Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
kehadirannya


__ADS_3

Sampai dirumah sakit dimana dulu dia bekerja, di tempat yang berbeda Feirvy mendaftar dan setelah di periksa... prosesnya masih panjang... masih bukaan 2 masih 8 lagi yang harus dilaluinya. 8 pembukaan yang mampu membunuh seseorang. Ketika seseorang tak mampu dan akan mati di detik 45 del tapi ibu melahirkan sanggup menjalani sakit hingga 57 del. Itu sama halnya dan bisa diartikan sakitnya seolah 20 tulang manusia patah bersamaan.


Apa yang seperti itu pengorbanan seorang ibu masih di pertanyakan. Bahkan kalaupun ibu tersebut tak mampu dirawatnya, tetap saja surga masih di telapak kaki ibunya. Sebuah nyawa dia pertaruhan untuk anak yang dia lahirkan. Serentetan kesakitan ibu itu rasakan, hingga kepedihan ingin mati saja seolah dia rasakan. Semua itu harus di lalui ibu yang sedang melahirkan. Jadi memang tak salah kalau Tuhan menempatkan bagi anak kalau surga itu ada di telapak kaki ibunya.


Kini perempuan mungil itu sudah mulai merasakan sakit yang membuatnya meringis seolah tersiksa. Sembari berdoa Feirvy cengkeram rapat rapat tiang yang ada di ruangannya. Betapa miris orang melihat perempuan hamil itu kesakitan sendirian tanpa ada suami dan keluarga yang menemaninya.


Key yang sedang beraktivitas di lapas isolasi. Seolah mata batinnya terperangkap menjadi satu. Langsung saat itu juga Key tiba tiba merasa gusar, gelisah yang amat sangat dia rasakan. Dengan pandangannya yang kedepan seolah terpaku, Rasa cemas yang terlalu ini tiba tiba muncul dalam hatinya. Dan tiba tiba saja dia sangat memikirkan istrinya.


Kecemasan keresahan sangat melanda dirinya saat itu. Segera Key berjalan, Dia selalu bertanya-tanya; ada apa ini kenapa hati dan pikirannya sangat gundah dan tak bisa berhenti sama sekali. Dan kini langkahnya berlari cepat dan tergesa-gesa sampai terengah-engah. Key cepat lihat tanggalan yang ada di dekat petugas lapas. Tanggal yang dia sengaja dia kasih tanda merah-merah, Tanggal dimana dia memperkirakan kalau istrinya kemungkinan akan melahirkan di tanggal tangal tersebut.


Disitu Key melihat tanggal yang dia tandai merah adalah salah satunya sekarang ini. Key membatin mungkinkah istrinya akan melahirkan anaknya saat ini. Karena tak dapat dipungkiri dia begitu amat cemas yang tak terkendalikan lagi seperti biasa-biasanya.


Key coba meminta ijin petugas lapas untuk meminjam telepon mereka, tapi mereka besi keras kalau peraturannya tidak boleh dilanggar. Jelas Key tidak terima walaupun itu peraturan yang sudah ditetapkan. Dengan ganasnya dia meneriaki juga mengamuk sejadi jadinya agar di perbolehkan menelpon istrinya. Tapi siapa Key. Dia sendirian tak punya kekuatan. Dan mereka siapa yang Key lawan. Mereka adalah orang kuat yang bersenjata, berbadan kekar terlatih dan banyak orang. Membuat Key seolah tak berdaya setelah Key memaksakan diri meminta menelfon istrinya. Dan Key masih berusaha sekuat tenaga entah itu dia harus mati sekalipun dia tetap harus bisa menelpon istrinya saat ini.


.


.


.


.


Dan Feirvy-- Terkadang duduk... Terkadang berdiri meringis menahan sakit yang amat dia rasakan saat ini. Terkadang dia berjalan jalan... Sembari menunggu keluarganya datang. Dan sayangnya jarak keluarganya dari rumah sakit cukup jauh, yang sekitaran 5 jam mereka akan sampai. Sedangkan di waktu 5 jam tersebut adalah waktu waktunya seorang ibu merasakan sakit yang luar biasa sakitnya. Karena di pembukaan 3-5 adalah umumnya pembukaan yang paling sakit yang harus ibu itu rasakan dan Feirvy harus melalui itu semua.


Feirvy menangis meneteskan air mata di tengah ia sedang menahan sakit yang menegang pada tubuhnya. Yang dia lebih tangisi adalah suaminya... suaminya yang dia paling harapkan bisa menemaninya saat ini. Sakit yang tiba tiba muncul, membuat ia terduduk menarik nafasnya dalam dalam dan mengelus pinggulnya yang luar biasa sakit tersebut. Seorang Ibu yang merasa iba melihat Feirvy, dia langsung menghampirinya.


“Nak... ibu bantu mengelus punggungmu ya...”


Sembari menggigit bibir bawahnya Feirvy pasrah anggukkan kepalanya. Dia sudah tak mampu berkata lagi karena sakit yang dia bawa semakin lama semakin mencengkeram tubuhnya.


