
Memilih berjalan kaki di paving pinggiran jalan beraspal. Viola memegangi bibirnya. Dia menciumku. Aku merasa ciuman ini berbed— tapi seolah-olah kau juga mengusirku. Satu hal yang tidak kau tahu kenapa aku memberikan milikku waktu itu padamu. Aku punya alasan sendiri kenapa aku seperti itu. Aku pikir lagi sepertinya caraku waktu itu juga salah... Tapi aku beneran suka denganmu.
“TUNGGU NONA VIOLA...!!”
Suara teriakan Markus dari dalam mobil. Yang akhirnya membuat Viola langsung berpaling ke belakang. -Terheran untuk apa Asisten Dion memanggilnya- Markus menghentikan mobilnya di pinggiran jalan. Berlari kecil ke arah Viola yang tercengang menanti Markus sampai padanya.
“Ada apa Tuan.”
“Tuan muda memanggil Nona untuk kembali ke rumahnya. Sepertinya bubur buatan Nona bisa menghipnotis Tuan muda agar kembali kerumahnya.”
Viola tersenyum manis sembari membatin, apakah dengan makanan dia bisa lebih menyukaiku? Kalau iya... Aku akan selalu buatkan makanan enak buatmu.
“Tapi Tuan. Bolehkan saya tiap jelang malam hari balik ke rumah sakit? Karena nenek saya di rawat di rumah sakit.”
“Nanti saya akan bicarakan ke Tuan muda. Tapi untuk sore ini, bisa-kan masakin makanan enak untuk Tuan muda. Nanti malam akan saya antarkan Nona ke rumah sakit."
Viola mengangguk senang. “Baiklah Tuan.”
Viola akhirnya kembali kerumah besar itu lagi. Saat dia datang perawat yang baru itu harus pergi dari rumah tersebut atas perintah Alan. Viola tak langsung ke kamar Alan. Melainkan ke dapur. Dia bikinkan bubur ayam dan beberapa lauk pauk di atas bubur yang terlihat sangat menarik. Ditambah lagi Viola membuat salad buah dari buah pilihan dengan resep yang di ajarkan nenek Viola. Yang dimana Viola sudah sangat yakin kalau makanannya saat ini pastilah enak.
Di letakkan nya dulu makanan yang sudah siap saji tadi di meja pantry dapur sebelum dia bawa ke kamar Alan. Viola tinggal ke kamar mandi buat benahin dandanannya. Mungkin biarpun dikatakan naif. Dia tak peduli. Selama masih berusaha siapa tahu membuahkan hasil kali ini.
Alan perlahan turun dari tempat tidurnya. Dengan kursi roda dia keluar sendiri. Pikirnya sebenarnya agak kesal. Kenapa masak kok lama sekali. Pikiran itu membuat Alan berjalan ke dapur sendiri. Sesampainya. Tak terlihat siapapun di dapur. Hanya terlihat di meja pantry, ada hal menarik disana sebuah sajian epic yang menggunggah selera makannya saat ini. Alan menelan ludahnya sendiri, tak sabar buat mencicipi nya.
Tangan Alan mengulur mengambil dan mencicipi buah salad tersebut. Enak! langsung dia kunyah sampai habis. Lagi ambil lagi. Lagi dan lagi. Dan terkhir Viola keluar dari toilet gerak tangan Alan langsung tersekat. Terhenti dan membuang balik buah saladnya ke atas mangkok.
Viola tercekat. Menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal dan sedikit salah tingkah sendiri. “Itu memang punyamu. Dion.”
Alan cemberut melirik sinis. “Tuan muda Dion.”
Tersadar jari Viola menutup bibirnya. “Ah. Maaf aku lupa.” Dia itu. Aku harus anggap dia bagaikan yang mulia kaisar. Tapi dia juga seenaknya menciumku begitu saja.
“Antarkan makanan ini ke taman depan rumah.”
“Baiklah.”
Terlihat Alan menjalankan kursi rodanya sendiri.
“Biarkan aku yang mendorong.” Ucap Viola.
“Apa kau lupa. Bukannya kau lagi bawa nampan."
Tersadar. "Benar juga."
Tapi tanpa Viola sadari dan dengan polosnya. Viola membuat Alan tak bisa berkutik. Di taruh nampan tersebut di atas pangkuan Alan. Dan tanpa rasa bersalah dan berlagak polos, Viola berucap.
"Sepertinya begini baru aku bisa bantu Tuan mendorong kursi rodanya."
Alan tercengang, tak percaya apa yang dilakukan Viola kali ini padanya. Bagaimana bisa dan bagaimana ini bisa terjadi. Seolah Viola lupa seharusnya Viola takut dengannya. Belum sempat memprotes Tingkah polos Viola. Viola sudah mendorong kursi roda tersebut sampai taman.
