
Segala persiapan sudah sampai 80% selesai. tinggal menunggu Alan juga Viola masuk ruang operasi mereka. Di detik detik Viola akan memasuki ruangan tersebut. Tak hentinya dia berdoa. Agar semua ini di lancarkan dan semua akan berhasil sesuai semestinya.
Disaat Viola melihat Alan berbaring tertidur tak berdaya. Viola memandang ironi orang yang dia cintainya tersebut. Perlahan diulurkan tangannya memegang jemari Alan dan setengah menggenggam nya lalu berpikir, tetaplah ingat diriku setelah kau sembuh nanti, Jangan lagi membenciku. Aku akan menemuimu kembali setelah masa pemulihan ku.
Dari sisi lain Feirvy memanggil Viola. Beserta Dokter yang bergabung dalam operasi tersebut. Di baringkannya tubuh Viola. Ia tutup matanya dan cairan anestesi di suntikkan ke tubuh Viola dan dari situlah awal operasi mereka berdua di mulai.
Menit demi menit terlewatkan. Penuh konsentrasi juga penuh ketelitian agar Feirvy tak melakukan kesalahan apapun. Kali ini Feirvy sendiri yang memimpin operasi tersebut. Disamping kemampuan Feirvy yang bertambah setiap harinya dia juga harus berani melatih dirinya untuk melakukan operasi dengan pimpinannya sendiri.
3 jam berlalu. Sebuah kerja keras yang sangat menguras tenaga juga pikiran. Akhirnya berhasil juga Feirvy lakukan dan ini kali pertama operasi pertamanya yang berhasil Feirvy lakukan. Sebelum mereka berdua siuman Feirvy terlebih dahulu keluar ruangan. Melepaskan ketegangan yang ada dalam pikirannya.
.
.
.
Saat Feirvy keluar, ia melihat suaminya; Key ada di luar ruangan duduk menunggu istrinya. Saat itu juga Feirvy terkejut suaminya datang kesini. Kesini mau marah atau apa. Dirinya masih belum tahu.
Ucapnya pelan dan lirih. “Key...”
Dipegangnya tangan Feirvy oleh Key. “Istriku kelelahan?”
Feirvy lalu membuang nafas. Ternyata suaminya tidak lagi marah. “Lumayan untuk hari ini. Kau tahu ini operasi perdanaku dan aku berhasil.”
“Artinya Alan terselamatkan oleh istriku sendiri.”
Merasa tak enak Feirvy hanya mengangguk.
“Padahal aku dari tadi sudah berdoa agar dia mati saja.”
Feirvy tersenyum ... Duduk di sebelah suaminya bersimpuh bersandar di dadanya Key. “Kau tahu menolong seseorang itu sangat menyenangkan. Apalagi kalau kita bisa menolong nyawa seseorang. Serasa kita adalah malaikat yang tak terlihat. Aku senang melakukan pekerjaan ini.”
__ADS_1
Key akhir akhir ini selalu terpikirkan apa saja yang Feirvy ucapkan. Membuat Key kadang Berpikir kalau dirinya sadar tidak harus selalu mengutamakan kekuasaan dan keangkuhan nya saja..
.
.
.
.
.
°^°^°^°
Di bukanya perlahan mata sayunya itu. Plavon plavon terlihat buram, sekitarannya masih belum terlihat apa apa. Tubuhnya begitu lemah. Punggung hingga pinggulnya meraskan sakit nyeri yang lumayan bisa ditahan tapi tetap saja sakit dirasakannya. Semakin dia sadar semakin pening kepalanya dan terlihat ada seorang Dokter sudah ada di dekatnya. Sedang memberikan suntikan obat penahan rasa sakit lewat selang infusnya. Akhirnya hilang juga buram pada kedua bola mata Viola dan Feirvy lah yang terlihat saat penglihatannya sudah mulai jelas.
“Dokter...”
“Dion... Bagaimana dengan Dion.”
Gadis yang baik... Dan lembut...malah memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri. “Kau adalah malaikatnya. Berkatmu dia berhasil melewati masa kritis nya dan beberapa hari setelah perawatan dia juga akan sembuh kembali.”
Viola tersenyum ironi... Dimana dia menahan sakit tapi dia tak tahan untuk tidak tersenyum bahagia. “Syukurlah... “
Percakapan mereka masih terus berlanjut sampai Viola menanyakan juga keadaan sang nenek. Dokter Feirvy meminta dirinya agar tak terlalu memikirkan apapun dulu. Bahwa mereka semua baik baik saja. Tinggal Viola yang harus segera pulih dari rasa sakitnya yang sekarang ini dan kemungkinan 2 Minggu baru sehat kembali.
.
.
.
__ADS_1
.
Beberapa Dokter mengucapkan selamat untuk kerja keras Feirvy kali ini. Disusul Markus yang juga datang secara pribadi ke ruang kerja Feirvy.
“Dokter, sudikah Dokter beritahu saya siapa pendonornya. Karena seharusnya dia harus mendapatkan imbalan yang selayaknya dari Tuan Dion.”
Feirvy menggeleng seraya tersenyum terlihat dari bibirnya. “Maaf Tuan. Operasi bisa berjalan karena saya berjanji untuk menyembunyikan identitas si pendonor.”
Beberapa kata dan bujukan ternyata tak bisa membuat Feirvy bicara yang sesungguhnya. Dan Markus hanya bisa pasrah keluar ruangan tanpa mendapatkan informasi apapun yang dia mau.
°^°^°^°
Satu Minggu berlalu. Dion yang sudah lumayan sembuh dari sakitnya sudah mulai beraktivitas seperti biasanya. Tapi meski terasa sehat entah mengapa hari harinya dia merasakan malah terasa kosong saat tidak ada seseorang yang merawatnya kembali. Seperti ada yang hilang dalam hatinya tapi entah apa dia tidak tahu itu. Karena itu sebenarnya rasa kehilangan di atas rasa kangen yang dimana Alan sendiri tak menyadari nya.
Hanya saja yang dia tahu kadang dia bertanya tanya kemana gadis itu. Kenapa saat aku di rawat malah tak terlihat sama sekali. Sesekali malu malu bertanya ke Markus tapi Markus sendiri juga tidak tahu. Sejak Alan kritis dan di bawa kerumah sakit di waktu yang sama Viola juga menghilang begitu saja hanya pamit ke neneknya dan setelahnya tak ada kabar apapun.
Membuat Alan tiba tiba jengah. Biasanya ada yang merawatnya sekarang dia harus sendiri lagi. Ah dia itu perempuan apa? Apa dia hantu kenapa hilang begitu saja.
Saat kembali bekerja bukannya bisa melupakan Viola malah Alan kepikiran terus. Dan sampai balik kerumah pikiran itu kadang membuat Alan bingung. Kadang dia berpikir mau ciptakan obat pelupa ingatan saja untuk dirinya sendiri. Entah kenapa Viola begitu terpatri secara tiba tiba dalam pikirannya. Apa karena mantra sebelum operasi Viola katakan waktu itu, jadi membuat Alan terus mengingatnya sampai seperti ini.
Alan yang berbaring di sofa mengacak acak rambutnya sendiri. Dia lagi lagi tak percaya apa operasi kemarin itu salah pengerjaan nya atau bagaimana. Kenapa kepikiran terus sama Viola..
.
.
.
.
Bersambung.... 3/6 chapter
__ADS_1