
“Kau sudah gila ya. Aku tidak mau kau khianati. Aku tidak rela. Kau jahat!! Hik hik hik.”
“Kau bodoh ya. Kalau aku menikah dengannya kita akan kaya raya.”
“Tiidakk!!.”
“Dasar bodoh!”
Piipppp Key matiin Chanel TV.
“Jangan....!”
“Kau ini nonton sinetron apaan, gak jelas gitu."
Makan keripik. “Bagus tau. Itu sinetron langka. Biasanya yang ceweknya di jual. Ini malah cowoknya yang jual diri hihihihi.”
“Dasar, Ganti baju sekarang. Ikut aku.”
“Kemana?”
.
.
.
1 jam setelah Feirvy mandi dan berganti baju. Mereka berangkat ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota mereka tinggal. Feirvy setengah celingukan -sebenarnya Key mau kemana- lalu Key yang di dampingi beberapa Bodyguard penjaga berhenti di counter toko perhiasan termewah di mall tersebut. Berbagai pilihan terpampang berjajar-jajar Kilauan emas dan berlian yang memukau mata hanya dengan melihatnya saja. Feirvy bertanya tanya untuk apa kesini.
“Kenapa kesini?”
“Pilih saja."
"Buat aku?"
"Buat Kamu, Ibu dan Tantemu. Aku tidak bisa memilih perhiasan."
"Jadi ini hadiah sebelum kita pulang."
"Hmm."
Menahan senyum dalam hati Feirvy berguman sedikit tak percaya. Ternyata Key itu ada sisi polosnya juga. Apalagi tentang wanita. Kau bertolak belakang dengan kebringasan mu Key, kalau kayak gini. Aku semakin geli juga suka denganmu.
Feirvy tersenyum untuk suaminya. “Aku pilihkan. Tapi kalau terlalu mahal bukan salahku ya. Soalnya seleraku tinggi. Seperti ku memilih laki laki selera Ku juga tinggi.”
Key tersenyum lebar, mengusap usap rambut Feirvy. “Asal kau senang. Pilih sesukamu.”
beberapa menit kepilihlah perhiasan yang besar kemungkinan akan cocok untuk ibu Feirvy. Sampai di rumah dan ini sudah satu Minggu mereka disana selagi berpamitan Key menyuruh Feirvy memberikan apa yang mereka beli tadi. Tentu saja Ibu dan Tante Lena terkejut tidak di sangka sangka menantunya repot-repot memberikan 2 set berlian mewah dan juga jelas terlihat mahal dari segi manapun.
Saat itu Key berpamitan dengan sopan pada mereka berdua... Dan setelahnya Key dan Feirvy berlalu naik mobil, melaju tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat dan sampai pada akhirnya mobilnya Key berhenti di sebuah pemakaman yang terbilang sangat elit disempatkannya sebentar Key membeli buket bunga untuk di bawanya masuk ke pemakaman. Feirvy mengernyitkan muka, ini mau kepemakaman siapa.
__ADS_1
“Siapa yang meninggal?” nada penasaran.
“Nanti kau juga akan tau.”
Di letakkan nya buket bunga tersebut. Feirvy Amaira di batu nisan itu terukir. Feirvy terdiam dan berpaling ke muka Key.
“Dia adalah Feirvy. Feirvy yang kau sangka kekasihku dulu.”
Key duduk jongkok di samping makam memegang batu nisan dan menatapnya penuh arti hingga menyuarakan kalimat yang terdengar pula oleh Feirvy. Feirvy saat itu ikut jongkok di sampingnya.
“Feirvy. Kini aku sudah menikah. Dia perempuan yang baik hati dia menyayangiku dan aku juga sangat menyayanginya.”
Sembari mengucap itu semua Key menoleh ke arah Feirvy. Menggenggam erat tangannya. Tersenyum disana bahwa Key ingin membuktikan kalau dirinya sudah tidak ada perasaan pada Feirvy dahulu dan hanya Feirvy sekaranglah yang ada di hatinya. Feirvy balik menatap dan tersenyum. Membalas balik genggaman sang suami. Di pandanginya batu nisan yang tak jauh dari tempatnya. Feirvy berucap untuk Feirvy nama yang sama dengannya. “Aku akan menyayanginya. Maafkan aku pernah berpikir buruk tentangmu.”