Di bawah pohon besar berdaun hijau dan di bawahnya ada kursi besi berwana putih panjang untuk berdua tapi Viola duduk sendiri disana sedangkan Alan di kursi rodanya sendiri.
“Mau aku suapin?” Tawaran si gadis perawat.
__ADS_1
Alan menatap dingin Viola, sejenak berdiam diri saja saat di tanya tapi akhirnya dia mengangguk mau untuk di suapin. Belum sesuap makanan itu masuk ke mulut Alan mereka sekelibat tengah memikirkan sesuatu dalam hati mereka masing masing. Gadis ini pasti akan lebih berusaha mendekatiku. Apalagi dia sudah tahu kalau aku orang kaya.
Senengnya bisa menyuapimu. Kalau aku jadi istrimu aku mau menyuapimu setiap kamu mau makan.
“Lagi ngelamunin apa? Ucap Alan yang tersadar duluan. "jangan berharap lebih ya. Disini kau hanya seorang perawat saja.”
Terkesiap Viola tersadar dari lamunannya tadi. “Haha. Tidak-tidak. Mengerti kok. Lagian aku cuma orang biasa.”
“Baguslah kalau mengerti.”
Suapan demi suapan di bawah pohon yang sejuk dan rindang tersebut berdua duduk disana. Tapi siapa yang menyangka. Ada benda jatuh dari atas ke tangan Alan. Benda empuk kenyal warna hijau mempunyai sepasang bola mata hitam apalagi kalau bukan ulat menggeliat liat tanpa bulu.
Alan berteriak sekencang mungkin!! spontan Mengibas ngibaskan tangannya. Viola kaget bukan kepalang dia langsung berdiri melihat ke tangan Alan.
“Ulat. Tolong ulat...!!!” Rerentetan kalimat ironi dari mulut Alan yang ternyata dia takut dengan seekor ulat. Alan terlihat setengah menangis sedikit mengeluarkan air mata.
Segera Viola mengambil gagang kayu kecil dan cepat menyingkirkan ulat tersebut. Penjaga pada berlarian cepat membersihkan ulat tersebut. Alan mengusap tetesan air matanya. Sedangkan Viola begitu masih terheran. Bukannya kasihan atau gimana. Viola malah tertawa cekikikan di depan Alan yang terlihat matanya masih berair.
“Qiqiqiqi. Kau lucu sekali.”
Alan menatap Nyalang. “Apanya yang lucu. Cepat bawa aku kekamar.” Padahal di hati Alan dia begitu malu dilihat cewek kalau dia takut sama ulat.
Viola dorong kursi roda Alan. Memberanikan diri menghibur Alan. “Kalau di bumi tiba tiba muncul banyak ulat apa yang kau lakukan.”
“Aku akan pindah ke planet Mars.”
Viola tertawa kecil di belakang Alan. Tertawa kalau sebenarnya Dion tidak seburuk yang dia pikirkan mungkin.
“Kau tidak boleh ketawa dirumahku. Kecuali aku.”
“Panggil aku kalau ada keperluan lainnya. Aku ada di luar.”
"Tidak ada. ini sudah mau malam. Asistenku bilang jelang malam kau akan pulang. kau boleh pulang sekarang."
Viola yang berdiam diri di dekatnya. Terdiam sejenak ....lalu setelah sekian detik Viola baru bicara.
"Aku pamit pulang..."
Alan menggangguk pelan. Dan akhirnya Viola berlalu untuk hari ini dan pagi pagi Viola harus standby sebelum Alan terbangun waktu pagi hari. Hingga akhirnya pagi tiba. Kali ini Viola datang dengan sepeda mini onthel miliknya. Karena jarak rumah sakit dengan rumah Alan tidaklah terlalu jauh, meski capek sedikit setidaknya bisa menghemat ongkos naik bis.
Viola masuk ke ruang rawat Alan. Dan ternyata Alan sudah bangun.
"Ah.. itu. Apa kau mau di seka pagi ini."
“Tidak. 2 jam lagi mandiin aku. Aku merasa lengket Cuma di lap saja.”
Viola yang menunduk sembari memebenahi selimut Alan seketika itu terpaku terdiam. Saat mendengar Seruan untuk memandikan Alan. Berarti mandiin seluruh tubuhnya di kamar mandi. Apa dia tidak malu, kenapa membatin itu. Bukannya aku yang lebih tidak tahu malu. Mau menyerahkan diri untuknya. Tidak tahu ach. Terserahlah.
“Kau melamun."
“Tidak. Tidak. 2 jam lagi aku akan segera kesini.”
Alan kembali ke layar digitalnya. Sedangkan Viola keluar ruangan. Di luar kamar Alan diapun tidak diam. Segera memasak masakan yang lebih enak lagi, sampai mencari cari daftar menu makanan sehat di google untuk sarapan nanti. Meski tidak tahu di bayar atau tidak, gadis pendiam dan lugu itu tak mau tinggal diam disana.
