Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
Makanan Penghipnotis


__ADS_3

Viola jingkrak jingkrak di kamar mandi sambil tangannya memukul mukul daun pintu. Tersenyum lebar sumringah saat ini. Makananku di makan, hya!!! Masakanku di makan olehnya qiqiqiqi rasanya senang sekali.


Tapi pikiran yang melesat tinggi dalam kesenangan itu tiba tiba terbanting begitu saja, saat Viola melihat jam tangannya kalau ini sudah hampir sore hari dan pasti perawat yang sesungguhnya sebentar lagi akan datang. Karena tadi asisten Markus bilang kalau ada kecelakaan yang membuat perawat Alan harus datang sore hari. Kecewa.... tapi harus bagaimana lagi seperti takdirnya memang harus begini.


Menunduk lesuh Viola keluar kamar mandi. Langkah kakinya seakan terseret-seret pasrah. Tak jauh darinya dari lorong samping dia berdiri ada beberapa penjaga rumah berlarian kepadanya dan berhenti di sampingnya.


"Ada apa?” tanya Viola.


Nafasnya terengah-engah. “Tuan muda ingin mandi saat ini. Nona di suruh masuk ke kamar rawat sekarang juga.”


Dengan jarum infus yang masih menancap tajam di pergelangan tangannya. Alan terbaring dan tertidur di ranjangnya. Karena seharian ini Alan belum terkena air sama sekali dan yang pasti membuat tubuhnya terasa lengket dan membuat Alan tak tahan untuk tak mandi sekarang juga. Alan menyuruh penjaga untuk memanggil Viola supaya memandikannya dengan air hangat sekarang juga.


Ketika suara ketukan pintu terdengar, Alan mengira itu pastilah Viola yang datang.


“Masuk.”


Tak salah duga. Benar Viola yang datang dengan satu baskom air hanyat dan kain lap di dalamnya. Pertama masuk, Viola sempat tak enak diri karena kini hanya dirinya dan Alan saja di ruangan tersebut. Perlahan kaki Viola maju kearah tempat tidur Alan. Pelan pelan meletakkan baskom di nakas samping ranjang. Alan cuek cuek aja seperti tidak ada orang di sampingnya. Lalu Viola yang disampingnya memberanikan diri bicara dengan sopan dengannya.


“Aku bantu kau duduk ya.”


Alan mengangguk begitu saja. Lalu di bantunya duduk dengan sangat hati hati tanpa berani mata Viola menatap muka Alan di depannya. Setelahnya Viola memeras air hangat yang ada di lap handuk kecil tersebut, perlahan dia usapkan ke tangan Alan. Tangan kiri tangan kanan.


“Apa kau akan memandikan tanganku saja, bukannya tadi aku menyuruhmu memandikan diriku.”


Membeku pikir dan tubuh Viola. Sepertinya dia sedang melakukan kesalahan besar. Dengan sangat gagu dan kepala menunduk, Viola berucap. “A. Aku minta maaf. Aku tidak berani--”


Kalimat Viola terpotong oleh perkataan Alan saat ini. “Buka bajuku sekarang."


Seakan bedug memukul jantung Viola. Sekejab Viola congakkan kepalanya menghadap Alan, tapi cepat cepat dia turunkan pandangannya. Viola mengingat kalau Dion yang sekarang ini bukanlah Dion yang dia tahu dulu. Dion yang sekarang ini adalah Tuan muda yang kaya raya juga sangat berkuasa, Viola tak berani berkutik apapun. Dia merasa sangat canggung seribu kali lebih canggung ketika dia berbicara dengan Dion yang sekarang dibanding dengan Dion yang dulu saat menjadi penjaga laboratorium.


“Kenapa diam saja. Lakukan sekarang.”


Tersadar. “Ah. Iya. Iya Tuan Dion.”


Perlahan lahan kedua tangan Viola mengarah ke kancing kemeja Alan. Tak cepat melepaskan kancingnya malah tangannya begitu gemetaran gugup tidak karuan. Ini tidak sama dengan yang dulu Viola lakukan dengan Alan waktu saat bercinta. Yang waktu itu seakan rasa malu hilang begitu saja tertutup oleh hawa nafsu mereka masing masing. Tapi kini membuka baju dengan penuh kesadaran membuat.... Jantung Viola berdegub kencang. Deg. Deg. Deg. Layaknya benda tumpul memukul mukul rongga tubuhnya.


