
Waktu setelah penembakan yang dilakukan Key kepada Alan. Pria berambut pirang itu meringkuk, meringis merintis kesakitan sembari tangannya berusaha menekan darah yang terus mengalir deras dari dadanya. di sisi tak jauh darinya ada beberapa orang berkerumunan melihatnya, tapi belum ada yang berani menolongnya hanya mereka para pasien yang melihatnya meneriaki perawat perawat yang ada disana.
Suara tembakan tadi membuat Viola terperanjat cepat keluar ruang perawat. Beberapa perawat lari bersama dirinya. Hati dan pikirannya entah dari mana lebih gusar dari teman lainnya. Terus ia berlari. Berlari lebih cepat dari teman temannya. Ingin sekali melihat siapa yang tertembak dan siapa pelakunya.
Tapi kaki itu tiba tiba terhenti kaku bergeming. Dari jarak sekian meter terlihat jelas pria yang telah terbuka wig nya itu sedang meringis merintih, aliran darah mengalir deras membasahi bajunya. Gemetar tubuh Viola tapi geragap dia cepat menopang tubuh Alan. Tak bisa terelakkan. Air mata yang masih tertahan di kelopak matanya ingin menetes begitu saja tanpa ada yang menyuruhnya keluar dari persembunyiannya.
Suaranya panik. “Tolong baik baik saja. Kau akan baik baik saja.”
Alan yang sudah mulai tak sadar diri hanya bisa lunglai. Dia tak bisa melihat jelas siapa yang ada didekatnya. Alan hanya memberikan ponselnya ke perempuan itu dan meminta asistennya kesini yang sebelumnya Alan telah menolak di rawat di rumah sakit tersebut oleh ajakan Viola.
Cepat cepat Viola mencari kontak telepon asistennya. Memberi kabar secepat mungkin untuk segera membawa Alan. “Kau akan di rawat disini.”
Tangan yang bersimbah darah itu perlahan mencengkram baju Viola. “Aku tidak mau. Bawa aku pulang.”
Alan begitu keras kepala, membuat Viola juga perawat lainnya jadi kebingungan. Alan sendiri sama sekali tidak mau di rawat dirumah sakit tersebut dan tak memberikan alasannya.
Lalu tak lama suara beberapa hentakin larian kaki berdatangan. Orang orang berbaju hitam dan yang satu berlari dibelakang mereka menyusul Dan cepat memberi instruksi untuk mengangkat Alan ke dalam mobil mereka. Viola kebingungan ia berdiri dengan bekas darah ditangannya lalu bertanya tanya... Siapakah Dion sebenarnya. Lalu sang asisten tiba tiba meminta Viola untuk ikut mereka untuk berjaga jaga di perjalanan saat Alan kesakitan.
Begitu banyak yang Viola pikirkan selain masih di jam kerja, Viola masih sangat gelisah dengan keadaan Alan. Lalu salah satu teman Viola yang melihat ekspresi Viola yang tengah berdiri gundah, dia segera menghampiri Viola dan cepat menyuruh Viola untuk ikut mobil tersebut dan temannya itu menawarkan diri menggantikan pekerjaannya Viola saat ini.
Rasa pilu juga kesenangan membuat Viola menatap berterima kasih lalu cepat cepat dia naik ke dalam mobil tersebut dan langsunglah mobil itu melaju cepat. Hingga ke rumah yang bak rumahnya sang pangeran. Semua terlihat sangat indah seindah paras muka Alan yang terus Viola tatapnya kali ini.
Saat seperti ini Viola tak peduli dengan keindahan itu semua. Dalam hatinya sedari tadi hanya berdoa. Tolong bertahanlah, tolong bertahanlah kau pasti akan baik baik saja. Dari luar, para bodyguard itu membawakan ranjang brankar rumah sakit dan cepat cepat membawa Alan ke ruang bak mini klinik. Ada satu ruangan tapi ruangan itu begitu besar berjajar jajar peralatan medis disana dan disamping ada ruangan tertutup disebelahnya yang terlihat seperti laboratorium mini dan kemungkinan besar itu milik Dion. pikir Viola.