__ADS_1
Karena setidaknya dia harus tahu diri. Dimana dia sekarang dan tidak boleh hanya beristirahat di sana. Dan waktu kini berlalu 2 jam. Dirumah hanya ada beberapa penjaga, sedangkan asisten Alan bekerja di kantor Alan di pusat kota.
Viola mengetuk pintu pelan. Meminta ijin untuk membersihkan kamar mandi Alan sebelum dipakai Alan untuk mandi disana. Alan mengiyakan itu semua. Tak lama Alan berdiri sendiri. Sedikit menyaru-nyaru jalannya tapi sampai juga di bibir pintu kamar mandi dan terlihat Viola masih membersihkan kamar mandinya. Viola terkesiap segera berdiri segera membopong tubuh Alan. “Kenapa tidak memanggilku.”
“Tuntun aku sampai bathtub.”
“Baik.”
Di tuntunnya Alan sampai Bathtub. Bathtub yang masih kosong oleh air. Alan masuk kesana dan berseru.
“Bukakan semua pakaianku. Aku ingin mandi.”
Membeliak mata Viola. Hatinya terasa sedikit gusar. Entah kenapa perintah itu terasa sensual sekali. Meski pernah melihatnya tanpa busana tapi itu karena spontan begitu saja dan kini dia harus membuka semua dengan pikiran normalnya.
Suaranya terbata-bata. “Ba. Baiklah.”
Viola jongkok. Tangannya yang sedikit gemetar itu pertama dia buka baju Alan. Lanjut ikat pinggangnya dan berlanjut ke celana panjang Alan.
Alan hanya terdiam saja sambil menyaksikan dirinya di telanjangi perawatnya sendiri. Heh. Wanita yang gampang di permainkan. Kali ini aku ingin coba seberapa murahnya dirimu. Seberapa gratisnya tubuhmu.
Alan menarik lengan Viola dan berbisik. “Buka bajumu. Aku ingin melihatnya.”
Kata itu entah mengapa sangat menusuk hati Viola. Dia pernah mendengar Alan mengajaknya bercinta. Tapi nadanya lebih sopan. Entah kata yang barusan kenapa sedikit malah seperti kata pelecehan juga hinaan. Tak menanggapi ucapan Alan Viola terdiam dan tak lama berucap juga. “Aku lagi halangan, tidak bisa melakukan itu denganmu.”
Alan bergeming, tak bisa bicara apapun. Dan melepaskan cengkraman tangannya. “Mandikan aku saja sampai bersih.”
Akhirnya lega juga pikiran Viola. Segera dia selesaikan tugasnya sampai memakaikan bajunya Alan. Dan di baringkan lagi di tempat tidur. Rentetan pekerjaan hari itu Viola kerjakan... hari ini hatinya sedikit muram lebih pendiam setelah kata pelecehan itu dia dengarkan dari mulut Alan. Dan sampai akhirnya malam datang dan sesuai perjanjian saat jam hendak malam Viola harus pulang kerumah sakit menemani sang nenek. Segera Viola menyiapkan hidangan makan malam untuk Tuan Dion.
Keluar dari dapur bertepatan Viola berpaspasan dengan asisten Alan yang baru saja pulang bekerja.
“Maaf Tuan. Seperti nya sudah menjelang malam. Saya harus segera pulang.”
“Oiya saya lupa. Biarkan penjaga yang mengantarmu sampai rumah sakit.” Lagi Markus mengeluarkan map yang sudah disiapkan untuk Viola siang tadi. “ini buatmu, untuk hari ini... Terimakasih ya..”
Viola tak menampiknya tapi pelan dia terima nya. Mengingat dia sangat kekurangan uang untuk biaya rumah sakit. Jadi dia menerimanya. Sepulang di antarkan penjaga. Viola meminta penjaga untuk berhenti sebentar untuk membelikan makanan enak buat si nenek. Yang sepertinya sudah lama tidak makan enak.
Diruang makan, Alan bertanya ke Markus. “Dimana dia.” tumben sekali tidak menyuapiku.
“Siapa?” sahut Markus.
“Viola.”
“Ah. Aku lupa. Kalau malam ini dia sudah pamitan pulang duluan. Neneknya ada di rumah sakit.”
Alan berdiam diri dirinya teringat kejadian penolakan di kamar mandi tadi. Memikirkan apa dia terlalu kasar dengan Viola. Dan apakah bener kalau Viola lagi halangan Apa cuma buat alasan saja. Tapi kenapa buat alasan bukannya Viola sangat suka kalau disentuh nya. pikiran semua itu terpikirkan terus menerus oleh Alan yang malah membuat dirinya tak bernafsu untuk makan malam saat ini.
.
.
.
.
__ADS_1
Up 2/3 kasih dukungan kalian...