Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
Ketegangan


__ADS_3

Diantarnya Feirvy oleh key sampai rumah sakit. Key memang sengaja tak mau gegabah langsung menyerang seseorang yang belum dia yakini, juga belum dia pastikan kalau dia adalah pria yang dia curigai. Feirvy dibiarkan terlebih dahulu bekerja agar memancing mangsa keluar dari sarangnya tanpa curiga. Tapi tentunya sudah di persiapkan orang orang yang berkamuflase menjadi seorang pasien padahal itu adalah beberapa penjaga Feirvy di rumah sakit tersebut.


Tak lama-lama Feirvy keruang kerjanya. Dan di susul Alan yang tiba tiba datang keruang kerjanya lalu duduk begitu saja di depan meja kerja Feirvy.


“Pulang honeymoon sama suami ya.”


Feirvy tersenyum tipis, karena bagi Feirvy Alan termasuk teman disana sama seperti lainnya. “Baru percaya kalau aku punya suami.”


“Aku tadi melihat suamimu. Dia lumayan tampan. Tapi aku lebih tampan dari dia.”


“Hahahaha terserah kamu." "Eemm kemaren aku seperti melihatmu.”


Tergugah pikir Alan. “Dimana?”


“Siapa kamu sebenarnya?”


Rahang Alan seakan mengetat. -Apakah dia ketahuan-


“Maksudmu?!"


“Aku seperti melihatmu kemaren, tapi bukan kamu. Kamu sebenarnya siapa. Kau seorang Profesor bukan. Kenapa masih kerja disini.”


“Aku berhenti kerja dari sini. Aku adalah pasien-mu sekarang. Hari ini aku periksa kesehatan ku. Aku merasa... aku harus fokus menyembuhkan penyakitku ini...”


Hening.... Feirvy mengamati temannya itu seakan ada hal yang tengah dipikirkan nya, terlihat dari nada bicara dan mimik wajahnya.


“Kau ada masalah.”


“Kau mau mendengarkan nya.”


“Tentu kalau kau mau cerita, masih ada waktu senggang buatku.”


.


.


.


“Kenapa terkadang kita sudah berusaha mati matian selalu gagal begitu saja.”


Diam mendengar pertanyaan itu, lalu Feirvy menjawab seadanya dan semoga tepat apa yang ingin di dengar Dion.


“Itu artinya kau di suruh berhenti. Ada kemungkinan yang kau lakukan itu kurang tepat. Dengan berhenti kau akan bisa mengamati di sekelilingmu. Kalau ada hal yang lebih baik lagi untuk di kerjakan.”


Termenung... Kata kata yang terucap dari bibir mungil Feirvy seakan menelusup ke ruang hati Alan. Sejenak Alan kepikiran padahal Alan tadi asal ngomong saja.


Menghela nafas... “Bisa kau periksa aku hari ini.”


“Datang keruang periksaku, nanti aku menyusul kesana.”

__ADS_1


Alan membiarkan semua ini mengalir begitu saja. Meski masih ada rasa ingin mengejar ambisinya lagi. Alan melihat Feirvy orang yang baik. Tidak sepadan kalau Feirvy harus jadi korban dari pertikaian antara dirinya dan Key. Dan selama dia tidak ketahuan. Menurut Alan itu aman selagi dia mencari jalan lain untuk tujuannya nanti.


Di ruang periksa itu. Feirvy mengetahui bahwa Leukemia yang Alan derita bisa jadi sangat parah kalau tidak secepatnya menemukan cangkok sumsum tulang belakang yang cocok dengannya.


“Seharusnya kau sudah harus mendapatkan. Cangkokan sumsum tulang belakang sebelum ini bertambah parah.”


Alan yang terbaring, terdiam menatap ke atas. “Selama aku menjadi profesor kedokteran. Aku belum bisa mendapatkan cangkokan yang cocok buatku.”


.


.


.


****


Terus di intai dimanapun Alan melangkah. Para anak buah Key bekerja dengan penuh kehati-hatian. Bahkan membuat Alan tak dapat membedakan mana yang pasien mana yang bukan. Hingga hari ini tidak ada yang mencurigakan dari Alan. Dan untuk hari ini belum ada laporan yang memuaskan untuk Tuan mereka.


