Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
Menggeru Merindukanmu


__ADS_3

Pandangan mata untuk pertama kalinya yang tak bisa Alan alihkan, dan tak bisa dia tampik untuk terus dia pandangi. Gadis itu Layaknya bunga teratai yang tengah tersinari remang remang cahaya rembulan, dia sungguh cantik dan menenggelam kan hati seseorang meski dalam kegelapan sang malam. Bahkan detik itu pun Alan berasa sudah mulai kecanduan, untuk terus ingin melihat gadis tersebut di lain hari. Mungkin bukan hanya malam ini saja tapi ia ingin malam lainnya juga. Seperti rasa asing yang pertama kali dia tengah rasakan. Meski banyaklah wanita dengannya. Seakan Feirvy mampu membuatnya tersihir terpana termangu seperti terbengong dan butuh sedikit sentakan untuk menyadarkan dirinya.


“Hei! Kau bengong. Kau terlihat mengamatiku. Apa ada sesuatu di mukaku ?” Sembari tangan Feirvy mempulas pulas mukanya.


Tercekat, tersadar Alan saat itu. Perasaan yang asing itu membuat Alan menunduk dan tiba tiba muncullah uap panas yang seakan naik ke permukaan kulit wajahnya, sehingga membuat wajahnya merah merona. Alan sedikit memalingkan mukanya berusaha menyembunyikan rona merah pada wajahnya, yang baru ini dia rasakan. Dan membatin. Ada. Ada sesuatu yang sangat cantik dan imut yang belum pernah aku lihat.


Tak ingin berlama lama dalam keadaan seperti ini. Alan segera menyahut apa yang Feirvy tanyakan tadi. “Aku tidak apa apa. Aku penjaga keamanan disini. Tadi ada keluar asap dari ruang laboratorium itu, dan segera aku masuk dan memeriksanya.”


Alasan Alan cukup nalar untuk di mengerti dan Feirvy tak menaruh curiga apapun padanya. “Oh ... Aku tidak tahu kau penjaga disini. Aku juga baru hari ini bekerja disini.”


Pantas saja. Pikir Alan.


Tak lama tiba tiba gerimis datang. Awan tak lagi di hiasi kerlipan bintang, dan yang terlihat kini adalah gumpalan awan tebal yang seakan siap menurunkan hujan lebatnya ke tanah bumi saat itu. Feirvy terkesiap melihat hujan mulai turun. Segera Feirvy bicaranya cepat yang dia tujukan ke Alan.


“Gerimis. Aku ke asrama ya. Jangan lupa nanti laporkan ke bagian divisi lab kalau ada asap keluar dari dalam ruangan ini.”


Sementara posisi Feirvy sudah di bibir batas ruangan, dimana langkahnya hendak ingin berlari. Tapi langkahnya tercekal suara Alan yang tiba tiba memanggil Feirvy, sebelum Feirvy pergi berlari. Lalu Feirvy memalingkan muka ke arah Alan.


“Tunggu!”


“Ada apa?”


“Siapa namamu?"


“Aku-- Feirvy.”


Alan tersenyum manis... “Namaku Dion.” Nama samaran Alan yang dipakainya saat ini. Alan masih berusaha menahan Feirvy. Tubuhnya berdiri. Berjalan ke ruang jaga mengambil payung dan melangkah ke dekat Feirvy. Alan membukakan payung tersebut. Sekelibat matanya memandang setengah menatap berbeda untuk Feirvy dan di serahkan nya payung itu kepada Feirvy.


“Pakai ini. Nanti baju barumu basah terkena hujan.”


“Ah. Terima kasih,” Tangan Feirvy menerimanya. “besok akan aku kembalikan.”


Alan Tersenyum dan menganggukkan kepala... Di saat itu juga Feirvy mulai melangkah cepat setengah berlari karena hujan mulai rintik rintik menghujam ke tanah. Mata Alan terus melihat langkah kaki Feirvy yang sudah mulai menjauh darinya. Alan menatap Feirvy dengan senyum lembut tapi tak terbaca. Dan mungkin ketertarikan di saat pandangan pertama itu memang ada. Dan begitu memabukkan hati Alan. Seperti hal yang dia ingin tarik dan tahan tapi Alan tak bisa lakukan sekarang. Mungkin nanti pikir Alan. Tentunya Alan pikir -Siapa yang tak akan tertarik dengan Alan- Paras lembut dan menggodanya seakan mampu menenggelamkan ribuan wanita untuk ditidurinya. Bahkan setelahnya wanita itu terabaikan maka wanita itu akan mengemis untuk di tidurinya.


Sebentar lagi Feirvy. Kau akan segera ku dapat kan. Alan tersenyum sinis. Karena mungkin dia akan mendapatkan gadis yang special saat ini. Sampai Alan tak sadar bahwa misinya belum terselesaikan.


