
Malam yang sangatlah indah ... karena terasa setiap untaian kata yang terucap dari kedua bibir key begitu mampu meresap dalam pelupuh jiwa. Akan Feirvy simpan kata kata berlian itu. Akan Feirvy selalu ingat permintaan suaminya itu. Akan Feirvy tepati semua janji padanya. Sebuah janji dimana Feirvy berjanji akan selalu setia dengannya sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun. Karena rasa cinta selalu ada dan tumbuh terima apa adanya.
Perlahan mereka saling membuka mata, sedikit merenggangkan rapatkan muka mereka. Setelah menikmati ketulusan cinta mereka melalui ciuman hangat yang menyentuh jiwa mereka.
Key menghirup udara dalam dalam dan perlahan melepaskannya. Menghirup oksigen setelah serasa terkuras habis sebab ciuman yang barusan saja ia lakukan dengan istrinya.
Begitu juga Feirvy, nafasnya terasa tersengal-sengal sehabis menikmati manisnya ciuman yang dia terima dari sang suami. Feirvy bersandar di dada milik Key. Menyandarkan kepalanya di sana dan di balas pula Key merapatkan pelukan. Juga memberikan hadiah ciuman di antara pangkal rambutnya Feirvy.
“Key ... Habis dari sini kita kemana?
“Tentu saja pulang kerumah Tantemu.”
“Ah. Bukan itu maksudku ... Maksudku habis dari desa ini aku akan pulang kemana.”
Pertanyaan yang langsung menyadarkan seorang Key. Kalau saat ini usahanya sedang dalam masalah yang belum terselesaikan. Key terdiam dan terlihat seperti sangat memikirkan sesuatu. Terlihat saat Feirvy mendongakkan kepalanya mengarah ke muka suaminya.
“Ada apa. Ada yang kau pikirkan?”
Key memandangi istrinya. Terlihat dari rapatan bibirnya, ada yang ingin di katakan tapi belum bisa bagaimana dia harus memutuskan juga membicarakan nya saat ini.
“Kau ini kenapa. Ada yang kau sembunyikan ya.”
Akhirnya pasrah juga Key, bagaimanapun juga dia harus menceritakan semua keresahannya. Dan bagaimanapun juga Feirvy adalah istrinya tak perlu semua hal harus di sembunyikan. Mungkin saat diungkapkan siapa tahu ada solusi lain yang lebih baik dari istrinya. Kembali Key mengambil nafas dalam dalam, Key mencoba menceritakan sebagian apa saja yang Key resahkan.
“Bukan Feirvy yang kukenal dulu yang membuat diriku tidak segera ucapkan cinta terhadapmu. Sejak kau ada di rumahku. Dan setelah aku melakukan hal buruk dulu terhadapmu aku sudah mulai menaruh empati padamu. Dan andai saja aku tak menaruh empati padamu. Mungkin saat aku tahu kau berencana mau melukaiku mungkin aku sudah meniadakanmu atau menyiksamu dengan berat. Bukan hanya jadi seorang pelayan dan bahkan aku suruh menemani tidurku. Kau pernah berpikir. Mana ada kalau orang itu benci terhadap seseorang, tapi seseorang itu masih mau menyentuhnya bahkan menyet*buhinya kalau bukan karena rasa empati yang kuat itu tidak mungkin akan terjadi. Yang ada malah orang itu akan sangat jijik dengan orang yang dianggap jahat terhadapnya.”
Feirvy begitu seksama mendengarkan suaminya bicara. “Lalu karena apa?”
“Aku takut kau akan jadi kelemahanku. Tapi nyatanya memang iya. Dan aku takut banyak musuhku yang akan mengincar mu. Buat alat sandraan mereka agar aku mengalah juga menyerahkan apa yang aku miliki selama ini. Mereka melihat diriku mendapat kan semua ini secara gampang dan cepat. Dari situ banyak dari lawanku tidak terima dan terus berusaha mencari titik lemahku untuk menghancurkan ku."
__ADS_1
Mendengar semua yang di ceritakan suaminya. Feirvy ngeri, sambil mendengarkannya Feirvy mengernyitkan keningnya -betapa sulitnya dunia mafia-
“Ak. Aku tidak bisa banyak membantu. Tapi apakah identitas palsuku tidak dapat membantumu.”
