
“HHEMM. Hem” Alan berdehem.
“Kau kenapa?” Feirvy asal tanya.
Alan tersenyum sembari berpaling ke arah Feirvy. “Aku lagi nyadarin diri sendiri. Dari tadi bengong terus lihat kamu yang cantik”
Puufff pikir Feirvy yang lagi tersenyum simpul. “Apaan sih. Bukannya ini sudah mau jam kerja. Kau enggak bersiap di ruanganmu.”
“Aku takut dengan mereka.” Alan menunjuk ke ruang kerjanya. Entah kenapa beberapa perawat muda ada di sekitar ruangannya. Seakan menunggu Alan datang. “mereka bisa jadi moster kalau lagi ketemu aku. Mungkin aku cium satu persatu baru mereka pergi. Terkadang aku takut dengan diriku sendiri. Banyak sekali yang nempel denganku.”
Lagi lagi Feirvy harus memalingkan senyumnya kesamping dengan meng*lum senyumnya sendiri. “Kau memang tak terlihat sebagai seorang penjaga. Mungkin kau harus sedikit mengubah penampilanmu. Agar mereka tak terlalu tertarik denganmu.”
Alan yang bersandar di sandaran kursi. Tangannya merogoh sesuatu di balik saku bajunya. Ternyata Alan mengambil kaca mata bening pinggiran hitam di sampingnya. Lalu memakainya dengan rambut di poni tebal ke depan. “Sudah belum?" Alan memperlihatkan mukanya setelah memakai kaca mata dan gaya rambut yang berbeda.
Alan bener bener bisa menghibur Feirvy kali ini hingga dia tersenyum. Dan tak menampiknya. Alan memang menghibur sekali dengan sedikit gombalannya itu. “Aku tidak bilang kau cocok berdandan seperti itu. Tapi itu lebih baik dari pada yang sebelumnya.”
Alan terkekeh. “Kau sedang mengejekku. Sepertinya aku harus salahkan kedua orang tuaku sudah lahirin aku begitu tampannya sampai seperti ini.”
Alan melihat Feirvy kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya lembut. Begitu membuat diri Alan senang melihatnya. Lalu dari arah tempat Alan bekerja seseorang tengah memanggilnya dengan lantang.
“Weeii DION...!!! Ada barang datang nih.”
“IYA AKU KESANA.” Sahut Dion ke rekan kerjanya. “Aku mulai kerja ya.”
Feirvy menggangguk begitu saja tanpa melihat Alan di sampingnya. Terasa saat itu juga hati Alan entah mengapa terasa kelu di acuhkan begitu saja oleh Feirvy. Selama ini dia tidak pernah di cuekin wanita, yang ada wanita selalu ada buat dia. “Aku pergi.”
Dan lagi Cuma anggukan saja. Serasa tak ikhlas Alan meninggalkan Feirvy yang tak mau peduli dengannya. Hingga beberapa langkah kakinya. Tiba tiba Alan kembali lagi ke posisinya tadi. Feirvy mengetahuinya sedikit terheran -untuk apa dia kembali-
“Kenapa?”
“Ada yang ketinggalan.”
“Apa?"
“Hatiku.”
Feirvy tersenyum lebar dan harus tertawa kecil. Dirinya tengah terhibur dengan gombalan Alan yang receh itu.
“Gombalanku receh ya. Tapi setidaknya kau tersenyum. Berarti kau suka.”
Feirvy mencoba berhenti dari senyum dan tawanya lalu berpaling ke muka Alan. “Kau seharusnya tak menggoda gadis yang sudah bersuami.”
Tersekad pikir Alan tapi Alan langsung menampiknya sendiri. “ Kau tak memakai cincin nikah. Mana ada yang percaya kalau gadis kecil sepertimu sudah menikah.”
Kata kata yang terdengar oleh Feirvy kala itupun juga menyekat alam pikirnya sendiri -benar juga pernikahan macam apa ini. Bahkan cincin saja tidak punya- Feirvy hanya tersenyum getir pahit dan harus menelan ludahnya pahit pahit membayangkan pernikahannya. Tapi demi memalingkan apa yang tengah Feirvy rasakan, Feirvy mencoba tersenyum senang di hadapan lelaki tampan yang memakai softlens hitam tersebut. Dan Feirvy mencoba memalingkan pembicaraannya barusan agar dia Cepat pergi dari posisinya sekarang.
__ADS_1
“Aku rasa temanmu sudah menunggumu.”
“Kau manis sekali. Lain kali jalan sama aku. Mau kan? Tenang saja, aku aslinya orang kaya kok.”
“Hahahahahahaha bercandamu lucu juga.”
“Aku serius.”
“Ya. Ya ... Terserah kamu saja.”
“Maksudmu kamu mau jalan denganku.”
“Eh. Tidak. Bukan itu maksudku.”
Kaki Alan berjalan mundur. Alan berusaha menegaskan juga berusaha mengecoh omongannya sendiri. “Aku nggak mau tahu. Yang aku tahu kamu mau jalan denganku.” Alan berbalik badan dengan tersenyum menyeringai dan berlalu begitu saja. Bagus aku tidak akan bosan di rumah sakit ini. Aku akan dapat mainan baru.
.
.
.
“Eh. Kok gitu. Aku tidak ada kata kata mau di ajak jalan olehnya, Gimana ini. Dia orang yang aneh. Tau ach gak peduli juga. Lagian tidak kenal juga.”
