Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
Hal baru


__ADS_3

Rasa ketidakadilan itu kini tengah di rasakan Feirvy. Sebuah kata kesabaran sudah tidak bisa lagi membentengi segala kecamuk dalam hatinya, untuk tak mengeluarkan segala emosi yang ada saat ini. Mobil hitam itu melaju cepat dan sangat cepat dan tak bisa di halang halangi oleh siapapun juga.


Membuat tangan kekar itu harus ikut gemetar juga melaju kencang, mencoba menyusul menghentikan istrinya yang sedang di kepung rasa amarah juga emosi yang tak terkendali lagi.


Mobil yang di kendarai Key memang bisa sejajar dengan mobil yang di kendarai istrinya. Tapi Feirvy tak pernah mengindahkan permohonan suaminya untuk dirinya segera berhenti melaju.


“Feirvy berhenti. Dengarkan aku, tolong berhentilah.”


Tak menjawab sepatah katapun. Feirvy membuka glove box mobil yang dia ketahui Key selalu menaruh pistol di box tersebut. Diambilnya pistol itu. Dengan posisi kepala melongok ke jendela kaca mobilnya. Sebuah pistol Feirvy arahkan ke arah ban depan mobil Key yang tak berhenti berhentinya mengejarnya. Hingga! Duarrrr!! sebuah peluru tajam juga keras tepat menuju sasaran. Ban mobil Key kempes tertembak, membuat Key terpaksa berhenti. Keluar dari dalam mobilnya. Entah jalan apa lagi yang harus Key tempuh. Key sebelum ini memang tak bisa secepatnya mengatakan rasa cintanya pada sang istri. Takut kalau Feirvy nanti akan dalam bahaya. Takut kalau musuhnya mengetahui kalau dia adalah perempuan satu satunya Key. Dan Key takut kalau nantinya Feirvy akan di jadikan umpan untuk Key menyerah dalam peperangan.


Beberapa kali Key menyuarakan lantang memanggil Feirvy yang sudah terus menjauh darinya. Hingga memang tak dihiraukan lagi. Key hanya bisa menundukkan kepalanya di atap mobil kedua tangannya mencakup hingga mer*mas ujung hingga pangkal rambutnya secara kuat kuat. Bahwa rasa penyesalan yang mendalam tak bisa lagi dia tahan. Key tengah takut takutnya kehilangan istrinya saat ini.


“Kalian cepat kesini! Bawa semua Bodyguard di rumah untuk mencari Feirvy secepat mungkin sampai ketemu. Tidak ketemu nyawa kalian taruhannya.”


“Ba.baik Tuan.” Jawab terbata bata anak buah Key dari Sabungan telfonnya.


.


.


.


.


Menggeru, tangisnya terisak- Isak sambil memeluk jas milik Key... Feirvy menangis di jalanan kecil tak beraspal. Di tempat dimana di setiap pinggiran jalan tubuh tumbuhan bunga ilalang yang cukup lebat. Dan mungkin saja para anak buah Key enggak akan terpikirkan kalau dia tengah bersembunyi di jalan sepi yang tumbuh lebat bunga ilalang disana.


Dengan segala tangisannya. Masih juga Feirvy memeluk jas milik Key. Jas yang tertinggal di mobil. Suasana hatinya yang terasa perih dan mendalam membuat tangisan Feirvy terasa sakit yang tak berperi hingga dadanya terasa sesak, nafasnya naik turun membuat Feirvy susah untuk bernapas.


Aku menyukaimu ... Aku menyukaimu... Apa aku sema sekali tak terlihat untukmu. Apa semua yang baik untukku karena kau hanya menganggap aku sebagai dia. Hik hik aku benci kamu Key ....


Isakan kepedihan itu terus dan terus saja menyelimuti hatinya. Hingga mata itu sekarang menjadi sembab matanya memerah. Pikiran kacau, rasa sakit itu terus saja ada. Seakan puluhan pisau pisau kecil yang tak hentinya menusuk nusuk ke lubuk hatinya. Kalau di suruh memilih. Akan lebih baik dulu dirinya tak pernah bertemu dengan Key lalu mencintainya. Lebih baik hidup sendiri dan mandiri sesuai keinginannya Feirvy dahulu menjadi seorang Dokter.