Diruang pemeriksaan pasien. Feirvy di tugaskan untuk memeriksa pasien umum. Kakinya yang mulai melangkah masuk. Satu persatu Feirvy periksa. Hingga di ujung ruangan seorang perawat terlihat duduk menemani seorang nenek yang berbaring sakit. Dan waktunya Feirvy memeriksa nenek tersebut.


Viola terlihat berdiri setengah membungkuk saat Feirvy sudah dekat dengan ranjang pasien. Feirvy tersenyum dan menyapa perawat tersebut.


“Kita bertemu lagi.”


“Iya Dokter.”


Terlihat Viola mengangguk pelan. Bahkan terlihat kalau Viola baru saja selesai menangis. Sebagai seorang Dokter Feirvy paham betul apa yang di rasakan keluarga pasien saat keluarga mereka harus terbaring sakit di rumah sakit. Mungkin tak bisa tergambarkan lagi betapa cemasnya mereka, hati mereka terasa teriris terasa terem*s, kegundahan selalu menghantui mereka. Terkadang mereka tak sanggup untuk tak selalu mengeluarkan air mata mereka untuk keluarganya mereka yang sakit.


Feirvy terdiam. Setalah selesai memeriksa pasien dan memeriksa riwayat sakit pasien tersebut. Tentu saja perawat itu terdiam dan pikir Feirvy. Mungkinkah perawat ini kesulitan untuk biaya operasi. Lalu Feirvy memberi instruksi Untuk Viola agar datang ke ruangannya sore ini.


.


.


.


.


Di ruangan tertutup itu. Berdua Feirvy ngobrol dengan Viola. Saling memperkenalkan nama, hal yang baru dengan percakapan yang membuat Viola akhirnya menceritakan riwayat sakitnya sang nenek. Dan dia adalah anak asuh dari panti asuhan yang diambil sang nenek ketika masih bayi untuk di jadikan anak juga temannya selama nenek itu hidup sendirian. Demi memperjuangkan Viola, agar bisa sekolah sampai jadi seorang perawat. Nenek dulu yang belum terlalu tua telah banting tulang tanpa memperdulikan kesehatannya dan akhirnya sampai titik inilah kekuatan tubuhnya rapuh ditambah lagi penyakit ganas terus menggerogoti tubuhnya.


Viola sembari meneteskan air mata menceritakan itu semua. Rasa iba itu langsung datang dan Feirvy tak berpikir panjang lagi. Feirvy langsung menawarkan diri untuk membiayai semua perawatan juga operasi untuk sang nenek.


Tawaran itu di perkirakan Feirvy bakalan di terima oleh Viola tapi ternyata tidak. Viola menolaknya. Rasa tidak enak, terlalu merepotkan begitu menggunung dirasakan Viola. Bahwa Feirvy serius dengan tawarannya, Feirvy meminta untuk mempertimbangkannya lagi. Selagi masih bisa di rawat dengan baik.


Viola menunduk terdiam. Tampak ada beban berat yang ada di pikirannya. Apalagi tidak mungkin akan membebankan semua perawatan dan biaya operasi yang hampir satu milyar itu kepada Dokternya. Keputusan untuk menimang-nimang terdahulu, Viola Utara kan sebelum perkataan iya.


Berat hati Feirvy hanya bisa menerima keputusan itu. Dan melihat Viola dengan sopan berpamitan dari harapannya.


******

__ADS_1


Hari bertambah hari obat yang dia buatnya sendiri sudah tak mampu menyokong tubuhnya sendiri untuk tetap kuat. Diperjalanan Alan kerumah sakit. Alan belum sempat memakai Wig. Diantarkannya oleh sopirnya. Sementara asisten Alan menggantikan Alan bekerja selama dia sakit.


Bahkan ketika Alan keluar mobil sang sopir cepat cepat mengingatkan kalau dirinya belum memakai wig hanya memakai softlens. Langsunglah 4 mata; mata yang jeli itu kaget bukan kepalang, dari lubang intip mereka terkejut mendapati Alan lawannya Key ternyata selama ini adalah orang yang di curigai Tuannya dan di ketahui mereka kalau Alan sebelumnya sudah dekat dengar Feirvy.


