
Melaju dengan kecepatan penuh, Key tak peduli dengan teriakan Feirvy yang merajuk untuk memperlambat laju mobilnya. Dari kejauhan para penjaga gerbang begitu sangat tegang. Mobil Tuannya melaju sangat cepat. Gerak cepat mereka segera membukakan pintu gerbang Tuan mereka.
Berhenti di depan teras rumah. Key Keluar dan cepat membuka pintu mobil menarik tangan Feirvy dan berjalan cepat masuk rumah. Key langsung masuk ke kamar mandi dan di bawah shower Feirvy seakan terpelanting terpapar sisi tembok. Feirvy mengernyit. Mata Key menajam ke mata Feirvy dan dihidupkan nya air shower, sehingga Membuat perlahan Feirvy basah kuyup terkena guyuran air shower dari atasnya.
“CUCI DIRIMU SAMPAI BERSIH!!!! KAU SUDAH DIAPAIN SAJA OLEH ALAN. SAMPAI SEPERTI ITU KAU MEMBELANYA!!” Cecar kasar Key.
“KAU PIKIR AKU APA!!! KAU PIKIR AKU WANITA MURAHAN, HAH!!! Dia sedang sakit parah dan itu tempat umum!”
“FEIRVYY!!!! TIDAK BISAKAH KAU TIDAK SELALU MELAWANKU!"
“Aku tidak salah....”
Feirvy perlahan tak bisa menahan air mata harus keluar dari ekor matanya dan itu membuatnya terus menatap tajam pula ke mata suaminya. Terpikirkan oleh Feirvy. Kenapa jadi seperti ini... mana yang benar mana yang salah... Aku hanya tidak ingin dia membunuh orang yang sedang sakit dan di itu tempat umum.
Sedangkan Key tahu betul kalau Alan itu berbahaya hanya saja Key tidak tahu kalau Alan sudah mulai melemah dengan istrinya sendiri. Sedangkan saat ini amarah Key masih membara pikiran buruk beradu dalam hatinya. Bahwa Key tak pernah rela istrinya dekat dengan orang lain atau bahkan pernah tersentuh musuhnya sendiri. Mata Key terus menajam keras, tangannya yang memegangi kuat lengan istrinya seakan semakin mengeras dan tiba tiba membuang melepas lengan itu begitu saja. Bergerak cepat, Key berjalan keluar kamar mandi, sambil membanting pintu kamar mandi dan yang sebelumnya Key sudah berseru keras. “BERSIHKAN TUBUHMU SAMPAI BERSIH! Hilangkan bekas Alan sampai bersih dari tubuhmu itu!!”
Setelahnya di tinggal Key. Feirvy terdiam... merenungi kesalahannya, Semua ini tak ingin terjadi... Key tak pernah Semarah itu dengannya. Membuat hati itu terasa sangat perih harus menghadapi suaminya yang tengah marah. Hingga Feirvy berpikir tak mau seperti ini lagi. Feirvy tak mau kehilangan dan dijauhi suaminya sendiri.
Memikirnya semua itu... Hatinya seakan runtuh hanyut membuat tangannya penutup pandangannya sendiri. Feirvy menangis deras mengucurkan air mata hangat yang terus mengalir dipipinya juga suara sesenggukan hingga terdengar Keluar kamar mandi. Sampai terdengar dari keluar kamar itu... Key yang masih di ruang kamar begitu teriris hatinya, terasa tersayat mendengar istrinya menangis menggeru. Tapi ini buat istrinya untuk tidak selalu melawan dirinya dan lebih hati hati dalam hal apapun.