Pandangannya tetep satu arah ke dada Alan tapi tangannya serasa benar benar tak sanggup melakukan apapun disana.

__ADS_1


.


.


.


Lalu sebuah tangan meraup jemari Viola yang Gugup. Menarik hingga posisi mukanya begitu dekat dengan muka Alan. Viola memejamkan matanya erat erat. Mengernyitkan mukanya lalu perlahan dia buka matanya. Matanya tercengang menyadari posisi mukanya saat ini begitu dekat dengan muka Alan. Membuat tangannya lebih gemetar lagi saat tangannya masih tergenggam tangan Alan dan Alan begitu tajam terus menatapnya. Tidak tahu apa yang ada dipikiran Alan saat ini. Tapi posisinya saat ini tak bisa membuat Viola berkutik kemanapun juga. Di cengkeraman kuat oleh Alan.


“Cepat mandikan aku sekarang. Atau aku suruh keluar kau sekarang juga.”


“Ba. Baik Dion. Ah. Maaf,Tuan Dion.”


Dilepaskannya begitu saja cengkraman Alan ke Viola membuat reflek Viola mundur ke belakang. Dan kembali perlahan Viola melakukan tugasnya. Membuka baju Alan dengan penuh kehati-hatian dan segera mungkin mengelap tubuh Alan sampai dirasa bersih olehnya.


Di lap nya terus dan terus tanpa Viola melihat ekspresi Alan yang saat ini. Viola tidak tahu kalau ternyata sentuhannya itu malah membuat rasa gelenyar tersendiri, rasa yang membuat diri Alan tak tertahankan lagi untuk tak melakukan apapun terhadap Viola. Alan Raup tubuh Viola lalu Alan ciumnya lembut. Alan lum*t bibir Viola. Terkejut Viola. Mata Viola terbelalak lebar serasa tubuhnya kaku saat di dekap oleh Alan. Ciuman itu terus berlanjut dan berlanjut. Yang membuat aneh kali ini. Alan menutup matanya. Biasanya dia tidak akan menutup mata kalau berciuman dengan orang yang tak dia suka secara hati.


Tiba tiba Viola mendesis... "Agh Dion, sakit kau mengigit ku."


Alan terhenti sejenak, matanya yang berkabut memandangi Viola, tapi dia kembali melum*t bibir tersebut dengan menutup mata kembali. Membuat Viola kali ini harus mencengkeram kuat baju Alan, saat Alan malah lebih kuat menses*pi bibirnya.


Pintu kamar mendadak terbuka. Markus terkejut sangat terkejut kakinya refleks mundur kebelakang. Pemandang yang tak biasa itu membuat dirinya memalingkan mukanya kesamping. Alan yang menyadari Markus datang. Perlahan dia lepaskan ciumannya pada Viola. Dan melepas tubuh Viola dari cengkeraman. Setelahnya Viola baru sadar kalau ada Asisten Dion datang. Geragap dirinya langsung salah tingkah, membenahi pakaiannya yang sedikit kusut. Cepat cepat dengan gerak menunduk Viola membawa baskom air tadi keluar dan berpamitan ke dapur.


Markus sedikit tersenyum tipis dan mengiyakan apa yang Alan katakan. Pikirnya kalaupun iya suka juga tidak masalah. Lagian Nona tadi sangat sopan dilihatnya.


“Perawat yang aku pesan tadi sudah datang Tuan.”


“Langsung suruh buatkan aku bubur seperti yang Viola bikin tadi. Terus berikan Viola upah untuk seharian ini dan suruh penjaga mengantarnya sampai ke jalan besar.”


Dari perintah itu Markus langsung mengangguk kepala dan keluar ruangan untuk melaksanakan apa yang Tuan muda perintahkan padanya. Markus langsung memberikan perintah untuk perawat yang sesungguhnya dan dia adalah wanita setengah baya dan dia langsung memasak di dapur sesuai permintaan Alan.


