
Sakit sekali.... tapi aku rindu dengannya. Malah semakin rindu setelah hari kemarin.... Viola kembali pejamkan matanya yang sembab karena tangis semalaman memikirkan Alan.
Sedangkan Alan yang juga berbaring di kasur, juga tak jauh berbeda dengan Viola. Tubuhnya tidur miring kesamping dia garuk garuk pelan bantal yang ada di bawah kepalanya. Ingin sekali aku memeluknya. Ingin sekali aku menculiknya, ingin sekali aku bisa satu rumah dengannya. Lalu Alan mengirimkan pesan untuk Markus. Untuk menyiapkan satu Villa mewah untuk bermalam, malam ini. Geragap Alan bangkit dari tidurnya. Berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Memakai baju santai terbaik yang dia punya. Di pakainya parfum edisi terbatas tahun ini keluaran negeri mode yang terkenal dengan menara Eiffel nya tersebut.
Kini Alan masuk ke dalam mobil menghela nafas dalam-dalam serta mengerjapkan matanya rapat-rapat. Berdoa semoga hari ini Viola mau menerimanya kembali pada nya.Tak lama setelah diperjalanan. Alan melongok keluar melihat awan terlihat mendung dan hujan gerimis mulai membasahi jalanan aspal yang dia lalui saat itu.
Tapi semua itu tak menyurutkan keinginan Alan untuk bertemu pujaan hatinya saat ini. Setelah mobilnya sudah hampir melewati gang perumahannya Viola. Di emperan toko roti, mata Alan membeliak terperangah. Dia melihat gadis kecil layaknya seorang peri kecil yang sangat manis dan menggoda hatinya. Siapa lagi kalau bukan Viola yang hendak keluar rumah, yang kebetulan dia memilih jalan kaki dari pada naik sepeda mini ontelnya.
Terlihat oleh Alan kalau Viola tengah celingukan... Tangannya menengadah ke rintikan hujan di depannya yang semakin lama semakin deras saja hujannya. Cepat cepat Alan Ambil payung di kursi paling belakang. Menyuruh sopirnya berhenti dan Alan langsung turun menyeberang jalan dengan membawa payung yang telah terbuka dan menghampiri Viola dan langsung memayungi Viola.
Terjengit Viola kala itu. Tiba tiba ada Alan yang berlari kecil membawa payung dan berdiri didekatnya sambil memayunginya yang tengah terhempas air hujan. Mata Viola membeliak... ini terjadi sangat tiba tiba sekali. Membuat mereka saling tatap saling pandang dalam diamnya mereka. Tapi tak lama Viola yang tersadar lebih dulu. Viola kembali melongok ke atas awan. Tiba tiba saja hujannya reda. Viola berlari kecil dari tempatnya tadi. Meninggalkan Alan sebelum ada sepatah katapun untuk Alan.
Alan melongo. Hujan benar benar tak mau mendukung usaha kali ini. Membuah Alan jengah dan sedikit kesal. Hah... apaan ini. Alan melengok ke atas. Seharusnya kau juga mendukungku.... ucap Alan untuk sang penghujan.
Alan berlari... mencoba menyusul gadis yang ingin dia jadikan wanitanya dalam hidupnya. Tapi juga bukan salah Viola kalau Viola tiba tiba bertingkah seperti itu. Karena Viola masih sakit hati dengan ucapan pedas Alan untuknya malam itu.
Sampai di tengah pelataran luas. Terlihat gedung yang berdiri menjulang tinggi di depan Viola dan Viola lanjut masuk kedalamnya. Dan ternyata itu gedung mall, Viola hendak belanja bulanan untuk kebutuhan dirinya juga neneknya. Viola langsung masuk begitu saja. Seperti tak pernah terlihat kalau disisinya ada lelaki tampan yang terus mengikutinya. Viola masih tak peduli dengan Alan, sedangkan gadis gadis lainnya secara terang terang memberikan senyuman manis untuk Alan.
Mulailah Viola memilih-milih, mengambil-ambil barang apa saja yang dia mau beli. Tiba tiba Alan yang di samping bersuara untuk Viola. “Aku akan bayar semua apa yang kamu ambil.”