Melapor! mereka segera melapor secepat mungkin kepada Key. Terhentak Key berdiri tegak mendengar kabar itu, berkobar terbangkitlah amarahnya Key. Sebuah pistol dengan peluru lengkap dia bawa di balik saku jas nya.


Wajah yang muram gelap padam. Ia bawa sembari membawa mobilnya sendiri dengan melaju secepat mungkin. Sementara itu diruang terbuka setelah Feirvy memeriksa ulang tubuh Alan. Mereka duduk berdua meski tidak satu kursi tapi Meraka satu tempat peristirahatan di taman depan ruang Feirvy bekerja.


Mobil itu berhenti kasar. Key melangkahkan kakinya lebar lebar. Pikirannya yang terpusat seakan ingin membunuh seseorang begitu melekat. Pandangannya yang tajam mengintai di setiap jalannya.


Apa yang Key dapat. Dua orang yang satu yang dicintainya dan yang satunya yang paling dia benci malah duduk berdua seakan bermain api di belakangnya. Tak peduli apapun. Amarah itu meluap-luap tanpa peduli ini adalah tempat umum. Key tembakkan satu peluru duuaarr tepat ke dada atas Alan hingga Alan berdarah kesakitan karena dia tak menyangka ini akan terjadi. Karena seingat Alan dia tak lagi mengusik pekerjaannya Key. Semua kebringasan sifat jahat seakan kembali menguasai Key tanpa peduli apapun.


Feirvy berteriak kencang minta tolong. Lalu setelah dia tahu kalau suaminya yang melakukan itu-- tercengang melebar membeliak mata Feirvy. Key melangkah lebar lebar kakinya. Dengan nada meninggi Feirvy menghardik suami.


"APA YANG KAU LAKUKAN!! Kau mau jadi preman disini hah."


Mata Key menajam menatap Feirvy, Key tak suka Feirvy bernada tinggi seperti itu. "Kau membelanya."


"Katakan apa salahnya." nada emosi Feirvy.


Sedangkan disana mulailah satu persatu orang berkerumun menyaksikan pertikaian mereka. Apalagi bunyi letukan pistol yang tadi itu membuat mereka ngeri tapi juga penasaran ingin melihatnya. Sedangkan Alan memegangi dadanya yang bersimbah darah. Dan untungnya Key tak menembakkannya tepat di jantung Alan.


Ganti Key melototi Alan yang ada di sampingnya. Key menarik Wig yang Alan pakai. Lalu semua terbengong tak terkecuali Feirvy. "DIA ALAN."


Tercengang Feirvy kakinya refleks selangkah mundur kebelakang. Nama 'Alan' yang pernah Key ceritakan padanya ternyata Dion yang selama ini dia kenal baik.


"Tap. tapi dia berperilaku baik denganku."


Ini malah ucapan yang sangat di benci oleh Key. Dimna dia ingin melindungi istrinya malah istrinya melindungi lawannya. Key todongkan pistol yang kedua kalinya. Ini tak boleh terjadi, ini di tempat umum. Feirvy menghadangnya karena Feirvy tahu Alan sedang sakit parah dan Alan adalah pasiennya, bagaimanapun juga dia harus bertanggung jawab dengan kesehatan pasien nya.


Saat Feirvy menghadap di depan pistolnya Key dan menjadi temeng untuk Alan yang sudah kesakitan. "Apa yang kau lakukah. Kau tidak boleh membunuhnya."


Bentak Key. "APA YANG KAU LAKUKAN FEIRVY!!!"


"DIA SEDANG SAKIT PARAH Key..! Dia juga pasien disini!!"


Tatapan Key yang tak terbaca. Amarah yang meletup-letup terdiam menatap Feirvy. Key dengan kasar menarik tangan Feirvy. Menarik tubuh Feirvy hingga langkah terseok-seok mengikuti langkah dan tarikan tangan Key yang terlihat kasar.


.


.


.


.


.


Sempatkan like komen dan Vote sebanyak-banyaknya dari kalian. terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2