“Kamu sendirian... dimana suami dan keluargamu...?”

__ADS_1


“Me—mereka masih dalam perjalanan...”


Ibu yang sudah pengalaman itu mengamati gerak gerik Feirvy seperti sedikit berbeda dari sebelumnya. Saat itu Feirvy semakin mencengkeram genggaman tangannya ke tangan ibu tersebut. Terkejut semua dan Feirvy semakin bergetar tubuhnya. Air ketuban pecah dari tubuh Feirvy. Sontak insiden tersebut membuat ibu dan orang yang ada disana Kelabakan gugup dan memanggil keras perawat disana. Dan segera Feirvy di dudukkan di kursi roda sedangkan tubuh dan Wajah Feirvy sudah mulai pucat pasi dan terlihat sangat lemah disana.


Tak jauh dari tempat Feirvy, terlihatlah keluarga Feirvy berlarian mencari keberadaan anaknya. Tak lama Viola dan Alan bersama mertua Feirvy datang mencari kamar Feirvy di rawat. Jarak yang jauh dan ditambah pekerjaan Alan yang tak bisa di tinggal membuat mereka terlambat menemani Feirvy.


.


.


.


.


Di ruang tertutup itu hanya boleh orang tua perempuan yang di perbolehkan masuk. Beberapa kali Feirvy berusaha mengatur napasnya untuk menahan sakit yang semakin merajai tubuhnya. Seolah-olah tubuh kecil itu telah dipukuli benda tumpul oleh sekumpulan orang orang di dekatnya.


Waktu sudah sangat dekat sekali dengan proses lahiran. Di tengah itu semua mata Feirvy terus mengalirkan air mata. Saat sakit itu sudah menyakitinya. ibu yang tak tega itu, terus cengkeram tangan Feirvy dan berusaha untuk menguatkan anaknya, sembari tak luput bibirnya panjatkan doa untuk anaknya supaya tak merasa sakit yang terlalu amat sakit.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Tapi Tuhan tidaklah tidur, Tuhan tahu mana umatnya yang sungguhan ingin berubah. Seketika itu Nayna berlari membawakan ponselnya Feirvy dan meminta tolong untuk diijinkan masuk diruang persalinan tersebut. Bahwa suaminya telfon dari kepolisian. Ibu Feirvy yang terkejut mendengarnya segera memerintahkan Dokter segera membukakan pintu ruangan tersebut. Dan Nayna langsung berlari masuk menghadap ke kakak iparnya.


Dengan berlarian menangis Nayna bersuara jelas. “Kakak-- Kak Key telepon kak Feirvy.” Terbuka lebar mata Feirvy setelah mendengarnya. Kata itu langsung menggetarkan tubuh dan jiwanya. Setelah hampir satu tahun tak mendengar suara suaminya... Kini akhirnya dia bisa mendengar suaranya. dengan tangar bergetar Feirvy terima telfon dari suaminya tersebut.


“Ha-halo sayang.” ucap Key.


Suara yang langsung membuat Kelu saat Feirvy pertama mendengarnya. Dengan tersedu-sedu Feirvy ingin menjawab suara yang dianggap seperti berlian itu, tapi dirinya belum mampu menguasai dirinya.


“Jangan menangis... Aku ada disini buatmu. Kau harus kuat melalui ini semua."


Dengan terisak-isak Feirvy berkata pada suaminya. “Sakit... rasanya Sakit sekali...”


“Husstt...jangan bilang seperti itu, kau harus kuat. Aku disini selalu berdoa buatmu.


“Apa kau baik baik saja dan sehat disana?" tanya Feirvy.


Tapi Sejenak pria itu terdiam. termenung...sebelum kembali berkata. Bahwa dirinya sekarang ini tengah berdarah darah sehabis dipukuli dan melawan semua petugas yang menghalanginya menelpon istrinya. Tapi melihat Key begitu gigih, Akhirnya penjaga lapas mengijinkan Key untuk menelpon istrinya.


Berusaha menguasai emosi dalam hatinya, Key segera menjawab pertanyaan istrinya.“Tentu aku baik baik saja disini. Disini sama seperti masyarakat biasanya. Kau jangan khawatirkan suamimu. Aku kangen juga rindu kamu."


Feirvy tersenyum tapi senyumnya kian berubah meringis dan menegang kuat, ponsel yang ada di tangannya tergeletak. Kembali Feirvy merasakan kontraksi yang lebih kuat lagi dari sebelumnya. waktunya Feirvy harus mengejan sekuat tenaganya.


Key yang mendengar, ia cengkeram kuat gagang telponnya. Betapa dia sangat mencemaskan istrinya. Andai sakit itu bisa dipindahkan padanya, Key akan memohon agar dirinya saja yang sakit bukan istrinya.


Tak berhenti Key berdoa. Dan...suara tangisan bayi pun terdengar nyaring. Key mendengarnya, Key mendengar suara bayinya menangis betapa bersyukurnya dia hingga dia harus berulang kali meneteskan air matanya.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2