Beberapa dokter sudah menunggu datangnya Alan di ruangan tersebut. Membuat Viola yang berdiri seakan berdiam diri, dia sungguh terperangah tak percaya apa yang dia lihat saat ini. Sampai Alan di bawa masuk ruangan Viola hanya bisa menunggu di luar ruangan. Termenung berpikir.... Membuatnya seolah dirinya tak percaya... -Apakah dia salah menyukai seseorang-
Pertama dia dulu hanya menyukai seorang petugas penjaga laboratorium yang mungkin setara dengannya yang seorang perawat, tapi yang dia dapati saat ini membuat dirinya minder tiba tiba kakinya berjalan mundur-- mundur-- dia takut kalau dia nantinya akan jadi benalu saja buat Alan yang ternyata Alan adalah seseorang yang kaya raya. Ditambah lagi perlakuan Alan yang sangat dingin padanya membuat dia bertambah minder untuk kedua kalinya. -Benar saja Alan tidak mau dengannya mungkin jijik dengannya apalagi dia hanyalah perawat miskin yang tak punya apa apa- perkiraan Viola.
Langkahnya yang mundur itu. Mendadak terhenti saat ada tangan dari belakang menahannya.
“Anda kenapa, Nona?” tanya asisten Alan.
Terkejut Viola langsung berbalik badan dan memberikan hormat. “Sa.saya mau pulang. Tuan Dion sudah ada Dokter yang merawatnya.”
Markus tersenyum. “Bisakah Nona sementara disini dulu. Tuan Dion pasti akan bertanya siapa yang menolongnya. Yang pasti Tuan akan menemui orang tersebut. Tapi karena anda sudah ada disini. Maukah Nona menunggu sampai Tuan Dion siuman. Nona bisa istirahat di kamar tamu.”
“Beri tahu saja kalau nama saya Viola, maaf. Bisakah anda mengantar saya sampai jalan besar. Saya tadi tidak begitu mengamati jalan masuk ke perumahan ini."
Nona yang sangat sopan juga cantik. Apa dia temen dekat Tuan di rumah sakit. Sepertinya dia gadis yang baik. Markus tersenyum sopan. "Saya sudah minta ijin ke tempat anda bekerja. Dan mereka mengijinkannya. Jadi saya harap Nona mau menunggu sebentar disini."
Viola menggigit bibir bawahnya sendiri. Sejenak berpikir dan akhirnya mengiyakan apa yang asisten itu minta padanya.
“Baiklah. Tapi saya menunggu di ruang tamu saja Tuan."
Markus menyuruh anak buahnya mengambilkan minum dan beberapa makanan ringan untuk Viola yang menunggu di ruang tamu. Segala rerentetan proses Operasi pengangkatan peluru sudah di lakukan dan sakit Leukimia yang Alan derita juga sudah sedikit berkurang rasa sakitnya. Selama tertidur sampai 3 jam akhirnya Alan perlahan membuka mata. Siuman dari tidurnya tadi.
Tampak dari layar monitor di ruang jaga dokter mengetahui Alan terbangun 2 orang dokter berlari cepat masuk keruangan Alan dan segera memeriksanya Ulang. Alan mengerenyit sedikit tak nyaman dari sakitnya. Ia pandangi di sekelilingnya baru dia sadar kalau ini di mini klinik miliknya sendiri. Salah satu Dokter berdiam sopan dan yang satunya akan berucap mengenai keadaan Tuannya saat ini.
“Tuan. Peluru yang bersarang di tubuh anda sudah berhasil kami angkat. Tap. Tapi kesehatan Tuan masih harus tetap di jaga. Leukimia Tuan, besar kemungkinan sangat mempengaruhi kesehatan Tuan. Dan.. dan ini sangat di butuh perawatan khusus untuk beberapa hari ini.”
“Kalian keluarlah. Aku sudah tahu. Panggilkan asisten ku.”
Tak lama asisten Alan sudah lari tergopoh gopoh masuk keruangan Alan. Di situ juga kedua Dokter itupun berlalu meninggalkan ruangan atas seruan Tuannya.
__ADS_1
“Kau kemana saja?”
Menunduk. “Maaf Tuan muda, saya baru saja dari ruang tamu. Seorang perawat bernama Viola dia baru ingat kalau Ponsel Tuan bersamanya dan barusan dia berikan kepada saya.”
Mata Alan membeliak. “VIOLA. Bawa dia kesini. Ingat jangan kasih tahu nama asliku.”
Menunduk kembali. “Baik Tuan.”
Satu ruangan itu terus Viola pandangi. Hanya satu ruangan saja sudah membuatnya takjub. Membuat matanya bertebar kemana-mana melihat disekelilingnya yang begitu mewah juga sangat indah di pandang mata. Tapi sangking lamanya menunggu terkadang secara refleks Viola menganggukkan kepalanya sendiri karena kantuk yang kadang menderainya.
Markus berdehem. “Hem. Hem. Nona, anda di panggil Tuan muda.”
