
Rumah yang biasa penuh candaan... penuh gelak tawa... Kini harus sepi dan sunyi. Bahkan bukan hanya suara Candaan dari Key dan Verru yang hilang, tetapi juga dari para pelayan dan juga dari penjaga Rumah sudah tidak ada lagi disana, semenjak Key di bawa ke tempat pengadilan itu.
1 bulan sudah berlalu sejak kejadian pagi hari itu. Pagi hari yang membuat hati Feirvy terpukul hingga jiwanya terguncang keras. Setiap harinya kini dia hanya ditemani satu pelayan yang memang dikhususkan untuknya selama Key pergi ke pengadilan yang akan berlanjut setelah satu bulan ini.
Di dalam ruang makan itu, sudah ada beberapa makanan berjajar dan sengaja di garnis secara menggoda dan terlihat sangat enak untuk dimakan, semua itu dilakukan agar Feirvy bisa lebih selera makan dari pada hari hari sebelumnya.
Tapi sayangnya yang membuat pelayan pribadinya Feirvy miris... karena, setiap hari Feirvy harus mengkomsumsi obat obatan anti depresi selama sebulan ini. Emosi yang tak menentu membuat gadis kecil itu secara tak terasa tiba tiba meneteskan air mata begitu saja tanpa dia rasakan dan tiba tiba mengalir begitu saja.
Tapi gadis itu mungkin dilahirkan memang sebagai seorang gadis yang pemberontak. Bahkan secara gamblang obat yang tersedia untuknya di buang begitu saja ke tempat sampah, bahkan tanpa ragu di depan pelayannya pun tanpa rasa bersalah Feirvy membuangnya begitu saja.
Dia hanya berpikir dia sedang tidak gila, apakah hal yang di alami Feirvy saat ini bukan hal yang wajar atau hal yang berlebihan. Apakah mencemaskan suami sendiri dan menangisi suami sendiri itu adalah hal yang berlebihan. Feirvy berpikir berapa beratnya hukuman orang yang berbuat kriminal tingkat atas. Bahkan bisa saja orang tersebut di hukum mati.
Lalu bagaimana dengan suaminya. Suaminya menjalani usaha gelap ini sudah sangat lama dan tidak ada hal baik di sana, lalu akan berapa lama Key di hukum. Semua itu begitu menghantui batin Feirvy sehingga ketika air mata tiba tiba mengalir begitu saja Feirvy rasa itu adalah hal wajar dia lakukan.
Di meja makan itu, Feirvy tersenyum paksa sembari berucap ke pelayannya.
“Makanannya sangat enak.” Ucap Feirvy memuji.
Bukannya malah senang dengan pujian yang dilontarkan oleh Nyonyanya tapi pelayan itu malah berekspresi guratan wajah ironis juga cemas ke hadapan Feirvy. Bahwa nyatanya apa yang di katakan Feirvy semua berbalik dengan apa yang di rasakan gadis kecil itu. Feirvy tak pernah memakan makanan yang dihidangkan pelayan nya itu. Hanya setelah di pandang dan dicicipi beberapa sendok lalu Feirvy pergi dan berkata demikian.
Terkadang apa yang terlihat dari diri Feirvy. Membuat pelayan itu diam-diam menyembunyikan matanya kalau mata pelayan itu tengah berkaca-kaca, dirinya tak kuasa menahan dirinya saat melihat pergelangan tangan Feirvy semakin hari semakin mengecil hingga tulang tangannya terlihat jelas.
Setiap hari...Feirvy hanya mengurung diri di kamarnya. Dan hanya keluar untuk makan atau sekedar mengambil air minum di dapur saja, tanpa hal lain lagi yang dia lakukannya. Bahkan ketika Ayah dan ibunya datang berkunjung dan menawarkan bantuan untuk suaminya, Feirvy hanya bisa berbalas terima kasih dan sedikit menghadiahi senyum untuk kedua orang tuanya yang secara pribadi membantu suaminya itu. Padahal lama di ketahui kalau Ayah Feirvy tak terlalu setuju dengan Key. Tapi kata itu sepertinya dulu dan tidak untuk sekarang.
