
Alan tertidur nyenyak... matanya yang terlihat tertutup lembut, membuat jemari Viola menyapu kedua kelopak mata Alan. Beberapa kedipan lembut Viola lakukan seraya Viola menatap halus orang yang di cintainya saat ini. Viola yang sudah berpindah tempat duduk segera menyelimuti dengan hati hati tubuh Alan agar tidak terbangun dari suara gerak apapun juga.
Mata Viola kembali menatap muka Alan. Aku. aku menyukaimu, meski kamu terlihat ketus dan sadis. Aku tetep menyukaimu. Perlahan Viola membungkukkan tubuhnya, menutup matanya, mendekatkan mukanya, Viola mengecup bibir lembut Alan seraya senyum yang sangat lembut disana.
"Hem. Hem." Viola langsung terbangun. Seketika itu dia salah tingkah. Gimana tidak salah tingkah. Tidak tahunya Markus masuk ke dalam kamar tersebut dan ini adalah kali keduanya dia kepergok berciuman Dengan Alan. Betapa malunya dia saat ini sampai pipinya bersemu merah merona.
“Ma. Maaf Tuan.”
Markus tersenyum. “Untuk apa kau minta maaf.”
“Itu tadi--”
“Tuan muda adalah seorang yatim piatu. Kalau bukan pasangannya yang baik untuknya. Siapa lagi nanti yang akan menjaga Tuan muda kalau bukan pasangannya atau istri yang baik hati nantinya. Kalau kau menyukai, maka jadilah perempuan yang terbaik untuknya. Ubah sifat sifat jeleknya menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.”
Mendengar ucapan Markus malah membuat jantung Viola berdenyut. Pernyataan yang seakan tertuju padanya tapi dia sendiri masih bingung dan bimbang dengan hubungannya dia bersama Alan.
“Sa. Saya—menyukainya. Hanya saya. Saya tidak tahu dengan perasaan Tuan muda Dion saat ini. Saya akan menjaganya sebisa saya dan sebaik mungkin untuk dia."
Perempuan yang lembut... pikir Markus. “Kamar tamu sekarang adalah kamar mu, Nona. Nona lebih baik istirahat di dalam dari pada di ruang tamu.”
“...Emm baiklah, Tuan. Terimaksih Tuan.”
°^°^°^°
Semua itu telah berlalu, Sampai siang hari. Alan belum terbangun juga. Beberapa kali Viola mengeceknya tapi tak tampak bangun juga. Hingga jam 3 Sore, Viola mulai cemas kenapa tidurnya lama sekali... Kembali lagi Viola masuk kamar kali ini Viola Sentuh kening Alan dan malah terasa Luar biasa panasnya. Membuat Viola terkejut! Viola mencoba membangunkan Alan beberapa kali, tapi tak bangun juga. Kecemasan kepanikan ketakutan serasa menghujani hati dan pikiran Viola. Segera dia berteriak memanggil penjaga. Menelfon Markus yang sedang bolak-balik mencari informasi cangkokan sumsum tulang belakang Alan tapi tak ada juga yang cocok dengan milik Alan.
Kini kondisi tubuh Alan benar-benar layaknya roller coaster. Pagi terasa kedinginan dengan kulit yang terasa layaknya es. Kini berbanding balik tubuhnya begitu panas dan tak sadarkan diri pula.
Ambulan yang sudah tersedia dirumah Alan kini dengan cepat membawa Alan yang tengah pingsan dalam tidurnya ke rumah sakit besar. Beberapa dokter segera menanganinya. Memberikan beberapa penanganan juga obat obat tertentu untuk memulihkan kondisi Alan untuk sementara waktu ini.
Viola menangis di luar ruang gawat darurat tersebut. Kedua tangannya beberapa kali harus menyeka linangan air mata yang tak bisa dia kendalikannya sendiri. Hatinya begitu sedih. Sangat takut di tinggal Alan, melihat semua itu membuat Markus memberikan sapu tangannya sendiri ke hadapan Viola. "Tenanglah. Dia pasti akan baik baik saja. Dia pria muda yang pintar dan kuat."
Merapatkan bibirnya. Viola seakan menahan sedannya sendiri. Lalu keluarlah salah satu dokter keluar ruangan tersebut. Dengan wajah yang masih terlihat gusar dokter tersebut keluar dan memberi kabar.