Viola tersenyum dalam hatinya bukan karena senang telah mendapatkan gratisan belanja melainkan viola ingin memberi pelajaran untuk Alan.Tanpa permisi Viola mengambil 10 kali lipat dari lebih banyak dari yang apa yang di belinya tadi. Viola tak henti-hentinya mengambil apa saja yang ada di depannya. Beberapa orang sampai dibuatnya melongo oleh tingkah Viola yang beruntun tak berhentinya mengambil apa saja yang dia mau. Diam dibelakang Viola Alan terus mengikuti wanitanya. sesekali melirik Viola. Dan terlihat Viola terkadang tersenyun senang. Melihat semua itu..Alan tersenyum, hingga membuat Alan membatin. Kau habiskan uangku saat ini aku rela, asal kau bisa tersenyum seperti ini terus.
Di samping kasir. Viola menata belanjaanya. Saat petugas kasir mengatakan total semua belanjaannya. Viola Terjengit kaget! matanya melebar sempurna, nominalnya tak pernah terduga olehnya. Ini sangat banyak sekali dan dia tak pernah belanja sebanyak ini.
Sembari mengigit bibir bawahnya sendiri, Viola ragu ragu melirik Alan yang ada di sampingnya. “Kau tadi kan yang mau bayar.” Alan tersenyum lebar. Tingkah Viola begitu menyenangkan juga imut baginya. Membuat Alan semakin tak ragu dengan ucapannya kemarin yang mendadak mau menjadikan Viola istrinya.
Keluar dari Mall. Alan meneteng semua belanjaan Viola yang super banyak itu. Sampai di taman hijau, di kursi peristirahatan Alan taruh semua belanjaan Viola. Tapi dari sana Alan harus celingukan. Yang tadinya Viola ada dibelakangnya... tapi ketika di taman Viola tak ada bersama. Juga tidak pamit mau kemana. Karena Alan benar-benar sudah kelelahan ia sandarkan dulu tubuhnya ke kursi, merenggangkan ototnya terlebih dahulu sebelum mencari Viola yang kemungkinan mampir ke suatu tempat sebelum pulang.
Kembali Alan berdiri dan berjalan jalan tak jauh dari barang barangnya tadi untuk mencari Viola tapi tak ketemu juga. Seperti ada yang datang dari belakang dan telunjuk seseorang itu mengetuk pundak Alan, seketika Alan berpaling kebelakang. Senyum sumringah Alan pancarkan dengan binar mata penuh cinta saat Viola datang mengetuk dan menjumpainya.
Dua Es krim satu di dekat Viola satunya diulurkan Viola ke depan Alan. Entah kenapa tindakan Viola itu membuat hati Alan begitu tersanjung olehnya. Alan merasa kalau Viola sudah memaafkannya, tapi itu tidak apa. Karena kini senyum Viola lebih berharga dari kelelahannya itu semua.
Hati yang gundah itu terasa tenang meski belum ada kata apapun dari Viola kala itu. Alan ambil es krim itu dari tangan Viola yang terdiam belum berani menatap matanya. Alan menelfon sopirnya untuk mengambil belanjaannya Viola ke dalam mobilnya.
"Jalan kaki yuk." Ajak Alan. Perlahan Alan dekatkan jemarinya menggenggam jemari Viola. Tapi Tangan Viola mengkerut sedikit menghindar sebelum Alan menggenggamnya.
__ADS_1
Alan terpaku memandang tangan berkerut itu, lalu Alan layangnya tatapan merendah untuk Viola. Melihat Alan yang seperti itu...Membuat Viola kini terenyuh, tersentuh. Membuat dirinya telah menipiskan bibirnya seraya hati bergetar Viola terdiam saat tangan Alan kembali menggenggamnya dan semakin mengerat dalam genggaman dengan penuh perasaan. Diajaknya Viola berjalan berdampingan dengan Alan. Rasa kelegaan serasa tumbuh subur di hati Alan. Meski belum ada kata termaafkan dari Bibir manis Viola tapi Alan yakin kalau dirinya setidaknya telah diterima kembali oleh Viola.
Di bawah guguran bunga sakura itu...Kini tak bisa lagi mereka hindari, kalau hati mereka saling merekkah satu sama lainnya. Membuat Alan sekali lagi ingin mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini.
