Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
Siapakah Dirimu?


__ADS_3

Berkerjanya obat itu mengiringi berjalannya waktu yang sudah mulai larut malam. Sesuai prediksinya sendiri di jam 10 malam dimana hawa dingin mulai terhembus ke udara. Mulailah tubuh Alan perlahan lahan mulai kepanasan merintih hingga keringat di pelipis dahinya menetes keluar tanpa permisi. Tepat di jam dia pulang kerja. Laki laki itu tidak pulang ada sasaran yang bagus untuk memuaskan hasratnya yang sudah mulai meronta ronta minta di puas kan. Alan berjalan setengah terseok-seok ke arah Asrama. Membuka pintu yang tak terkunci di baringkan tubuhnya sembari mengambil Handphone di dalam saku celananya.


“Viola. Aku ada dikamarmu. Aku ingin kamu saat ini."


Mendengar ajakan Alan yang seperti itu. Apalagi ditambah suara Alan yang serak dan terdengar parau. Mata Viola seakan berbinar dia sungguh senang sekali -dan apakah ajakannya kemaren berhasil. Berhasil membuat Dion tertarik dengannya- Viola langsung berlari ke asramanya sendiri. Dia buka pintu kamarnya yang masih gelap gulita terlihat lampunya belum dinyalakan. Mata Viola setengah menerawang ke arah ranjangnya sendiri, seperti tidak terlihat ada seseorang disana dan ketika langkah kakinya mulai memasuki kamarnya sendiri. Tubuh Viola terkejut. Disamping pintu tanpa dia sadari ada Alan dengan tubuh yang panas yang tiba tiba mendekapnya. Mendorong tubuhnya kebelakang hingga terjatuh ke ranjang bersama Alan. Bisik lirih Alan. "Puaskan aku malam ini sayang..."


Sembari menatap Alan dari kegelapan. Viola menelan ludahnya sendiri. Menggigit bibirnya sendiri mencoba menatap Alan dan mulai memeluk lelaki itu. Dan terjadilah apa yang Alan mau. Bukanlah Feirvy Melainkan korban lainnya yang dia tiduri.


.


.


.


.


.


****


berdua bersama Key, tapi tidak satu ruangan melainkan dari 2 ponsel yang menyatukan mereka berdua dari rasa rindu yang tercipta begitu saja.


"Aku ingin kesana."


"Kau bilang tidak boleh kesini sering sering. Kalau kau kesini pasti aku tidak akan tidur semalaman."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kau pasti menyerangku habis habisan."


Key terkekeh-kekeh. "Sudah nikah kok. Jadi sah sah saja."


"Ya memang. Tapi pagi pagi aku ada operasi bedah pasien. Dan itu, aku bersama mentorku juga. Aku harus bener bener siap buat besok pagi."


"Tidurlah. Jangan matiin ponselnya. Biarkan aku Tahu kamu tertidur dari sini."


Kata kata yang lembut dari seorang Key. Key berbaring sambil menutup matanya. Membuat ponselnya sengaja tidak di matikan olehnya. Karena dengan seperti itu Key merasa kalau sedang bersama Feirvy meski dalam kejauhan.


*****


Alan terbangun, mengernyitkan pandangannya. samar samar silau matahari menyilaukan matanya hingga terbangun dari tidurnya. Terduduk lalu mendapati dirinya telanjang tak seuntai benangpun menyelimuti tubuhnya. Begitu juga Viola masih tertidur kelelahan dengan permainan hebat semalam dengan Alan. Tapi saat itu Alan merasa tak nyaman, kepalanya sangat pening hingga rasanya berdenging sampai ke telinga. Sembari memegang kepalanya sendiri dia berdiri memakai sepasang baju miliknya. Dia pegangi kepala sampai dia keluar kamar. Alan baru ingat kalau sudah 2 hari ini dia mengabaikan obatnya sendiri.


terhuyung-huyung dia berjalan keluar asrama. Dia sandarkan tubuhnya ke permukaan tembok lalu perlahan beringsut kedinginan terduduk di kursi yang ada didekatnya. Tapi dari arah kejauhan suara berisik suara kepanikan terdengar jelas di gendang telinganya. Kalau seperti ada pasien yang tengah gawat darurat karena ditambah sang profesor ahli bedah yang khusus menangani pasien tersebut tengah mengalami kecelakaan dan tentu saja sang profesor tidak bisa melakukan operasi tersebut. perawat tampak kebingungan mencari Feirvy. Terdengar oleh Alan kalau mereka mencari Feirvy dan terdengar pula Feirvy tengah tergesa gesa juga panik dan sekelibat juga Alan mendengarkan kalau Feirvy berbicara dia belum sepenuhnya menguasai tentang keseluruhan specialis pembedahan. Kemampuannya masih di bawah jauh dari senior senior nya. Ditambah lagi ini hari Minggu, ada bebapa dokter yang memang sedang di tugaskan keluar kota. Mau di bawa ke rumah sakit lainnya. waktu tidak memungkinkan kalau di bawa kerumah sakit lainnya.