Hingga akan menjelang malam. Anak buah Key kesulitan tak menemukan Nona nya ada dimana. Feirvy kembali menghidupkan mobilnya. Berjalan perlahan menyusuri jalanan kota. Hati yang gusar itu benar benar tak mampu memikirkan apapun lagi. Feirvy memutuskan untuk kembali ke rumahnya ayahnya.


Semua penjaga di buat terperangah. Ketika mobil hitam sport milik Key datang. Tapi yang lebih mengejutkan lagi bukan Key di dalamnya. Melainkan Nona besar mereka; Nona Feirvy. Tak menunggu nanti. Dengan cepat cepat mereka membuka pintu gerbang besar yang layaknya gerbang istana kerajaan. Salah satu security menelfon Tuan nya, Tuan Arthur. Cepat cepat memberitahunya kalau Nona Feirvy tengah pulang dan sekarang ada di depan rumah.


Seketika itu Arthur Terlonjak karena kaget. Ayah Feirvy tak menggubris omongan security yang masih berbicara di telfon dan Telfonnya langsung diletakkan begitu saja oleh Arthur. Tubuhnya yang tua yang biasa untuk lari saja terengah engah kini dia dengan Semangat bisa berlari cepat keluar rumah. Ingin sekali dia bertemu dengan putrinya. Satu satu putrinya yang susah payah dia dapatnya saat kecil dulu. Dulu Feirvy kecil sering sakit sakitan. Dari semua itu Arthur sedari kecil sudah melatih daya tahan tubuhnya. Di jadikan nya dia seorang dokter. Dilatihnya anak mereka agar selalu bisa menghadapi bahaya apapun dengan pelatihan penembakan, balap mobil dan mungkin pelatihan laki laki yang tak cocok untuk anak perempuan.


Masih dengan membawa jas Key keluar mobil. Arthur dari kejauhan langsung berteriak lantang nama anaknya, berlari sekuat mungkin. Hingga sampai kedekat Feirvy. Lelaki Tua itu langsung memeluk putrinya.


“Maaf. Maafkan ayah sayang. Ayah tidak akan lagi memaksamu berbuat hal hal yang bahaya lagi untukmu. Ayah sangat menyesal dan juga rindu dengan putriku. Ibumu juga terus menanyakanmu.”


Belum bisa berkata apapun. Dan belum bisa membalas pelukan sang ayah. Tubuh Feirvy setengah lunglai. Setelah memeluk anaknya sedikit lama dan Feirvy hanya diam saja. Arthur setengah melepas pelukannya. Saat itu juga Arthur mengerutkan kening melihat Mata Feirvy yang begitu sembab dan memerah. Jemari Arthur menelangkup kedua pipi Feirvy.


“Kau kenapa sayang. Kau menangis. Key berbuat jahat padamu? Ayah akan membalasnya untukmu.”


Feirvy hanya lemah menggelengkan kepala.


“Feirvy ingin istirahat ayah. Feirvy lelah. Feirvy ingin tidur.”

__ADS_1


“Kau bilang saja anakku. Aku akan membuat pelajaran buat si brengsek Key itu.”


Feirvy menunduk. Tapi Tiba tiba tubuhnya perlahan lunglai jatuh terduduk dilantai.


“FEIRVY!!”


“Kalian!!! Cepat angkat anakku ke kamarnya.” Suruh Arthur ke pelayan perempuan mereka.


Tapi sebelum mereka mengangkat Nona Mereka. Segerombolan Bodyguard Bodyguard datang. Tentu saja Arthur dan juga anak buahnya sangat terkejut. Lalu datanglah Key diantara Bodyguard tersebut. Tak segan lagi atau tak menjaga image nya lagi. Key setengah berlari saat dia tau istrinya lunglai jatuh ke lantai. Key terjongkok di hadapan Feirvy. Saat tangannya ingin mengangkat tubuh istrinya Feirvy menampiknya.


“Ikutlah aku pulang. Aku minta maaf. Aku akan membersihkan kamarku itu. Aku tidak berbohong kalau aku sudah melupakan masa laluku itu. Aku Cuma memikirkan istriku saja selama ini.”


Keras kepala yang dimiliki Feirvy tentu saja membuat dirinya tak begitu saja luluh dan percaya. Feirvy menggelengkan kepalanya. Berusaha kuat kuat berdiri sendiri.


