Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
Rasa Penasaran 2


__ADS_3

Hari hari yang mungkin akan di penuhi kesenangan setiap jam nya saat ini. Di saat orang kepercayaan Alan. Berjalan cepat bahkan setengah berlari. Wajah puas juga kesenangan, rasanya tengah dia miliki saat ini. Dengan membawa kabar yang sangat mengejutkan. Markus asisten Alan menuju ke ruang putih berlapis lapis kaca besar bening tertata rapi. Siapapun yang masuk ke dalam ruang itu. Harus menggunankan baju operasi lengkap dengan sarung tangan masker juga penutup rambut.


Ruangan ini memang harus steril dari apapun kata Alan. Markus masuk dengan segala pengaman dalam tubuhnya. Sedikit membuat Alan terjengat saat Markus masuk dengan tiba tiba dan memanggil Tuannya sedikit keras karena rasa antusiasnya. Alan kembali menunduk terlihat dia tengah mencampurkan sesuatu entah apalah lah cairan cairan yang tak masuk di nalar manusia saat ini.


Dengan berjalan cepat Markus menyerahkan beberapa dokumen penting dari berbagai komunitas kelas atas yang di mana komunitas tersebut sebagai perantara persenjataan di berbagai negara yang selalu terjadi konflik dengan perebutan identitas sebagai negara adidaya. Alan menatap satu arah ke dokumen tersebut dan saat itu juga Alan langsung tertawa puas membaca dokumen tersebut.


“Hahahahaa. Kita berhasil. Key.. Key.. tak selamanya kau akan ada di atas. Senjata yang aku ciptakan lebih lah diminati di jaman revolusi saat ini. Dimana perang dengan kata diam mematikan itu lebih tragis dari pada senjata mu. Kini tinggal wanitanya yang akan aku jadikan umpan untuk Key menyerahkan kota Red bloodmu itu..”


Ternyata bahwa kenyataan beberapa komunitas telah setengahnya beralih ke progam yang Alan buat. Dan kini tengah berhasil Alan lakukan. Dan pastinya akan berdampak buruk untuk perusahaan milik Key. Dengan terbengkalainya barang barang yang sudah banyak di produksi oleh Key. Alan orang yang jenius bisa menciptakan sesuatu yang bahaya dan mematikan dan lansung diminati banyak komunitas kelas atas.


*****


Dokumen yang di baca oleh Key pun. Harus berserakan tercecer di lantai. Key baru tahu sistem senjata biologis yang ternyata Alan dalami saat ini. Dan Key benar benar kecolongan di berbagai negara hingga membuat Alan yang malah memenangkannya. Kini keberadaan kota Red blood benar benar dalam posisi yang rentan Alan curi juga. Kalau Alan bisa berhasil mengusai negara negara yang telah bekerja sama dengan Key saat ini. Dengan situasi seperti ini. Waktu harus memaksakan Key untuk lebih keras dan banyak lagi menciptakan persenjataannya dengan keunggulan yang lebih luar biasa lagi dari sebelumnya.


*****

__ADS_1


“Nayna belum bangun?" Tanya Feirvy ke salah satu pelayan nya.


“Belum Nona.”


Mengetahui Nayna belum bangun, Feirvy segera ke arah kamar Nayna. Pintunya terbuka. Feirvy melongok dari ambang pintu. Dan mendapati Nayna tak ada di kamarnya. Kemana dia. Feirvy kembali berjalan mencari adik iparnya untuk sarapan dahulu sebelum nanti mendaftar ke sekolah yang baru. Beberapa ruangan Feirvy masuki ntah dimana Nayna tak terlihat sama sekali. Tapi satu ruangan yang belum Feirvy lihat. Ruang kamar utama Key. Key tak pernah mengajak Feirvy masuk ruangan itu. Dan kamarnya selalu terkunci rapat rapat dari siapapun.


Feirvy terus berjalan menyusuri ruang ruang yang ada. Saat itu dari kejauhan langkah kaki Feirvy terhenti. Saat matanya mendapati kamar Key terbuka, tidak terkunci. Hatinya sedikit meragu, apakah Nayna di dalam kamar Key. Aku belum pernah kesana juga tidak pernah di ajak Key ke ruangan itu. Bukankah aku istrinya. Kenapa ruangan itu begitu tertutup olehku. Apa Nayna di ruangan itu. Apakah hanya keluarganya yang boleh masuk kamarnya. Lalu aku. Aku masih dianggap apa. Begitu privasi kah ruangan itu. Sampai sampai aku istrinya tidak di perkenankan kesana.