“Untuk sementara ini. Tuan muda sudah bisa melewati masa kritisnya.”
Seolah Markus sudah mengerti apa yang di bicarakan Dokter dengan kata 'sementara ini' tanpa ada penjelasan yang lebih detail kata itu sudah mewakili semuanya. Markus memejamkan mata nya rapat rapat. Tampak kalau dia tengah meringis kepedihan.
__ADS_1
Mata Viola seolah terus menatap curiga. Dia sedikit tidak mengerti dengan kata sementara tersebut. Apa itu artinya hanya sementara waktu ini. Lalu setelahnya Alan akan kembali kritis lagi. Dengan pandangan menunduk menatap lantai dan menggenggam jemarinya sendiri. Sebulir air mata itu menetes tak tertahankan lagi. Dada nya kembang kempis mengeluarkan nafas yang tak beraturan. Viola menggelengkan kepalanya yang tak terbaca, lalu sebentar mengucap pamit pada Markus.
“Mau kemana, Nona?”
“Saya harus menjenguk nenek saya Tuan.”
Markus mengiyakan apa yang Viola pamitkan padanya. Meski dia sebenarnya tahu kalau Viola tengah gusar terlihat dari mimik wajahnya yang sangat kentara dan terlihat rasa kekhawatiran kental ada disana. Entah Viola memang mau beneran menjenguk neneknya atau tidak. Markus juga tidak bisa melarangnya untuk saat ini.
Berlari dan terus berlari Viola ke tempat dimana Feirvy bekerja. Tapi dia mendapati hari ini ternyata Feirvy belum saatnya bekerja. Masih berusaha meminta nomor telfon Feirvy ke salah satu teman seangkatan dengan Feirvy, Tapi apa yang dia dapati nomor yang dia telfon adalah nomor yang lama dan tak tersambung pula.
Semakin gelisah Viola. Takut kalau semua ini akan terlambat. Lagi dia datang ke atasannya Feirvy. Dengan membawa bekal sejuta keberanian di pundaknya dia beranikan diri, yang dimana dia hanya seorang perawat dengan beraninya masuk keruang direktur utama rumah sakit tersebut.
Tangannya dan tubuhnya serasa menggigil saat itu juga. Saat dia meminta agar di kasih tahu nomor telfon Feirvy yang saat ini. Direktur itupun tak mungkin tega tak memberikan nomor telpon Feirvy kepadanya apalagi setelah melihat raut muka kesungguhan juga penuh kegelisahan terus terpancar dari tubuh dan wajah Viola.
.
.
.
.
“Iya Halo. Ini siapa?”
“Dokter. Ini Dokter Feirvy. Saya Viola.”
Percakapan yang cukup menegangkan. Feirvy terus mendengarkan dengan seksama saat Viola bercakap dengannya. Tak mau menunggu nanti Feirvy langsung mengambil tas kecilnya juga baju dokter yang ada lemarinya. Feirvy tahu ini adalah pekerjaan yang berisiko apalagi yang akan dia tangani adalah lawan suaminya sendiri.
Menoleh melihat Key saat mau berpamitan. Feirvy harus menelan ludahnya dalam dalam. Tangannya sedikit gemetaran saat mau meminta ijin suaminya yang sedang duduk duduk di belakang rumah. Feirvy saat itu berdiam diri di sampingnya Key dan tiba tiba jongkok layaknya berlutut tapi tak berlutut.
Key tercengang. “Kau ini sedang apa sayang.”
Tampak Feirvy beberapa kali membolak-balik kan bola matanya terlihat jelas kalau dia tengah takut diantara kebingungannya. Dan langsung terbaca oleh Key yang terus memandanginya.
“Ijinkan aku bekerja hari ini.”
Key tersenyum, “Cuma itu saja. Kenapa gugup sekali.” Jemari Key mengangkat tangan Feirvy agar Feirvy duduk ke pangkuannya. Key mencolek hidung mungil istrinya. “ada yang sangat mendesak sekali ya. Sampai hari libur harus bekerja. Apa perlu aku yang mengantarnya.”
__ADS_1
Feirvy menatap muka dan langsung berhadapan dengan Sepasang bola mata hitam milik Key. Sejenak terdiam. Lalu dengan membawa keberanian dan penuh kehati-hatian, Feirvy perlahan berucap pada Key.
