
“A...Alan, aku.... tidak bisa menjawabnya sekarang...”
Rasa sakit itu bagaikan sembilu tajam menggores hatinya. Belum bisa Viola sisihkan belum bisa Viola singkirkan. Karena rasanya begitu sakit dan membekas. Rasa itu tak terwakilkan oleh siapapun dan apapun dan itu membuat bibir dan hati Viola tak dapat berkata apapun atas pernyataan yang berharga itu. Entah ini benar atau tidak tindakannya saat ini. Tapi semua pernyataan itu harus tersekat oleh ucapan sadis dari bibir Alan sebelum semua ini terjadi.
Lelaki itu kini Hanya bisa menunduk. Semakin merem*s tangan mungil Viola yang masih dalam genggamannya. Dia tak ingin jawaban ini. Dia ingin Viola segera menjawab semua pernyataannya tapi apalah daya Alan saat ini. Semua perbuatannya membuat dia tak bisa langsung memaksa diri Viola untuk cepat menerimanya.
“Kapan. Kapan kau akan siap menerimaku? Aku akan terus menunggumu.” Suara tulus seorang Alan.
Pernyataan demi pernyataan seolah juga pertanyaan terus menghujani Viola sedari tadi. Membuat tubuhnya yang mungil itu tak mampu menampungnya. Hingga tangannya yang kecil itu harus gematar dalam genggaman lembut tangan Alan.
“Aku ingin pulang. Biarkan aku pulang.”
Hati dan pikiran Alan seakan meletup, perkataan yang berarti Viola ingin pergi darinya sekarang ini, membuatnya merasa begitu tidak ikhlas dirasakannya. Rasanya ingin saja dia bawa dan dia culik Viola untuk di bawa kerumahnya.
Tapi dia adalah gadis baik baik. Alan kini merasa tidak berhak menodai gadis sebaik dan selembut Viola. Pikir nya yang masih memikirkan semua itu. Tiba tiba tangan mungil Viola mulai bergerak gerak menarik diri dari genggaman rapat milik Alan. Hingga terlepas... gadis yang pandangannya masih menunduk itu, kini langkahnya mulai melangkah mundur berpaling membelakangi tubuh Alan yang terdiam. Dan Viola perlahan berlalu dari tempat Alan sekarang ini.
“VIOLA. Aku akan terus menemui mu Sampai aku mendapatkanmu. Sampai kamu jadi istriku.” Suara lantang Alan.
Tersendat kaki Viola langsung berhenti. Sama juga dengan hatinya kala itu. Ancaman macam apa ini. Mendengar kata istri malah membuat diri Viola takut. Tak terbayangkan kata itu akan dia dengar dari bibir Alan sedangkan kata cinta atau pacar saja sudah bisa membuatnya berada di atas tumpukan permata. Bagaimana malah kata istri itu yang malah dia dengar. Viola belum siap dengan apapun itu. Viola berlari dan langsung masuk kerumah menutup pintunya rapat rapat lalu Viola berdiam diri di balik pintu. Memikirkan apa saja yang baru dia alami saat ini.
●•●•●
Dimeja makan tampak Feirvy dan key berdiri hendak pulang, memustuskan pulang setelah cukup lama menunggu Alan balik ke rumahnya lagi. Belum satu menit mereka mau angkat kaki. Datanglah Alan, Dengan muka muram, lesuh, kusut dan dia langsung terduduk di dekat mereka. Dan itu membuat mereka harus membatalkan niatan mereka untuk pulang saat ini.
Feirvy terus memandang Alan yang terlihat tak berdaya setelah kejadian tadi dengan Viola. Feirvy mengendik mata pada suaminya. Seolah memohon kepada Key untuk menghibur Alan. Menurut Feirvy siapa tahu sesama lelaki bisa saling mengerti dan saling memahami apa yang mereka rasakan saat hati mereka terpuruk oleh sesuatu yang sebenarnya tak diinginkan oleh mereka.
Sedangkan kini Alan tengah Menelangkupkan tubuhnya kemeja menyembunyikan mukanya antara sikuan lengannya di atas meja. Dan secara tiba tiba dengan lemah Alan menyuarakan suaranya untuk Key disampingnya.
“Key... apa kau juga akan terasa sesak seperti ini kalau di tinggal Feirvy?”
Terenyuh hati Key. Pria yang lebih muda darinya itu benar-benar terlihat tak berdaya. Key tahu selama ini Alan hanya hidup sendiri setelah dia ditinggal orang tuanya meninggal, semenjak kecil dan hanya hartalah yang menemaninya. Mungkin inilah yang membuat Alan seakan berlagak tak tahu diri di waktu dia sadar dan di waktu dia terpuruk maka akan terlihat sangat terpukul meski hanya karena sedikit masalah saja.
Perlahan dengan gerak merenggang dan sedikit meragu... tangan Key menganggang dan akhirnya Key menepukkan tangannya berulang kali ke punggung Alan yang terpapah meja. Tersekat hati Alan saat itu juga. Tapi setelahnya malah seolah rasa nyaman yang Alan dapatkan dari tepukkan tangan lawannya itu sendiri. Kepalanya yang menunduk terlihat guratan senyum disana. Hingga membuat Feirvy takjub dengan apa yang dia lihat saat ini. Dan tak pernah terpikirkan oleh Feirvy kalau ini akan terjadi antara kedua lawan yang selalu bertentangan saat itu.
__ADS_1
“Key maafkan aku.” Ucap Alan pelan.
Tangan Key terhenti, setengah tersenyum miring untuk Alan. “Aku pernah alami apa yang kau alami saat ini. Kau harus berusaha untuk hal ini. Sampai kau mendapatkannya kembali.”
