
Percintaan yang hebat itu membuat tubuh Feirvy keletihan hingga lemah dan tertidur saat setelah Key selesai melakukan hal intimnya tadi. Karena ada jiwa emosi yang tak bisa Key kendalikan. Rentetan masalah dan insiden akhir minggu minggu ini, membuat Key bertambah tak bisa mengenali dirinya sendiri, apalagi ditambah dengan perkataan Feirvy yang seolah tak setuju dengan cara pemikirannya. Membuat Key bertambah tak bisa di mengerti lagi.
Di tatapnya dalam dalam wajah Feirvy yang tubuhnya masih terlingkari lengan suaminya itu. Perlahan-- lahan-- di dekatkannya bibir Key-- ke bibir istrinya tapi dengan segala hal yang tengah menggayuti pikirannya. Bibirnya seakan tertahan tak mampu mencium istrinya bibirnya hanya bisa mengganggang di atas bibir istrinya yang tertidur lelap. wajah Key mengernyit kepedihan. Dan tubuh yang masih lembab itu. berdiri bergegas begitu saja. Memakai jas mantel hitam. Ia tengok jam tangannya. Jam yang sudah di jadwalkan helikopter miliknya segera menjemput Key menuju kota Red blood.
Yang sebelumnya ayah Key bertanya mau kemana? Dan Key hanya bicara; titip Feirvy malam ini. Termangu sang Ayah setengah menyaru sikap dan mimik muka anaknya saat itu. Dan terlihat jelas Key tak bisa membohongi ayahnya sendiri, yang sejak kecil bersamanya. Bahwa ayah yang baik itu sungguh melihat anaknya tengah memikul beban berat di pundaknya. Di hadapannya Key Sang ayah menepuk-nepuk bahu anaknya. "Jalan baik akan menuntun dirimu jadi orang yang lebih baik. Anakku pria yang hebat! Kau harus bisa melalui semua itu."
Sembari kepalanya yang menunduk Key tersenyum ironi. Lalu Key tegakkan kembali kepalanya dan berucap. "Orang hebat bukankah tercipta dari ayah yang hebat juga." Lalu Ayah tersenyum lebar. Bahwa anaknya yang kecil itu sudah dewasa saat ini.
Tak jauh dari mereka berdiri. Hempasan angin semakin kuat dan setengahnya menghempas tubuh mereka berdua. Perlahan terlihatlah dari atas Baling baling helikopter milik Key mulai terlihat melambat dan helikopter itu mendarat ke tanah tak jauh dari Key. Key berjalan ke helikopternya. Sudah diambang pintu kaki Key terhenti. Mukanya berpaling ke tempat Ayahnya berdiri. Tak ada kata dan suara. Key terlihat tersenyum meringgis dan di balas senyum oleh ayahnya yang akhirnya Key beranjak masuk dan berlalu mengudara dengan beberapa rekan kerjanya yang sudah menunggunya di dalam, dan tampak mereka tengah berdiskusi penting dan mendesak di dalamnya. Sedangkan Verru dan ribuan anak buah Key sudah menunggu kedatangan Key ke markas besar mereka.
Dengan amat gelisah Verru menunggu Key. Berjalan bolak balik kakinya di jalan situ situ saja. Terkadang sangking gelisahnya Verru sampai menggigit kuku jempol nya sendiri. Verru terkesiap saat suara hempasan baling baling helikopter nya Key sudah terdengar dekat dan Verru langsung berlari menemui Bosnya. Saat itu juga Verru langsung berseru lugas pada Key.
“KEY! Haruskah kita sampai melakukan ini semua?!"
Terhenti langkah kaki Key saat itu juga, Key melirik menatap tajam mata Verru. “Bukankah aku sudah bilang sesuai protokol yang aku bilang KEMARIN!! Kenapa kau tidak LAKUKAN!!”