Setelah beberapa detik. Saat Feirvy sudah tak terlihat lagi. Dion alias Alan terkesiap. Alan baru ingat. Barang miliknya masih di dalam ruang laboratorium. Segera dia masuk dan membereskannya semua. Mungkin tidak hari ini. Sepertinya Alan harus lain waktu mengerjakannya. Karena waktu sekarang tidak cukup lagi untuk mengulang semuanya.


.


.


.


.


Berbanding balik dengan Alan; Key kini harus merasakan getirnya saat di tinggal Feirvy. Tanpa Feirvy tahu, bahwa hati Key terasa tercakar cakar perih berdarah. Merasa betapa rindunya dia betapa mengenaskan nya dia saat ditinggal istri sendiri. Yang di mana kata kata terlambat memang pantas untuk kejadian saat ini. Tapi apalah daya awal mula hanya untuk perlindungan. Tapi di bandingkan perlindungan itu ternyata melihat istrinya marah itu lebih menyakitkan dirasakannya.


Puluhan Bodyguard sudah di kerahkan untuk mencari Feirvy. Sampai Verru juga Nayna pun harus meneliti secara dalam lagi tentang identitas Feirvy yang asli. Menelusuri kemungkinan dimana Feirvy pernah berkunjung juga pernah sekolah atau bekerja dimanapun juga.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Di bukanya tutup botol minuman yang mungkin sudah yang beberapa sekian kalinya. Tubuh Key begitu terasa panas. Aroma bir terasa memenuhi tubuhnya. Tubuh bidang itu kini tengah lunglai di kursi sofa di ruang gelap remang remang, di ruang tempat dimana Key mengumpulkan semua koleksi minuman langka yang mewah yang sudah lama tertata rapi di ruang itu.


.


.


.


.


****


Feirvy membuka perlahan pintunya setelah dia letakkan payung ke sisi pintu. Di lepaskannya ikatan kuncir pada rambutnya lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. beberapa menit Feirvy hanya mengguling- gulingkan tubuhnya. Yang begitu nampak kalau dia sangat tak bisa tenang. Lalu Feirvy berbaring. Matanya menatap langit langit plavon. Kini malah beberapa tetesan air mata akhirnya terlinang juga melewati sisi kanan kiri dahinya hingga membasahi bantal yang tadinya berwarna putih redup kini harus berwarna putih transparan karena tetesan air mata kesedihan. Sembari masih memegangi jas milik Key yang selalu dia bawa. Feirvy kepikiran Key juga rindu bisa bersama dengannya kembali, tapi. Rasa terhina itu masih belum bisa untuk menerima juga memaafkan sang suami. Kini dia juga teringat ibunya. Kalau dalam hati Feirvy pernah dia berjanji akan membawa orang yang di cintainya ke hadapan sang ibu. Yang sekarang ini mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya.


Kini ibunya tengah bersama Tante mereka. Ya memang Feirvy masih muda tapi kedua orang tuanya lumayan sudah tua apalagi Feirvy anak tunggal. Kala itu pasangan suami istri itu susah mendapatkan anak. Dan mungkin karena doa doa yang selalu mereka panjatkan akhirnya di usia yang di bilang berumur mereka mendapatkan anak perempuan yang cantik dan sangat pintar. Maka itu identitas Feirvy di sembunyikan demi keselamatan. Apalagi melihat pekerjaan ayahnya yang bukan bekerjaan bersih. Maka akan ada saja musuh yang nantinya mengintai mereka.


.


.


.


.


Sampai hari esoknya. Tubuh Key beringsut meringkuk di atas sofa, semalam dia duduk minum minum sampai tak terhitung lagi banyaknya. Tubuhnya menggigil panas. Mukanya sembab pucat memerah, hingga terlihat bibir bibir Key mengering. Kerapuhan hatinya itu tak hanya hatinya yang sakit tapi tubuhnya pun tak sanggup menopang rasa sakit akibat terlalu banyak yang dipikirkan nya, yang kini tengah bernaung terlalu dalam pada hatinya.


Pagi itu juga di jam di mana belum waktunya bekerja. Feirvy yang sudah memakai setelah jas putih. Duduk duduk di taman yang sejuk, Feirvy sedikit tak sadar dirinya terus melamukan kehidupannya. Dan tanpa dia sadari juga, tiba tiba ada sebuah tangan mengulur ke kahapannya, dengan secangkir kopi di ulurkan nya ke arah Feirvy yang tengah duduk menunduk kebawah.


Setengah terhenyak lalu tersadar saat ada kopi di depannya. Saat itu juga di congakkannya muka Feirvy ke atas. Melihat siapa yang menawarkannya kopi pagi pagi seperti ini. Tak pernah disangka. Ternyata Dion. Feirvy sempat terheran. "Em-- aku tidak memesannya."