Key tampak berpikir ... “Bisa asal mereka tak melihat wajahmu. Tapi itu tidak mungkin apalagi Verru tadi memberi kabar kalau banyak mata mata yang mengintai di sekitaran rumahku. Yang mereka cari adalah kamu karena sebagian dari mereka tahu kalau ada sudah menikah. Dan waktu itu memang pernikahan ku tidak aku sembunyikan. Karena aku dulu berpikir kau juga lawanku dan dulu aku pikir tidak perlu melindungimu karena kau sebagian dari mereka."
“Sebenarnya ada juga yang ingin aku katakan. Tapi ... Aku takut kamu tidak setuju. Tapi siapa tahu ini cukup membantu.”
Key menoleh ke arah Feirvy. “Katakan saja.”
“....Bagaimana kalau aku sementara waktu ini tinggal di asrama rumah sakit. Selain aman, Disana musuh mu tidak mengetahuiku dan identitas asliku. Dan juga aku bisa belajar jadi dokter yang sesungguhnya. Aku masih harus banyak belajar dan itu satu satunya cita cita ku. Aku ingin mandiri mempunyai keahlian sendiri.”
Saat itu juga Key menatap pilu istrinya. Rasanya baru bertemu dan Key tidak ingin berpisah lagi. Tapi seperti keadaan yang sangat memaksa menarik mereka agar berpisah terlebih dahulu. Rasanya tersayat hatinya mendapati kenyataan ini harus dia jalani.
Key menunduk. “Aku tidak rela. Tapi itu—Cita cita mu. Dan jauh dariku memang lebih aman dari pada ada di sisiku untuk saat ini. Tapi itu artinya kita akan jarang bertemu. Tidak, aku tidak rela. 3 hari dalam 1 minggu kau harus menemaniku di rumah meski tanpa boleh keluar rumah. Kau harus mau.”
Feirvy meringis tersenyum mendengar logat bicara suaminya yang tak rela dengan usulannya tersebut. “Iya iya. Nanti akan aku atur jadwalnya.”
“Hahahaha ... Kau ini apaan sih.”
“Aku serius. Feirvy,” tangan Key memegang erat sisi kanan kiri bahu Feirvy. “Tunggu aku. Tunggu aku akan lawan manusia tengik bernama Alan itu. Sesudah dia terkalahkan. Maka semua akan aman dan aku akan segera menjemput mu lagi.”
Nama yang terdengar asing oleh Feirvy. “... Alan, siapa Alan?”
“Manusia setengah binatang cerdik. Juga licik. Kejeniusan nya dia pakai untuk melawanku. Tapi selama ini dia belum pernah bisa mengalahkan permainan catur yang aku mainkan selama ini untuknya. Tapi hanya untuk kali ini aku harus waspada setelah dia berhasil menciptakan hal hal mustahil yang gila itu.”
Entah pikiran dari mana. Nama Alan sedikit terpatri dalam pikirannya Feirvy. Sehingga membuat Feirvy bengong. Key menjitak kepala Feirvy yang lagi enak enak nya bengong.
“Hei. Kau mikirin apa. Takut ya,” Key merangkul istrinya. “Tenang saja. Semua pasti teratasi. Kita nikmati dulu liburan disini.”
__ADS_1
“Liburan.”
“Iya. Liburan. Aku ijin satu Minggu ke atasanmu.”
Tak percaya dan terheran. “Hah! Lalu boleh.” Mengingat atasannya adalah orang yang ketat juga tertib.
“Hah ... Tentu sajalah boleh. Tapi harus sedikit bertenaga.”
“Maksudmu?”
“Bukan salahku. Awalnya aku sudah bicara sopan dengannya. Lalu dia ijinkan aku membawamu. Lalu saat aku ijin satu Minggu. Dia melotot dan melarangku. Jadi Bodyguard ku aku suruh iket dia kuat kuat dikursi terus ku lakban mulutnya.” Key mengingatnya sambil tersenyum lebar.
Feirvy tercengang tubuhnya menegak kaku. “APA! Kau gila ya. Aduh Key ... Kau bikin masalah saja ... Gimana nanti aku pas kerja nanti.”
“Hahahaha Dia mau berani dengan istriku. Siap siap dia ku keekkk -Key menggaris lehernya layaknya pisau menyayat lehernya-“
“Kau mau berulah lagi hah! Sini kau.”
Feirvy mencubiti Key berulang kali.
“Ak. Ak sakit sayang. Ampun ... Ampun ...... hahahaha."
.
.
.
.
__ADS_1
Chapter 1/2 yang up.
sambil nunggu lainya kalian bisa komen atau Vote dahulu. bisa juga kasih bintang 5 untuk novel ini. semua itu gratis kok 😃😃