.
__ADS_1
.
.
.
Di saat hari sudah mulai siang... Tampak Pelayan Feirvy berlari kencang ke arah kamar Feirvy setelah menerima surat dari pengadilan negara. Karena ini pertama kalinya ada surat datang dari pengadilan, bahkan tanpa di sadari pelayan itu pun juga gugup ingin tahu apa isi map tersebut. Feirvy yang tengah tertidur miring segera dia bangun dari tidurnya.
“Ada apa Ann...??”
Pelayan itu sangat menunduk. Terlihat sangat bersalah karena terlanjur nyelonong begitu saja masuk ke kamar Nyonyanya tanpa mengetuk pintunya dulu.
“No- nona maafkan saya, sa-saya terlalu semangat sehingga saya lupa mengetuk pintu kamar. Nyonya.”
Feirvy yang duduk dengan bantal di atas pangkuann memberikan pandangan ringan ke pelayan itu. Karena bukanlah hal besar yang harus di besarkan baginya
Tapi ditengah sikapnya yang menggebu tadi-- tiba tiba pelayan itu teringat tentang apa yang di ceritakan atasannya kalau Feirvy pernah begitu terpukul saat melihat map yang sama waktu suaminya akan ditangkap. Semua membuat hati pelayan itu menciut dari sikap menggebunya tadi. Pelayan itu takut, bagaimana kalau nyonya nya akan shok melihat map ini. Tetapi kembali pelayan itu ingat kalau Nyonya nya sama sekali belum di perbolehkan bertemu dengan Tuan besar. Siapa tahu kalau isi map ini adalah hal baik yang dapat mempertemukan dua insan yang lama berpisah ini.
Dan perlahan map yang tersimpan di belakang punggungnya itu mulai di keluarkan pelayan itu. Feirvy menatap seakan menelisik apa yang akan di berikan pelayannya itu. Tapi saat map itu sudah tampak terlihat didepan matanya. Seolah benar apa yang dipikirkan pelayannya tadi. Feirvy seolah bersikap menegang ketika melihat map yang sama dengan map yang dia baca dahulu. Jantungnya berdentum lebih kuat dari sebelumnya. Tangannya yang sedikit bergetar lamat lamat ia terima map yang sudah terulur di depan matanya itu...
Detik per detik Feirvy terus tatap dan genggam map itu. Ternyata rasa traumatis yang dia alami masih membekas dan belum hilang sepenuhnya. Feirvy takut kalau isi map itu juga akan memporak porandakan hatinya yang sudah sedikit tertata sebulan ini. Dan di waktu itu juga Feirvy segera letakkan map tersebut di atas nakas miliknya. Masih dengan hati yang sangat gusar beberapa kali Feirvy berpaling melihat map itu tanpa berani membukanya. Semakin dalam ditatapnya map itu dan semakin dalam juga rasa tertekan dalam hatinya dan malah semakin terus membuncah hingga dirinya tak kuasa dan tak tahan, Feirvy rapat rapat mengerjapkan matanya lalu dengan spontan dirinya bergetar berdiri dan berjalan keluar kamarnya.
Sampai di dapur Feirvy minum segelas air hingga satu gelas itu tergelegak habis di minumnya. Dan Entah kenapa kini perutnya terasa mual yang amat sangat dan seolah-olah apa yang dia minum tadi ingin dia muntahkan semuanya. Mungkinkan karena terlalu resah dan terlalu dalam memikirkan isi map itu sehingga membuat tubuhnya bereaksi sedemikian itu, ataukah hal lain yang membuat Feirvy tiba tiba mual seperti itu.