“Seorang pasien sedang kritis saat ini. Dan orang yang mencintainya memohon kepadaku untuk menyembuhkan nya. Dia terus berharap masih ada harapan untuk terus bersama sama. Karena baginya, kekasihnya itu adalah segalanya buat dia setelah neneknya.”
Key terdiam manggut-manggut seraya mendengarkan itu semua. “Baiklah. Tolonglah kekasihnya itu agar mereka bisa bersama lagi.”
Feirvy masih membisu disana dan masih menatap suaminya. Lalu tak lama kembali bersuara kembali. “Key-, Andai itu aku yang sakit dan obatnya hanya musuhmu yang punya. Apa kau akan tetep berusaha keras mengambil atau meminta obat itu pada lawan mu tersebut. Meski harus memohon sekalipun.”
Key terheran. “Kau sedang bicara apa sayang. Tentu saja aku harus mendapatkan obat tersebut. Apa ada hal yang tidak aku ketahui saat ini?”
Feirvy menunduk, jemarinya mengerat ke baju suaminya serta memejamkan matanya rapat-rapat sebelum kembali bicara. Gusar gelisah begitu tampak terlihat oleh Key membuat Key begitu bertanya tanya sebenarnya ada hal apa kali ini. “Katakan apa yang kau ingin katakan. Aku akan berusaha menahan emosiku. Meskipun itu akan membuatku marah.”
Di depan, di dekat muka Key. Feirvy kembali memejamkan mata yang terakhir kalinya lalu memberanikan diri berucap. “Alan sangat kritis saat ini. Dia butuh pencakokan sumsum tulang belakang agar dia bisa selamatkan kali ini. Kekasihnya memintaku untuk mengecek kecocokan sumsum tulang belakang miliknya. Dia berharap kalau bisa cocok dengan Alan, maka dia akan mendonorkan miliknya. Dan dia tidak tahu dokter siapa lagi yang akan dia hubungi dan yang dapat dia percaya. Dia memohon padaku untuk mengecek semua itu, agar dia bisa kembali bersama-sama dengan Alan.”
Sebelum Feirvy menyelesaikan pembicaraan saat itu. Saat pertama mendengar kata Alan saja Key sudah begitu geram. Pandangannya terus memicing tajam setiap kata perkata yang di ucapkan Feirvy saat itu. Tapi dia sudah berjanji kalau dia tidak akan marah dengan apapun yang istrinya katakan. Tapi yang ini benar benar di luar nalarnya sendiri. Bahkan dia berharap Alan bisa mati saat dia menembaknya. Mengingat bagaimana Alan sudah memporak porandakan semua usahanya. Bagaimana Alan sudah membuat resah kediamannya. Dengan mengintai Feirvy. Semua itu terfikir jelas olehnya.
Dentum jantung Feirvy begitu keras, begitu takut kalau suaminya marah. Tiba tiba Feirvy memeluk erat suaminya. Kedua lengannya ia pelukkan ke leher suaminya.
“Maaf. Maafkan aku. Aku tidak sampai hati menolak permohonan gadis itu. Dia terus berharap agar Alan sembuh dan bisa dengannya lagi.”
Key bersuara lugas dan tenang. “Feirvy.” “Kau tahu apa yang kau minta ini. Aku sangat tidak suka. Juga sangat tidak setuju.”
Feirvy setengah merenggangkan pelukannya dan menghadap muka ke depan muka Key. “Tapi Key ...”
Key masih menatap Feirvy yang sedang memohon, ia pejamkan matanya dalam dalam dan menggambil nafas panjang untuk memulai bicara dengan Istrinya yang bandel itu. “Satu kali saja. Kalau satu kali ini kau gagal cari pencakokan buat Alan. Maka jangan diteruskan lagi. Kalau aku tahu kau terus berlanjut. Suamimu akan marah denganmu.”
Feirvy langsung tersenyum sumringah disana. Di peluknya kembali erat erat suaminya. “Aku sayang kamu Key...”
Setelah itu Feirvy segara turun dari pangkuannya Key. Mencium kedua pipi suaminya dengan senyum yang sangat gembira. Feirvy berlari kecil dengan tas ditangannya dan memanggil sopir untuk mengantarnya kerumah sakit.
.
.
.
.
__ADS_1
Up 1/6 chapter. Slow update.
Jangan lupa like. komen dan Vote biar cepet author selesaikan editnya 🤭😆😆😆