Key tersenyum. Lalu tak lama mereka pamit dari makam Feirvy Amaira . Mereka Kembali masuk ke dalam mobil, Key menatap Feirvy sebelum dia menghidupkan mobilnya.
“Kenapa menatap ku begitu.”
“Aku masih kangen. Tapi sebentar lagi harus pisah.”
Feirvy tersenyum, kedua tangannya memegang pipinya Key. “Aku harus belajar. 4 hari lagi kita kan bisa bertemu lagi.”
Key tak bicara dan hanya menatap kelu. Feirvy tersenyum ironi melihat suaminya menatapnya seperti itu. Tangan yang masih memegangi kedua pipi Key itu. Feirvy perlahan semakin mendekatkan kepalanya dan lebih dekat lagi. Feirvy memejamkan mata di hadapannya Key. Perlahan bibir Feirvy; dia sentuhkan ke bibir suaminya. mencecap bibir itu. Dan Key mengikuti istrinya lanjut memejamkan mata. Jatuh dalam rasa ciuman yang menghangatkan. Feirvy mulai membuka mulutnya dia lumati bibir suaminya dia sesapi menikmati ciumannya sendiri. Dan perlahan Key balik membalasnya. Tangannya memegangi leher rahang Feirvy. Di balasnya ciuman panas sang suami hingga mendesah. Saat selesaipun, Key hanya bisa memeluk istrinya sedikit lama menahan Feirvy dalam dekapannya, Seakan tak mau terpisah meski hanya 4 hari saja.
*****
“Malah ketawa.”
“Kau lama-lama kayak emak emak security. Yang ngecek barang barang suaminya yang di curigai selingkuh," Key melengos. "disini aman, semua yang disini sudah aku kenal sejak lama.”
Tapi bukan Key namanya kalau bener bener tidak aman. Sampai sampai Key memutuskan untuk menaruh 4 penjaga di luar ruangan dimana Feirvy bekerja. Meski hanya bisa menjaga Feirvy di luar rumah sakit dan hanya mengintai Feirvy dari jauh. Menurut Key itu harus di lakukan. Tak ingin terjadi apa apa pada istrinya. Sedangkan Feirvy hanya bisa pasrah menerima itu semua, dan terpikirkan sesekali menjadi istri yang penurut saja dari pada membangkang terus menerus.
.
.
.
.
*******
Alan kembali menjadi Dion. Kebetulan dia memang masuk kerja di shift siang hari. Bukan karena apa dia lama lama di rumah sakit. Seharusnya dalam 3 hari saja dia sudah bisa mencuri apa yang dia mau. Tapi rasa penasaran dengan Feirvy begitu mengusik hatinya. Dion ingin sekali bertemu dengan Feirvy dan bertanya -sehabis dari mana seminggu ini-
Dan bersamaan Key pulang dari rumah sakit. Cepat cepat anak buah Alan yang di tempatkan di luar rumah sakit menelpon Tuan Muda mereka dan cepat cepat memberi kabar kalau mereka melihat mobil Key keluar dari rumah sakit. Terhenyak Alan mendengarnya. Langsung berpikir. Buat apa dia ada disana. Bukannya dia akan memanggil dokter pribadinya kalau dia tengah sakit. Tak percaya Alan menyuruh anak buahnya menyelidiki kedatangan Key kerumah sakit tersebut.Tak lama dari telepon anak buahnya barusan kini Alan mendapatkan telepon dari anak buah satunya.
“Maaf Tuan Alan, kami mengganggu. Setelah mengintain kami kemaren terdeteksi oleh Verru. Penjagaan di rumah Key di perketat dan kami sekarang sama sekali tidak pernah melihat ada wanita di rumah halaman rumahnya Key. Beberapa mobil yang keluar masuk pun tak ada wanita. Kecuali adiknya Key yang selalu bersama Verru.”