Lalu sekejab itu juga Feirvy muntah semuntah-muntahnya ke wastafel di dekatnya. Rasa mual kini tak tertahan lagi sampai membuat pening di kepalanya. Pelayan yang dari kejauhan mendengar suara muntahkan itu dia langsung lari terseok-seok segera menolong Tuannya yang sudah lemas berpegangan pinggiran wastafel.
__ADS_1
Pelayan itu benar benar terlanda rasa gugup yang amat sangat dalam. Segera ia pijat pijat tengkuk leher Feirvy dan segera dia ambil obat untuk di balurkan ke perut dan kening Feirvy.
“Nyonya. Ayo kerumah sakit.” Nada gugup penuh kekhawatiran pelayan itu ucapkan.
Feirvy menggeleng kepala. Menolak apa saja yang di anjurkan pelayannya itu padanya. Dirinya berusaha menegakkan tubuhnya kembali. Dan dengan nada lemah ia memberi tahu pada pelayannya kalau dia ingin keluar rumah sendiri naik taksi. Karena tiba tiba saat ini perutnya menjadi lapar sehabis memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya itu.
Dan yang lebih anehnya lagi kini Feirvy merasa ingin sekali makan sesuatu yang beda dari yang biasa dia makan di rumah. Dia tiba tiba ingin makanan yang masam masam seperti buah buahan yang masih setengah matang.
Tampaknya harus berat hati pelayan yang sekitaran umur 30 tahunan itu, mengiyakan Tuannya meminta naik taxi sendirian dan berangkat sendiri yang kini tidak ada seorangpun yang mengawalnya. Beda dengan saat sebelum Key tertangkap dan masih menjadi Tuan besar disitu, yang kemana -mana istrinya harus di kawal oleh Bodyguard yang terlatih yang di khususkan untuk istrinya.
Di sebuah minimart kecil, Feirvy yang masih terlihat berwajah pucat pasi, berhenti dan melangkahkan kakinya masuk kedalam minimart tersebut. Feirvy pilih-pilih makanan dan camilan yang biasa belum pernah Feirvy makan. Ketika dia melihat buah yang begitu segar dan beberapa masih terlihat mentah dan masam tubuhnya tiba tiba refleks tergerak begitu saja mendekat dan segera mengambil-ambil mana saja yang dia mau makan.
Dan tak jauh dari dirinya berdiri. Ada dua ibuk-ibuk sedang berbincang-bincang sembari memilih-milih buah yang sama dengan apa yang Feirvy pilih saat ini. Dan perbincangan mereka terdengar dengan jelas ke telinga Feirvy.
“Aku mau beli yang ini. Menantuku pasti suka dengan buah yang masam masam gini.”
Ibu disampingnya menyahut perkataan teman perempuannya tadi. “Oh—menantumu sedang hamil..??”
“Haha aku lupa memberitahumu ya, menantuku sudah hamil minggu ke-5 ini. Dan dia pernah bilang mau menitip buah yang masam padaku.”
Seketika itu, kata kata masam begitu langsung mengunci pemikiran Feirvy . Tangannya terhenti saat itu juga saat ia hendak mengambil buah di depannya. Lamat lamat dengan sedikit getaran tangan mungil itu perlahan mengepal. Dan di saat itu juga bukan hanya kata masam bahkan kata hamil langsung terngiang-ngiang menyelimuti pikirannya. Feirvy cepat-cepat Ambil buah yang dia inginkan tadi, dan dengan cepat dia bawa ke meja kasir. Dan kebetulan disaat waktu yang bersamaan ada seseorang mengambil tespek di rak samping kasir dan dibayarnya ke kasir tersebut. Feirvy tatap juga seperti mengamati barang yang bernama tespek itu. Lalu tak pikir panjang lagi-- dia ambil tespek di rak yang sama dan diikutkan nya dengan barang belanjaan lainnya.
****
****
__ADS_1
Up 1/3 dari 7 Chapter terakhir.
jangan lupa like komen juga dukungannya... by UlanZu