Dan rasa amarah itu masih begitu kental. Membuat Key belum bisa langsung memaafkan istrinya. Apalagi mengingat bagaimana Feirvy malah membela sampai menjadi tameng buat Alan. Memikirkan itu semua membuat Key ingin menenangkan diri dan keluar dari kamar tersebut.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian. Feirvy yang matanya merah sembab itu tengah terbaring ke samping menyelimuti tubuhnya sendiri dengan selimut tebal. Ruang yang kosong itu bertambah hening ketika Feirvy hanya Terdiam termenung di dalam kamar sendirian tanpa ada Key di sana. Mencoba menelaah tentang kejadian hari ini. Berusaha mencari titik salahnya sendiri. Mencoba memahami isi hati suaminya yang tak menemaninya saat ini. Rasa takut kini malah seakan berselimut dalam hatinya. Takut kalau Key terus terusan marah seperti ini. Bahwa Feirvy tak bisa jauh dengan suaminya. Pikiran itu terus ada dalam pikiran Feirvy, ketika Feirvy ingin keluar kamar dia malah mendapati pintu kamarnya terkunci dari luar. Menunduk disitu,terdiam lalu kembali lagi langkah kakinya ke tempat tidurnya.
Membaringkan tubuhnya kembali, terus menunggu dan menunggu suaminya datang padanya dan mau memaafkannya saat ini. Tapi itu tidak terjadi. Yang ada malahan mata sembab itu membuat matanya mengantuk yang tak tertahankan lagi, dan akhirnya membuat Feirvy tertidur lelap dengan sendiri tanpa seorang suami di dekapnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Selang beberapa waktu. Key datang membuka kunci pintu kamarnya. Tatapan matanya seakan sayu... mendapati istrinya tertidur lelap, melihat semua itu seakan rasa emosinya meredup. Kakinya perlahan mendekati tidurnya Feirvy. Duduk di pinggiran ranjang. Key menipiskan bibirnya sendiri seraya terus memandang lembut istrinya. Tidak tega harus memarahi Feirvy seperti itu. Tapi pikir Key Feirvy selalu melawan dengannya tanpa Feirvy sadari kalau ada bahaya disana.
Menggaris bawah telunjuk Key ke paras muka Feirvy. Menatap pilu wajah itu lalu tersirat kata maaf yang terucap dalam hatinya. Setelah beberapa menit Key terdiam menatap istrinya yang sudah tertidur, tak lama Key berdiri mau meninggalkan istrinya agar istirahat terlebih dahulu.
Tapi! ketika tubuh Key sudah beranjak berdiri. Mendadak Feirvy memanggil keras namanya. Feirvy meranjuk, meloncat, menggelantung ke tubuh Suaminya. Sontak bola mata Key melebar bulat sempurna. Ia terkejut tak menyadari kalau istrinya mungkin sudah terbangun sejak tadi waktu dia terduduk di sampingnya.
“Jangan pergi...” Ucap Feirvy.
Gerak cepat Feirvy yang impulsif itu membuat Key harus menahan kuat tubuh Feirvy kepinggul nya sembari kedua tangan Key menopang pinggul istrinya. Awalnya Feirvy hanya menunduk terdiam tak berani menatap mata suaminya sedangkan Key dengan jelas terus lurus memandang istrinya dengan kelakuannya yang mendadak seperti itu.
Pelan dan sangat lirih... Feirvy yang masih menunduk berkata lirih... “...Maafkan aku.”
Key masih terdiam dan terus menatap istrinya. Dan sampai akhirnya setelah itu Key berucap. “Apa Cuma itu.”
Masih tergendong di depan tubuh suaminya. Feirvy memandang suaminya, tapi masih tak bergerak terdiam disana. Tak lama pandangan itu berubah menjadikan tangan Feirvy memegang halus rahang pipi suaminya dan... Bibir kecil itu sedikit demi sedikit maju kedepan dan perlahan menempelkan bibirnya ke bibirnya Key. Masih tertahan disana perasaannya Feirvy masih takut kalau suaminya marah lagi, tapi dirinya ingin minta maaf dan mungkin cara ini akan berhasil.
Di kumpulkan keberaniannya. Feirvy buka bibirnya sendiri, perlahan bibir itu sedikit demi sedikit ******* halus bibir Key. Jantung Feirvy seakan berdegub kencang hingga mungkin terasa oleh Key yang dadanya begitu dekat dengannya. Tangan Feirvy kini terasa lebih mengerat ke kerah baju suaminya dan terus menerus menciumi suaminya yang masih belum mau membalasnya dan hanya terdiam disana tanpa merespon ciuman sang istri dan hanya menerima perlakuan istrinya yang sudah mulai agresif dengan tingkahnya sendiri.