Refleks Viola terhenyak matanya membeliak sumringah. “Dia sudah bangun.” Nada antusias membuatnya langsung berdiri dari duduknya tadi.
Markus tersenyum. “Ia Nona. Mari ikut saya.”
Dari belakang langkah kaki Viola segera mengikuti asisten nya Alan. Begitu antusias ingin melihat Dion yang sudah siuman dan selamat dari kritisnya tadi. Setibanya tak jauh dari pintu... tiba tiba malah rasa gundah resah dalam hatinya yang seakan malah menyusut menciut ketika dirinya sudah sangat dekat dengan pintu mini klinik tersebut. Dalam genggaman tangannya, jemari Viola seolah menggigil takut kalau Alan tak mau menerimanya. Mengingat waktu di jembatan dulu Alan begitu cuek dengannya.
Langkahnya terhenti. Membuat Markus berpaling dan mereka-reka, kenapa gadis ini diam dan terlihat gemetar tubuhnya. “Apa kau sakit,Nona?”
Viola menggeleng kepala. “Tidak Tuan tapi saya takut Dion tidak suka melihat saya.”
Markus tersenyum tipis. “Tenang saja Nona. Ini perintah Tuan sendiri. Ayo masuk Nona.”
Markus kini telah masuk duluan dan di barengi langkah kaki Viola yang seolah serasa berat dan dengan hati yang amat gusar. Viola paksa dirinya sendiri untuk masuk ruangan tersebut. Lalu terlihatlah Alan berbaring lemah di ranjang dengan selimut sampai pinggangnya.
Viola menunduk seraya menenggelamkan bibirnya perlahan mendekat ke samping Dion bersama Asistennya. Alan berpaling memandang Viola. Viola langsung menunduk lagi. Tapi Alan malah membatin jelek lagi ke perempuan Baik hati tersebut. Kenapa gadis naif ini lagi. Gadis murahan yang menggratiskan tubuhnya. Dasar gadis bodoh.
Terperanjat, pupil mata Viola membesar saat masih menunduk dan dia langsung menghadap muka arah Alan. “Itu. Aku Cuma bantu kamu menelfokan asisten mu.”
Alan tak menyahut kata apapun. Hanya mengendikkan matanya pada Markus. Yang bisa terbaca oleh Markus -kalau Alan tak mau wanita ini disini dan cepat memberikan sinyal ke Markus agar Markus segera memberikan upah yang setara untuk gadis tersebut dan segera dipersilakan gadis itu keluar dari kediamannya-
Tapi disisi lain malah Markus bingung, kenapa Tuannya malah menolak gadis sebaik ini. Tapi ini adalah perintah dan terpaksa Markus harus melaksakannya sesuai perintah Tuannya. Ketika Markus berseru dan mengajak Viola untuk keluar ruangan Viola sedikit kecewa. Bibirnya berkatup kekecewaan. Pandangannya hanya sekilas memandang Alan dan perlahan teralihkan bersamaan dengan tubuhnya yang perlahan perpaling akan berjalan menjauhi ranjangnya Alan.
Tapi, Alan malah batuk batuk dan mengeluarkan sepercik darah. Markus kembali gugup. Memberi perintah ke dokter untuk kembali keruangan mereka. Setelah mereka datang. Kembali Alan diperiksa bahwa sebenarnya batuk itu batuk biasa hanya saja bekas peluru tadi yang membuat beberapa aliran darah belum kembali normal. Jadi batuknya akan sedikit mengeluarkan darah, tapi sebenarnya itu tidak apa apa. Lalu si Dokter yang iku bekerja bersama Alan menganjurkan untuk segera meminum obat dan di lakukan sebelum makan. Sebenarnya Alan sudah lebih tahu apa yang akan terjadi pada tubuhnya. Selebihnya dia hanya malas memikirkan nya.
“Sudah kau pesankan perawat untukku. Markus?”
Markus terlihat gelisah sembari melihat jam tangannya berulang kali. Seharusnya sih perawat yang di pesannya sudah datang tapi tampaknya belum nongol juga. Sedangkan Viola sebenarnya sudah ikut gelisah tapi dia tak berani berbuat apa apa sembari menunggu Markus tadi memberi instruksi untuk anak buahnya mengantarkan Viola ke rumah sakit kembali.
Markus menoleh ke arah Viola. “Bukankah kau juga perawat.” “Tuan bagaimana kalau ... Kalau Nona Viola ini sementara waktu merawat Tuan sehari ini.”