“Adik. Jadi adiknya juga ada disini ya. Tapi aku lebih inginkan istrinya. Cari tahu apapun itu informasi apapun itu. Aku ingin melihat bagaimana istrinya Key itu.”
__ADS_1
“Siap Tuan.”
Sehabis menerima telfon, Alan pria muda yang lebih muda dari Key menghempaskan lepas tubuhnya ke ranjang dan membatin. Kau Feirvy... Seminggu ini telah buatku penasaran dan mengusikku. Kalau aku bertemu denganmu, aku akan menculikmu dan menidurimu. Kalau aku bosan akan aku buang begitu saja dirimu. Karena telah menyiksaku seminggu ini.
Alan kembali terbangun. Di lihatnya di atas nakas beberapa obat miliknya. Tapi ia tampik obat tersebut karena dia bosan dari remaja dia minum obat tersebut dan membuatnya harus menjalani hidup sehat selama dia hidup. Kini waktunya dia berangkat dan masih memakai atributnya. Wig hitam Softlens hitam dan memakai topi hitam yang terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih.
Tentu saja sampai saat ini perawat rumah sakit selalu di buat menggila olehnya. Dan di ketahui seminggu ini Alan sempat meniduri salah satu perawat yang suka rela dengannya. Alan tidak mengajaknya tapi kucing itu menyerahkan dirinya sendiri ke Alan. Tentu saja kesempatan gratis itu di manfaatkan olehnya. Saat itu di bawanya perempuan itu ke hotel oleh Alan dan bermain gila disana yang lebih gilanya lagi dan membuat Alan tak percaya. Gadis yang dia tiduri itu masih perawan. Alan menyebutnya dia wanita bodoh. Mau maunya memberikan keperawanannya pada diri Alan. Nona itu bernama Viola. Tapi di balik itu semua malah nama Feirvy yang masih terpatri dalam pikirannya.
.
.
.
.
Feirvy berjalan langkah kakinya hampir mendekati ruangan dimana Alan ada diruangan tersebut. Begitupun Alan kala itu tengah berdiri dari jongkoknya. Lelah menerpa dirinya membuat ia melihat ke arah jendela yang terdapat tanaman tanaman hijau yang mampu menyejukkan penatnya.
Feirvy berjalan melangkah dengan wajah tenang ia hampir melewati ruang tersebut. Tapi dari dalam tiba tiba Alan terperanjat matanya bulat membesar sempurna. Dia menyadari gadis yang mengusik hatinya kini ada lagi. Dan tak jauh dari dirinya. Reflek kakinya berlari keluar. Langsung membuat Feirvy Terlonjat kaget ke belakang karena mendadak Alan menghadang jalannya. Kala itu Feirvy tak mau menghiraukannya. Feirvy langsung berjalan kekanan di hadang Alan ke kanan, Feirvy ke kiri di hadang Alan Key kiri dan berulang ulang begitu saja. Membuat Feirvy menghela nafas kesal jengah dalam dalam.
"Dion minggir!"
Alan tersenyum. Alan menaruh permen ke dalam jas putih milik Feirvy, tentu saja permen itu bukan permen manis biasa. permen yang membuat bertanya tanya permen apakah itu, sepertinya sangat special. Feirvy kala itu terkejut Alan mendadak begitu saja menaruh permen dalam sakunya.
"Apa ini."
"Permen aku beli tadi di kantin. Kemana saja seminggu ini?"
"Pulang kerumah. Minggirlah, aku mau ke ruang kerjaku."
Masih seperti dulu Feirvy cuek cuek saja dan rayuan Dion tentulah tak berarti apa apa untuknya. Dan kini Feirvy berlalu berjalan menjauh dari Alan. Setelah Feirvy pergi malah pria itu tampak senang karena Feirvy sudah membawa permen yang dia kasih.
.
.
.
.
Like
komen
vote
thanks
by UlanZu
__ADS_1