
Sehabis menjenguk dan merawat sang nenek. Viola tiduran di kamar peristirahatan perawat. Sehari hari dia lebih banyak menghabiskan tidur dirumah sakit dari pada di rumah kecilnya sendiri sembari menunggu neneknya dia juga bisa menghemat ongkos perjalanan yang tentunya sudah mengantongi ijin dari pengurusnya.
Dia tadi apa sedang menghinaku ya. Aku merasa seperti itu. Apa benar dia aslinya seperti itu. Kenapa? Kenapa dia seperti itu denganku? Viola mengaca, Apa aku terlalu jelek buatnya. Tapi kaca ini sebenarnya buat diriku keseluruhannya. Bagaimana mungkin Dion Akan tertarik denganku yang hanya seorang perawat biasa. Miskin pula. Dia seribu kali lebih bisa mencari yang lebih cantik dan setara dengannya. Viola menepuk-nepuk pipinya sendiri. Sadarlah Viola kau tidak akan mungkin mendapatkannya. Dia bukanlah level yang seharusnya buatmu. Dia berkata seperti tadipun mungkin pastas juga buatku. Karena aku terlalu jauh berharap dengannya.
Kembali Viola menidurkan tubuhnya berusaha tidur dan tertidur sampai pagi hari.
5 hari Viola sebelumnya minta ijin untuk tidak bekerja di rumah sakit dan untungnya dia diijinkan libur dahulu. Sesudah merawat neneknya dan meminta tolong kepada temennya selama 3 hari ini. Viola segera datang kembali ke rumah Dion. Dan sebenarnya ini terpaksa juga harus meninggalkan sang nenek tapi karena uang tambahan yang lumayan banyak yang setidaknya bisa menutupi kebutuhannya dia dan sang nenek sampai gajian bulan depan. Viola beranikan meninggalkan sang nenek. Dimana sang nenek masih bisa untuk di tinggal bekerja.
Sampai di rumah Alan. Kembali terlihat Dokter memeriksa tubuh Alan yang saat ini terlihat kesakitan. Viola mengintip dari pintu kaca ruang rawat milik Alan. Apakah karena bekas luka tembakan yang lalu. Seharusnya bukannya sudah membaik. Kenapa malah menjadi kritis seperti ini. Terlihat Markus dengan muka cemas dan kedua Dokter mau keluar dari ruang rawat tersebut.
Viola segera mundur sampai di samping tembok tak terlihat. Ketiga orang itu keluar dan sejenak mereka bercakap cakap di depan pintu dan tampak sangat serius, dan bisa terdengar oleh Viola saat itu.
“Ini sudah lama sekali leukemia-nya, Kalau bukan karena obat obat yang khusus buatnya mungkin saja ini sudah tak bisa bertahan lagi.”
Raut muka Markus terlihat sangat jelas sekali kalau dirinya sangat cemas dengan Tuannya.
“Ini harus bagaimana Dok. Sudah bertahun-tahun aku bahkan Alan sendiri mencari cangkokan untuk sumsum tulang belakangnya, tapi sampai sekarang tidak ada yang cocok dengannya.”
“Kita harus bergerak cepat saat ini. Nanti semua profesor akan aku hubungi untuk membantu mencari pencakokan yang cocok dengannya.”
Semua itu terdengar miris oleh Viola yang sekarang berdiam diri disisi tembok samping mereka. Saat mereka bertiga berjalan. Baru Markus melihat Viola sudah ada disana. 2 Dokter itu berpamitan berlalu duluan. Dan Markus berhenti di depan Viola.
“Kebetulan sekali Nona disini. Apa Nona mendengar semua percakapan kami.”
__ADS_1
Viola menggeleng kepala. “Tidak Tuan. Saya baru datang.”
“Kalau begitu jagakan Tuan muda dengan baik hari ini. Kalau ada apa-apa langsung telfon nomerku yang aku kasih kemaren. Aku ada kebutuhan yang sangat mendesak dan aku harus pergi sekarang.”