Alan yang diam hanya menatap keras tubuh dan muka Viola. Sementara itu jelas Viola tak berani mendongak kepala saat Alan menatapnya seperti itu. Sebenarnya Alan bukannya jijik hanya saja dia tidak suka cewek yang gratisan yang menggratiskan tubuhnya. Apalagi dengan memasang tampang polos seperti itu bisa saja membuat asumsi kalau cewek ini gadis baik baik saja, tapi orang tidak tahu kalau dia lebih murahan dari pada gadis bayaran.
“Baiklah,” Timbal sinisnya. “buatkan aku bubur ayam sekarang.”
Markus menoleh ke arah Viola, menarik kedua sudut bibirnya. "Nona bersedia kan?"
Hati Viola terasa tergugah atas pertanyaan itu. Di sisi lain ini jelas tidak bisa di tolak. Dan Viola menganggukkan kepalanya. Markus begitu sangat lega. Lanjut Markus memerintahkan penjaga di sana untuk mengantarkan Nona Viola ke dapur rumah Alan.
.
.
__ADS_1
.
.
Setelah Viola dan penjaga telah berlalu. Tinggallah mereka berdua dikamar steril tersebut. Markus segera menanyakan tentang kejadian penembakan di rumah sakit tadi. Markus yang sudah tahu dari rekaman CCTV di rumah sakit. Juga tidak menyangka kalau Alan harus langsung berhadapan dengan Key.
"Apa yang akan Tuan lakukan untuk Key saat ini."
Alan memejamkan matanya. Menghela nafas dalam dan berucap. "Istrinya adalah temanku disana. Gadis yang aku rasa gadis baik baik saja, membuatku belum bisa melakukan apapun. Rencana awal kita biarkan saja dulu. Saat ini... sakitku ini sangat menyiksaku. Aku fokus ini dulu."
Ada beberapa percakapan yang serius mereka katakan di ruang besar tersebut. Sampainya setengah jam kemudian. Rasa lapar itu sudah mulai menggaruk-garuk perut Alan. minta sesuatu untuk dimakan.
"Panggilkan Viola. Buburnya sudah siap belum."
Markus segera keluar ruangan. Mengecek ke dapur. Dan beberapa menit barulah selesai. Di depan mata Markus hidangan bubur ini terlihat sangat sederhana dan mungkin rasanya pastilah sederhana seperti bubur bubur biasa. Ada dua nampan, yang satu untuk Alan yang satu untuk testimoni saja, untuk Asisten Markus.
Jemari Markus mengambil sendok dan mulailah di cicipinya sebelum sampai termakan oleh Tuannya. Eeemm... dalam hatinya. Enak! penampilannya biasa saja tapi rasanya bisa seenak ini. Markus mengacungkan dua jempol untuk Viola dan senyum manis itu langsung tergurat halus di pipi halus Viola.
.
.
.
.
Dibawanya nampan itu ke hadapan Alan. yang sudah di bantu duduk oleh Markus. Alan melengos jengah. Makanan apa ini, penampilannya jelek dan sederhana banget.
"Kau tidak bisa masak ya." ucapan ketus Alan.
Kecewa raut muka Viola. Bahkan belum di cicipin saja Viola sudah dapat hinaan. Markus langsung menyela. "Cicipi dulu Tuan muda. Aku mencicipinya dan rasanya lumayan enak."
"Tidak mau aku. pesankan di restoran saja!"
Masakan yang sudah dimasak dengan sepenuh hati sayang kalau di buang begitu saja. Viola memberanikan bicara kali ini. "Tuan Dion. Seharusnya kau tak melihat dari penampilannya saja."
Sedikit terkejut. Viola berani juga bicara dengannya. "Baiklah. ini karena aku lapar. Bawa kesini nampannya."
Satu sendok dia ambil, mimik mukanya terlihat sekali kalau Alan males untuk makan. Pertama-tama dia endus dulu bubur tersebut. Lalu perlahan lahan dia masukkan ke mulutnya. di ***** di ***** semakin dilumat dan kenapa semakin enak. ternyata sangat enak. Tak menoleh kemana mana Alan terus memakannya. Viola tersenyum disana begitu juga Markus.
Tak lama Alan menaruh begitu saja mangkok ke nampan. dengan muka yang masih terlihat jengah dan berucap. "TIDAK ENAK!"
Tapi kata itu malah bikin Markus dan Viola tersebut meringis tertawa kecil. Bagaimana tidak. Kata tidak enak tapi sebulir nasipun tidak ada. kosong kerongtang mangkoknya.
.
.
.
.
Aku kasih Extra part special Alan Viola dulu ya... Key ma Feirvy menyusul.
__ADS_1