Terhiburnya hati Alan saat. Perkataan dari bibir Key itu seolah perkataan dari sang kakak untuk adiknya yang tengah terpuruk, dimana Alan membutuh sandaran. Dan Key lah yang malah menjadi sandaran yang nyaman buatnya saat ini.
●•●•●
“Key kita mau kemana?”
“Haha aku lupa kasih tahu ya.”
“Enggak lupa, kau saja yang berlagak gak peduli omonganku tadi"
Di dalam mobil Key cekikikan. Kadang dia hampir lupa kalau sifat angkuhnya itu tidak boleh ke istrinya juga. Tapi gimana mau peduli, pagi ini Key berasa benar benar di permainan oleh istrinya sendiri.
Flashback
Pagi pagi dini hari Key sudah suruh bodyguardnya buat siapin mobil untuknya. Mobil untuk 3 minggu kedepan. Baju baju dan keperluan lainnya sudah Key rapikan sendirian ke dalam tas koper sambil menunggu istrinya terbangun dari tidurnya.
Saat Feirvy pertama membuka mata. Feirvy terjengit. Tahu tahu sudah ada beberapa koper tertata rapi di samping tempat tidurnya. Dalam hati Feirvy bertanya tanya... kenapa banyak koper di sini. Mata Feirvy celingukan mencari-cari suaminya. Di dekat pintu kamar mandi barulah tendengar guyuran air shower. Prakira Feirvy itu pastilah Key yang sedang mandi pagi hari.
Dengan tubuh yang masih lunglai. Feirvy bersandar di lis ambang pintu seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi yang dia tahu ada Key di dalamnya.
“Sayang... kau di dalam ya... koper koper di luar itu buat Apa.”
Hanya memakai baju tidur berkerah yang transparan Feirvy berdiri menunggu Key menyahut pertanyaan nya barusan. Lalu terdengar guyuran air itu terhenti, Key membuka pintu. Dan saat pintu perlahan itu terbuka dan terlihatlah lelaki dengan tubuh bidang yang hanya berbalut handuk putih dipinggulnya keluar dari kamar mandi. Rambutnya Key yang basah dan terlihat acak-acakkan malah membuat sensasi berbeda yang menyegarkan penglihatan siapapun yang melihatnya di pagi hari ini.
Semua itu membuat Feirvy menggigit bibir bawahnya sendiri, tersenyum manis dan dengan suara manja... jari telunjuk Feirvy menggaris bawah dada basahnya Key. “Suamiku sangat sengat sexy saat ini...”
Feirvy dongakkan kepalanya. Lelaki dengan rambut basah itu membalas balik perkataan manja istrinya secara senxual. Dengan tatapan tajam memikat untuk sang istri. “Hati hati dengan mulut manis dan tanganmu yang nakal itu sayang..., aku bisa dengan mudah membalasnya dengan hal lain yang lebih seru dan lebih menggoda lagi.”
Feirvy tersenyum menyeringai. Kepalanya yang masih mendongak memandang suaminya kini berganti Feirvy rapatkan dadanya ke dada suaminya yang setengah telanjang tersebut. “Aku menantang balasanmu.”
__ADS_1
Key tersenyum sensual juga menyeringai seraya menatap balik tajam istrinya. Masih dengan tatapan yang sama Key angkat tubuh Feirvy hingga bertumpu ke pinggulnya membuat kedua kaki Feirvy melingkar disana. Gerak kaki Key kini perlahan mundur-- lalu Key dorong tubuh Feirvy hingga bersandar rapat ke dinding tembok. Meski feirvy sudah menduganya ini akan terjadi tapi tetap saja hati Feirvy masih bisa terpesona dengan perlakuan suaminya yang membuatnya setengah mengaga memandang satu arah ke mata Key.
“Kau mau apa?”
Key mulai mendekatkan kepalanya hingga hampir saling bersentuhan, hingga nafas mereka bisa saling menyatu dirasakannya. “Aku menjawab tantanganmu. Gadis nakal.”
Tersenyum tipis Feirvy kembali berucap. “Tapi aku tidak suka hal yang lembut dan halus sayang.”
Melebar pupil Key seraya tersenyum disana. Merasa wanitanya benar benar wanita liar juga luar biasa baginya. Key rem*s kerah baju Feirvy dan seakan memaksa kerah baju itu terangkat keatas. Membuat kepala Feirvy mendesak semakin dekat dan lebih dekat lagi pada Key.
Hawa panas tubuh Key kini mulai menjalari pembuluh darahnya. Key perlahan meraba-rabakan jemarinya menyelipkan ke dalam baju Feirvy dan mengerat kesana. Saat Key hampir saja mencium Feirvy. Tangan Feirvy malah menghalangi dan berucap kembali.
“Kau mau apa?”
Key sedikit merenggang. “Tentu saja bercinta sayang."
Balas Feirvy tersenyum lebar dan membisikkan sesuatu. “Kamu yakin...aku lagi halangan sayang Qiqiqiqi."
Membeliak mata Key. Persiapan yang sudah sangat matang dan intim itu tadi harus bubar begitu saja oleh tingkah jahilnya Feirvy. “APA?” “Lalu kenapa tadi menggodaku seperti itu?!”
Feirvy tertawa terpuaskan. “Hahahahaha aku hanya iseng saja sayang."
Geram gemes Key ke istrinya. “Apa kau bilang! Kau benar benar menguji kesabaranku ya.”
Feirvy melepaskan diri dan berlari ke ranjangnya. “Hya!! kau mau lari kemana. hah?!”
Feirvy tertawa bahagia Disusul Key yang naik ke atas tubuh istrinya. menggelitik istrinya hingga tertawa kaku mereka di sana.
○•○•○
○•○•○
Up 1/2 Chapter. Maaf thor dikit saja up nya. lagi banyak baget kerjaan.
__ADS_1