“Aku ingin kau pergi dari sini.”


Key mencoba meraih tangan wanitanya. Dan terus Feirvy menampiknya. “Tidak akan. Sebelum kau ikut kembali ke rumahku. Aku akan terus di sini. Membuat kerusuhan sampai kau mau.”


“Terserahlah.” Sambil lalu Feirvy berjalan.


“FEIRVY.” teriak Key.


Cepat cepat Arthur menghadang Key yang mau mengikuti anaknya. "Kau tunggu saja disini kalau kau mau. Jangan pernah memaksa anakku."


“KAU ... laki laki tua tengik!”


.


.


.


.


*****


2 Hari berlalu. Tanpa ada kejelasan apapun untuk sang ayah. Feirvy tak mau keluar kamar. Semua keperluannya pelayan rumahnya yang selalu siap sedia mengantarkan untuk Nona mereka.


Hingga ada telfon dari Rumah sakit di mana Feirvy dulu magang. Menelfon ke rumah Feirvy. Salah satu pelayan berlari memberi informasi ke Nona mereka kalau ada telfon yang katanya sangat penting lalu Feirvy meminta disambungkan langsung ke telfon kamarnya.


“Feirvy. Ini benar Feirvy.”


“Iya kenapa. Ini siapa?”


“Aku mentor bagian laboratorium di rumah sakit dulu saat kau magang. Kau lupa denganku. Aku Candra."


“Ah...Aku inget, Maaf suaramu di telfon sama aslinya berbeda. Ada apa?”


“Kenapa kau susah sekali di hubungi. Di ponselmu kau tak pernah membalas. Sudah beberapa kali aku telfon ke rumahmu juga Cuma diabaikan saja. Aku sangat membutuhkan keahlian mu dalam ilmu penelitian di lab ku. Kau bisa lagi bekerja disini kan. Aku mohon ya ...”

__ADS_1


“Ini sangat mendadak ... Aku pikirkan dulu ya.”


.


.


.


.


*****


2 hari berlalu, 2 hari juga tanpa Key, 2 hari pula Key berusaha menemui Feirvy. Dan Feirvy selalu menolaknya. Rasa terhina yang di rasakan Feirvy seakan mengubur rasa belas kasihannya pada sang suami. Mungkin perjuangan Key saat ini belum bisa menggoyahkan hati Feirvy untuk kembali lagi padanya. Dan mungkin butuh pengorbanan lagi agar Feirvy mau kembali padanya.


Dengan adanya tawaran dari mentor bagian divisi laboratorium rumah sakitnya dulu. Mungkin pikiran sedih dan kalut Feirvy akan terhapus kan sedikit demi sedikit akan menghilang. Dan Feirvy telah menerimanya. Dan mulai besok pagi dia akan berangkat bekerja kembali ke rumah sakit internasional xx yang ada di kotanya.


Mereka semua rekan rekan Feirvy begitu antusiasnya saat Feirvy datang. Mereka pikir kepintaran Feirvy Memang sangat di butuhkan di rumah sakit tersebut. Bahkan mereka langsung menawarkan asrama mewah untuk Feirvy tinggal disana tanpa harus bolak balik pulang kerumah dengan jarak tempuh yang lumayan jauh. Dan tak mau ambil pusing lagi dan juga ingin menjauhi Key terlebih dahulu. Feirvy menyetujuinya.


Setelah 2 hari ini. Baru ini Feirvy mau tersenyum, setelah ada teman temannya yang selalu ada saja membuat kelucuan di ruang mereka bekerja. Hingga jam kerja mereka sudah selesai sekitar 11 malam. Feirvy ingin mengunjungi asrama yang disediakan untuk dirinya. Tempat menuju asrama itu harus melewati ruang laboratorium 2 yang memang sudah sepi, semua pekerja sudah istirahat dan nanti di jam yang di tentukan akan ada pergantian shift untuk petugas lab lainnya. Dan mungkin kali ini Cuma ada petugas keamanan saja yang berjaga di luar ruangan laboratorium besar itu.