“Key ...” Suaranya yang sudah parau.
“Hmm..”
“Iya.”
Hati Feirvy murung kecewa. “Kalau aku menciummu lagi apa kau akan maafkan aku."
Tampak berfikir dan terdiam lalu tak lama, Key bersuara. "Kalau kau membuka bajumu dan bermain sendiri untukku. maka aku maafkan dirimu."
Tersekat! bermain sendiri tap. tapi itu arti hanya aku sendiri yang melakukan padanya. Lalu harus mulai dari mana. Mungkin buka bajuku duluan lalu melakukan lainnya. Pikir Feirvy terlihat dalam memikirkan suruhan suaminya sendiri tadi. Di depan Key yang yang masih menggendong dirinya, pertama Feirvy satu persatu membuka kancing pengait bajunya. Tak lama setelah itu, malahan jantungnya berdecak begitu kuat. Hembusan udara seakan membuat gelenyar kuat ketubuh Feirvy saat baju dan bra-nya terlepas semua.
Birahi yang secara tiba tiba datang pada tubuh Feirvy membuat tangan mungil Feirvy merem*s dada Key yang sudah setengah telanjang yang sebelumnya di buka sendiri oleh Feirvy, kini hembusan nafas Feirvy tengah menyusuri dada hingga ke rahang nya Key dan perlahan tangannya Feirvy menyapu-nyapu dadanya Key membuat Feirvy pelan mendongakkan matanya dan bersuara memanggil suaminya lirih... "Key...." suara yang amat kelam lirih dan parau.
Tak terbendung lagi. Key menelan ludahnya sendiri. Istrinya sungguh pintar merayunya, sungguh pintar membubarkan amarahnya dan beralih ingin terus memilikinya. Key yang sudah tak tahan. Napas panasnya yang sudah mulai cepat. Tatapannya yang terpusat menatap Feirvy yang sudah sangat agresif. Key mendorong kuat setengah membanting tubuh istrinya ke ranjangnya. Tak tahan tak sabar lagi dengan nafsu dan kekuatan Key ***** habis buah d*da Feirvy hingga pemiliknya mengerang kelonjatan menggeliat sampai semakin kuat rasa birahi. "Key...."
"Kau milikku sayang." Ucap Key pasti dan sehabis kata itu. Key buka semua miliknya, membuka milik Feirvy, menyerangnya meng*lum bagian bawah dan melum*tnya sampai terasa kering dan habis. "Aku menyukaimu Feirvy." Setelahnya hentakan demi hentakan posisi Feirvy yang kini menunggingi tubuh Key. Tak bisa tertahan lagi saat benda itu menghujam keras miliknya. begitu terasa dalam hingga saling mengerang bersamaan terpuaskan bersamaan.
.
.
.
__ADS_1
Di balik Pintu kamar.
"Bantu aku melerai mereka." Ajak Nayna ke Verru.
"Biarin saja mereka."
"Kau ini!"
Di dekat pintu Nayna menempelkan daun telinganya ke pintu kayu kamar Key. Terkejut! suara apa itu.
"Verru ... kakak bertengkar ya. Suara nya aneh."
Verru yang bingung ikut menguping di dekat pintu. Tercekat suara Desahan bercinta mereka begitu kencang. Verru cepat cepat menutup kedua telinga Nayna.
Tanya Nayna. "Kenapa?"
"Tidak apa. Hanya saja mereka bergulat."
"Bergulat?" Linlung bahasanya agak aneh.
Verru mendorong paksa kedua bahu Nayna untuk menjauh pergi. "Kok pergi. mereka tidak apa apa kan."
"Tidak. tidak apa. paling kuwalahan saja."
"Kuwalahan saja." bertanya tanya. pikirnya.
.
.
.
.
Like
Komen
Vote
By UlanZu
__ADS_1