
Hingga malam datang sesudah makan dan main. Entah kenapa Vero terus menangis, rewel beberapa kali 3 pelayan bergantian menidurkan Vero tapi tetep saja rewel nggak mau tidur juga nggak mau berhenti menangis. Feirvy pun juga di buat panik karena Vero tidak juga mau berhenti menangis. Mungkin juga memang Vero terbiasa tidur dengan ibunya. Jadi namanya anak kecil maunya Deket sama orang yang biasa dekat dengannya. Sementara Key mendadak harus keluar menemui Verru di markasnya.
Rasa ikut menangispun Feirvy rasakan juga karena merasa tak becus ngurus anak kecil satu saja. Akhirnya dan terpaksa Dia pakai telfon rumah untuk menelfon Key. Entah Key pulang atau tidak Feirvy ingin memaksa Key untuk pulang segera.
“Kenapa?”
“Vero sepertinya ngantuk tapi gak bisa tidur ... Hik hik dia nangis terus Key ... Kau cepat pulang.”
Terdiam saat Feirvy bicara entah kenapa hati Key seakan terenyuh mendengarnya. Kita seperti punya anak. Dan kau menelfonku untuk segera pulang.
“Iya. Sebentar lagi aku pulang.”
“Jangan lama ya ...” kenapa aku seperti seorang istri yang menanti suaminya pulang ...
“Iya.”
“Serius kau ingin pulang? Ini sangat penting sekali.” Timbal Verru.
“Masalah Alan biarkan dulu. Kau kembali urus anak yang mau di pekerjakan Arthur dahulu.”
“Baiklah.”
Kehidupan sedikit demi sedikit mulai berubah. Hal baru, orang baru dan perasaan baru kini satu persatu berdatangan tanpa bisa di kendalikan lagi. Feirvy seakan mampu melunakkan hati sang mafia itu. Yang tak habis pikir oleh Verru. Demi Feirvy Key berusaha menahan emosinya untuk tak melukai ayah Feirvy. Kalau saja ada penyusup datang dan itu langsung di cincang cincang oleh Key. Kini malah ada orang yang berencana membunuhnya. Key malah melambat dalam membalasnya. Hanya demi Feirvy agar tak merasakan sakit hati. Padahal Key tahu sendiri Feirvy lah yang akan membunuhnya. Tapi entah kenapa. Lebih bahaya lagi saat Feirvy menangis dari pada Key sendiri yang tersakiti. Kini laki laki itu tengah peduli dengan wanitanya.
Pintu kini terbuka. Key cepat cepat pulang dan menghampiri Feirvy yang kebingungan menggendong Vero yang tengah menangis susah tidur.
“Istirahatlah dulu. Vero biar aku yang gendong.”
“Kau tak apa. Aku mengganggu kerjamu.”
“Tentu tidak. Aku yang punya. Semua terserah apa yang aku ucapkan.”
Kata kata yang terdengar menenangkan ... Setelah lelah mengurus Vero seharian. Pemandangan yang mungkin Feirvy tak pernah bayangkan. Seperti memiliki anak dan di dekapan sang ayah anak itu seakan luluh dalam dekapan seseorang yang telah dia nanti dan orang yang ingin dia lihat sebelum tidur.
.
.
.
Hingga mungkin 1 jam Vero baru bisa tidur dalam gendongannya Key. Key Kesana kesini kemari, berjalan menimang nimang Vero sampai benar benar terlelap. Rasa iba seakan langsung timbul seraya tatapan pilu melihat Key pasti sangat capek. Sehari penuh dia bermain dengan Vero. Sorenya berangkat kerja sekarang malamnya harus menimang nimang mungkin satu jam Vero baru tertidur dan kini di tidurkan di kamar tamu yang di jaga oleh 3 pelayan disana.
Melihat Key terlihat kelelahan. Feirvy ingin menghiburnya.
“Minum ini. Mungkin kau sangat lelah hari ini.”
Key mengambil minum dari tangan Feirvy. Sembari tersenyum. “Makasi ..., Emm mau ikut aku?”
“Kemana?”
“Ikut dulu nanti juga akan tahu.”
Berjalan biasa Key menggandeng tangan Feirvy dan membawanya ke lantai atas hingga yang paling atas hingga ke loteng terbuka di rumah Key. Yang sengaja lotengnya di buat terbuka. Masih dengan gaya minimalis di sana terdapat kursi rotan dengan sofa ditengahnya dan cukup untuk mereka berdua duduk hingga tiduran.
Awan gelap di temani cahaya rembulan di hiasi taburan bintang. Feirvy di ajak duduk di sofa tersebut.
“Ada tempat seperti ini di rumahmu. Ini bagus sekali.”
__ADS_1
“Kau suka? ...istirahatlah.”
“Tidak. Kau yang istirahat. Kau pasti capek seharian ini.”
“Bisa melihatmu. Lelahku seakan hilang.” Key tersekad dengan ucapannya sendiri. Tidak tahu kenapa langsung muncul begitu saja.