Rasa jengah itu pun kini tengah menyusuri alam pikir Feirvy. Berusaha menenangkan diri disandarkannya punggung Feirvy ke sandaran kursi. Tapi entah kenapa seakan rasa penat masih saja menjalari pikirannya. Di sandarkan lah pula kepalanya kebelakang sembari memejamkan kedua matanya, Hembusan angin silih berganti silir silir menghembus lembut ke permukaan kulit Gadis itu, seakan hembusan anginnya sedikit demi sedikit mampu mencuri kata penat Lewat sela sela dedaunan yang seakan memayungi tubuh kecil nan mungil yang tengah bersandar lemah itu.
“Aku disini.”
Berdentam jantung Feirvy langsung terbangun seraya mata Feirvy terbelalak ketika ada suara Key. Sontak Feirvy Terlonjat kaget saat itu juga. Tak di sangkanya Key ada berdiri di depannya saat Feirvy bersandar memejamkan mata di kursi bawah pohon yang rindang tersebut.
Ucapannya terbata-bata. “Ka. Kau—bagaimana bisa ada disini. Siapa yang memberi tahumu aku ada disini.”
"Aku yang berusaha mencarimu sendiri."
Key dengan pandangan getirnya ia menyipitkan mata terarah ke mata Feirvy. Entah kenapa apa yang di pikirkan Feirvy. Feirvy berlari tapi cepat tangan Key mencekal lengan Feirvy. Di pojokan nya tubuh Feirvy ke sisi pohon dan wanita itu hanya menunduk dengan tangan tergenggam bergetar tak berani menatap lelakinya.
Key menatap getir ... seraya luapan suatu emosi rasa sayang yang ingin dia ungkapkan. “Mau kemana lagi kau-- Belum cukupkah kau menyiksaku. Aku harus bagaimana agar kau percaya ucapanku...,” Key mendongakkan dagu kecil Feirvy dengan lembut dan menatap lembut mata Feirvy yang masih tak berani menatapnya balik.. “Aku menyukaimu ... Selama tinggal di rumahku, apa kau tak bisa menilai kalau aku sangat peduli denganmu seorang.”
Feirvy seakan setengah menenggelamkan kedua bibirnya seraya getaran kecil disana. Hatinya berdegub kencang tak beraturan saat semua perkataan Key masuk ketelinganya. Begitu menyayat hati seolah dirinya lah juga termasuk salah menilai tentang Key yang sebelumnya tertutupi rasa keegoisan nya sendiri. Kini Feirvy tak berani menatap mata tersebut, karena kalau dia ikut menatap mata Key. Key akan tahu kalau matanya sudah terpenuhi air mata yang akan berlinang jatuh kebawah.
"Bahkan saat kau diam saja aku tahu kau menyukaiku dan kau merindukanku. Bagaimana bisa aku menyakitimu kalau aku sendiri menyukaimu. Kau sedang salah paham. Kau mau maafkan aku?"
Perkataan yang sangat mengikis hati Feirvy yang sudah membeku dan akhirnya perlahan meleleh seraya ucapan Key yang terdengar begitu tulus dari bibirnya. Pada Akhirnya membuat mata Feirvy mengeluarkan buliran air mata dan jatuh membasahi pipi nya.
Jemari Key lembut mengusap air mata itu. "Kau sangat marah sekali ya. Sampai sampai tak mengucapkan sepatah kata pun untukku."
__ADS_1
Tak bisa Feirvy tahan lagi, Feirvy menangis menggeru, kedua tangannya mendekap memeluk tubuh suaminya. "Jangan pernah jahat lagi denganku. Anggaplah aku adalah aku. Bukan aku yang dianggap orang lain."
Tak kuasa lagi seraya detak jantung Key yang terasa berdetak cepet. Segera ia memeluk balik istrinya di dekatnya erat erat. Feirvy merasa sesak, sesa sekali, Key begitu kuat memeluknya. "Aku merindukanmu. Aku mencintaimu."
"Sungguh?"
Key mengangguk. "Iya."
"Maafkan aku. Aku terlalu keras denganmu."
Masih saling memeluk satu sama lain. Kata kata masih terucap dari bibir mereka.
"Apa kau tak ingin ucapkan kalau kau rindu denganku atau kau juga mencintaiku?"
"Apakah itu Harus."
"Iya."
"Aku mencintaimu. Aku sangat merindukan suamiku."
Key mengecup kening Feirvy. "Aku tidak ingin hari esok. Aku ingin seperti ini terus denganmu."
"Key ada orang melihat kita."
"Abaikan saja. Anggap mereka Batu."
.
.
.
Feirvy tertawa Geli.
"Kau memang orang yang jahat."
"Jahat kalau urusan bercinta."
"Hahahahahaha ...."
.
.
.
__ADS_1
Kata jahat itu memang selalu ada dalam cinta. Tapi kalau ada yang bisa memahami. Sebenarnya merekalah (jahat itulah) yang terkadang bisa menguatkan cinta itu sendiri. Menerima kekurangan pasangan menjadi kelebihan atau menyempurnakan apa yang menjadi kekurangannya. InsyaAllah pasangan itu akan sampai pada akhirnya maut menjemput mereka. Sampai ada kata Cinta sampai ku bawa mati.
By UlanZu