatnya.
Dengan ratapan bibir yang berkatup dan mata yang berkaca kaca. Dengan kekesalannya Viola. Viola menatap suram lurus ke Alan tanpa Alan sadari dan hingga Alan sadari Viola sudah menatapnya dengan tajam dan suram dari ambang pintu. Terkejut!! Geragap Alan mendorong gadis bertiga itu dan dengan kasar menyingkirkan wanita wanita tersebut. Alan bersuara keras ke Markus untuk mengusir ketiga wanita itu.
“SERET MEREKA KELUAR MARKUS!!”
Alan cepat berlari ke Viola yang terus menatapnya. Langsung memeluk Viola erat.
Dengan nada gelagapan Alan berusaha menjelaskan ke Viola.
“Ka- kapan kau ada disini. Aku tak melakukan apapun. Mereka dulu wanita yang-- Ah maksudku mereka hanya wanita penghibur. Aku tahu mereka sebelum mengenenalmu. Jangan marah, ya.”
3 wanita itu tengah di paksa keluar paksa oleh penjaga rumah Alan. Viola dalam dekapan Alan, raut mukanya berpaling masih bingung mau bicara apa ke Alan. Dia tahu Alan memang tak melakukan Apapun dan Viola tahu kalau Alan memang terlihat risih didekati mereka. Yang membuat Viola berpikir berat itu malah tentang obat yang dapat membunuh pasien tersebut.
Alan malah bingung. Viola hanya diam saja. Alan bopong tubuh Viola di bawanya ke ruang tengah. Masih dalam gendongan Alan. Alan menunduk memandang Viola.
Pandangan Viola melengos ke samping mendengar Pacarnya bicara seperti itu.
Alan mendudukkan Viola ke sofa. Dan Viola masih tak mau melihatnya. Kedua tangan Alan mencakup pipi Viola menggerakkan pipinya agar menghadap dirinya.
“Hadap sini.... ngambek terus. Aku tidak apa-apain mereka kok.”
Lagi Viola berpaling. Dan lagi tangan Alan memalingkan balik ke hadapannya.
“Haha kau ini marahnya lucu sekali. Kau boleh kok bentak aku.”
Viola terlihat cepat menaruh kotak kue ke pangkuan Alan. Roti yang dibentuk mirip seperti Alan tapi malah lebih mirip anime goku.
__ADS_1
“Hahaha...ini yang mirip Cuma rambutnya saja."
Alan melayangkan pandang ke Viola yang masih ngambek. Lalu Alan turun dari duduknya dari kursi lalu jongkok satu lutut bertumpu ke lantai. Mengambil kotak kecil merah disakunya. Mendongakkan dagunya dengan senyum yang penuh arti. Di depan Alan Viola melongo. Kenapa Alan tiba tiba jongkok di depan.
“Ka- Kau kenapa?”
Alan tersenyum manis. “Aku melamarmu.
Terperangah Viola. Matanya melebar besar. Ucapan Alan yang dulu benar benar di buktikannya. Alan benar benar melamar Viola. Tapi... yang aku dengar tadi... aku gadis biasa, tapi aku juga tidak mau punya suami yang mampu menciptakan hal yang dapat mencurangi tubuh manusia dan mematikan manusia dengan cara tak layak. Maaf Alan...
Alan hampir saja memasangkan cincin lamarannya ke jemari manis Viola. Tapi jemari mungil Viola yang beringsut kedalam. Alan terjengit. “Kenapa Viola? Apa karena tadi. Aku sungguhan tidak pernah lagi main-main dengan perempuan perempuan itu tadi.”
Viola menatap dan memandang Alan. Viola tahu diri. Seharusnya dia sudah beruntung di pacari dan di lamar orang yang jauh diatasnya. Lelaki yang kaya dan tampan. Tapi ini adalah pernikahan... Setidaknya perempuan biasa ini bisa mendapatkan lelaki yang benar benar baik dari dalam hatinya Bukan hanya baik karena Viola yang saat ini, tapi juga bisa baik ke orang lain juga.
“Bukan itu. Tapi aku mendengarmu Kau ciptakan obat obat yang mematikan yang di beli oleh Dokter dokter jahat dirumah sakit.”
Membesar pupil mata Alan. Betapa terkejutnya Alan mengetahui kalau Viola tahu apa pekerjaannya utamanya, pekerjaan yang paling menguntungkan dirinya.
.
.
.
.
Like
Komen
__ADS_1
Vote