Hati Feirvy juga seakan tercolek mendengar kata kata itu. "Hahaha kau bisa membawa fotoku saat kau kerja kalau kau mau.”
Key tersenyum. “Duduk sini.” Sembari menepuk nepuk sofa.
Feirvy pelahan duduk dan tak menolak karena dia merasa capek juga sebenarnya. Kini dia tengah menghela nafas seakan melepas kelelahannya seharian ini.
Tanpa Feirvy sadari Key sedari tadi berpaling mengamati wajah Feirvy. “Kau boleh rebahan kalau mau. Dan juga boleh menikmati bintang bintang di atas secara gratis dan Ekslusif hanya buatmu malam ini.”
Feirvy tersenyum. “Kau sedang menggombal ya. Apa kau memang sebenarnya adalah penyuka wanita yang suka menggombal untuk mereka.”
Key mulai bersandar rebahan di sandaran kursi, di samping Feirvy yang masih duduk.
“Saat aku remaja, aku pria culun tidak pandai menarik perhatian wanita,” Key menghela nafas dalam dalam. “ Kau pasti tidak akan percaya.”
Mendengar ucapan Key yang barusan membuat Feirvy menunduk tatapan ke bawah. “Aku penasaran dengan pria yang culun itu.”
“Jangan mengenalnya. Waktu itu aku bodoh. Tidak punya pendirian yang kuat. Sampai membuatku seperti saat ini,” kembali Key menghela nafas yang kedua kalinya. “hari ini melelahkan juga. Ada masalah juga dengan di perusahaan ku.”
Feirvy mengelus elus punggung Key seakan menenangkan pria di sampingnya itu. Tapi sikap Feirvy malah membuat Key terus menatap muka gadis itu dengan guratan senyum disana. Kau ... Aku ingin terus menatapmu seperti ini ...
“Aku ada satu permintaan untukmu. Kau mau menurutinya.” ucap Key.
“Apa itu.”
“Aku ingin tiduran di pangkuanmu. Boleh.”
Mulai Kepala Key perlahan tidur di pangkuan Feirvy. Ditemani hiasan taburan bintang jauh di atas sana. Sebenarnya Feirvy sedikit salah tingkah. Karena ini dia rasa adalah hal romantis seperti sepasang kekasih yang di runding penuh kasih sayang di dalamnya. Tapi di mana mata sedang Feirvy berkeliat. Di meja seakan ada 2 lembaran kertas.Feirvy kini penasaran dan diambilnya 2 kertas tersebut.
“Apa itu.” Tanya Key
“Entahlah!”
“lihat bawa sini.”
Sebelum Feirvy baca. Di serahkan kertas itu pada Key.
“... Ini... Puisi berbalas. Mungkin milik salah satu penjaga rumah disini.”
Belum sempat Key membaca isi puisi berbalas itu tapi entah kenapa dia ingin mengajak Feirvy ikut membaca dengannya.
Key yang tiduran di paha Feirvy. “Kau baca ya, Nanti aku balas baca bait yang di bawahnya.”
“Eemm.. Boleh.”
Key memberi satu dari 2 kertas yang di pegang saat ini.
“Kau duluan.” Ucap Key.
“Enggak mau. Kau saja.”
“Aku mulai ya, ....Di mulai Ketika kegelapan tercipta, ketika sunyi berubah hampa.”
__ADS_1
“Cercah cercah sinar remang yang di bilang pion seakan menerangi gulita, kegelapan yang tengah hampa.”
“Apa itu takdir. Katakanlah itu iya. Karena ada dan seakan sengaja ada.”
Berdua Tenggelam dalam setiap untaian kata puisi ... jemari Key perlahan di selipkannya ke jemari Tangan Feirvy. Dan berpegangan di sana. Saat itu juga hati Feirvy seakan tersentuh sama seperti tangannya yang tersentuh jemarinya, yang perlahan lembut dan terasa nyaman sampai dasar hatinya.
“Cahaya itu datang. Tapi tidak hanya cahaya penerang. Tapi percikan cahaya panas mematikan.”
“Cukup! Itu bahaya. Karena panasnya mematikan.”
“Tapi kau percaya kalau cinta itu sumbernya air. Api menyeruapun seakan tunduk tak berdaya di hadapannya.”
“Aku amnesia, lupa akan cinta.”
“Apa kau bodoh! Genggam tangannya ... Katakan satu kalimat saja...
.
.
.
.
Aku-- mencintaimu.”
Kata yang terasa seakan menembus pelupuh hati sang mafia. Terdiam hening, serasa kata yang mewakili rasa hati keluar begitu saja. Mata saling menatap antara 2 perkara yang mereka bawa. Tapi tak akan bisa mengalah rasa yang kini ada di depan mata mereka, yang saling menatap tak terkira. Dan kini seakan pernyataan itu telah terjawab pula...
.
.
.
Feirvy pun berkata.
.
.
.
“Maka ... Akupun—juga-mencintaimu--.”
Sebuah kata yang mewakili perasaan mereka berdua ...
.
.
.
.
Oke terimakasih semua ... yang sudah mau Vote.
Salam baca
__ADS_1
by UlanZu.