Menunduk Verru....terlihat matanya sendu-- “Haruskah. Haruskah semua itu di lakukan—Aku katakan aku tidak apa, aku ingin bersamamu. Semua pekerja disini juga tidak apa menanggung semua akibat apa yang kami lakukan-"
Key berlalu tak peduli apa yang Verru katakan padanya. Apa yang sudah direncanakannya harus dia laksanakan. Tak hanya Verru yang tak menerima keputusan dari Tuan besar mereka. Ribuan anak buah Key juga tak rela dengan keputusan ini. Dan secara tiba tiba ribuan anak buah Key itu berjalan sopan mengahadap Tuannya sebelum Key masuk ke pintu besar markas mereka. Dari salah satu mereka yang jadi perwakilan dari kesemua anak buahnya Key, dengan gugup dan dengan jantung yang berdentum keras tak beraturan seolah mencoba memberanikan diri menghadap Tuannya; Key.
Sudah terlihat jelas Key sudah murka dengan sikap pembangkang mereka. Padahal sudah di jelaskan kalau Key tak suka dengan anak buahnya yang membangkang dengannya. Mata hitam itu kini menatap keras ke anak buahnya yang sangat berani itu. Bahkan setiap ucapannya yang di katakan Key terdapat nada penekannya disana. “Kalian!! Kalian sedang apa disini. Sudah kalian lakukan apa yang aku katakan pada kalian?!”
Semuanya takut dan menunduk. Terlihat jelas kalau Key saat ini sedang geram dengan mereka semua. Dan bibir lelaki yang jadi perwakilan kesemua itu tadi samar bergetar sebelum kembali berbicara. Tapi sebelum bicara dia juga tengah menggelengkan kepala ke hadapan Key saat itu. Tanda kalau mereka belum melakukan perintah Key sedari kemaren. Dengan seribu nyali dia bawa. Di ucapkannya apa yang seharusnya Key tidak mau dengar. “Ti--Tidak Tuan. Kami tidak lakukan itu semua.”
Secepat Kilat suara tamparan keras itu memecahkan keheningan malam itu. Suaranya menggema hingga terdengar kesemua anak buah Key yang ada disana. Muka anak buah masih terpaling ke samping dengan bekas merah tangan Key di pipinya. Dan dengan sisa-sisa keberaniannya Orang tersebut dengan mata yang sudah berkaca-kaca memberanikan diri kembali untuk bicara dan memohon pada Key.
__ADS_1
“Tuan...! Kami rela jadi jaminanannya Tuan saat ini.”
Tak tega juga Key dengan semua ini. Mata Key seolah menatap terpaku sendu ke anak buahnya itu. Lalu Key beralih memandang tajam ke semua anak buahnya yang terus menunduk saat Key memandang mereka. Bernada lantang Bercampur emosi kesedihan yang dia sembunyikan, Key suarakan suaranya yang sangar ke mereka semua. “Berapa jumlah kalian?! Hitung berapa semua anak dan keluarga kalian di rumah. Kalian menjadikan diri kali jadi jaminan buat Tuan kalian. Apa berarti kalian juga setuju anak dan keluarga kalian juga buat jaminanku. PIKIRKAN ITU!!!! MENGERTI!!!!”
Bergeming mereka semua serasa suara Key menyusup tajam ke dalam hati mereka. Memecahkan segala rasa gejolak dalam hati mereka hingga mereka tak terasa menitikkan air mata. Bahwa ini adalah keputusan akhir pimpinan mereka. Keputusan yang telak harus di akui dan dilaksanakan. Itu artinya mereka harus meninggalkan pekerjaan mereka. Pekerjaan yang sudah memakmurkan kehidupan mereka. Meninggalkan pemimpin yang tidak pernah perhitungan kepada mereka. Melepaskan semua apa saja yang sudah jadi ketentuan disana dan yang lebih menyayat hati mereka. Tuannya menumbalkan dirinya sendiri untuk semua perkara ini. Dan menjadikan dirinya untuk jaminan seluruh anak buahnya saat ini.
Key kembali bersuara tegas nan lantang memerintah Verru yang sedikit tak jauh darinya. “LEPASKAN CHIP MEREKA SEMUA, KEMBALIKAN IDENTITAS MEREKA. DAN PULANGKAN MEREKA SEMUA!! DAN KALIAN JANGAN LAGI MEMBANTAH! MENGERTI!”