“Viola. Aku menyukaimu... aku mau kau jadi pacarku.”
Terhenti langkah kaki Viola seketika Itu. Menunduk tapi sepertinya Viola tengah mempersiapkan bibirnya untuk bicara.
“Alan, saat aku bertemu denganmu sebagai petugas lab. Kalau kau menjadikan aku pacar mu, saat itu aku sangat siap. Tapi kini berbeda, Aku bukanlah tipemu. Aku jauh berbeda denganmu. Aku bukan wanita cantik dan banyak harta yang setara denganmu. Aku merasa aku ingin mundur dari semua ini."
Guguran bunga sakura itu seolah suatu perwakilan hati Alan yang saat ini tak terlihat. Alan sama sekali tak ingin mendengarkan ucapan menyedihkan itu dari mulut Viola.
"Aku sudah kaya. Aku juga sudah tampan jadi aku tak butuh segala yang kau ucapkan tadi. Aku hanya butuh kamu. Kamu yang belum bisa aku dapatkan."
Perkataan apa ini... kenapa begitu menyentuh hati Viola. Sampai sampai Viola tak bisa berkata apapun setelah kata itu terucap dari bibir Alan.
Kembali Alan berucap. "Jadilah kekasih ku."
Masih terdiam gusar... Dan perlahan setelah menimang nimang. Akhirnya perlahan Viola mengangguk pelan di depan Alan.
“Kau tau apa yang mau aku lakukan?!”
“Apa?”
“Mengangkat dan memutar mu."
“Maksudmu apa?"
Alan menjujung tinggi tubuh Viola, tangannya memeluk erat pinggul Viola. Viola terkejut. Hingga berseru nama Alan dengan keras. Tak menghiraukan seruan Viola, Alan malah terus memutar Viola dalam dekapannya dengan senyuman bahagia disana.
Senyuman indah tawa kegembiraan bersama mereka lakukan dengan tatapan kebahagian mereka saat ini. Guguran bunga sakura saat itu seakan jadi saksi ungkapan cinta mereka. Kisah cinta mereka saat ini.
○•○•○
○•○•○
__ADS_1
Mungkin Ada beberapa slot yang kurang nyaman di baca... tapi tetep berikan Like dan dukungannya ya...
by UlanZu
.
.
.
.
Bonus Cerita pendek Alan & Viola
Hari itu Alan sudah siapkan Villa mewah untuk Viola malam ini. Ternyata malah gagal. Viola minta pulang saja kerumah buat jagain neneknya dirumah.
Padahal saat itu Alan ingin sekali berdua-duaan dengan Viola lebih lama lagi. Akhirnya Alan meminta ijin ke nenek agar diijinkan pulang agak larut malam. Dengan alasan rumahnya kena banjir karena hujan siang tadi.
Padahal cuma gerimis bagaimana bisa rumah yang mewah itu kena banjir. 😂🤔
"Kapan kita nikah?"
Dia ini bicara apaan sih. Udah mati lampu gini. malah ngomongnya yang aneh aneh.
"Alan aku ambil minum dulu." Alasan Viola buat hindarin pertanyaan Alan yang tak jelas tadi.
Viola mengambil minuman dingin dan kembali menutup kulkasnya kembali. Tiba-tiba dari jarak yang tak jauh dari dirinya. Dengan gerak yang sangat cepat Alan membekap bibir Viola dari depan hingga bersandar kembali ke kulkas. Viola Bingung. Ada apa ini? pikirnya.
"Ssttttt.... sepertinya ada maling."
Viola membolak-balikkan matanya ke samping kanan dan kiri. Sementara itu tangan Alan masih membekap mulut Viola.
"Mana? tidak ada."
Viola tak sadar Alan terus menatapnya sedari tadi di gelap remang rumah Viola saat itu. sambil tersenyum seringai senang. Alan kembali berucap.
__ADS_1
"Malingnya ada disini--" Perlahan bekapan tangannya dia lepaskan... kepala Alan menunduk, Alan dekatnya bibirnya ke bibir Viola dan mencium Viola dengan hasrat dan cintanya. Cinta yang merekkah membuat merega hanyut begitu menikmati ciuman tersebut di tengah remang mati lampu malam itu.