Feirvy yang seakan tenggelam termenung dalam angannya, kini kakinya perlahan melangkah. Bukan karena lancang Feirvy pikir tapi ini hanya untuk memanggil Nayna di dalam kamar tersebut.


Pandangan Nayna seakan mengelilingi setiap sudut kamar kakaknya. Pandangan itu seakan langsung pilu melihat pemandangan isi kamar kakaknya. Yang masih penuh dengan barang barang Feirvy dahulu. Kakak ... Kau pasti lupa mengunci kamar ini. Aku bersedia kok membersihkan kamar ini kalau kakak ijinkan, dan kalau memang kakak nggak sempat, Nayna bersedia membersihkan ini semua. Hubungan kalian sebenarnya sejauh apa, bagaimana bisa istrimu belum pernah kamu ajak masuk ke ruangan ini. Nay termangu seraya menatap dalam juga miris lukisan Feirvy yang dahulu. Yang amat Key cintai dan satu satunya sebelum ada Feirvy yang sekarang ini.


Perlahan tapi pasti langkah kaki Feirvy semakin mendekat dan lebih dekat lagi dengan pintu kamar yang setengahnya terbuka. Kakinya yang kini setengah langkah sudah hampir ke ambang pintu. Mata Feirvy sedikit menelisik pandangannya ke dalam dan segera memanggil nama Nayna.


“Nayna ...” Nayna melamun.

__ADS_1


Feirvy seakan melihat Nayna tengah menatap dalam sebuah lukisan besar di kamar besar itu. Kembali Feirvy memanggil Nayna yang sepertinya sedikit melamun sembari menatap lukisan itu. Feirvy pun kini malah di bikin penasaran. Lukisan apa yang Nayna tatap. Tapi Feirvy tak terlalu bisa memastikan lukisan apa di sana karena posisi pintu yang menyamping dari lukisan. Membuat lukisan itu tak terlihat jelas apa gambarnya.


Hingga panggilan ketiga yang sedikit agak keras. Tubuh Nayna langsung tersadar. Geragap. Wajahnya langsung pucat pasi. Nayna langsung terkesiap cepat cepat kakinya berlari Ke arah pintu keluar. Dan dengan cepat dan keras menutup pintu kamar, yang seakan akan Feirvy sama sekali tak boleh melihatnya.


“Ah kakak ipar--Maaf baru dengar. Ada apa kak--” Kalimat Nayna tersebut kali ini diiringi gerak tubuh yang sangat terlihat dan terbaca oleh Feirvy. Kalau adik Key begitu panik tubuhnya sedikit terlihat gemetaran hingga wajahnya pucat pasi.


“Kamu belum sarapan. Sarapan barengan sama kakak ya.”


Nay meringis. “ Hehe. Eh iya aku lupa kalau belum sarapan. Ayok. Ayok.”


Nada perkataan Nayna masih terlihat kalau dia masih gugub. Sangking gugubnya. Nay langsung menggandeng lengan Feirvy untuk di ajak ke ruang makan. Tapi lagi lagi sangking gugub yang menderai diri Nayna. Nay malah lupa mengunci lagi kamar Key. Karena rasa ingin cepat cepat membawa kakak iparnya menjauh dari kamar tersebut. Malah membuat pikirannya yang terlalu kalut dan gugub itu Nay melupakan sesuatu yang seharusnya dia kunci dan disimpan kuncinya. Dimana Key yang tadi terburu buru juga terlupakan mengunci kamarnya sendiri.


Lengan Feirvy tergandeng tangan Nayna yang setengah menarik tubuhnya untuk segera menjauhi pintu tersebut. Tapi pikiran Feirvy tak terelakkan kalau dirinya benar benar sangat penasaran dengan kamar suaminya. Apalagi setelah sekelibat melihat Nayna menatap dalam dalam lukisan yang Feirvy sendiri tidak tahu lukisan apakah itu. Muka Feirvy setengah berpaling saat lengannya tertarik tangan adik iparnya. Sembari mata Feirvy menatap pintu besar itu dengan tatapan nanar dan kunci yang masih menggelantung disana.


Kalau Like. Komen Vote nya banyak nanti Author cepet cepet up lagi.😁😁

__ADS_1


__ADS_2