Mereka mengangguk dengan setengah tangis yang mereka tahan. Bagaimana mereka akan tega nantinya Bos mereka yang selama ini memakmurkan mereka, yang menggaji mereka akan menumbalkan dirinya sendiri untuk hal yang sebesar ini.... Nanti berapa lama dan betapa tersiksanya Tuan mereka harus menanggungnya sendirian. Sebenarnya mereka ingin berontak menolak. Tapi mereka tahu Key bukanlah orang yang mudah dan gampang goyah dengan keyakinannya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kini tinggal remangan suara kehening di gedung besar itu. Bahkan suara batu kerikil terjatuhpun akar terdengar nyaring disana. Satu telunjuk tangan Key menyentuh dan menggaris ke setiap senjata yang yang diproduksinya selama ini. Kakinya berjalan menyusuri semua senjata yang masih tertata rapi disana. Lalu bibirnya tersenyum ironis saat ketika Key mengingat waktu dulu. Waktu muda dulu, saat sekolah menengah atas dia mulai belajar menembak. Satu tembakan gagal tapi tak membuatnya surut untuk belajar, hingga akhirnya Key bisa menguasai berbagai macam tembakan dan akhirnya Key telah diakui beberapa komunitas kalau kemampuan Key benar benar di atas rata rata dan berbagai kerjasama dalam hal pekerjaan persenjataanpun Key lakukan dan hingga saat detik ini kejayaan masih mengikutinya...
Kepalanya yang memandang ke bawah ke persenjataannya, Key congakkannya ke atas. Key berusaha menahan air mata yang akan keluar dari kelopak matanya. Kini tinggal sendirian dia diruangan itu, Key berjalan ke arah pintu gerbangnya. Pintu besar, pintu yang biasanya di bukakan banyak orang saat dia datang dan kini dia harus berusaha sendiri menutupnya kembali. Sebelum kakinya melangkah pergi meninggalkan pintu gerbang itu... Key berpaling badan setengah membungkukkan badannya. Seperti memberi penghormatan terakhir untuk usahanya. Untuk usahanya yang sudah menemaninya selama ini, yang sudah menghidupinya selama ini. Karena Key tahu jelas ini semua pasti akan berakhir. Dan harus Key akhiri sebelum semakin terlambat sudah.
Key berjalan ke helikopter yang sudah ada pilot menunggunya disana. Key perintahkan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Dan kembali tidur di samping istrinya memeluk istrinya sampai pagi hari.
Feirvy terbangun pagi itu dan baru sadar suaminya sudah datang kembali. Sampai hampir siang Key belum terbangun. Panas matahari belum terlalu terik untuk duduk-duduk di perkebunan bunga. Feirvy disana duduk sambil mengamati beberapa kupu-kupu tengah lalu lalang di dekatnya. Tak lama dari kejauhan-- terlihat lelaki berbaju kaos biasa akan menghampirinya. Dan Feirvy tersenyum manis menyambutnya. Key duduk di samping Feirvy dan mengahadapi ke Feirvy.
Key menatap lembut mata Feirvy. Key benahi setiap rambut yang terkena angin menutupi kening istrinya. Berucap pelan Key meminta maaf atas perlakuan kasarnya semalam dengan istrinya. Di balas senyum manis oleh Feirvy dan berucap. "Tidak apa-- aku juga salah saat itu."
Kata itu begitu menangkan dirinya. Key tersenyum tangannya mengambil jepit karet dari pergelangan tangan Feirvy, lalu diiketkannya ke rambut belakang Feirvy.
"Feirvy... andai aku pria miskin-- apa kau masih mau denganku?"
Feirvy termangu... " Kau bicara apa? Aku tidak mengerti. Yang aku mengerti aku mencintaimu. Dan selalu ingin bersamamu."
Key pejamkan lembut kedua matanya. Dan membatin... Terima kasih sayang--
.
.
.
.
__ADS_1