“Baik, Tuan. Viola akan jaga Tuan Dion dengan baik."
Percakapan selesai Markus segera pergi dengan keperluan. Sementara Viola segera masuk ke ruang rawat. Sesaat mau membuka pintu. Markus kembali memanggil Viola.
"Tunggu Viola, Berikan selimut tebal untuk Tuan muda. Tuan muda habis minum obat dan efek nya sedikit menggigil dan kedinginan tubuhnya. Tolong selalu perhatikan Tuan muda Dion.”
Mengangguk sopan. “Baik Tuan.”
Viola masuk kamar rawat dan memang benar... Alan layaknya Keong yang beringsut kedinginan. Meski memakai selimut dia tetap kedinginan dan bahkan meski ada uap hangat disampingnya dia tetap saja kedinginan. Sebelum mendekat ke Alan. Viola cepat membuka lemari yang tak jauh dari tempatnya ia berdiri. Dia cari selimut tebal disana. Diambillah selimut tebal itu dan segera di pakaikan ke tubuh Alan yang menggigil. Kini Viola duduk di kursi kecil dekat ranjang Alan.
“Apa masih dingin...?”
Bagaimana ini... Ini sudah selimut yang paling tebal dan sudah aku tumpuk tumpuk tapi Dion tetep saja menggigil.
“Aku buatkan bubur dan susu hangat ya.”
Alan menggeleng. “Aku sudah makan.”
Pria yang ketus. Dingin dan kaku itu seperti terlihat tak berdaya kali ini. Viola memandang pilu padanya. Setelah diingatnya lagi percakapan ketiga orang di luar tadi. Leukimia, Leukimia yang sudah sangat parah dan hampir tak tertolong. Hati Viola terasa tersayat kali ini. Rasa tak ingin ditinggal Alan langsung ada dalam hatinya. Dan itu tidak boleh terjadi pikir Viola.
__ADS_1
Viola terduduk menatap Alan... Perlahan tangannya ia gerakkan meraih tangah Alan yang menggigil gemetaran. Didekapnya tangan tersebut. Ditiup tiupkan nafasnya ke permukaan tangan Alan agar memberikan efek hangat lewat nafasnya.
Alan membuka mata saat Viola melakukan itu semua. Dengan sisa sisa kekuatannya Alan, Alan menarik lengan Viola membuat Viola terduduk paksa di dekat kepala Alan.
Viola terkejut. “Kau sedang sakit.”
“Dingin... biarkan aku memelukmu.”
Alan memeluk pinggul Viola erat erat dia rapatkan tubuhnya ke sisi paha Viola, yang seakan ingin menyatu disana. Viola tak bisa berkutik diam terduduk di peluk Alan. hanya bibir dan matanya terasa tercengang dengan perlakuan Alan saat ini.
“Aku buatkan minuman hangat dulu buatmu ya."
“Tidak... Tidak mau. Aku ingin seperti ini saja...”
Viola tersenyum senyum. Dia imut sekali kalau sedang begini. Ketusnya serasa hilang begitu saja. Apa dia sedang tidak sadar kalau ini aku. Masih belum juga terasa hangat. kepala Alan beralih tidur ke pangkuannya Viola, mendekap beringsut ke tubuh Viola. Mata Viola terpana menatap muka Alan... lalu perlahan dia beranikan diri lagi jemarinya dia usapkan ke pipi Alan yang dingin. Tangan Alan langsung menangkapnya. Viola pikir Alan akan menampiknya tapi malah sebaliknya. Alan menelangkup jemari Viola dan menelangkupkan jemari Viola ke pipi Alan bersama dengan tangan Alan.
Rasa takut tadi tiba tiba seolah sirna dengan perlakuan Alan. Membuat Viola terpikirkan untuk ingin melakukan sesuatu untuk Alan.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa Like. komen. vote juga.