Di lorong yang sepi itu ... Feirvy berjalan sendiri masih dengan menggunakan jas dokter putih yang panjang. Entah kenapa dia yang baru saja kembali bekerja di rumah sakit. Sedikit tak tahan dengan bau karbol yang sudah lama tak tercium olehnya. Maka dari itu Feirvy menyimpan beberapa masker di kantongnya dan salah satu dia pakai sendiri saat ini.


Hingga dia hampir melewati ruang lab. Feirvy sedikit terheran kenapa penjaga keamanan tidak ada di tempatnya. Tapi saat melihat di ruang yang gelab di ruang laboratorium. Samar samar terlihat ada kabut asap halus muncul dari balik kaca ruang laboratorium. Terkesiap Feirvy berlari takut ada kebocoran atau apapun yang berbahaya. Mata Feirvy menelisik lewat kaca transparan di ruang laboratorium tersebut. Dan benar. Seperti ada seseorang yang berbaju serba hitam tengah ada di dalam ruangan gelap tersebut dengan hanya lampu senter kecil di ruangan itu.


Insting Feirvy. Langsung menceruat ingin menolong orang tersebut yang kemungkinan terkunci atau mungkin dia menumpahkan sesuatu yang bahaya di sana tanpa ada rasa curiga terlebih dahulu kalau mungkin seseorang tengah mencuri sesuatu disana. Pintunya tidak terkunci. Feirvy mengambil masker di sakunya dengan cepat dan sigab Berlari ke arah pria tersebut entah itu asap kimia berbahaya atau pun apa Feirvy tak peduli yang penting orang itu bisa keluar terlebih dahulu. Feirvy dengan cepat membekap mulut dan hidup pria itu dengan masker ditangannya. Dengan tenaga yang kuat dan sedikit paksaan Feirvy menarik pria itu. Tentu saja pria berbaju hitam berambut hitam itu sontak di bikin kaget kedatangan Feirvy secara mendadak dan tiba tiba juga Feirvy membekapnya. kaget juga tak menyangka akan ada seseorang di jam segini melewati ruang laboratorium, karena sudah 3 hari ini dia mengamati di jam seperti ini biasa tidak ada pegawai lewat di lorong tersebut dan lagi petugas biasa nanti di jam 1 pagi dini hari baru bekerja lagi.


Tubuh yang terkejut itu mau tak mau harus mengikuti seretan sang gadis yang pemberani itu. Dan dibawanya pria itu ke luar ruangan lalu di tutupnya lagi pintu yang penuh asap tadi. Alan terduduk di kursi antrian. Tertunduk tak berani menampakkan mukanya juga enggan melihat gadis tersebut. Disaat itu pula Feirvy melepas maskernya, mengambil minuman di ruang jaga laboratorium Dan di berikannya padanya.


“Cepat minumlah ini. Mungkin saja itu asap beracun.”


Masih dalam muka yang menunduk dan memakai topi hitam, Alan menerima botol minuman tersebut dari tangan Feirvy. “Terima kasih.”


Alan membatin. Ah. Gadis sialan. Padahal sedikit lagi aku berhasil mencuri cairan kimia itu. Dia benar benar merusak hariku malam ini.


“Kau tidak apa apa? Kau diam saja. Apa kau merasa sesak atau sakit.”


Masih diam. Dan Feirvy tampak menerka-nerka melihatnya diam saja. Atau jangan-jangan dia keracunan. Dan untuk memastikannya lagi Feirvy setengah menunduk ingin melihat ekspresi wajah lelaki tersebut. Apakah pria itu sedang menahan sakit atau bagaimana.


Ketika Feirvy menunduk, otomatis jarak muka Feirvy sedikit lebih dekat dari pada saat dia berdiri. Dan pria yang menunduk itu perlahan menegakkan kepalanya ... Membuat Alan bisa melihat wajah gadis yang membuatnya gagal dalam rencananya tadi. Tapi ... Ketika wajah Alan berpaspasan dengan muka Feirvy--, Raut wajahnya sedikit tersekad hatinya terasa termangu pandangannya terngaga. Setelah ia mendapati gadis yang amat cantik mungil dengan kedua bola mata hitam nan indah dan masih terlihat cantik meski di kegelapan malam hari. Sedikit saat itu pula mata Alan terpana melihat indah juga cantiknya gadis di depannya saat ini.


.


.


.


.


Berikan rangking 5 ya. kalau kalian terhibur. gratis kok 😀

__ADS_1


__ADS_2