Alan mengambil duduk di sebelah Feirvy. Dan Feirvy mulai bergeser tak ingin terlalu dekat dengan pria lain selain suaminya. Alan tersenyum. "Aku yang memesan untukmu. Dan ini buatmu. Anggap saja ini ucapan terima kasih ku, sudah menyelamatkan nyawaku semalam. Kata petugas Lab. Semalem itu asap beracun. Tapi apa kau merasakan sakit?"


Dengar mendengarkan secara seksama apa yang Alan bilang. Feirvy-- menerima kopi tersebut dari tangan Alan yang kembali mengulur ke depannya." Aku baik baik saja. Terima kasih kopinya. Payung mu masih di asrama."


Setelah ucapan Feirvy tersebut. Alan melirik ke mata Feirvy. Seakan membuat panah pesonanya ingin cepat sampai ke mata dan ke hati Feirvy. Tapi setelah Feirvy menyadari tatapan itu terlihat berbeda dia langsung berpaling. Bersandar Cuek seperti tak terjadi apa apa barusan.


Apa. Dia menghindari tatapanku. Pikir Alan tak percaya ada yang tak menghiraukan tatapannya. " Biarkan saja. Lain kali saja." lain kali maksud Alan. Lain kali agar bisa bertemu lagi dengan Feirvy.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Tok tok tok


Ketukan pintu dari sang adik yang memanggil nama kakaknya tapi tak di hiraukan oleh Key. Dan membuat kecemasan mulai menghantui mereka setelah sedikit lama tak ada jawaban. Akhirnya mereka berdua memberanikan diri membuka pintu. Sontak Terkejut mereka melihat Key beringsut menggigil dengan tubuh yang sangat panas. Tapi Key sadar kalau pintunya terbuka dan mereka datang dengan laptop di tangan Verru.Betapa cemasnya mereka. Hingga Nayna lari terduduk di lantai di pinggiran sofa memegangi tangan kakaknya.


“Kakak panas sekali. Ke rumah sakit ya.”


Key menggelengkan lemas kepalanya. Sembari memberi perintah ke Verru untuk mengecek nama Feirvy Vexia di berbagai universitas dan rumah sakit di kota mereka tinggal. Waktu itu juga. Komputer yang termasuk sebagian otak dari yang di miliki Verru juga Key. Bekerja dengan cepat. Komputer yang dapat meretas sebagian besar perusahan perusaahan besar yang di kota mereka tinggal. Benar benar membuat ngeri tapi itulah keahlian dari Verru dan juga Key.


Tidak ada. Pencarian nihil tanpa hasil yang ada hanyalah nama yang sama tapi dengan foto yang berbeda. Mulailah Key bertambah berat di hatinya ternyata ditinggalkan Feirvy begitu sesak di rasakannya. Hingga baru terfikirkan ibu Feirvy. Key langsung mengambil ponselnya dan tak mau nanti lagi Key menelfon ibu Feirvy. menjelaskan kalau Feirvy sekarang sudah jadi istrinya dan saat ini Feirvy tengah salah paham dan memohon pada sang Ibu. Untuk memberi tahukan nama Feirvy yang asli. Terdengar juga terlihat Key begitu sungguh sungguh dan tak membohonginya. Cukup lama Akhirnya sang ibu memberi tahu nama asli Feirvy. Kalau nama Feirvy bukanlah Feirvy Vexia melainkan Feirvy Velova.


Kembali Key mengotak Atik laptopnya sendiri. Dan tak butuh lama akhirnya ketemu juga nama Feirvy Velova dengan foto istrinya disana. Diketerangan bahwa Feirvy tengah kembali bekerja di rumah sakit internasional xx. Kuat kuat Key yang yang tengah sakit. Berdiri meraih mantel jaketnya di sofa dan berjalan akan keluar kamar.


“Tunggu Kak. Kau apa mau kesana. Kakak sedang sakit. Biar Verru saja yang kesana.” Pinta Nayna.


Berjalan dengan tubuh yang lunglai dan tubuh yang amat sangat panas, Key Tak menoleh ke belakang Key hanya menggeleng kepalanya saja. Tak mau menghiraukan dia yang sakit. Rasa menggeru ingin kembali bersama istrinya begitu kuat dalam hatinya. Tapi mungkinkan kali ini Key akan baik baik saja. Dan di saat bersamaan Feirvy tengah duduk satu kursi dengan Alan.


.


.


.


.


.


Kalau kalian terhibur


jangan lupa


like


komen


bintang 5


Vote


Dari kalian ya.


thanks

__ADS_1


by UlanZu


__ADS_2