Kini Markus ke ruang tengah tempat Viola duduk duduk. Menyadari Markus datang Viola langsung beranjak berdiri dari dudukannya.


“Iya Tuan. Apa ada perintah dari Tuan Dion.”


Markus menggeleng kepala. “Tidak. Tidak ada, hanya saja pekerjaan mu sudah selesai hari ini. Perawat Tuan Dion sudah datang,” Markus mengeluarkan amplop uang dari sakunya. “terimalah ini. Buat kerja kerasmu seharian ini dan jangan menolaknya karena ini kerja kerasmu.”


Markus menyodorkan amplop itu ke Viola. Belum sempat di tolaknya Markus sudah memohon untuk diterimanya amplop tersebut. Membuat Viola tak bisa berkata apapun selain menerima amplop tersebut.

__ADS_1


“Tap. Tapi Tuan... Bolehkah saya berpamitan dengan Tuan muda Dion dahulu sebelum pulang.”


Markus mengangguk seraya berkata, “Baiklah Nona.”


Di dampingi Markus Viola berjalan di belakang Markus. Kembali masuk keruangan yang membuat jantungnya tadi berdegub kencang. Saat pintu terbuka pandangan Viola seakan salah tingkah, perlahan dia berjalan ke dekat Alan dan segera berpamitan pada lelaki yang di sukainya saat. Berat hati sebenarnya dan juga kecewa. Tapi bagaimana lagi Viola memang tak bisa lama lama disini karena dia hanyalah pengganti saja...


“Saya—mau pamit Tuan. Terimakasih upah yang di berikan kepada saya... Saya pamit dulu.”


Ciuman yang seharusnya menjadi pertanda antara kedekatan mereka berdua, ternyata hanyalah sebuah mimpi belaka. Tak ada kata terimakasih atau tatapan lembut untuk Viola. Alan yang sibuk dengan laptop nya hanya mengangguk satu kali tanpa menoleh ke arah Viola yang sedang bicara dengannya.


Tatapan ironi Viola lakukan untuk dirinya sendiri. Perlahan dia mundur dari langkahnya yang kini telah berlalu keluar kamar dan diikuti 2 penjaga yang akan mengantarkannya sampai jalan besar. Yang sebelumnya dimana Markus sudah menunduk berterima kasih kepada Viola untuk seharian ini.


Langkahnya semakin jauh... Viola sudah di pelataran depan rumah Alan. Alan yang bisa melihat Viola dari balik kaca ruang perawatannya. Sejenak dia melihat Viola dari balik kaca, menatap juga melihat Viola yang akan keluar pintu gerbangnya.


Tapi pandangan seperti itu tadi tak lama harus berbalik lagi, seakan tak menghiraukan Viola yang sudah tak lagi dirumahnya. Dan dari pintu luar. Markus kembali bersama perawat yang baru. Dengan satu mangkok bubur di atas nampan yang tentunya terlihat lebih cantik penampilannya dari pada bubur buatan Viola.


Di letakkan nya nampan berkaki empat itu di hadapan Alan. Pertama Alan endus dan langsung dia makan. Diam Alan langsung menyunyahnya. Tapi apa yang terjadi. Alan membuang sendoknya begitu saja di atas nampan tersebut. Raut mukanya terlihat sangat tidak senang sama sekali. Dan memerintahkan Markus untuk menyingkirkan bubur tersebut. Lalu berucap.


“Bawa kesini lagi perempuan tadi.”


Membeliak mata Markus. Apa mungkin karena bubur buatan gadis tersebut sehingga membuat Alan kembali memanggil Viola untuk kembali. Cepat cepat Markus sendiri yang mengendarai mobil dan menyusul Viola yang mungkin sudah berlalu dari jalan besar.


.


.


.


.


.


Novel ini sebenarnya sudah mau tamat. Tapi sedikit Thor tambahin special cerita Alan dan Viola. semoga kalian tetap terhibur.


Up 1/3 chapter


Jangan lupa like, komen and Vote dari kalian..

__ADS_1


by UlanZu.


__ADS_2