
Dorrr Dorr bunyi letukan beberapa peluru menembak orang orangan yang terbuat dari kayu dan tepat sasaran ke letak jantung gambaran manusia tersebut. Sadis benar kalau itu beneran terjadi. Orang akan mati seketika saat pecah jantung mereka setelah di terobos peluru tajam milik Key.
Tempat pelatihan menembak itu berada di lapangan berumput luas. Beberapa senjata pelatihan tertata rapi di meja kecil dekat Key berdiri; melatih tangan dan jemarinya agar tetap luwes dan lihai memainkan senjatanya sendiri. Didampingi beberapa penjaga, Key yang memakai baju putih dengan rompi hitam melekat di tubuhnya. Bener benar terlihat sangat gagah dilihatnya.
Sebelumnya Key sudah mendapatkan laporan tentang segala persenjataannya kasino kasino miliknya mengalami lonjakan yang lumayan signifikan dari sebelumnya. Dengan seperti ini dia akan bisa membawa Feirvy kembali padanya, tinggal mengambil atau menghancurkan segala senjata biologisnya Alan, Key sudah bisa di artikan menang dari peperangan. Tapi belum tentu juga Feirvy setuju karena dia masih menimba ilmu di rumah sakit. Sementara Alan waktu itu juga sudah pulang kerumahnya sendiri.
Suara Key yang menelfon Feirvy. “Sayang, kau mau aku yang jemput atau bawahanku yang menjemputmu?"
Feirvy dari balik Telfonnya mendengar letukan suara pistol dan nyaring terdengar di telinganya. “Kau sedang dimana?”
“Dipelatihan menembak.”
Pikir Feirvy langsung tertarik dengan semua itu. “Aku mau kesana. Anak buahmu saja yang suruh jemput aku. Aku ingin kesana.”
Key tersenyum dan menyuruh Bodyguard nya menjemput Feirvy dan membawanya ke tempatnya. Memakai celana jeans di padu dengan kaos dengan rambut di kuncir kuda Feirvy siap berangkat tak lupa tas ransel belakang dia bawanya. Dan tak butuh waktu lama penjemput sudah datang dan langsung menuju ke lapangan pelatihan penembakan milik Key secara pribadi.
Sesampainya di tempat tujuan. Feirvy setengah berlari kecil langsung memeluk suaminya. Di peluknya balik oleh Key dan kecupan kecil di bibir Feirvy; key lakukan.
“Akhirnya 3 hari ini bisa bersamamu. Aku kangen." “Kau mau berlatih menembak?”
Dari senyuman kecil Feirvy. Feirvy mengangguk angguk -mau sekali- Tapi ternyata tidak berlatih sendiri. Dari belakang tubuh Key menelangkup tubuh Feirvy. Memberi arahan lewat tangannya yang seakan saling bertumpu dan jemarinya saling terjalin memegang satu pistol dilakukan oleh dua orang.
“Haha Key geli,” dagunya Key bersandar di bahu Feirvy. “Aku bisa sendiri.”
“Pura pura lah kalau kau tak bisa.”
Feirvy tersenyum lebar. “Mana ada pikiran seperti itu.”
__ADS_1
Seharian mereka habiskan di sana. Di samping itu di lapangan itu terletak kebun kecil yang terdapat berbagai binatang binatang kecil hingga yang buas tapi tentunya yang buas di berikan tempat tersendiri terkurung gawat besi yang kuat untuk keamanan siapa saja yang melihatnya. Feirvy habiskan waktunya di sana bermain di kerumuni hewan hewan yang sejati sudah jinak dan sudah lama di pelihara oleh Tuannya.
Malam hari Feirvy bersandar di dada Key yang duduk di sofa sembari melihat layar tv di depannya. Feirvy meminta ijin untuk menghadiri pernikahan anak perdana menteri untuk menggantikan ayahnya yang tengah sakit dan tak bisa di paksakan untuk tetap hadir disana.
Tentu saja mata Key langsung melebar -Anak perdana menteri siapa. Karena tidak ada kabar apapun tentang pernikahan siapapun- Biasanya langsung ada kabar kalau ada petinggi yang melakukan pesta besar.
Feirvy saat itu bercerita kalau itu undangan formalitas pernikahannya sangat tertutup satu undangan untuk satu orang saja bukan sepasang. Tentunya membuat Key geram mendapati kalau itu cuma satu undangan saja. Di tambah lagi Key tak terlalu mengenal anak perdana menteri itu. Membuat dia tidak bisa langsung nyelonong begitu saja apalagi itu anak petinggi besar tidak boleh asal asalan melakukan suatu kriminal yang tak masuk akal.
Key akhirnya terpaksa mengijinkan istrinya untuk kesana tapi tentunya dengan penjagaan yang sangat ketat meski hanya bisa di luar Aula dan andai bisa melarangnya Key akan melarangnya. Tapi Feirvy bilang tidak mau terus terusan membantah ayahnya apalagi ayahnya sedang sakit. -Gambarannya Feirvy seperti tak peduli dengan ayahnya yang sakit dan belum menjenguknya juga tapi Feirvy tahu kalau banyak perawat dirumahnya dan kalau Feirvy kesana pasti adu mulut tentang Key akan terus terusan terjadi- Jadi pikir Feirvy lebih baik tidak kesana tapi yang penting melaksanakan perintahnya.