Diruang operasi yang sudah disiapkan. Meski seharusnya Feirvy bisa melakukan tapi dirinya kurang percaya diri ada beberapa kasus yang sudah dia pelajari dan hanya dengan beberapa tehnik memang dia kuasai tapi untuk langsung mempraktekkan ke pasien yang sedang gawat darurat baru pertama ini Feirvy melakukan di kasus yang seoerti ini.


Braakkkk. suara pintu operasi mendadak terbuka, semua dokter disana terperangah, tercekat. Bertanya tanya-tanya siapa yang datang. Seseorang yang berperawakan tinggi lengkap dengan baju operasi ditambah lagi masker yang menutupi hidungnya. Tiba tiba mendekati pasien yang sudah siap dioperasi. dengan sigap dan tegas dia memberi aba aba untuk memulai operasi tersebut. Yang dimana sebelumnya dia mengenalkan diri bahwa dia adalah Dokter Hendrik; Dokter ahli bedah dari rumah sakit inti yang lewat dan mendengar kalau Dokter bedah yang berjaga disini mengalami kecelakaan dan dia segera kesini menangani Operasi yang seharus berjalan sekarang. Dan mereka percaya percaya saja karena waktu sudah sangat mendesak.


Ada kecurigaan dan keraguan dalam pikiran Feirvy saat mendengar suara dokter tersebut. Seperti ada hal familiar yang serasa pernah dia dengar. Tapi waktu tak memperbolehkan Feirvy untuk terus terusan memikirkan semua itu karena operasi harus segera di laksanakan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Tit....tit....tit..... nafas pasien sudah mulai normal kembali. Operasi berhasil di selesaikan dengan sangat baik. Dan malah Feirvy menilai Dokter tersebut terlihat lebih lihai dari dokter seniornya. Tapi ... lagi lagi Feirvy harus dibuat terus memikirkan dokter tersebut. sebelum dokter itu keluar ruangan Feirvy sempat bertatap mata dengan orang itu. Dan sekali lagi Feirvy mengingat kalau pernah bertemu dengan sepasang bola mata tersebut.


Dokter yang mengaku dokter Hendrik kini keluar ruangan di barengi juga dengan Feirvy yang dibelakangnya. Tapi yang ini sedikit aneh, dokter tersebut tidak melepas baju operasi seperti yang dilakukan dokter lainnya yang langsung menaruh baju operasi di tempat tong pencucian. Orang itu terus berjalan dan kalau di amati jalannya sedikit sempoyongan.


Diikutinya Dokter tersebut oleh Feirvy dari belakang. rasa penasarannya begitu menggunung dalam hatinya yang dimana membuatnya harus mengikuti kemana arah dokter tersebut mau berjalan. Feirvy tidak mengira kalau sebenarnya orang yang dia ikuti sebenarnya sadar kalau dia diikuti Feirvy. Dengan menahan rasa sakit dalam tubuhnya. Dokter itu masuk kedalam ruang gudang yang terdapat tumpuk tumpukan kardus disana. Alan bersandar dan kembali beringsut. menenggelamkan kepalanya di antara sikuan lutut kakinya. merintih kesakitan, badannya di penuhi keringat dingin dengan wajah yang amat pucat pasi karena operasi barusan yang dimana dia harus menguras habis tenaga dan pikirannya. dimana dia sendiri juga harus menahan sakit yang luar biasa dalam tubuhnya.


Feirvy datang. langkah kakinya mendekati orang tersebut. pendengarnya sedikit Kelu mendengar rintihan lirih dari lelaki yang beringsut di lantai tersebut. lebih dekat lagi Feirvy mendekat dan jongkok di samping dokter tersebut.


"Kau tidak apa?" "Tubuhmu berkeringat. Aku bisa membantumu ke ruangan kesehatan. Tapi kau sebenarnya siapa."


Alan tahu jelas kalau itu Feirvy tapi di tengah rasa sakitnya dia membiarkan orang lain tahu siapa dirinya. perlahan Alan mendongakkan kepalanya. Tangannya ke arah masker yang dia pakai. lalu, dia buka masker tersebut. Feirvy terkejut bola matanya membesar sempurna dengan posisinya yang masih jongkok dia kaget terkejut. Bahwa Dion si penjaga laboratorium 2 bisa melakukan bedah operasi yang hanya seorang profesor saja yang dapat melakukannya. Masih dalam keadaan tercengang. Alan berucap.


"Sakit, sakit sekali...."


Geragap Feirvy berusaha menarik lengan Alan ingin berusaha membuat Dion berdiri dan membawanya ke ruang kesehatan. Tapi keduluan Alan Pinsan. kepalanya lunglai bersandar di bahu Feirvy dari samping. Terkejut saat itu juga. Feirvy tak mengerti dengan pria aneh ini dan siapa dia sebenarnya. setengah menatap Alan. Feirvy bertanya tanya *Siapa sebenarnya dirimu?


.


.


.

__ADS_1


.


Like n komen nya ya....maksie*...


__ADS_2