.
.
.
.
Kata cemas Markus asisten Alan. “Tuan. Anda dirumah sakit saja, saya sudah sangat cemas apalagi Tuan tidak ijinkan saya kesana. Sekarang baru sembuh Tuan sudah mau kunjungi pernikahan teman anda.”
Alan sedang memakai jas suits warna abu muda senada dengan celananya. Rambutnya di biarkan berwarna putih pirang mata berwarna coklat muda berbalik dengan dirinya yang biasanya selalu memakai wig hitam Softlens hitam. Alan memang mempunyai darah keturunan orang Amerika latin jadi tidaklah heran kalau secara genetik rambutnya dan matanya berwarna demikian. Tapi tak menyurutkan ketampanan malah menjadi nilai plus untuk penampilannya.
Sampai malam acara tersebut di gelar. Benar benar sangat tertutup hanya orang ternama saja yang bisa masuk kesana. Segala penjagaan juga pengecekan dilakukan tak pandang bulu siapapun yan datang. Dan itu hanya bisa membuat Bodyguard nya Key hanya bisa di altar gedung tersebut.
Setengah jam yang lalu Alan sudah berada disana sehabis memberi selamat ke kedua pengantin. Lalu lelaki itu mengobrol dengan beberapa temannya juga disana. Duduk duduk di sofa yang besar yang sudah tersedia beberapa macam makanan Disana.
Feirvy setengah berlari kecil dia datang telat dari waktu yang di tentukan. Tangannya menjinjing gaun panjang berwarna putih emas. Balutan nya merapat ke pinggang, tapi terjuntai terulur jatuh kebawah dari pinggang sampai ke kaki jenjangnya. Sungguh pemandangan yang amat indah selain menatap indahnya pelangi siang hari, saat ini Feirvy seakan lebih indah terlihat saat malam hari.
__ADS_1
Memasuki ballroom yang amat super luas. Seketika itu sebagian mata lelaki menghujaninya dengan tatapan kekaguman mereka. meskipun mereka membawa pasangan sendiri-sendiri tapi mata mereka tak bisa membohongi dan menahan lagi supaya mereka tak melihat moleknya gadis kecil yang baru datang tersebut. Rambutnya di ikat Cepol ke atas. Dengan tersisa untain rambut di pelipis dahinya. Membuatnya sangat menarik semua mata melihatnya.
Alan yang tengah duduk, didatangi temannya yang menimbali percakapannya dengan temannya yang disana. “Ada gadis cantik tuh. Biasany kamu paling duluan Al.”
Alan bersandar di sofa. “Lagi males.”
Temannya tertawa karena tumben tumbenan Alan malas dengan wanita, biasa dia nomor satu yang menggoda dan langsung mendapatkannya. Mungkin karena masih terbawa perasaan menyadari kalau Feirvy sudah bersuami kini membuat Alan sedikit malas berbuat apapun.
Feirvy langsung di sambut saat itu oleh sepasang pengantinnya. Mereka tahu kalau perwakilan ayahnya yang akan datang tapi sayangnya Key tidak tahu kalau sang mempelai pria adalah salah satu kerabat Alan dan ½ jam berlalu.. kini Feirvy berdiri dan tengah mencicipi cake yang tersedia dan mengambil minum di sana.
Di saat itu juga... Tubuh yang tidak sehat itu sedikit merasa tidak enak di rasakannya. Alan berdiri-- dirinya hendak ke toilet dan berjarak beberapa meter dari tempat dimana dia duduk. Harus melewati beberapa orang beberapa wanita yang pasti akan menyapanya. Tapi itu terpaksa Alan lakukan karena dirinya sudah tak tahan lagi untuk tidak ke toilet.
Santai dia berjalan, sudah beberapa orang dia lewati. Lalu terdengar beberapa perempuan berkerumun sedang membicarakan sesuatu. Saat itu Alan tak sengaja lewat dan pendengaran nya sekelibat mendengar nama istri Key. Sekejab kaki Alan mendadak terhenti. Dengan seksama dari samping dia dengarkan segala ucapan mereka. Dan yang lebih membuat dirinya tercengang bahkan terkejut. Alan mendengar kata kata istri Key ada disini. Dan salah satu perempuan lainnya menunjuk ke arah gadis itu.
Terjengit seraya melotot mata Alan setelah mendengar kata tersebut. Tak menghiraukan apapun lagi. Langkah kaki Alan lebar lebar langsung tertuju ke gadis tersebut. Gadis yang membelakangi langkahnya. Gadis yang dengan santai membawa segelas air di tangannya.
Semakin dekat dan mendekat. Alan langsung tarik lengan gadis itu dari belakang. Matanya terpaku seketika itu, Mematung tubuh Alan. Lidahnya kaku tak bisa bicara apapun. Apa yang dia dapati tak seharusnya dia lihat dan tak seharusnya wanita itu pula yang dia temui.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih sudah bersedia menunggu semua up nya ...
UlanZu